Memoar Nasyid Part V


Memoar Nasyid Part V

Berdakwah melalui musik? Gak ada salahnya tho. Yaah, sekurang-kurangnya sebagai “making opinion” kepada publik bahwa musik religious itu juga enak didengar dan TIDAK kampungan lagi. Karena pada saat sekarang banyak grup nasyid (munsyid) yang menyuguhkan alunan musik islami dengan genre pop yang tak kalah saing dengan lagu-lagu jahiliyah yang banyak beredaran sekarang.

Baru-baru ini, dalam rangka memeriahkan Muharram, Keputrian FKI mengadakan “Pekan Kreativitas Muslimah” selama seminggu dengan rangkaian acara seperti bazaar, talk show, seminar, Forum An-Nisa’ gabungan se sumbar, dan ditutup dengan festival nasyid se-kota Padang.

Untuk agenda terakhir ini (lomba Nasyid), Keputrian Rabbani mempercayakan kepada Kaput NIC untuk meng-handle dan menjadi penanggungjawabnya. Wah, tentu saja hal ini lumayan membuat pusing sekaligus semangat Keputrian NIC. Dan tentu saja, tim Nasyid NiC juga akan ikut berpartisipasi sebagai salah satu kontestan.

Awalnya, kami mengira kalau lomba nasyid ini akan dilaksanakn pada bulan Januari tahun depan, eh gak taunya dipercepat jadi bulan Desember. Sontak pemberitahuan mendadak ini lumayan membuat kaget dan cemas para personil. Jadwal latihan segera disusun. Lagi-lagi kami tersandung masalah personil. Karena Anit memang benar-benar gak mau gabung lagi dan Desi tentu tidak mungkin diikutkan sebab beliau adalah ketua panitia. Dan juga gak mungkin jika tim nasyid Cuma bertiga (aku, Liza, dan mbak Rin). Nicke juga tidak akan direkrut lagi karena rencananya angkatan 08 akan membentuk satu tim sendiri.

Setelah melakukan SWOT, pilihan jatuh kepada Mumus alias Titik alias Adek alias Mustika Febriani Rizona, adik kandung semata wayang gitaris kami, Firnaliza Rizona yang suaranya juga tak kalah merdu. Namun latihan kami selalu terkendala dengan jadwal. Susah sekali mencari jadwal kosong untuk latihan berhubung Mumus musti magang dan mengikuti beberapa agenda wajib Fakultas. Namun, kami dan manajer tetap berusaha konsisten untuk latihan secara rutin walau angota tidak lengkap (kadang tanpa Mumus, kadang tanpa Mbak Rin, kadang tanpa aku, tapi selalu ada Liza karena latihan juga tergantung dengan permaiana gitar Liza).

Sampai H-3, penempatan suara masih belum pas. Kami berharap H-1, hari Jum’at adalah jadwal latihan full time dari pagi sampai sore, dan kami sudah sepakat dengan agenda itu. Ternyata eh ternyata, lagi-lagi kami tersandung masalah untuk latihan di hari Jum’at tersebut. Karena mendadak aku mendapat telefon dari Rika (ketua panitia PRISMA) dan diminta untuk menjadi MC di acara FA gabungan. Waduh gimana ya. Udah janji duluan dengan rekan-rekan tim nasyid tapi juga gak tega jika harus nolak lagi, karena ini adalah permintaan kedua kalinya. Gak enak jika harus nolak untuk kedua kalinya (sebelumnya juga diminta untuk jadi MC untuk acara Talk show, namun harus ditolak karena ada uzur kuliah yang sama sekali pantang untuk ditinggalkan) Fiqh prioritas… Mana yang harus kudahulukan? Masa nolak dengan alasan mau latihan nasyid,,, egois banget tu…

