31 Januari 2009

Sudah menjadi tradisi, tradisi untuk melakukan suatu perjalanan yang kami sebut dengan “wisata kuliner” setiap ada satu di antara kami ber-9 yang milad. Tak berniat merayakan, namun hanya sekedar tradisi sekaligus sebagai wahana mempererat ukhuwah dan mengambil moment untuk “refreshing” tentunya. Di antara milad kami ber9 (Feni: 4 Januari, Anit 31 Januari, Mbak Rin 10 Maret, Ipit 13 May, Nami , Saya 27 Sept, Muty, 27 Okt, Liza 2 November, dan Desi 15 Desember), milad Anit lah yang selama dua periode yang “wisatanya” a.k.a acaranya seru dan sedikit lebih lama. Kami benar-benar travelling seperempat atau seperlapan kota Padang lah…Apa sebab? Karena ketika Anit milad, kami kebetulan selalu dalam keadaan “free” baru selesai Ujian Akhir Semester jadi agak bebas untuk melaksanakan serangkaian agenda rihlah sederhana.


OKe, mari kita review kembali perjalanan meng-istimewakan tanggal lahir ukhty kita yang satu ini. Anita Nabila Syukra.

31 Januari 2009


Seharusnya pada hari itu kami sudah tidak ada ujian akhir semester lagi. Tapi lagi-lagi karena satu dan lain hal, terpaksa jadwal ujian salah satu mata kuliah diundur dan akhirnya diujikan pada hari Sabtu tersebut. Hari itu adalah hari yang cukup istimewa, karena Anit akan mentraktir kami semua makan( Hurray!!) Hmm, pada hari kelahirannya tersebut, Anit memang amat sangad baik sekali.Hehehe (kalau udah ditraktir aja muji-muji ^^Y)

Setelah menyepakati tempat makan, kami mulai mengatur startegi waktu dan tempat berkumpul. Karena kebetulan hari itu kelompok Mentoring aku, Mbak, dan Liza ada ujian praktik mentoring, maka kami memutuskan untuk kumpul di Mesjid Nurul Iman. Pasca ujian di kampus, kami pun mulai melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan menuju Nurul Iman. Di sana, adek-adek kelompok mentoring mulai diuji satu-satu mulai dari ngaji, gerakan sholat, bacaan, sampai arti ayat. Huaaa,,, jadi merasa balik ke SD.

Salah satu penyakit kami kala itu (dan masih berlangsung sampai sekarang) adalah mania foto. Semacam penyakit yang sudah menjadi endemik namun tak jua ada vaksin yang mampu mengobati. Untunglah keadaan Nurul Iman lagi sepi. Dan akhirnya, salah satu Mesjid termegah di Kota Padang itu sukses menjadi background keakraban kami melalui sepetik dua petik camdig yang sengaja dibawa Nami atas permintaan dan paksaan kami.

Selanjutnya yang kami lakukan adalah : “Bingung”. Bingung bagaimana caranya mencapai tempat tujuan dari Nurul Iman. Sebenarnya bisa saja, namun harus melalui tahap jalan kaki sebentar sampai simp. Lampu merah Tarandam dan naik angkot Jati atau Marapalam yang menuju Sari Anggrek. Tapi tentu saja Anit tidak mau. Anit kan paling anti jalan kaki. Selagi masih ada angkot yang melalui jalur tersebut, jangan harap Anit mau jalan kaki sekalipun hari masih pagi dan udara lagi sejuk-sejuknya, ishk ishk ishk akhirnya kami ke Tarandam naik angkot merah dan turun di depan Singgalang. Gak sampai lima menit duduk di angkot udah turun lagi. (-_-)’

Oia, waktu itu kami memutuskan untuk makan di Kim Golden karena “satu dan lain hal” *gubrak!

