MENAKAR KOMITMEN PERJUANGAN

Oleh” Agung wicaksono (Ketua Deputy Pelajar dan Mahasiswa Jatim)

Rijalud Dakwah adalah seseorang yang telah tertabiyah secara intensif hingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah. Ia juga berpotensi menjadi anashirul taghyir atau agen perubah di tengah masyarakat. Oleh karena ia melakukan pekerjaan besar maka ia harus memiliki kemampuan dan daya tahan untuk melkukan pekerjaan itu. Ia juga harus memiliki karakter yang kuat, teguh, sabar, komitment, dan kesungguhan dalam bekerja(berdakwah). Di usia tarbiyah yang lebih dari 25 tahun di negeri ini, ternyata banyak hasil dari buah dakwah yang sudah bisa kita rasakan, mulai dari kemudahan kita untuk melakukan aktivitas dakwah, semakin besarnya tingkat penerimaan public terhadap dakwah, sampai pada munculny arijal dakwah yang sudah menjadi tokoh, baik local maupun nasional. Namun di sisi lain dalam perjalanannya tidak sedikit dari pekerjaan –pekerjaan dakwah yang belum tuntas, peluang-peluang yang belum teroptmalkan, yang semua ini membutuhkan kehadiran kader dakwah untuk masuk ke dalam ruang pekerjaan amal ini.

Sebagaiamana firman Allah dalam QS 33:32 : Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di anatara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya). Kita sedang menunggu tampilnya rijal dakwah yang siap untuk meneruskan pekerjaan besar ini, pekerjaan yang butuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan bahkan untuk menyelesaikannya membutuhkan waktu lama. Selain itu, pekerjaan besar ini membutuhkan syarat kecukupan dan kecakapan kader dalam mengisi peluang-peluang amal.

Oleh karenanya, sudah saatnya para rijal dakwah menakar kembali komitmen perjuangannya, paling tidak, ada 5 indikator untuk mengukur seberapa besar kesungguhan (komitmen) perjuangan yang dimilki oleh seorang kader:

1. Responsif terhadap agenda dakwah (al fauriyatul littanfidz)

Allah berfirman dalam QS 29-69, “ Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik”

Ayat tadi memberikan gambaran bahwa allah memberikan motivasi kepada rijal dakwah untuk senantiasa berada pada orbit terdepan dalam merespon seruan dakwah. Ketika kita telah memilih dengan sadar bahwa dakwah adalah panglima, maka konsekuensinya adalah bagaimana seorang kader akan menyambut seruan itu tanpa reserve, sebagaimana sambutan sahabat Handzallah menunjukkan integeritasnya sebagai seorang rijal dakwah. Ia berusaha memenuhi seruan dakwah hingga menemui kesyahidan. Dari kisah ini tersebut Handzallah telah memberikan inspirasi kepada kita untk tetap memiliki komitmen perjuangan hingga menggapai kesyahidan

2. Kemauan yang kuat (Quwwatul iradah)

Di lapangan amal masih sering kita jumpai permasalahan kader yang terkait dengan kemauan untuk menghadiri agenda dakwah, menghindari amanah, dan ketidakmauan untuk tetap berada pada komunitas dakwah merupakan kenyataan dari sekian banyak problematika yang harus segera diselesaikan. Harus ada kemauan, obsesi, serta keyakinan yang besar agar setiap kader tetap bisa eksis dalam aktivitas dakwah. Ya, rijal dakwah harus memiliki obsesi keimanan yang membuatnya merasa janak untuk tetap berada pada ruang kecintaan Allah dan RasulNya.

Kita melihat kisah Umair bin Al Hamam yang mengeluarkan kurma di tangannya, memakannya, lalu berkata “Jika aku hidup untk memakan kurma-kurma ini maka itu terlalu lama, lalu ia membuang kurmanhya dan bertempur di medan Badar hingga terbunuh”. Kemauan yang sangat luar biasa, perlu kekuatan intuisi dan ketajaman mata hati untuk bisa melaksanakannya dan itu telah dibuktika oleh Umair bin Al Hammam utnuk mendapat kehidupan yang abadi. Rijal dakwah sudah seharusnya melakukan evaluasi amal yang selama ini telah dilakuakn, mengukur kembali komitmen perjuangan. Sudah tidak saatnya lagi rijal dakwah masih menimbang-nimbang antara kepentingan pribadi dengan seruan dakwah. Di sinilah rijal dakwah bisa mengukur apakah selama ini dia telah memiliki komitmen perjuangan yang maksimal ataukah belum.

