LEt’s Talk About “LOVE”

Ni Bicara Soal “CINTA”
Bismillahirahmanirrahim…

Judul yang sedikit aneh??
Right….
Yap, Ni ingin membahas mengenai satu kata fenomenal ini. Actually, sebenarnya ini adalah pembahasan yang cukup sensitive. Dan Ni jarang banget ngambil tema ini sebagai bahan tulisan. Bisa teman-teman cek and ricek, hanya 1 atau 2 judul tulisan yang benar-benar membahas tentang “cinta”

Kenapa Ni tiba-tiba ngambil cinta sebagai tema kali ini?

Pertama, karena ini menyangkut peristiwa-peristiwa dan tragedy yang terjadi di sekitar Ni beberapa saat lalu. Yah, banyak teman-teman yang terlibat kasus dengan “masalah hati” yang satu ini. Kalau di kalangan aktivis namanya “Virus Merah Jambu”

Kedua, tiba-tiba ada fenomena yang bernama “cyber love” yang terjadi di era internetan dimana umat sudah banyak yang hobi surfing ke jejaring sosial, online, chating, and so on yang membuat seseorang tiba-tiba merasa jatuh cinta kepada teman di dunia maya-nya. Entah itu karena kagum dengan kecantikan fisik, karena seringnya frekuensi interaksi di jejaring sosial, atau karena sekedar kekaguman atas karya-karya seseorang di situs-situs maya ini.

Ketiga, nah,,, sekarang kan lagi hot-nya moment idul Adha neh… teman-teman tentu masih inget dengan kisah Nabi Allah Ibrahim as dan Ismail as yang diuji keimanan dan rasa cintanya kepada Allah melalui sebuah titah dari Allah yang mungkin kita sendiri gak bakalan sanggup. Dimana salah satu pesan moral yang bisa kita tangkap melalui tragedy itu adalah: Mengorbankan cinta kepada anak demi ketaatan kepada Allah.

Sebelumnya, Ni mohon maaf kepada para pembaca, karena mungkin pembahasannya akan lebih bersifat “subjektif” karena bisa dilihat dari judulnya di atas “Aini Bicara Soal Cinta”. So, mohon maaf, afwan jiddan jika ada yang tidak berkenan. Karena ini bukanlah sebuah penelitian ilmiah, bukan sebuah eksperiment yang telah mengalami trial and error berkali-kali, tetapi lebih kepada penelitian semi ilmiah melalui pengamatan-pengamatan terhadap fenomena lingkungan, gejala-gejala alam, baca-baca referensi dari buku, internet, majalah, dan yang pastinya pedoman umat yang utama (inshaAllah).

Oke, let’s talk about Love…

cinta adalah kekuatan
yang mampu
mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah setan jadi nabi,
mengubah iblis jadi malaikat,
mengubah sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan
mengubah kandang jadi taman
mengubah penjara jadi istana
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibah
itulah cinta!
*Jalaludin Rumi

Cinta adalah satu kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Mungkin ketika teman-teman berbicara mengenai cinta, yang muncul adalah perasaan-perasaan melankolis yang menyenangkan, teringat kepada perasaan sayang, suka, kagum, merasa nyaman dan ingin memiliki sesuatu yang dicintai itu selamanya.

Hmmm… Itu versi lebay dan romantiknya. Dan tak dapat dipungkiri, memang kebanyakan rasa-rasa seperti itulah yang muncul ketika seseorang jatuh cinta. Semuanya tampak indah dan berbunga-bunga.

Apalagi di kalangan remaja, karena sudah menjadi anggapan umum bahwa cinta identik dengan ungkapan rasa sepasang sejoli yang dimabuk asmara. Ada yang mengatakan cinta itu suci, cinta itu agung, cinta itu indah dan saking indahnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dll. Bahkan Jalaludin Rumi menggambarkan saking indahnya cinta, setan pun berubah menjadi nabi. Yang jelas karena cinta, banyak orang yang merasa bahagia namun sebaliknya karena cinta banyak pula orang yang dibuat tersiksa dan merana. Cinta dapat membuat seseorang menjadi sangat mulia, dan cinta pula yang menjadikan seseorang menjadi sangat tercela.

*Yah, silahkan temna-teman berimajinasi tentang pengertian cinta yang Anda rasakan.
Namun, ada satu hal yang patut kita perhatikan. Adalah ketika cinta kepada lawan jenis menjadi suatu tameng yang menyebabkan kita lalai, menjadikan cinta kepada lawan jenis sebagai patokan dan acuan untuk beraktivitas. Sehingga melakukan ini itu karena “dia”. Berbuat ini karena supaya dilihat “dia”, berkarya untuk mendapatkan pujian “dia”… dan bla bla bla. Naudzubillah sekali jika sempat tercetus dalam bathin kita beribadah karena “dia”.
Faktanya, banyak sekali hal-hal di lingkungan kita yang semuanya itu berkaitan dengan “cinta kepada lawan jenis” yang mana hal ini yang turut andil menjadi factor predisposisi seseorang mengidap penyakit “cinta terlarang”.

