HIV/AIDS Diperingati ???

HIV/AIDS Diperingati ???

Assalamualaikum blogger semua…

Wah udah lama juga rasanya gak cerita-cerita di sini. Mungkin beberapa waktu yang lalu postingan di blog ini rada-rada mellow dan banyak yang copasus (copy paste tanpa kasus) dari note sahabat (^^). Tapi ya menulis itu sekali lagi bagiku bukanlah suatu paksaan, bukan sesuatu yang dikerjakan ketika diperintahkan saja. Dan menulis bagiku adalah suatu kebutuhan ketika naluri ini tiba-tiba memunculkan dan menerbitkan ide-ide untuk dituliskan…(gak nyambunga yah?? ^^)

Eniwei, tulisan kali ini berkaitan dengan momentum terup-date (walaupun ketika tulisan ini diposting gak lagi bisa dibilang sesuatu yang up date. Yaitu “Hari AIDS sedunia” yang jatuh pada tanggal 1 Desember lalu.

MEMPERINGATI HARI AIDS SEDUNIA

Suatu peringatan yang rancu memang. Dan bukanlah suatu peringatan yang musti diiringi dengan euphoria kebahagiaan. Tidak sama dengan ketika kita memperingati “Hari Kemerdekaan”, memperingati “Hari Ibu”, apalagi memperingati “Hari Raya”.

Yup, setidak-tidaknya “Peringatan Hari AIDS Sedunia” ini adalah suatu peringatan yang diharapkan suatu saat kelak kita tidak akan memperingatinya lagi. Tujuannya lebih ke arah mensosialisasikan kepada masyarakat “Betapa PENTING-nya MENCEGAH PENULARAN HIV/AIDS “ ini.

APA ITU HIV AIDS??

Berdasarkan kuliah “Ilmu Penyakit Dalam” yang saya pelajari semester lalu;

 HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah penyebab AIDS, menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh tidak mampu melindungi diri dari berbagai penyakit
 AIDS ; sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan HIV

Penularan HIV/AIDS??

1. Hubungan seksual
2. Jarum/alat suntik yg tercemar HIV
3. Transfusi darah
4. Bayi dari ibu hamil HIV
5. Air susu ibu HIV

Cairan tubuh penular HIV/AIDS?

1. Darah
2. ASI
3. Sperma
4. Cairan kemaluan wanita
5. Cairan dubur

*keringat, air mata, air ludah TIDAK menularkan HIV

Gambaran Klinis HIV/AIDS

Gejala Mayor :
• BB turun > 10 % Dalam1 bulan
• Diare kronis > 1 bulan
• Demam panjang > 1 bulan
• Penurunan Kesadaran/ggn Neurologis
• Dimensia/HIV encefalopati

Gejala Minor :
• Batuk > 1 bulan
• Herpes Zoster multi sektor/berulang
• Dermatitis Generalisata
• Kandidiasis oro faringeal
• Herpes simplek kronis progresif
• Limfadenofati generalisata
• Infeksi Jamur berulang pada Alat Kelamin wanita

Stadium HIV AIDS
• Stadium klinis I
ASIMTOMATIK
LIMFADENOPATI PERSISTEN GENERALISATA
• Stadium klinis II
PENURUNAN BB TERAPI PENGOBATAN?

TERAPI ARV, adalah terapi medis yang dilakukan terhadap ODHA (Orang dengan HIV AIDS) untuk mencegah infeksi dan penyebaran lebih lanjut dari virus HIV.
Tujuan ARV
• Menghentikan progresifitas penyakit HIV dengan menekan viral load
• Memulihkan sistem immun, dan mengurangi terjadinya infeksi oportunistik
• Memperbaiki kuailitas hidup
• Menurunkan morbiditas dan mortalitas karena infeksi HIV

BAGAIMANA dengan Penyebaran dan Penularan HIV di Ranah Minang?

Ranah Minang yang kita kenal dengan “Adat basandi Syarak, syarak basandi Khitabullah”nya bukanlah jaminan untuk menempatkan Ranah Bundo Kanduang ini sebagai wilayah yang “aman” dari penyebaran virus HIV/AIDS.

Bahkan menurut data yang didapatkan dari Rumah Sakit M.Djamil Padang, frekuensi penderita HIV sampai tahun 2008 dari Sumatra Barat meningkat mencapai 192 orang dengan spesifikasi: yang berasal dari suku Minang asli: 97%, Cina 1%, Melayu 1%, Suku Jawa dll 1%.

Sampai detik ini, belum ada obat yang benar-benar bisa meyembuhkan HIV AIDS. Sedangkan terapi-terapi yang di dapatkan ODHA lebih ke arah bagaimana virus-virus itu tidak menjalar dan berkembang biak lebih cepat di tubuh. Ibaratnya, terapi pengobatan yang dilakukan adalah upaya memperlambat dan menghentikan kereta api yang sedang bergerak menuju jurang.

Orang dengan HIV/AIDS bukanlah makhluk yang harus kita hindari. Bagaimanapun, mereka adalah manusia yang masih memiliki HAM-nya. Dan kita harus menghormati hal tersebut. Dan memberikan support serta dorongan untuk mereka agar tetap menjalani kehidupan ini dengan baik dan semaksimal yang mereka mampu.

