Kesempatan

Teman, pernahkah engkau merasakan indahnya diberi sebuah kesempatan (kesempatan apapun) dan engkau pun melaksanakan kesempatan yang ada tersebut dengan hati riang gembira?
Pernahkah engkau mendapatkan sebuah kesempatan, namun kemudian engkau menolak kesempatan yang ada?
Pernahkah engkau memperoleh sebuah kesempatan, kemudian engkau menjalankannya dengan berat hati?
Atau…
Pernahkah engkau berkeinginan mendapatkan sebuah kesempatan, TAPI ternyata engkau tidak memperolehnya….
Pernahkah engkau HAMPIR mendapatkan sebuah kesempatan, namun ternyata kesempatan itu tak engkau peroleh BUKAN karena engkau tak mampu TAPI karena mereka LUPA memberikannya kepadamu?

Jika engkau berada pada kondisi point 1, 2, dan 3, SELAMAT, Anda adalah orang yang beruntung! Sadarilah Anda adalah orang yang beruntung….

Jika engkau berada pada posisi poin ke 4, dengan berat hati saya cuma ingin menyampaikan,”Bersabarlah, berarti kesempatan itu bukan milikmu!”

Dan jika engkau berada pada point ke 5… Hmmm… Saya bingung mau mengucapkan apa, mungkin sama dengan komentar pada poin 5; Maaf Anda kurang beruntung, bersabarlah, sampai mereka ingat untuk memberikannya.

Mungkin rekan-rekan semua pernah merasakan berada pada posisi 1, 2, 3, 4, ataupun 5 ….

Dan saya yakin rekan-rekan semua memiliki respon serta feedback yang berbeda ketika mendapatkannya.

Di beberapa pertemuan/training/moment yang saya “berkesempatan” untuk menghadirinya, sangat sering dikatakan; “Bersyukurlah, Anda sekalian adalah orang-orang yang beruntung, karena berkesempatan untuk menghadiri acara ini. Namun lihatlah di luar sana, banyak yang berkesempatan untuk hadir, namun mereka menolak untuk datang, dan juga banyak yang mau menghadiri, namun mereka tak memiliki kesempatan untuk datang”

Yah, beruntunglah… engkau memiliki kesempatan itu, dan merugilah orang yang telah mendapatkannya, namun kurang bijak dalam mengelola kesempatan yang ada.

Namun teman, saya sangat tertarik untuk membahas poin 4 dan 5 atau yang kita kategorikan kepada orang yang belum beruntung. Dan yang paling tragis (versi Aini) itu adalah poin 5… Wah, sangat meyedihkan sekali menjadi bagian dari orang-orang yang terlupakan. Mungkin jika ditilik dari “konsep takdir” memang bisa kita katakan orang yang berada pada posisi kelima ini sebagai orang yang belum berkesempatan, dan mungkin kesempatan itu akan diberikan pada waktunya.

Namun yang menjadi fokus pemikiran saya kali ini adalah “Yang berwenang mendistribusikan kesempatan”. Apakah sebuah kesempatan yang merupakan wadah bagi seseorang untuk bisa mendapatkan ilmu, peluang untuk bisa memperbaiki diri, wahana untuk mendapatkan pengalaman baru masih perlu untuk “Pilih-pilih” orang? Mengapa tidak memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang jika hal tersebut adalah sesuatu yang baik?

Apakah hanya orang-orang tertentu yang BERHAK mendapatkannya?

Ini bukan bicara mengenai pantas atau tidak tapi Adil atau tidak…

Memang untuk sebuah kesempatan “limited edition” yang hanya diberikan untuk “orang-orang yang dipilih” metode ini sangat tepat untuk digunakan NAMUN haruslah secara cermat dan pastikan semuanya mendapatkan info tentang adanya kesempatan tersebut. Toh kalau ternyata dari sekian banyak kandidat yang ada masih harus disaring, maka lakukanlah SWOT tersebut, sampai akhirnya didapatkan yang benar-benar pantas dan bisa.

Kesempatan yang tidak diberikan karena faktor objektif dan penilaian yang akurat lebih adil dibanding kesempatan yang tidak diberikan karena KELUPAAN, Ketidakperhatian, apalagi karena unsur-unsur tertentu yang sifatnya subjektif dari diri si pwmwgang wewenang (versi Aini lagi ^_^). Intinya: Memandang bijaksana dalam memberikan kesempatan yang ada kepada orang yang berhak secara adil dan merata.

Sepenting apakah Kita memandang sebuah kesempatan?

Jika akhirnya engkau memilih untuk melewatkan sebuah kesempatan karena alasan-alasan yang “kurang baik”, maka saya sarankan untuk bercerminlah kepada kasus pada point 4 dan 5. Mungkin memang benar bahwa kesempatan itu tak akan datang dua kali. Jika engkau bisa melaksanakannya, kenapa tidak? Kenapa harus melewatkannya? Syukur jika kesempatan yang sama datang lagi, kalau tidak? Hm… Jangan salahkan jika penyesalan itu selalu datang belakangan.

Begitu juga dengan kesempatan waktu. Jika ternyata engkau bisa melakukan suatu pekerjaan sekarang, kenapa harus menunda-nunda mengharapkan kesempatan berikutnya untuk melakukannya?

Dan satu hal lagi, ketika engkau berharap mendapatkan sesuatu dari manusia, baik itu sebentuk perhatian, pemberian, ataupun kesempatan, maka sisihkanlah sedikit ruang di hatimu untuk kecewa. Namun jika engkau menggantungkan harapan hanya kepada Allah, maka sesungguhnya Allah tak akan mengecewakan hamba-hambaNya.

Mungkin memang kita tak mendapatkan kesempatan itu sekarang, namun Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Allah sudah menyiapkan rencanaNya yang lebih indah dari sekedar deskripsi keindahan di mata manusia. Maka bersabarlah dan janganlah berputus asa dengan nikmat dan rahmat Allah….

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s