Contoh gampangnya saja : musik. Coba teman-teman perhatikan lagu-lagu yang beredar di zaman sekarang (mungkin di zaman lampau juga) pada umumnya “ABOUT LOVE” yang patah hati lah, yang lagi jatuh cinta lah, yang selingkuh lah, yang gombal lah, bahkan tema “Perselingkuhan” sedang marak-maraknya beredar di musik tanah air. Kayagnya kok bangga gitu karena bisa selingkuh.

Liriknya me-lebay lebay, penuh gombalan, benar-benar membuat mual jika terlalu dikenang. Bahkan banyak lagu-lagu tersebut Cuma menang di “enak didengar”nya doank. Tapi kalau dibawakan ke kriteria “lirik yang bermutu” hmmm… masih jauh panggang dari api.

Kemudian kita selalu direcoki dengan sinetron dan film. Kalau di musik kita cuma bakal nge-denger, nah sinetron malah menyajikan prakteknya langsung untuk ditonton T_T. Sedih bila kita ingat ini akan berdampak sekali pada moral anak bangsa. Sebuah konspirasi penghancuran nilai-nilai dan adab bergaul di antara laki-laki dan perempuan.

Banyak lagi sebenarnya contoh-contoh lain yang berserakan di sekitar kita. Namun sayangnya kita terlalu naïf untuk membedakan mana yang wajar dan mana yang tidak wajar. Semuanya terlihat semakin biasa. Dulu mungkin awalnya kita akan merasa risih melihat adegan pegangan tangan di TV, sekarang adegan pegangan tangan adalah hal yang biasa bahkan telah banyak adegan-adegan lain (*yang lebih parah) ditonton “santai” bahkan oleh anak di bawah umur sekalipun.

Jadi, Ada Apa dengan Cinta itu SEBENARNYA?

Lalu, apa sebenarnya makna daripada cinta? Benarkah cinta hanyalah sepenggal kata namun mengandung sejuta makna? Atau pendapat para filosof bahwa makna cinta tergantung siapa yang memandang? Rupanya tepat seperti ungkapan Ibnu Qayyim Al Jauziah tentang cinta, bahwasanya, “Tidak ada batasan tentang cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri.”

Ada pun kata cinta itu sendiri secara bahasa adalah kecenderungan atau keberpihakan. Bertolak dari sini cinta dapat didefinisikan sebagai sebuah gejolak jiwa dimana hati mempunyai kecenderungan yang kuat terhadap apa yang disenanginya sehingga membuat untuk tetap mengangankannya, menyebut namanya, rela berkorban atasnya dan menerima dengan segenap hati apa adanya dari yang dicintainya serasa kurang sekalipun, dan ia tumpahkan dengan kata-kata dan perbuatan.

Cinta dalam pandangan Islam adalah suatu hal yang sakral. Islam adalah agama fitrah, sedang cinta itu sendiri adalah fitrah kemanusiaan. Allah telah menanamkan perasaan cinta yang tumbuh di hati manusia. Islam tidak pula melarang seseorang untuk dicintai dan mencintai, bahkan Rasulullah menganjurkan agar cinta tersebut diutarakan.

“Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia memberitahu bahwa ia mencintainya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzy).

Seorang muslim dan muslimah tidak dilarang untuk saling mencintai, bahkan dianjurkan agar mendapat keutamaan-keutamaannya. Islam tidak membelenggu cinta, karena itu Islam menyediakan penyaluran untuk itu (misalnya lembaga pernikahan) dimana sepasang manusia diberikan kebebasan untuk bercinta.

Menurut Syaikh Ibnul Qayyim, seorang ulama di abad ke-7, ada enam peringkat cinta (maratibul-mahabah), yaitu:
Peringkat ke-1 dan yang paling tinggi/paling agung adalah tatayyum, yang merupakan hak Allah semata.
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Rabbul ‘alamiin.”
“Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (S.2: 165)

Jadi ungkapan-ungkapan seperti: “Kau selalu di hatiku, bersemi di dalam qalbu” atau “Kusebutkan namamu di setiap detak jantungku,” “Cintaku hanya untukmu,” dll selayaknya ditujukan kepada Allah. Karena Dialah yang memberikan kita segala nikmat/kebaikan sejak kita dilahirkan, bahkan sejak dalam rahim ibu… Jangan terbalik, baru dikasih secuil cinta dan kenikmatan sama si ‘do’i’ kita sudah mau menyerahkan jiwa raga kepadanya yang merupakan hak Allah. Lupa kepada Pemberi Nikmat, “Maka nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu semua dari Allah (QS. 2: 165).

Peringkat ke-2; ‘isyk yang hanya merupakan hak Rasulullah saw. Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin mengikutinya, mencontohnya, dll, namun bukan untuk menghambakan diri kepadanya.

“Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Nabi saw) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali Imran: 31)

Peringkat ke-3; syauq yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami istri, antar orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah.