Setelah sms-sms an sama teman-teman untuk minta izin gak bisa latihan dari pagi, semuanya tampak berat buat ngasih ijin, kata Liza suruh lapor sama mbak Rin, kata mbak Rin suruh lapor sama Liza (jadi pusing saya)… Mbak Rin nyuruh milih dan ngorbanin salah satu, tapi tetep saja aku kekeuh untuk ngejalanin dua-duanya karena FA Cuma sampai ba’da zuhur. Dan hati ini rasanya lebih berat untuk menghadiri FA, karena katanya mereka benar-benar gak punya MC lagi. Okeh, sudah kuputuskan… Ikutin kata hati walau nanti bakal disambut dengan tampang “kurang gula” anak-anak.

Setelah acara FA berakhir, barulah diriku ke Jati, gabung untuk latihan nasyid di rumah Liza,,, walaupun sewaktu jadi MC hati agak kurang tenang dan terus-terusan menadapat sms, miscall dari Liza dan Feni yang sibuk menanyakan “Aini, where ‘r you? ”. Ditambah lagi dengan hape yang gak bisa ngirim sms dan akhirnya kehabisan bateray. Namun syukurlah, walau Cuma sempat mengulang beberapa kali, kami sudah merasa cukup pas dengan komposisi nadanya.

Sebelum menyudahi latihan, Liza dan Mbak kembali mengingatkan untuk kumpul dulu sebelum ke UNAND dan kita memakai baju seragam yang dibuat ketika walimahan kak Ifah dulu.. Huokeh huokeh genk!

Sampai di wisma, capek… zzzzzttttt…..

Keesokan paginya,,,

Arrrrrgggghhhhh…. Tidaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk… Bajunya tidak kutemukan di sudut manapun di lemari pakaian! Fikir punya fikir dan usut punya usut, baru inget tuh baju ketinggalan di kampung halaman saat lebaran haji lalu. Waduh, gimana ini…gawat… gak mungkin juga pinjem baju yang lain karena pastinya gak pas. Atau makai baju seragam waktu walimahan Muty aja? Tapiii… teman-teman udah berharap makai baju sragam kami yang baru. Sutrahlah,,, aku pakai baju berwarna senada saja. Untunglah teman-teman juga gak ngomel-ngomel (Aini benar-benar telah merusak suasana!!  )

Setelah cabut nomer lot, melalui tanganku yang sama sekali “tak ajaib” ini kami dapat nomor urut 2 (yang menurut teman-teman gak beruntung banget dan disambut dengan koor “ndeeeeehhh”… huehehehe,,, auk ah elap!! Rasain!!)

Yang tampil pertama cukup membuat terpukau, dan istimewanya juga sama-sama pakai alat musik gitar (liza udah rada cemas pas tau ada tim yang juga pakai gitar…hmmmm). Yang nampil pertama lengkap deh pokoknya, ada gitar, acapelanya, ada puisi, sedikit acting..wah udah kayag musikalisasi puisi deh.

Kelompok lain (anak SMA) nyanyinya juga bagus. Seriosa banget… pakai suara 1,2,3…hehehe lumayan membuat kamu “tasuruik”. Ada juga kelompok yang suara vokalis utamanya betul-betul merdu saudara-saudara. Tampaknya qori’ah semua. Huehehehe, kembali kami “tasuruik 2 langkah”.

Pokoknya kami benar-benar kehilangan harapan untuk bisa menyabet juara lagi dalam festival kali ini. Pesertanya keren-keran bok. Mereka membawakan nasyid betul-betul penuh kelembutan (secara akhwat getho lo!) pengahayatan full, teknik mantep, apalagi banyak yang pakai acapela. Sepertinya mereka dari basic qori’ah semua, yang udah biasa qasidahan. Nah kami… si Mbak basicnya vocalis band, Liza zaman “saisuak kala” gitaris band, Mumus dari vocal grup, dan aku sendiri basicnya Pramuka (nah lo!!!) huehehe… Udah membawakan nasyid pakai genjrengan gitar, suara “agak” keras (penuh power, udah biasa teriak sih), ngubah-ngubah irama dan nada nasyidnya (mumpung penyanyi asli gak denger…huauauauua), sampai performa panggung yang gak pakai gerakan2 seperti tim lain, yeah yang biasa-biasa aja. Kalau menurut komen juri kami ini “aman”. Tapi kalau menurut buk Menejer, kami yang paling bagus.. (ya iyalah,,, lha wong menejernya siapa…. hehehe)

