Jurnal “PENGARUH OUTBOUND TERHADAP KECEMASAN (ANXIETY)”

Tugas Jurnal Metodologi Riset

PENGARUH OUTBOUND TERHADAP KECEMASAN (ANXIETY)

Sumardianto

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kegiatan outward bound memberikan pengaruh terhadap tingkat kecemasan (Anxiety), dan untuk mengetahui dampak positif dari kegiatan outward bound terhadap penurunan tingkat kecemasan (Anxiety). Metode penelitian yang digunakan adalah ex-post facto dengan pendekatan static group comparisson. Instrumen penelitian ini adalah tes kecemasan berupa angket (kuesioner). Hasil penelitian ini menunjukkan “terdapat pengaruh positif yang signifikan dari outbound terhadap kecemasan”. Dan terdapat perbedaan kecemasan antara mahasiswa yang terlibat outbound dengan yang tidak terlibat outbound.

Kata kunci : Outbond dan Kecemasan (Anxiety).

Pendahuluan

Outward Bound atau yang lebih dikenal dengan Outbound sekarang ini sudah mulai menjamur di kalangan masyarakat. Outbound adalah sebuah metode pelatihan, terapi atau pembelajaran yang menggunakan alam sebagai medianya , di mana individu atau kelompok yang setiap harinya hidup dengan kejenuhan karena aktifitas yang dilakukan diberikan sebuah pelatihan di alam terbuka untuk menghilangkan kejenuhan yang dialaminya (www.outwardboundindo.org) .

Dewasa ini banyak para pakar psikolog termasuk konsultan psikologi menggunakan metode pelatihan outbound untuk upaya terapi kejiwaan salah satunya. Outbound sebagai metode terapi tersebut merupakan kegiatan yang dilakukan di alam bebas (diluar ruangan) dimana didalamnya dilakukan permainan-permainan olahraga yang bersifat menantang, membutuhkan semangat juang tinggi, dan membutuhkan pemikiran yang tidak sedikit tetapi sangat menyenangkan.

Metode outbound telah banyak digunakan oleh banyak kalangan, instansi, sekolah, bahkan perusahaan-perusahaan besar. Ini karena metode ini memang dirasa banyak manfaatnya oleh semua kalangan. Bahkan apabila melihat sejarah, karena dirasa banyak manfaat dari metode outbound ini sejak tahun 1821 telah didirikan Round Hill School yaitu sekolah dengan metode pelatihan alam terbuka.

Kecemasan merupakan perasaan yang pasti dimiliki oleh setiap manusia. Sebagian besar orang tentunya pernah memiliki pengalaman tentang cemas dan takut dalam kehidupannya, hal tersebut wajar sebagai bagian dari kehidupan.

Kecemasan tersebut dapat berpengaruh positif atau bahkan akan dapat berpengaruh negatif terhadap seseorang, tergantung bagaimana menyikapinya. Apabila seseorang terus menerus merasa cemas, khawatir berkepanjangan tanpa ada upaya untuk mengurangi bahkan menyembuhkannya, maka kecemasan tersebut akan menimbulkan pengaruh yang buruk pada orang tersebut.

Orang yang mengalami kecemasan atau pencemas setiap kali akan bertindak melakukan sesuatu atau menghadapi suatu masalah, maka selalu dihantui rasa cemas, takut, khawatir untuk menghadapi pekerjaan tersebut. Perasaan takut gagal serta tidak mampu untuk melakukannya akan menghantui orang yang senantiasa dihantui rasa cemas.

Kecemasan tersebut ada yang bersifat trauma karena pernah mengalami sesuatu hal yang buruk, atau juga timbul tanpa sebab yang beralasan. Kecemasan yang bersifat trauma biasanya akan selalu datang pada saat penderita bertemu dengan kejadian atau hal yang membuat dirinya trauma. Sementara trauma yang timbul tanpa sebab yang sifatnya akut, biasanya datang pada saat orang tersebut akan melakukan sesuatu yang baru dan ragu apakah dia bisa melakukannya atau tidak.

Selain itu hal yang baru yang bersifat menantang dan yang belum pernah dialaminya akan dirasakannya sulit untuk dapat melakukannya. Akibat yang ditimbulkan dari kecemasan tersebut ada yang bersifat fisiologis dan bersifat psikologis. Yang sifatnya fisiologis misalnya yaitu, keluarnya keringat dingin, jantung berdebar kencang, serta bernafas lebih cepat.

