GEMPA PADANG PART II (Sebuah Perjalanan Memilukan yang Kunamai Safari Bencana)


Tak perlu Nurdin M.Top dengan “bom maut” nya untuk meluluhlantakkan bangunan-bangunan itu, tapi cukup denga Allah berkata “kun fayakun” … maka bumipun bisa dibalik dan semuanyapun akan hancur berantakan…
****

Sesaat aku sempat terlelap di tengah kelelahan otak, dengan sedikit rasa lapar (10 jam tak menyentuh nasi cukup membuatku hipoglikemi…) namun aku bersyukur karena masih bisa tidur dan berteduh di tempat yang nyaman…hmmm…bagaimana nasib mereka yang lari mengungsi dan rumahnya roboh? di tengah rintikan hujan ini, masihkah mereka memiliki tempat untuk berteduh? Bayangan anak-anak yang menangis kembali menghantuiku. Dan bayangan para orang tua yang mencari anak atau anggota keluarganya yang hilang… arrgh… sungguh menyesakkan dada…

Puku 10.30 pm, terdengar deru mobil memasuki pekarangan. Aku berlari keluar, dan kulihat rombongan teman-teman sekost beserta keluarga ibu kos kembali dari pengungsian. Kami saling berpelukan, tapi tetap tanpa tangisan. Rasa haru menyelimuti hati, mendapati rekan-rekan selamat dan sekarang berkumpul di tengah gelapnya hari.

Kami saling berbagi kisah, tentang perjuangan masing-masing menyelamatkan diri dari gempa. Rasa haru dan syukur kembali membayangi diriku, mengingat perjuanganku tak seberapa berat dibanding sahabat-sahabatku yang berada di Padang ketika gempa mengguncang. Perjuangan mereka diwarnai adegan ketakutan, berlarian, berdesakan di jalan, bahkan salah satu adik kosku memanjat kamar mandi untuk keluar dari kamarnya yang terkunci dari luar sehingga menyebabkan cedera ringan di kakinya, sedangkan adikku yang lainnya terjatuh saat lari sehingga dagunya terbentur dan membiru. Dua jam mereka berjalan menuju tempat yang aman karena mobil sama sekali tidak bisa digerakkan karena macet, sedangkan ancaman bangunan yang mau rubuh membayangi di kiri dan kanan jalan.

Sejenak kami semua menenangkan diri. Kembali mencoba menghubungi keluarga masing-masing. Kali ini aku benar-benar menyesal telah menghabiskan baterey hape untuk sesuatu yang tidak terlalu penting namun sering kulakukan YAITU ON LINE alias NGENET, penyakit kronik yang satu ini sangat susah kuhilangkan, sampai sekarang belum kutemukan vaksin yang manjur untuk mengobatinya. Pelajaran bagi kita semua,, “on line lah pada waktunya!” [introspeksi diri mode: ON]

Akhirnya kupinjam hape adek kos untuk menghubungi keluarga. Tapi hasilnya ….. NIHIL= jaringan benar-benar raib dari peredaran..

Kami memutuskan untuk segera tidur, karena hari esok akan lebih berat. Agenda berat keesokan harinya merapikan kamar kos temanku di lantai 2 yang berantakan karena lemari yang tumbang serta barang-barang lain yang tidak istiqomah pada tempatnya masing-masing akibat guncangan gempa.

Namun, tentu saja kami tidak bisa benar-benar tidur tenang, karena 2 orang adik kostku belum diketahui kabarnya. Info terakhir mereka sedang berada di kampus. Dihubungi dengan HP pun tidak mempan. Beberapa saat berselang, silih berganti orang tua dari teman se-kos- ku berdatangan, mendekap anaknya, dan mengajak pulang. Namun, usaha pencarian dari 2 orang adikku tetap dilakukan. Setelah meminta bantuan RRI untuk mengumumkan, salah satunya berhasil pulang. Sedangkan yang satu lagi, benar2 lost contact. Ba’da shubuh, teman-teman yang dijemput ortu kembali ke kampung halaman masing-masing. Maka tinggallah kami ber4 bersama keluarga ibu kost.

Pagi menjelang… pagi yang mendung,,, rintik hujan dan raungan sirine masih menemani. Pagi itu kulangkahkan kaki keluar pekarangan kos. Baru jelas kulihat kerusakan yang terjadi. Pada umumnya pagar di komplek perumahan itu rusak dan astagfirullah, gedung perkantoran 2 lantai di belakang rumah kost (yang tidak kuketahui itu kantor apa, karena baru selesai dibangun dan masih tidak ada palang nama) rubuh seperti terlipat ke bawah. Atapnya sekarang jadi lantai 2, sedangkan lantai 2 menjadi lantai satu dan Lantai 1 pun pasrah merayap bersama tanah. Inna lilahi… sungguh dahsyat gempa kali ini. Sedangkan jauh di cakrawala sana masih kulihat asap hitam mengepul, sisa-sisa kebakaran pasar raya tadi malam.

