Antara Wanita dan Kebebasannya


Fiufh..
Sejenak, untuk menghilangkan kebosanan terhadap ujian akhir semester beberapa minggu ini, saya mengadakan acara balas dendam terhadap semua kejenuhan belajar yang begitu memforsir pikiran dengan cara menonton beberapa film(entah ini ide bagus atau jelek)
Wanita Berkalung Sorban, itulah film yang baru saja saya tonton, meskipun terlambat atau mungkin dibilang gak up to datelagi kalau nonton film itu sekarang (apalagi di saat KCB menjadi top movie saat ini). Tapi it’s okey.

Setelah menonton film ini, saya tidak tahu pasti bagaimana “kesan” saya terhadap film ini. Rancu, amat ambigu. Karena di satu sisi, banyak hal yang membuat saya geram dan berpandangan jelek terhadap film ini. Namun di sisi lain, ada beberapa sisi positif yang bisa kita ambil sebagai suatu sikap dan nilai yang bagus juga kalau diterapkan dalam kehidupan.
Film yang mengangkat tema “kebebasan perempuan” ini, kembali membawa saya pada lamunan tentang apa sebenarnya peranan wanita.

Memang benar-benar komplit penderitaan yang dialami oleh “Anisa” sang wanita yang dikatakan berkalung sorban. Saya tidak akan terlalu banyak membahas tentang kejadian-kejadian dan adegan dalam film tersebut. Namun inti pembahasannya adalah sampai dimanakah definisi “kebebasan” bagi kaum wanita. Dan tentu saja saya kurang sepakat dengan peran wanita versi kyai yang ada di pesantren tersebut, namun tidak pula sangat mengagung-agungkan pengertian “ kebebasan” yang dijunjung oleh Anisa terutama tentang pertentangan Anisa kenapa wanita tidak boleh diangkat menjadi pemimpin dan beberapa hak-hak kaum wanita lainnya.

“Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskan-nya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita.” (HR Al Bukhari, dari Abu Hurairah)

Jangan ber-su’uzhzhan dulu pada hadist ini, saudariku. IA tak pernah bermakna engkau penuh kekurangan sehingga selalu perlu diwasiati dengan kebaikan. Bukan. Adalah hak bagi setiap yang bernafas untuk mendapat kebaikan.

Melalui hadist ini, Islam mengangkat kaum wanita dari peminggiran peran, fungsi, dan posisi. Ia tuntun wanita dari dapur dan ranjang jahiliyah menuju perpustakaan alam semesta yang penuh dengan keagunganNya. Ia sapa mereka yang dulu hanya bisa membisu dan menuli di sudut kelambu kegelapan. Ia ajak mereka memfungsikan telinga, penglihatan, dan akalnya untuk mewawas berbagai wacana kesahihan. Ia dudukkan mereka sejajar dengan pria untuk berdiskusi, saling mengingatkan, saling memberi wasiat tentang kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang.

Demikianlah. Wanita secara nature memang berbeda dengan pria, tetapi tidak secara nuture. Demikianlah yang dikatakan salah satu tokoh dalam Film itu. Secara nature memang wanita berbeda secara anatomis dan fisologi tubuhnya, namun pada hakikatnya, wanita dan laki-laki memiliki kesempatan dan ruang untuk berkreasi mengembangkan diri dan belajar. Sedangkan paradigm yang menyudutkan wanita seperti “wanita yang pada akhirnya kembali ke dapur, mengurus RT, anak, dan suami” , lebih kepada pengembangan budaya oleh kelompok masyarakat, sampai sejauh mana mereka memahami tentang fungsi dan kedudukan manusia.