Peringkat ke-4; shababah yaitu cinta sesama muslim yang melahirkan ukhuwah Islamiyah.

Peringkat ke-5; ‘ithf (simpati) yang ditujukan kepada sesama manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, berdakwah, dll.

Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta/keinginan kepada selain manusia: harta benda. Namun keinginan ini sebatas intifa’ (pendayagunaan/pemanfaatan).

Hubungan Cinta dan Keimanan

Dalam Islam cinta dan keimanan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Cinta yang dilandasi iman akan membawa seseorang kepada kemuliaan sebaliknya cinta yang tidak dilandasi iman akan menjatuhkan seseorang ke jurang kehinaan. Cinta dan keimanan laksana dua sayap burung. Al Ustadz Imam Hasan Al Banna mengatakan bahwa “dengan dua sayap inilah Islam diterbangkan setinggi-tingginya ke langit kemuliaan.” Bagaimana tidak, jikalau iman tanpa cinta akan pincang, dan cinta tanpa iman akan jatuh ke jurang kehinaan. Selain itu iman tidak akan terasa lezat tanpa cinta dan sebaliknya cinta pun tak lezat tanpa iman.

Tidak heran ketika ‘Uqbah bin Al Harits rela bercerai dengan istri yang sangat dicintainya Ummu Yahya, atas persetujuan Rasulullah saw hanya karena pengakuan seorang wanita tua bahwa ia telah menyusukan pasangan suami istri itu di saat mereka masih bayi. Allah mengharamkan pernikahan saudara sesusuan.

Demikian pula kecintaan Abdullah bin Abu Bakar kepada istrinya, yang terkenal kecantikannya, keluhuran budinya dan keagungan akhlaknya. Ketika ayahnya mengamati bahwa kecintaannya tersebut telah melalaikan Abdullah dalam berjihad di jalan Allah dan memerintahkan untuk menceraikan istrinya tsb. Pemuda Abdullah memandang perintah tsb dengan kaca mata iman, sehingga dia rela menceraikan belahan jiwanya tsb demi mempererat kembali cintanya kepada Allah.

Dari Anas ra, dari nabi saw, beliau bersabda:
“Ada tiga hal dimana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan enggan untuk menjadi kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilempar ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah ra, rasulullah saw bersabda:

“Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai….” (HR Muslim)

Cinta Kepada Allah, Itulah yang Hakiki..!!!

Cinta bagaikan lautan, sungguh luas dan indah. Ketika kita tersentuh tepinya yang sejuk, ia mengundang untuk melangkah lebih jauh ke tengah, yang penuh tantangan, hempasan dan gelombang dan siapa saja ingin mengarunginya. Namun carilah cinta yang sejati, di lautan cinta berbiduk ‘taqwa’ berlayarkan ‘iman’ yang dapat melawan gelombang syaithan dan hempasan nafsu, insya Allah kita akan sampai kepada tujuan yaitu: cinta kepada Allah, itulah yang hakiki, yang kekal selamanya. Adapun cinta kepada makhluk-Nya, pilihlah cinta yang hanya berlandaskan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan karena bujuk rayu setan, bukan pula karena desakan nafsu yang menggoda.

Saling mencintailah karena Allah agar bisa mendapatkan kecintaan Allah. Dalam hadits Qudsi
Allah berfirman:

“Cinta-Ku harus Ku-berikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, Cinta-Ku harus Ku-berikan kepada orang-orang yang saling berkorban karena-Ku, dan Cinta-Ku harus Ku-berikan kepada orang-orang yang menyambung hubungan karena-Ku.”

Nasa’i meriwayatkan dengan sanad dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda:

“Di sekeliling ‘Arsy, terdapat mimbar-mimbar dari cahaya yang ditempati oleh suatu kaum yang berpakaian dan berwajah cahaya pula. Mereka bukanlah para nabi atau syuhada, tetapi para nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahulah kami tentang mereka!” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, bersahabat, dan saling mengunjungi karena Allah.”

“Ya Allah, kurniakanlah kepada kami Cinta terhadap-Mu dan Cinta kepada mereka yang mencintai-Mu, dan apa saja yang mendekatkan kami kepada Cinta-Mu, dan jadikanlah Cinta-Mu itu lebih berharga bagi kami daripada air yang sejuk bagi orang yang dahaga.”

*******

Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang
lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada
keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan
terang.
Namun tanpa lidah,
cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai
kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!”
Petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz diterjemahkan oleh Abdul Hadi
W.M.

I think it’a time for me to finish this note beginning your pardon. Finnaly, I say, Fastabiqulkhairat, Wassalamualaikum Wr.Wb

@My Baiti Jannti, Wisma Al-Husna
03 Desember 2009, 1:04:52

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to LEt’s Talk About “LOVE”

  1. emilia90 says:

    like this Ainy…. ^_^

  2. Pingback: Lagi-Lagi VMJ | CahayaMata…Berpikir… Berkarya…Menapaki Jejak Kehidupan dalam Wacana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s