Aku sempatkan berkunjung ke kos teman2 yang lain u/ menanyakan kabar dan mencari info teman-teman se kampus yang lain. Ternyata masih ada yang tidak mengetahui nasib teman sekosnya. Hmm…

Keluar dari jl.Tarandam III, kulihat kantor Padang Ekspress sedikit miring, dengan retakan parah di sana-sini. Menyusuri Jl. Proklamasi di tengah gerimis, aku mengunjungi lokasi gedung C Bimbel GAMA yang benar-benar ambruk. Di sana sudah banyak warga yang berkerumun menonton proses evakuasi. Miris jika mengingat masih banyak siswa-siswi SD dan SMP yang terperangkap di sana. Para orang tua yang menantikan kabar anaknya di sana tampak gundah gulana. Sedangkan di bagian jalan di seberang sana tampak gedung BNI dan BMC bertambah aksesorisnya dengan kaca yang pecah, retakan-retakan indah hasil designer alam.

Sebuah safari bencana yang memilukan kulanjutkan siangnya bersama ayah yang menjemputku untuk pulang. Menyusuri jalanan, tampak pasar raya yang sekarang berubah total. Bertambah hancur… ahhh kapan lagi bisa kulihat pasar raya seperti pasar raya 2 hari yang lalu?

Kutatap Plaza Andalas yang sekarang tertunduk tak berdaya dengan sisa-sisa jilatan api di bagian depannya. Akankah kutemukan lagi PA yang begitu ramainya dengan teriakan-teriakan heboh karyawannya yang mengobral barang diskon???

Aku seakan menyusuri kota mati, ketika menyasikkan bangunan kiri-kanan berubah menjadi puing-puing berceceran.

Dan lihatlah bangunan melingkar beratap hijau, terletak di jl. Bundo Kanduang, tempat aku menunggu angkot ke Ulak Karang jika dari kampus, dan dahulunya sangat indah. Bangunan itu bernama HOTEL AMBACANG!! kini terlihat sayu. Tak ada lagi kemegahan dan tak kulihat lagi karyawan hotel yang memakai seragam ala prajurit Belanda lalu lalang di depannya. Yang kusaksikan adalah para relawan, satkorlap, dan entah dari instasi mana saja yang mengais2 reruntuhan mencari tamu hotel yang terperangkap.

Perjalanan kulanjutkan… Dan fakta mengerikan kembali terhampar di depan mata. Pondok,, kawasan industri kota Padang yang juga merupakan kampung pecinaan itu terbujur kaku dengan kerusakan yang teramat parah. Pondok adalah kawasan yang sering kukunjungi, sekurang-kurangnya 5x seminggu karena kampusku terletak di tengah2 komunitas chines tersebut. Ya Allah, apa kabarnya kampusku??? Biar jelek, itu tetap kampus tempat kumenuntut ilmu 2 tahun terakhir ini. Hanya 1 kata yang muncul di benakku kala itu, yaitu : Pasrah…

Perasaan pilu sedikit terobati melihat kemegahan Mesjid Nurul Iman yang masih berdiri kokoh. Nurul Iman adalah rumah kedua kami setelah kampus di kawasan Pondok ini. Jika tidak ada kuliah atau lampu mati (sehingga air mati di kampus), kami akan sholat dan beristirahat di sana. Agenda tarbiyah rutin kamipun sering berlangsung di sana… Nurul Iman berdiri megah, berbanding terbalik dengan deretan toko, studio photo, bank BRI di depannya. Gempa telah menyulap lantai 2 menjadi lantai satu. Parah….

**** Hari itu, sepertinya tak ada lagi pelangi di kota Padang, teriris oleh gerimis, mendung pun merangkak menutup mentari. Terbias warnanya ke wajah-wajah yang sendu.

Lagu keceriaan tiada kedengaran, bumi yang merangkak disirami darah, kemelut melanda tiada kesudahan. Kemusnahan bermaharajalela, yang lemah menjadi mangsa.

Anak-anak kecil menggoncangkan ibunya, yang lemah lunglai, tak lagi bernyawa. Jeritan suara bathinnya…. tak siapa mendengarnya…

#berharap kemanusiaan itu tidak hilang, dan asa-asa tidak tergadaikan oleh janji-janji semu…

bersambung….

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to GEMPA PADANG PART II (Sebuah Perjalanan Memilukan yang Kunamai Safari Bencana)

  1. ice says:

    bener2 biki hati teriris..
    dan trauma berkepanjangan itu pun belum terobati, apalagi dg gempa2 kecil yang masih menyentil.

    tp Allah selalu bsm org yang sabar…
    ini ujian

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s