Namanya Syifa Nur Qholby…

Namanya Syifa Nur Qholby…


Adik bungsuku yang kudapatkan ketika aku duduk di bangku kelas satu SMA. Mendapatkan adik kecil ketika kita sudah beranjak remaja pada awalnya memang amat sangat tidak menyenangkan. Biasa, sindroma childbearing, merasa perhatian orang tua akan berkurang kepada nya (seharusnya sih hal ini tidak terjadi lagi) dan merasa minder karena pasti teman-teman akan negejek dan sebagainya. Tapi ternyata setelah si kecil lahir yang terjadi malah sebaliknya.

Aku masih ingat ketika Mama musti menjalankan operasi ceasar gara-gara Syifa udah lewat bulan namun belum menampak tanda-tanda mau lahir, ketika itu aku pun sedang sibuk-sibuknya menjadi panitia jambore Ranting di tempatku. Hualah… Bolak-balik “bumper” (bumi perkemahan) dan Rumah Sakit. Untunglah Papa, yang notabene selalu menentang aksiku untuk ikut-ikut kemping mengizinkan aku untuk tetap nginap di Bumper pasca operasi Mama, dengan dalih kalau Bumper gak terlalu jauh jaraknya dari Rumah Sakit dan bisa ditempuh dalam waktu 15 menit pake motor dan aku bisa sewaktu-waktu ke tempat Mama. Lagian ketika itu gak ada orang di rumah! (bener-bener nekad waktu itu).

Tentang Nama


Awalnya, aku sudah mempersiapkan sebuah nama untuk adik kecilku ini. Walaupun kurang ahli dan paham dengan bahasa Arab, namun aku ingin sekali adikku yang kata Mama mungkin anak terakhir di keluarga kami (karena postpartum Rahim Mama katanya tak memungkinkan lagi untuk bisa hamil) memiliki nama indah dan bermakna dari bahasa Arab. Yah…seperti namaku “Nur’aini” yang artinya cahaya mata, kalau Papa memplesetkannya menjadi cahayamataku… =) hehehe, semoga Pa!

Setelah meminjam buku nama-nama Arab dari tetangga (yang baru punya anak setahun lalu) aku berusaha merangkai beberapa nama-nama yang menurutku sangat indah sekali. Salah satu rekomendasi nama yang masih kuingat yaitu: Qhotrunnada Habibatul Zakiya, yang kalau gak salah artinya: tetesan embun suci kesayangan. Wah pokoknya banyak nama yang kurekomendasikan dan maknanya pun bagus-bagus (Kepedean,,,heheh). Nama lain yang kurekomendasikan salah satunya juga mengandung unsur “Syifa”.

Tapi Mama menolak semua nama yang kuajukan (Hiks..teganya teganya). Katanya Mama gak mau nama yang ribet-ribet, yang penting maknanya bagus dan enak di dengar. Mama lebih sreg dengan salah satu nama yang kuajukan yaitu: Syifa. Kemudian setelah mendiskusikannya dengan tante, akhirnya tercetuslah nama “Syifa Nur Qholby”. Ketika meminta persetujuanku, awalnya aku menolak dan berusaha mempertahankan nama-nama cantik **yang setelah kupikir-pikir emang ribet dan kepanjangan*** kepada keluarga. Eh ternyata keluarga besar lebih sepakat dengan nama Syifa Nur Qholby. AKhirnya aku menyerah, dan berusaha menerima sembari menyenang-nyenangkan hati kalau di nama dedek bayi ada namaku juga “Nur”.heheheh.

Dan akhirnya Syifa, sesuai namanya “Syifa Nur Qholby”, benar-benar menjadi “Obat Penawar Hati” di keluarga kami. Kehadirannya bak mentari yang menceriakan orang-orang yang berada di sampingnya. Menjadi bocah kesayangan, bukan hanya keluarga inti tapi juga keluarga besar, tetangga, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Apalagi dengan ketembeman yang dimilikinya. Lahir dengan berat 4,5 kg (hampir 5 kilo) dan panjang 37 cm, memang membuat orang gemas memandangnya.Aku masih ingat, dulu waktu akikah, semua tamu yang datang hampir berkomentar yang sama, mengomentari betapa gembrotnya adikku ini, betapa chubby nya lah, namanya yang bagus tapi susah melafalkannyalah, dsb. Saking gak mau adikku gembrot samapi dewasa, aku menyarankan Syifa untuk diet kepada Mama, yang tentu saja dijawab dengan penolakan tegas dari Mama dan keluarga besar…Gyahehehehe…