Aku masih ingat, waktu itu teman-teman kebanyakan pesan nasi + ayam kriuk khas Kim Golden yang menurutku sama saja rasanya dengan pecel ayam. Sedangkan Aku, Anit, dan Desi pesan nasi goreng special saja. Dan ternyata porsi nasgornya terlalu “sedikit” terutama bagi Anit yang yang punya filosofi kalau “soto/mie goreng/bakso itu adalah makanan ringan a.k.a snack”. Mau pesan lagi segan, gak mesan perut masih belum kenyang. Y o wes, bersabar saja toh mbak, ntar sampai di rumah hajar lagi makan sepuasnya.

Rute perjalanan selanjutnya adalah Taman Melati (atas usul Desi). Tapi sayangnya Feni dan Muty gak bisa ikut. Feni musti segera pulang kampung karena ada urusan keluarga. Muty juga gak bisa main-main sepanjang hari seperti dulu lagi karena ada “UrUsAn KeLuArGa” juga, tapi yang benar-benar urusan keluarganya (nah lo emang Feni gak bener-bener? ^^)

Sampai di Taman Melati (masih dengan seragam hitam putih khas ujian) kami segera menuju loket untuk mendapatkan tiket masuk. Hehe, syukur-syukur bisa dapat harga murah karena masih dianggap anak sekolah. Tapi harapan kami tak terkabul karena style dan tampang membuktikan semuanya.huohoho, kami tetap membayar sesuai dengan peraturan setelah sebelumnya menodong Anit untuk traktir beli karcis. Yang heran malah Desi, karena waktu ke Taman Melati minggu lalu ia dan Uswa tidak dipungut biaya, malah ditanyain,”Sekolah dimana dek?” ***capek deh…

Setiap jengkal tempat menarik dengan background yang “lumayan” akan dimanfaatkan untuk sesi foto-foto. Lagi-lagi kami merasa bersyukur karena Taman tak terlalu rame kala itu. Malah iseng-iseng kami meng-hebohkan diri di dekat orang yang lagi “pacaran” sampai akhirnya mereka risih sendiri dan memutuskan minggat dari sana. Yippi…

Wah, ternyata banyak juga yang musti dilihat dan diperhatikan di Museum Adityawarman itu. Mulai dari rumah gadangnya yang menurutku isi dan tatanan dalamnya amat mirip dengan rumah gadang sekaligus museum yang ada di kawasan kebun binatang Bukittinggi, monument menhir, patung Adityawarman, dan masih banyak lagi yang musti diteliti dan dipelajari di sana.*pecinta pelajaran Budaya Alam Minangkabau mode: ON

Di masing-masing tempat ada cerita unik tersendiri yang membuat canda dan gelak tawa. Namun yang paling membuat kesal adalah kenarsisan teman-teman yang membuatku harus merelakan diri sebagai fotografer dadakan SELAMA acara. Yah, konsekwensi karena aku yang selalu tak merasa puas dengan hasil petikan dari teman-teman. Dan ketika diminta gantian, maka yang paling kupercaya untuk mengambilkan gambar adalah Mbak Rin, karena memang yang lainnya akan saling mengelak untuk menjadi fotografer. Alasannya ;

” Waduh Ni, hasil foto Anit tu gak bagus, ntar gak puas lagi”, alasan Anit

“Uni, uni tau sendiri kan desi tu gak bakat jadi fotografer, selalu jelek… Unit uh yang pinter ambil foto” *huh, sok muji tapi sebenarnya karena gak mau ketinggalan ikut berfoto aja tuh…

“Ni, liza tuh gak pandai makai camdig Nami, Liza khan dari Jambi”*nah loh, apa hubungannya????

“Aduh un, Mia lagi gak mut” *lemparkan saja camdig Nami ini!!

