Our Wedding In Heaven


Bismillahirrahmanirrahim….

Assalamu’alaikum warrrahmatullahi wabarrokatuh…

Alhamdulillah, setelah beberapa lama vakum dari aktifitas melaksanakan hobby primer (Baca dan menulis) karena kesibukan ujian pratikum, aktifitas kepanitiaan pembinaan mahasiswa baru fakultas, dan latihan nasyid untuk FA gab Bakti (yang terakhir cuma beberapa kali tetapi lumayan menyita pemikiran gara-gara beberapa permasalahan internal, hualah istilahnya.. =>), akhirnya saya memiliki kesempatan juga untuk membaca dan menulis beberapa wacana yang menarik (*perhatian saya)…

Maaf jika pembukaan sedikit tidak matching dengan judul di atas. Tapi jangan ragu, dan jangan bimbang. Ini bukan karena penulis lagi linglung (walau memang habis sakit). Tulisan ini semacam resensi bebas (Bebas karena secara aturan tata bahasa, lumayan agak di luar kontorl aturan tentang resensi ). Ini mengenai buku yang berhasil saya tamatkan tak lebih dari setengah hari. Buku yang direkomendasikan dan dipinjamkan oleh seorang sahabat (Arigato gozaimasu Fenni-chan!^^) tersebut beridentitas sebagai berikut:

Judul : Our Wedding in Heaven (Pernikahan kami di Surga)
Jenis buku : Epik Romantis Islami
Penulis : ‘Azzam Hadban
Penerjemah : Atik Fikri Ilyas & Ali Ghufran
Penerbit : Maghfirah Pustaka
Hal : 336 hlm; 140×205

Jika membaca judulnya, selintas terfikir novel ini akan sedikit sama narasinya dengan AAC atau KCB, membahas tentang konflik manusia dari segi roman picisannya (-_-‘). Tetapi ada sisi lain yang lebih menarik dari epik ini. Yakni tentang kisah perjuangan “Jihad”-nya seorang pemuda yang diangkatkan secara menarik dan terasa lebih nyata. Berikut di dalamnya terdapat dalil-dalil (langsung dikutip dari ayat suci Al-Qur’an dan hadist Rasulullah) yang “ngena” sekali.

Epik ini mengisahkan perjuangan seorang pemuda Libanon (Usamah), yang terlahir di wilayah konflik daerah perbatasan Libanon dan senantiasa ditemani nuansa perang saudara. Ayahnya meninggal ketika Usamah masih kecil. Keadaan perang menjadikan Usamah sebagai pemuda yang pemberani, tidak takut apapun. “Perang” adalah ibu bagi anak-anak Libanon kala itu. Peranglah yang membesarkan mereka.

Di masa kanak-kanak dan remajanya, Usamah tampil menjadi pimpinan kelompok dan memposisikan diri selayaknya seorang Panglima di antara rekan-rekan sebayanya. Ya, Usamah memang bercita-cita menjadi seorang prajurit yang akan melindungi masyarakat sipil di daerahnya.

Komitmennya untuk menjadi pemimpin di masa kecil juga tak tanggung-tanggung, dibuktikan dengan sebrek prestasinya di setiap bidang apapun,baik ketarampilan , Olahraga, pelajaran, dan tentu saja Usamah kecil adalah bocah yang sedikit fanatic dengan ajaran agamanya. Sehingga kehadiran seorang gadis berjilbab (Abir) yang cerdas sangat mengusik hatinya karena Usamah menganggap wanita adalah makhluk bodoh yang tak pantas untuk menjadi pesaing laki-laki dalam berbagai hal apapun. Namun, kelembutan hati Abir mampu meruntuhkan persepsi Usamah tentang kaum hawa. Walaupun begitu, tetap saja Usama dengan segala kesombongan, gengsi kanak-kanaknya tetap berlaku kasar dan congkak terhadap Abir. Walaupun secara terang-terang Abir telah menunjukkan perhatian dan kekaguman kepada Usamah.

Sampai akhirnya Ibu Usamah terbunuh oleh sebutir peluru sniper misterius. Hal ini kontan membuat Usamah berang, kemudian ia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok militant yang sudah lama dikaguminya karena sepak terjangnya dalam melindungi rakyat sipil demi menuntut balas pada pembunuh ibunya.