Namun, aku sempat merasa takut melihat adikku sendiri di awal-awal. Karena pertama raut wajahnya itu tidak seperti anak bayi merah kebiasaan (orok kalo orang Jawa bilang). Tidak merah dan kulitnya tidak berkerut, tapi putih seperti anak berumur 2 bulan. Kemudian matanya udah langsung nyalang ketika hari pertama aku menjenguk mama. Dan adikku itu melirik dan menatapku sodara-sodara. Emang sih gak dengan tatapan tajam penuh kebengisan (lebabbay). Tapi ia selalu melirikku seakan-akan mau berkata sesuatu. Untuk menguji apakah ia benar-benar melihatku, kucoba mengubah posisi, tapi lagi-lagi ia melihat ke arahku, memutar bola matanya. Hualaaahhh… Aku sempat takut kala itu. Karena ketika kau SMA aku tahu persis kalau anak bayi itu matanya belum akan nyalang dan terang melihat bayangan orang, jadi bayangan apakah yang dilihatnya geranagan???. Ckckckck… Sempat terpikir hal-hal aneh di benakku kala itu. Aku juga ngeri melihat kelenjar mamae adiku dulu sedikit membengkak. Aku benar-benar panik sendiri (Mama dan yang lain santei-santei aja) dan mengira adikku akan tumbuh cepat sebelum masanya dan Apakah ini merupakan akibat terlalu lama di dlaam rahim sehingga ia tumbuh dewasa lebih cepat? (khayalan gak penting seorang anak SMA, hahaha. …)

Dan ternyata semua yang terjadi pada adikku tersebut merupaka hal fisiologis dan wajar setelah aku mempelajarinya di bangku kuliahan ini. Pizz Syifa…

Wah, ceritanya jadi ngelantur gini. Kita lanjutkan ya….

Syifa tumbuh besar secara normal dan Sekarang Syifa sudah berumur 4,5 tahun. Syifa sudah masuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) ketika ia berumur 3 tahun dan sempat pindah PAUD. Gak tau juga alasannya apa. Tapi terakhir aku pulang kampung, Syifa sudah menyatakan dirinya putus sekolah dari PAUD. Alasannya adalah: malas karena bosan. Hueehehehe, sekate-kate neh bocah bilang kalau malas. Katanya ia mau langsung ke TK. Secara TK kan udah pake seragam dan siswany alebih banyak. Tapi PAUD lebih seperti tempat penitipan anak dengan jumlah teman bermain tak lebih dari 10.hehehe…

Semenjak masih batita Syifa terbilang narsis dan “kagadang-gadangan”.

Doyan berphoto dengan berbagai ekspresi (kuakui ini salahku juga sempat mengajarkan hal-hal yang kurang bener seperti ini (-_-)’.

Doyan mengikuti gaya orang dewasa. Pernah Mama marah kepada adikku yag cowok (Aditya Fathur Rahman) eh Syifa juga ikut-ikutan memarahi abangnya. Melihat Syifa, Mama bukannya melanjutkan adegan marah-marah tapi malah ketawa (maka selamatlah si Adit dari amukan marah Mama), bahkan ketika Adit nakal dan senang merampas botol susu Syifa dan Mama lagi gak ada, Syifa dengan rela hati akan bersedia menggantikan Mama menasehati abangnya (padahal umurnya masih terbilang 2 tahun lebih).

Syifa juga senang meniru kerjaan orang tua. Waktu itu kami lagi sholat berjamaah dengan Papa sebagai imam. Melihat kami sholat, Syifa juga pengen ikutan dan berdiri di samping abangnya, meniru gerakan-gerakan sholat sambil melirik-lirik kea rah kami di belakang. Memang gak berisik sih, tapi dengan kemunculan Syifa di sana benar-benar membuat sholat menjadi tak khusyuk. Pengennya ketawa aja. Akhirnya Syifa minta dibelikan mukena seperti yang kami pakai. Maka resmilah sejak itu Syifa menjadi makmum di sholat berjamaah yang kami lakukan ketika Papa pulang.

Syifa secara dadakan juga senag nagmbil wudhu’ dan membentangkan sajadah kecilnya kemudian lantas melakukan gerakan sholat secara random (suka-suka hatinya), duduk akhir, salam kanan kiri kemudian berdo’a dengan mulut komat-makit tapi gak jelas apa yang dibacanya. Kami sering menjadikan perilaku Syifa ini sebagai bahan tertawaan dan hiburan. Ah, mudah-mudahan kesholehan ini berlanjut sampai ia dewasa.

Sebagai anak kecil, tentu saja Syifa juga suka egois dna memaksakan kehendak. Yang tua-tua musti ngalah sama dia. Ketika Mama masak air, Syifa juga minta dibelikan cerek kecil, ketika Mama nyapu halaman, eh dianya juga minta dibelikan sapu ijuk. Maka tak heran jika di rumah kita akan menemukan miniature-miniatur peralatan rumah kepunyaan Syifa.

Yeah…dialah Syifa, Obat cahaya hatiku…. Dan aku berharap sampai kapanpun Syifa akan menjadi obat cahaya hati kami…..

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s