Penularan HIV yang terjadi, tidak hanya disebabkan karena “perilaku” dari yang bersangkutan saja. Namun, sebagian orang yang tertular HIV, juga dikarenakan kelalaian manusia lain. Atau istlah Minang-nya “Dapek Sanang se” contohnya adalah bayi-bayi yang dikandung oleh seorang Ibu yang mengidap HIV. Mungkin Ibu ini juga tertulari oleh pasangannya. Atau contohnya seorang pasien yang mendapatkan transfusi darah yang “tidak bersih” dan mengandung virus HIV, atau kejadian paling ekstrimnya, tenaga Medis (yang nota bene seharusnya lebih paham tentang pencegahan ini) tidak bersikap hati-hati dalam merawat ODHA, sehingga ketika melaksanakan tugasnya, tenaga medis tersebut tertular melalui jarum suntik “bekas ODHA” yang tak sengaja tertusuk ke kulit/tubuh perawat, dokter, dll. (naudzubillah…). Maka selalulah lakukan tindakan medis sesuai protap (prosedur tetap) dengan penuh ketelitian. Seperti kata beberapa dosen saya, “Perlakukanlah pasien seolah-olah mereka adalah pasien HIV AIDS, jangan membeda-bedakan tindakan terhadap pasien, pasien HIV dirawat dengan penuh ketelitian, sedangkan pasien lain Cuma sekedarnya”. Intinya, perlakukanlah semua pasien dengan ketelitian yang sama.

Atau mau contoh yang lebih ekstrim? Di luar negeri sana, ODHA “jahat” dengan tega dan sadisnya , penuh kebulatan tekad “untuk menyebarkan virus mematikan ini” akan melakukan berbagai upaya untuk membuat orang lain tertular. Contohnya dengan sengaja melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang bergonta-ganti, atau menyelipkan spuit (jarum suntik) yang berisi darah ODHA di bangku-bangku bioskop, sehingga ketika pangunjung datang dan duduk, jarum suntik tersebut secara otomatis menyemburkan darah bervirus ke tubuh pengunjung (wallahu’alam apakah virusnya dalam keadaan hibernate/mati) kisah ini saya dapatkan di salah satu buku (*lupa judulnya) dan banyak terjadi di Negara-negara barat seperti Belanda dan Amerika. (pesan moral= hati-hati kalau mau nonton di bioskop, jika bisa nggak usah ke bioskop deh kalau mau nonton!! ;p)

Menurut pandangan seseorang yang bernama Nur’aini (dan mungkin juga menurut pandangan orang-orang dengan nama yang berbeda), solusi yang ditawarkan pemerintah untuk mencegah penularan HIV/AIDS yang salah satunya dengan “pemakaian kondom” ketika melakukan hubungan seksual, amat sangat TIDAK efektif. Kenapa? Yang pertama, itu sama saja dengan melegalkan perilaku “Seks Bebas” di kalangan masyarakat. Para pasangan “tanpa status” akan lebih memiliki peluang untuk “have seks” tanpa ketahuan dan tanpa diiringi rasa takut yang perempuan hamil duluan. Yah, apalagi jika mendapati kondisi di masyarakat kita saat ini, membeli kondom ibarat membeli obat sakit kepala di warung-warung (begitu gampangnya untuk ditemukan). Kedua, menurut pandangan beberapa pakar (dengar kuliah dari dosen) memakai kondom tidaklah efektif, karena masih ada kemungkinan-kemungkinan untuk bisa dilewati cairan tubuh (sperma or cairan vagina). Apalagi untuk ukuran virus yang sangat kecil, kurang imbang dengan ukuran pori-pori kondom (wallahu’alam berapa perbandingannya, *keterbatasan pengetahuan penulis)

JADI, PENCEGAHAN YANG PALING EFEKTIF ITU SEPERTI APA?

Gampang saja sebenarnya. KEMBALILAH IKUTI ATURAN ALLAH SWT, patuhi dan taati. Resiko untuk tertular akan lebih kecil (kecuali jika di lauful mahfuz sana memang sudah tertulis takdir yang demikian). Semua yang sudah ditetapkan oleh Allah sudah memiliki kadar “keseimbangan”. Gampang kan??? Namun, tentu saja, sekali lagi (peringatan yang sering saya cantumkan di note-note sebelumnya) terkadang idealisme tak sejalan dengan realita (penerapan teori menjadi aksi memang sulit) namun tentu saja kita tidak boleh menyerah. Selalulah berusaha utnuk mengikuti aturan main Allah.

We know, We care, We do, itulah jargon yang sering diusung ketika kita berbicara mengenai HIV/AIDS. Dan semoga, jargon tersebut bisa menggiring kita untuk dapat berperan dalam pencegahan penularan virus ini lebih lanjut.

Afwan jiddan jika ada data-data yang kurang lengkap atau kurang berkenan di hati para blogger semua.

@ my Second baiti jannati, Wisma Al-Husna
02 Desember 2009, 21:18:18

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s