Namun, Usamah ternyata mengagumi kelompok yang salah. Mereka semua ternyata sama. Antek-antek kaum imperialisme yang dengan berbagai tabir berusaha memperdaya kaum muslimin di tengah lemahnya kekuatan ukhuwah umat islam. Ternyata kelompok militant itu sendiri jugalah yang membunuh rakyat sipil tak berdosa sebagai alasan untuk memulai gencatan senjata(seolah-olah pembunuhan itu dilakukan pihak lawan)

Setelah mengetahui kebenarannya, Usamah memulai perjuangan, menghimpun kekuatan. Membela kebenaran, membunuh para pembunuh dan pen-zholim rakyat sipil, sampai akhirnya membunuh pimpinan kelompok militant yang ternyata serigala berbulu domba.

Itulah sekilas cuplikan narasi dari epik ini. Menariknya (terutama bagi saya), sekillas kita perhatikan perbuatan Usamah adalah bentuk jihad secara langsung yang mempergunakan harta, tenaga, dan jiwa. Namun, seorang sahabat Usamah (Syeikh Qasim, yang sejak awal menentang tindakan Usamah yang bergabung dengan kelompok militan ) mengingatkan Usamah tentang satu hal penting dalam berjihad yang mungkin sering terlupakan dalam sebuah percakapan menarik:

Qasim: “Seorang lelaki datang kepada Nabi Muhammad saw dan berkata ‘Ada seorang lelaki yang berperang demi harta rampasan, ada yang demi mengingat Allah SWT, ada yang berperang untuk memperlihatkan kedudukannya, mana yang berada di jalan Allah?’ Nabi saw bersabda, Siapa yang meninggikan kalimat Allah, maka ia berda di sabilillah (jalan Allah swt)”

Usamah: “Untuk meninggikan kalimat Allah swt” Usamah berkali-kali mengulanginya lalu ia berteria dengan keras,”Tunjukan padaku bahwa aku berperang tidak dengan niat ini!”

Qasim: “Coba aku Tanya padamu, sejak kapan kamu masuk ke kelompok militant?”

Usamah: “Saat aku percaya bahwa mereka berjuang mempertahankan kotaku”

Qasim: “Salah, yang benar adalah ketika ibumu terbunuh. Engkau ingin membalas dendam kepada yang membunuh. Kapan kamu membelot dari kelompok militant?

Usamah: “Ketika aku mengetahui kebobrokan mereka”

Qasim: “Salah, kamu membelot dari mereka baru setelah kamu tahu merekalah yang membunuh ibumu”

Usamah bagai tersadar dan berusaha kembali memperbaiki niatnya dengan senantiasa memperdalam ilmu agama dan memperbaiki diri.

Intinya,,, jihad yang utama itu harus diniatkan hanya karena Allah. Bukan karena hasrat kebencian dan balas dendam. Seperti halnya Rasulullah yang melarang Ali membunuh orang musyrik setelah orang tersebut meludahinya. Karena boleh jadi niat Ali seketika berubah, bukan lagi karena Allah, tapi karena menuntut balas atas perlakuan orang musyrik tersebut (Bagaimana dengan kita? Introspeksi mode:on)

Banyak lagi hal-hal lain terkait “JIHAD” di buku ini seperti teknik negosiasi yang dilakukan pihak muslimin dengan kaum imperialis yang digambarkan secara detail. Di sini umat islam senantiasa menggunakan dalil-dalil yang jitu sehingga kaum penjajahpun tak dapat berkutik untuk membalasnya.

Tentang kerinduan seorang Afrika yang lahir dan tumbuh di eropa, yang ingin sekali bertemu dengan saudara semuslim di Timur Tengah dan ikut berjihad bersama, tetapi di sisi lain ada seorang anak Timur Tengah yang belajar di luar negeri, malah tidak mau pulang ke negaranya dengan alasan ia sudah terbiasa hidup teratur dan tidak ingin kembali ke daerah konflik lagi.