Karena banyak juga kita temukan di luar negeri muslimah yang berkarir sekaligus tidak melupakan hakikat dan peranan utamanya sebagai seorang istri dan ibu. Namun, di belahan dunia lain tak jarang pula kita temukan hak-hak wanita ditindas dan diinjak-injak.
Islam sudah memberikan kebebasan kepada wanita, Tidak percaya? Kalau begitu, dengarlah Al-Qur’an memapar sebuah kekacauan logika jahiliyah tentang eksistensi wanita. Mari kita sejenak menyimak barisan An Nahl 68-59 dan At Takwir 8-9 di bawah ini;

“Dan apabila salah seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuannya, hitam padamlah mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena (terasa) buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dan menanggung kehinaan, ataukah ia harus menguburkannya di salam tanah hidup-hidup? Ketahuilah…! Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu!”
“Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah Ia dibunuh?”

Dengan ayat-ayat ini terhapuslah kezhaliman terhadap hak hidup perempuan, pembunuhan, dan rasa malu memilikinya. Allah maha tahu, dengan solusi islam yang fitri ini muncul kenyataan baru; jumlah bayi perempuan yang lahir lebih banyak daripada jumlah laki-laki. Ya, dunia medis mengabarkan bahwa sperma bertipe X yang jika membuahai ovum akan tumbuh menjadi perempuan, jauh lebih kuat dari sperma Y yang menumbuhkan makhluk laki-laki.

Ketika risalah ini hadir, ia menjaga hak hidup wanita sehingga jumlahnya terus bertambah. Allah berkehendak menyempurnakan perlindunganNya terhadap kaum wanita.

Babak baru dalam dunia yang lebih modern juga menggoreskan kisah baru tentang wanita. Dimana mencari Kebebasan bukan lagi menjadi suatu permasalahan. Wanita sudah mendapatkan haknya untuk menuntut ilmu setingginya, sejajar dengan kaum laki-laki, mendapatkan hak-hak manusia, bahkan ada yang berkesempatan menjadi pemimpin.
Namun, ternyata pada saat sekarang,letak permasalahannya justru pada pemakaian “asset kebebasan” secara berlebihan dan terlalu di luar control.

Kebebasan dan emansipasi terkadang disalah-artikan oleh kaum “wanita” itu sendiri. Dimana, saat ini sangat banyak kita temukan wanita yang terbawa arus. Banyak yang terjerumus ke dalam pelanggaran-pelanggaran syar’i seperti dalam cara berpakaian, berbicara, dan bersikap.

Banyak yang tidak memanfaatkan dan meletakkan “kebebasan” mereka pada tempat yang seharusnya. Mengkambinghitamkan “kebebasan dan emansipasi wanita” untuk hal-hal jelek yang seharusnya tidak dilakukan.

Jadi, jika kita tilik kembali, KEBEBASAN itu tidak bisa kita artikan sebagai suatu tameng untuk leluasa melakukan segala hal. Karena kita memiliki nilai-nilai islam. Dan dalam islam, sudah jelas diberikan gambaran tentang batasan-batasan yang baik dan salah. Atau jika saya mendefinisikannya, tidak ada kata “Kebebasan mutlak” tetapi yang ada adalah “Kebebasan terikat”. Boleh setuju, boleh tidak…

*Bukan dari tulang ubun-ubun ia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
Tetapi dari rusuk kiri
Dekat ke hati untuk dicinta
Dekat ke tangan untuk dilindungi

11/07/2009
Dari berbagai sumber,
Nur’aini

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Antara Wanita dan Kebebasannya

  1. WellDone's Blog says:

    Bagus! tulisan yang bagus sekali! Aini berbakat jadi menteri agama sekaligus menteri pemberdayaan perempuan nih..

  2. Aini Cahayamata says:

    HEhehehe..
    Alhamdulillah jika wildan nyangka gitu..
    Standar lah dan,,,tulisan ini masih banyak yang perlu dikoreksi..
    Jadi menteri agama??
    (belum terniat, tapi untuk jadi politikus emang udah ada nat)
    *huahahaha, yang penting jadi perawat profesional dululah…
    Tapi jadi pemnteri Pemberdayaan perempuan??
    hmmm…pikir2 dulu deh..
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s