3. Tetap tekun dalam melaksanakan da’wah (mutsabaratu ‘atad da’wah)

Tetap tekun di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi dari keimanan.Iman bukanlah sekedar kata-kata yang diucapkan melainkan sebuah kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan kesabaran dan kekuatan. Tidak mungkin seorang rijal dakwah mengatakan kami percaya pada islam dan dakwah tanpa berhadapan lebih dahulu dengan ujian dakwah. Rasulullah yang tetap tekun menjalankan aktivitas dakwahnya, walaupun harus melewati terror secara psikis, caci maki, fitnah, dan bahkan perlawanan secara fisik dari orang-orang Quraisy, namun beliau tetap tekun dan sabar untuk tetap menjalankan aktivitas dakwah. Rijal dakwah akan bisa menakar seberapa besar komitmen perjuangannnya apabila ia telah teruji di berbagai ujian dakwah, melewatinya dan kemudian tersenyum untuk memetik buah dakwahnya yang telah ditanamnya setelah sekian lama. Di sinilah kematangan seorang rijal ditentukan, ia akan semakin matang dan dewasa dalam menyikapi pesoalan-persoalan dakwah setelah sekian lama berinteraksi dengan medan dakwah itu sendiri.

4. Mengerahkan potensi maksimal (Taskhiirul amkinat).

Rijal dakwah yang dibutuhkan saat ini adalah rijal yang memiliki kemampuan memelihara dan mengmbangkan potensi kebaikan yang ada pada dirinya (tarqiyah tarbawiyah) yang mampu mengalirkan energy kebaikannya dan mentransformasikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Dia harus mampu mengkloning keshalehan pribadi menjadi keshalehan social. Dia belum dikatakan memiliki kesungguhan dalam komitmen perjuangan kesuali ia telah melakukan pekerjaan ini secara tulus. Dia belum dikatakn memiliki kesungguhan dalam komitmen perjuangan kecuali ia telah melakukan pekerjaan ini secara tulus. Mungkinkah seorang kader bersiam diri sementara ummat telah menunggu keterlibatan dalam proyek amal? Karena kalau ia berdiam diri tidak mau mengerahkan seluruh potensinya, maka pada saat itu ia berarti ia telah menelantarkan oara pendukung dakwah.

5. Mengalahkan udzur pribadi (Mugholabatul I’dzar)

Afwan saya tidak bisa hadir karena sibuk. Afwan saya tidak bisa dating karena ngurus anak, atau mungkin afwan saya tidak bisa ikut syuura karena capek. Itu kira-kira ungkapan-ungkapan yang sering kita dengarkan dari lapangan dakwah. Sibuk, lelah, dan capek memang konsekuensi dari pekerjaan dakwah. Tetapi masalahnya pakah kita sudah yakin bahwa seluruh aktivitas hidup kita semuanya sudah terkait dengan agenda dakwah, ataukah semua aktivitas kita adalah aktivitas untuk pemenuhan hasrat duniawi kita, atau mungkin semua itu hanya alas an-alasan yang bis akita ungkapkan kepada rijal dakwah yang lain agar kita tidak terlibat dalam proyek dakwah?

Kita bisa mendapatkan pelajaran tentang masalah ini dari kisah perang tabuk, bagaimana Ka’ab bin Malik tidak turut serta dalam peperangan yang sangat menguras tenaga karena panasnya cuaca pada saat itu tanpa alasan syar’i. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan uqubah (hukuman) berupa boikot komunikasi. Uqubah ini dirasa cukup untuk dijadikan illaj (proses perbaikan) bagi seorang kader. Rijal dakwah perlu merenungkan kembali apakah udzur-udzur kita selama ini karena aktivitas dakwah yang lain, ataukah hanya sekedar alasan-alasan yang mungkin bisa dihadirkan secara rasional kepada setiap orang yang mendengarkan , sehinggga yang mendengar bisa memberikan permkluman terhadap ketidak hadirannya dalam agenda dakwah. Dan kemungkinnanya, semakin lama usia tarbawi seseorang semakin bisa dan mudah ia menyampaikan alasan-alasan kepada objek dakwah.

Amir bin Jamuh ra, sangat ingin ikut dalam peperangan walau pun kakinya cacat dan mendapatkan larangan anak-anaknya dalam berjihad, tetapi ia tidak mau mengambil rukhshah yang telah diberikan. Ia telah memilij dakwah merupakan dalam merupakan salah satu sifat kader dakwah yang penting tanpa karena komitmen perjuangan dakwah tidak akan pernah eksis dan tujuan-tujuannya tidak akan pernah tercapai. Rijal dakwah akan mampu memiliki kemampuan memikul beban dan amanah ketika telah memiliki lima indicator di atas. Sudahkah kita menakar komitmen dakwah kita? Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan keistiqomahan pada setiap langkah dakwah kita. Wallahu’alam..

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s