“Kalau ipit Aini, lah samo tau se ndak..” *hiks, kalau ipit aku tak berani paksa…

Oke, Baiklah… Jadilah aku dan si Mbak berprofesi sebagai kuli foto secara bergantian tanpa bayaran. T_T

Ba’da Ashar, perjalan kami lanjutkan ke Taplau a.k.a Muaro. Hunting tempat yang agak sepi dan bersih emang susah di taplau Padang. Namun akhirnya kami temukan juga salah satu pantai landai yang dihuni beberapa kawanan mahasiswi yang sepertinya juga sedang jalan-jalan. Di sini kami lebih bebas untuk mengeluarkan racun-racun otak karena ujian 2 minggu terakhir yang menjadi penyebab disorientasi pikiran. Angin laut yang menerpa cukup membuat relax dan segar alam bawah sadar.

Liza, Ipit, Anit, dan Desi melakukan prosesi berteriak-teriak ke arah deburan ombak dengan penuh semangat (ntah ntah a yang disabuik anak-anak tuh, gajeboh!! Pengungkapan rasa stress). Sedangkan aku, Nami dan mbak menyaksikan sambil geleng-geleng kepala dari pinggir pantai.

Sambil menunggu sunset, yang kami lakukan adalah MAIN. Ya, main seperti anak kecil. Kejar-kejaran, tangkap-tangkapan, tuding-tudingan, dorong-dorongan ke arah laut. Waktu itu kami betul-betul berniat ingin nyeburin mbak Rin dan Nami ke laut karena tuh anak bedua ogah-ogahan untuk gabung. Nami katanya malas buka sepatu *huh, mentang-mentang sepatu baru tuh, kalau mbak Rin alasannya ,”Stok sepatuku lagi habis sehingga terpaksa pake sepatu dongker ini”*apa hubungannya! huh sepatu yang kami indikasikan sebagai sepatu silatnya kungfu shaolin ini, diprediksi juga sebagai barang hasil rampasan. ^^)

Kasus demi kasus pun terjadi. Kasus terdahsyat antara Desi Vs Liza. Entah apa yang menguasai pikiran Desi, akhirnya Desi sukses melempar sepatu kets Liza ke arah laut sembari Liza asyik potho-pothoan dengan Anit. Desi yang sadar sepatu Liza udah hanyut segera teriak-teriak. Akhirnya pontang panting Liza, Anit, dan Desi berlari ke arah laut menyelamatkan sebelah sepatu Liza yang basah kuyup akibat ulah Desi. Akhirnya Ipit berhasil mengambilkan sepatu Liza dan Liza pun “merajuk”. Aku dan yang lainnya tak habis ketawa melihat Desi yang begitu ghiroh “maumbuak” Liza yang istiqomah masang tampang kesalnya. Tentu aja Liza kesal, sepatu kets itu kan lama keringnya, dan Liza sendiri udah gak punya sepatu kets cadangan lagi secara sepatu ketsnya yang lain berhasil dilarikan oleh orang gila setempat. Huahaha, Desi merayu-rayu Liza dan menawarkan untuk pakai sepatunya saja, atau menemani membeli sepatu baru di pasar raya. Wah, wah, wah, haruskah Liza memakai sepatu balet seperti yang kebanyakan dipake cewek?? Hmm mari kita membayangkannya sodara-sodara, dan tentu aja gak bakalan Matching. ^^Y

Di penghujung acara kami membuat semacam rekaman video untuk mengabadikan moment tersebut. Dan lagi-lagi Desi berulah dengan secara sengaja memakai sepatu Anit dengan kaki kotor penuh pasir basah. Kontan Anit mencak-mencak gara-gara sepatunya jadi korban. Sepatu yang berhasil selamat Cuma sepatu mbak dan Nami itupun secara paksa telah kami injak-injak supaya kotor *ntah apa maksudnya. Akhirnya di penghujung rekaman kami menyimpulkan semua tragedy bermula dari Desi… Gyeehehehehe….

Lembayung sore yang memancarkan semburat jingga menjadi saksi indahnya kebersamaan kami di senja itu. Kebersamaan yang boleh jadi akan jarang kami lalui lagi. Dan kamipun akhirnya berlalu dengan menggoreskan dalam fikiran dan qolbu sejumput cerita seru dari rihlah kecil-kecilan pada hari itu.

Thanks God, I was met with them



Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s