Dari sisi perjuangan, terlihat sekali setiap tokoh memiliki semangat jihad yang tinggi. Kaum muslimin yang tak rela melihat dirinya hanya berpangku tangan dikala saudaranya terintimidasi. Mlihat saudara mereka diusir dari tanah-tanah mereka.

Namun pihak muslimin selalu menegaskan: Mungkin kami tidak mampu membebaskan tanah ini. Tapi tak akan pernah tercatat dalam sejarah selamanya, bahwa kami menjual tanah ini kepada kalian atau merelakannya untuk kalian tempati. Cukuplah perjuangan dan penolakan kami ini selalu membara dalam hati.

Satu lagi sisi Romantis yang cukup menarik dalam epik romantik islam ini, adalah pengorbanan Usamah merelakan gadis yang disukainya (Abir) menikah dengan sahabatnya sendiri (Husam). Padahal sebenarnya Abir lebih memilih Usamah, namun karena kekejaman Usamah dimasa lalu yang sering menghina dirinya dan kaum wanita lainya, menggoreskan rasa sakit hati yang dalam, serta rasa benci karena Usamah dianggap sebagai pembunuh, orang yang keji Karena bergabung dengan kelompok militan.

Setelah suami Abir syahid (Husam, sahabat karib Usamah), barulah terungkap semua perasaan Usamah selama ini, kebaikan hati Usamah yang ternyata membantu keluarga Abir secara diam-diam. Istilahnya, Usamah mencintai Abir dengan diam dan terhormat. Karena merasa tak mampu membahagiakan Abir, ia mendorong sahabatnya sendiri untuk melamar Abir. Namun sahabat Usamah bukanlah orang yang tidak peka, dalam salah satu surat wasiatnya ia menuliskan bahwa Usamah lah orang yang tepat menjaga Abir sepeninggalnya nanti. Usamah telah banyak berkorban untuk mereka, menyembunyikan rasa cinta untuk membahagiakan sahabat dan gadis yang dicintainya.

Karena kurang ahli dalam mengulas masalah ini, lebih baik saya tuliskan cuplikan surat wasiat Husam untuk Abir :

“Aku sekarang di depan pintu mati syahid. Sebagaimana aku telah meletakkan nyawaku di atas telapak tangan, aku juga ingin meletakkan hatiku di atas telapak tanganku juga agar bisa tenang. InsyaAllah kita bertiga akan berkumpul di surga, kemudian kamu memilih siapa yang lebih pantas di antara kami. Saat itu tidak akan ada lagi rasa cemburu atau iri. Sebab Allah akan mengganti orang yang tidak kamu pilih dengan kenikmatan tiada terkira”

Setelah sadar akhirnya Abir bisa memaafkan Usamah, namun semuanya telah terlambat, karena Usamah dalam keadaan sekarat menjemput kematian akibat luka akibat perlawanan orang-orang yang ingin membunuhnya. Tapi Abir rela dan ikhlas karena ia menginginkan kebersamaannya dengan Usamah di surga. “Namun, bagaimana mungkin, kamu istri Husam, sahabat karibku”timpal Usamah. Abir membacakan surat wasiat Husam dan berkata”Husam mati syahid. Dia akan diberi ganti oleh Allah dengan tujuh puluh bidadari . Sedangkan aku akan berada di sampingmu”

Akhirnya Usamah dan Abir menikah waktu itu juga disaksikan beberapa orang sahabat dan wali, namun beberapa jam kemudian Usamah syahid.

Hmm…MAsalah ini belum banyak yang mampu saya ulas…(^^)v

demikianlah…Mungkin ini dua sisi menarik dari epik “Our wedding in Heaven”ini.
JIka teman-teman membacanya sendiri, mungkin akan lebih terasa “feel”nya..

Buku ini juga bagus dibaca oleh para aktivis dakwah, yang mungkin dalam melaksanakan amanah dan aktivitas belum secara khaffah baik niat maupun usaha. Terkadang kita telah berbuat banyak, tetapi melupakan sesuatu, untuk siapa kita berbuat tersebut. Apakah Cuma demi amanah, hanya karena kedudukan kita sebagai pemegang jabatan ini dan itu? Atau karena ada tujuan lain yang menyelubungi niat kita dalam bergerak.

So, available this book as soon as possible..(promosi activated mode..heheheh ^^)

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s