Seperti diungkapkan Olendick (1985) dalam http;\\ http://www.staffIQEQ.com kecemasan adalah “keadaan emosi yang menentang atau tidak menyenangkan, yang meliputi interpretasi subjektif dan ‘arousal’ atau rangsangan fisiologis misalnya bernafas lebih cepat, jantung berdebar-debar, berkeringat dingin”.

Sementara untuk yang bersifat psikologis, Atkinson (1993) menerangkan bahwa kecemasan adalah “emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan istilah seperti kehawatiran, keprihatinan dan rasa takut yang dialami dalam tingkatan yang berbeda”.

Kecemasan pada umumnya berhubungan dengan adanya situasi yang mengancam atau membahayakan. Dengan berjalannya waktu, keadaan cemas tersebut biasanya akan dapat teratasi sendiri. Perasaan cemas, khawatir dan takut adalah fitrah yang dimiliki oleh setiap orang dalam kehidupannya. Perasaan tersebut akan berdampak buruk atau negatif terhadap penderitanya apabila tidak bisa ditanggulangi atau dikendalikan.

Semua orang tentu pernah merasakan yang namanya perasaan takut, khawatir atau cemas dalam berbagai situasi yang pernah dialaminya. Bahkan menurut para ahli dalam Craty (1973) yang dikutip Harsono (1988:265) bahwa “hanya orang-orang yang kurang waras yang tidak pernah akan takut.

Menurut para ahli lainnya seperti yang kemukakan dalam http://www.kompas.com/health/0203/

13/080350.htm bahwa kebanyakan laki-laki demikian juga perempuan menghabiskan 5 persen dari pagi hari mereka sekitar 48 menit untuk cemas tentang satu dan lain hal. Pada sekitar 6 persen laki-laki, cemas menjadi semakin tidak terkendali. Cemas bahkan dapat berkembang menjadi suatu kondisi klinis yang disebut Generalized Anxiety Disorder (GAD). Yakni orang yang mengalami gangguan ini cemas tentang berbagai masalah sekaligus, termasuk hal-hal yang berada di luar kontrol misalnya cuaca. Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan sumber kecemasan yang paling lazim adalah keluarga dan hubungan dengan orang lain seperti pacar, rekan kerja, pekerjaan di kantor, sekolah, kesehatan dan keuangan.

Pendapat Levitt (1980) dalam Gunarsa (2004:74) menuturkan bahwa, ”ansietas atau kecemasan dirumuskan sebagai subjective feeling of apprehension and heightens physiological arousal”. Menurutnya kecemasan berbeda dari rasa takut biasa. Ketakutan akan dirasakan apabila ancaman berupa sesuatu yang sifatnya objektif, spesifik dan terpusat yang sifatnya negatif. Sementara

kecemasan disebabkan oleh suatu ancaman yang sifatnya lebih umum dan subjektif, yang normal terjadi apabila menghadapi sesuatu misalnya pertandingan.

Adapun dalam http://www.kompas.com/health/0203/13/080350.htm dinyatakan bahwa Cemas atau anxiety merupakan emosi dasar, yang melukiskan kekhawatiran, kegelisahan dan ketakutan, yang akrab sekali dengan kehidupan Anda sehari-hari. Bentuk kecemasan ini sudah dikenal sejak lama, bahkan sejak

zaman Babilonia abad ke-18 sebelum Masehi, dengan berbagai macam bentuknya. Salah satunya, yang dikenal dengan nama GAD yang merupakan kecemasan menyeluruh.

Kasus dilapangan yang diungkapkan Cratty (1973) dalam Harsono (1988:267) mengatakan bahwa ”atlet yang relax dan yang mempunyai a low anxiety level (tidak begitu tegang) serta high achievement needs (hasrat besar untuk sukses) biasanya akan dapat memperlihatkan prestasi yang tinggi”.

Sebaliknya bahwa atlet yang memiliki kecemasan yang tinggi dan menjadikan hasrat untuk suksesnya menjadi lemah, maka atlet tersebut cenderung memperlihatkan prestasi yang lemah pula. Oleh karena itu kecemasan yang dimiliki oleh setiap orang harus dapat dikendalikan dengan baik agar tidak menjadi bumerang yang akan menyiksa diri kita sendiri.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s