Tapi lagi-lagi kami makai prinsip ::whatever will be will be deh:: kalau kata buk Men, yang penting kita udah berusaha tampil maksimal. Hasilnya? Serahin ke Allah. Mantab gan!!

Yang uniknya, semakin di penghujung acara, semakin banyak tim nasyid yang berdatangan, padahal MC udah bilang penampilan nasyid sebelumnya adalah penampil terakhir, bahkan juri udah rembug di luar ruangan untuk menentukan juaranya, eh semakin banyak aja tim yang muncul dan mereka makin bagus aja… Huauauauaua…pupus sudah harapan. Tapi walau gak menang pun, kami juga gak apa-apa karena tim lain memang bagus-bagus dan tampanya mereka udah mempersipakn jauh-jauh sebelumnya. Nah kami, personil dadakan, latihan 2 minggu sebelum hari H, itupun banyak becandanya daripada latihan.

Tapi, rezeki orang udah diatur di laufl mahfuz… jelek-jelek gitu, penampilan kami banyak yang suka, walau gak berasal dari basic qasidahan, nasyid “kembali”nya Tashiru dan arrrangement “Alhamdulilah”nya Opik yang kami bawakan cukup menghibur juri sehingga kami ditakdirkan untuk menggondol juara III… *keprok keprok keprok… Gak terlalu kaget sih, soalnya waktu diumumin, diriku lagi sibuk sms-an sama Koord. Danus sembari mikirin siapa delegasi NIC yang akan ikut pelatihan kewirausahaan besoknya, pas denger juara III adalah pemegang nomer lot 2 atas nama tim “Farasyah”, aku malah sempat mikir, “Nah lo Farasyah itu kelompok kita tho? Huaa menang juga ya!! Alhamdulilahhh”.

Setelah pengumuman dan pembagian plakat & sertifikat, yang juara 1 (kalau gak salah dari Fak. Pertanian) diminta untuk kembali menampilkan nasyid mereka. Tapi karena personilnya udah banyak yang pulang, permintaan untuk ber-nasyid lagi dimintakan kepada yang menyabet juara II (dari UNP) eh ternyata mereka juga kehilangan salah satu personelnya dan gak mau nampil tanpa personil yang lengkap… walhasil,,, yang juara III dipaksa tampil lagi. Okelah,,, let’s do it gals… kami kembali membawakan “Alhamdulillah”. Selesai, turun panggung, eh MC nya iseng ngompori penonton untuk minta tambah,,, akhirnya dengan sedikit uring-uringan kami balik lagi ke pentas… ngebawain nasyid “kembali” (isenk banget neh MC)… Duhh rasanya udah satu album aja nampilin nasyid di sana, coz sebelumnya untuk ngisi waktu sembari nunggu juri sidang, kami juga udah nampilin lagu andalan “Muhasabah Cinta” (mudah-mudahan penonton gak eneg denger suara kami terus)

Alhamdulilah wa syukurilah bersyukur padaMu ya Allah…

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to Memoar Nasyid Part V

  1. rasyaNto says:

    apa itu Nasyid ?
    apa hukumnya dalam Islam ?
    carilah data yang sedetil2nya tentang amalan yang akan dilakukan, krn akan dimintau pertanggung jawaban di sana,
    carilah data dengan sanad yang shohih n tak terbantahkan,
    smg Allah selalu beri kita petunjuk
    – amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s