Tragedi Angkot Part 1 (Rokok dan Angkot)

BAB I. PENDAHULUAN

A-N-G-K-O-T

A.k.a angkutan kota. Satu kata fenomenal yang akrab didengar para pemirsa. Terutama yang tidak memiliki kendaraan pribadi untuk bepergian tentunya.

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolahan (secara sekarang udah jadi anak kuliahan) saya paling ANTI untuk naik segala jenis per-angkot-an. Gak tau kenapa, kalau naik angkot atau kendaraan umum itu bawaannya selalu menyebalkan, membuat sesak, mual, pusing, lemah, letih, lesu, nausea, vomitus, vertigo: dunia serasa berputar dan masih banyak sindroma mengerikan yang membuat saya berprinsip “Kalau bisa naik kendaraan lain, maka hindarilah menaiki angkot, karena bisa menganggu kesehatan Anda”. Untunglah rumah saya letaknya dekat dengan SMP dan SMA, sehingga gak perlu naik kendaraan umum sejenis angkot setiap harinya. Kalau SD mah jangan ditanya. Kita dulu go to school by bicycle… Lebih menyehatkan!

Nah, kita lanjutkan sodara-sodara….

Pasca disuksesi menjadi anak SMA dan harus hijrah untuk menlanjutkan kuliah, maka kehidupan sayapun berubah 180 derajat. Saya pun musti diadaptasikan dengan benda bernama angkot ini. Mulai dari bimbel, sampai akhirnya jebol di salah satu Universitas di Padang, keseharian saya pun disibukkan dengan naik turun angkot.

Hua…Hua… Inilah hidup nak! Bukan salah bunda mengandung….

Akhirnya saya mulai membiasakan diri untuk naik turun angkot, dengan penuh perjuangan dan hal-hal tak menyenangkan darinya. Ya, saya mulai mencoba untuk bersahabat dengan angkot!

Ada beberapa alasan real kenapa saya kurang menyukai Angkot ini, terutama angkot yang ada di kota Padang. Angkot yang ada di Padang memang agak lain dari yang lain. Hanya beberapa hal yang saya senangi dari angkot yang ada di kota ini, yakni rutenya jelas, kalau nyasar pun ujung-ujungnya bakal balik ke satu titik yakni pasar raya. Di sanalah terminalnya segala jenis angkot berkumpul. Kedua karena angkot di kota Padang berwarna-warni sesuai dengan rutenya. Ada merah, kuning hijau di langit yang biru… (bacanya pakai irama pelangi2)

Okeh, kita masuk ke inti topik pembicaraan kali ini. Beberapa hal negatif dari angkot yang membuat saya tak berminat untuk sering-sering naik angkot.

BAB II. ISI : KASUS

Angkot, Tempat aman bagi para perokok?

Selain angkot, benda lain yang sangat saya benci adalah ROKOK. Dan itu juga alasannya kenapa saya tak suka naik kendaraan umum, karena di sana saya lebih sering menemukan orang-orang yang merokok tanpa mempedulikan nasib paru-paru orang lain.

Begini ceritanya *Caroline Zahri mode: ON

Pada suatu siang yang cukup terik, ketika saya baru pulang syuting {syuro (rapat) penting} di Pasar Baru, saya berniat untuk menaiki salah satu angkot. Ketika berjalan, ada pemuda lain yang berjalan di depan saya lengkap dengan sebatang rokok di tangannya (ck..ck..ck..*geleng-gelen

g kepala) walaupun jaraknya beberapa meter di depan saya, namun hidung saya terlalu peka untuk menangkap bau asap yang diproduksi oleh pemuda tersebut (*pengen ngejitak tuh anak muda)

Hmm… saya curiga, jangan-jangan tuh orang mau menaiki angkot “ngetem” yang saya incar. Wah, harus dihindari! Pokonya Paru-paru saya sedapat mungkin harus diselamatkan dari rokok-rokok berbahaya itu!! (*seraya mengepalkan tangan)

Untunglah, pemuda itu terlihat menuju salah satu warung di depan angkot tersebut menunggu penumpang. Hehehe, aman deh. Bismillah… tapi…ouuupsss *gubraks… di dalam angkot sudah menunggu dua pemuda lainnya yang sedang asyik menghisap racun dunia tersebut…huaaa(*nangis darah). Padahal di dalam angkot tersebut sudah ada 2 orang “uni-uni” lain. Herannya, mereka asik-asik aja, asap berseliweranpun tak mengganggu mereka tampaknya ( Hei! Selamatkan paru-paru Anda!). Hiks, mau turun, gak enak sama supir, sepertinya tuh sopir udah terlalu lama ngetem. Saya mencoba bertahan! (Seraya berdo’a di tengah jalan nanti datang angin kencang yang mematikan api rokok mereka)

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin inilah peribahasa yang tepat ketika itu. Tiba-tiba pemuda pertama yang saya kira tak berniat untuk naik angkot, menaiki angkot yang saya naiki dan duduk di bangku serep tepat di depan saya. MASIH tetap dengan rokoknya yang setia bertengger di celah jemarinya. Total ada 3 perokok di dalam angkot! (*otak saya mulai mengirim stimulus “jampi-jampi” pemanggil rasa mual).

Akhirnya saya pun terbatuk-batuk dan menutup hidung dengan jilbab (maksudnya biar tuh orang nyadar telah merenggut hak asasi hidung saya untuk bernafas lega). Pemuda pertama yang duduk di depan saya segera mematikan rokoknya. Huh… tinggal dua enemi lagi, haiyooo berjuang Ni!!
Untunglah duduknya di belakang. Saya sendiri survive mencari udara segar lewat jendela. Di sepanjang jalan entah kenapa yang terlihat dari retina mata ini justru pemandangan orang-orang yang sedang asik merokok saja. Di depan rumah, di warung-warung…huaaa..kenapa semuanya pada merokok sih (atau ini hanya imajinasi saya??)

Beberapa saat kemudian, angkot berhenti karena ada penumpang baru yang akan naik. Penumpangnya adalah seorang Bapak-paka tua alias kakek-kakek dan sedang M E R O K O K. Mimpi apa saya semalam sampai bisa menaiki angkot yang penuh kepulan asap seperti ini. Tuh kakek rokoknya mengeluarkan asap dengan jenis bau yang berbeda. Lebih membuat saya mual. Membuat tenggorokan saya menjadi kering dan perih, tengkuk terasa pegal, kepala mulai pusing (selalu seperti itu jika saya terlalu banyak menghirup nikotin)

Hiks… hiks… kenapa Pemerintah tidak menindaktegasi penyakit kronik masyarakat yang suka merokok di sembarang tempat ini? Betapa egoisnya mereka!! Demi kesenangannya, mereka mengorbankan hak orang lain untuk bernafas dengan lega. Memang merokok itupun katanya juga “hak” mereka, tapi bisakah saudara melaksanakan HAM saudara tersebut tanpa mengganggu hak orang lain?

Aksi tutup hidung dengan jilbab masih saya lakukan. Hikss..hikss.. saya benar-benar merindukan masker yang kami gunakan untuk pratikum kala itu. Duh, bau asap telah menempel dimana-mana.

Di persimpangan jalan menuju Lubeg, angkot kembali berhenti. Kali ini yang naik adalah seorang nenek-nenek. Nah…. Masih belum mau mematikan rokok wahai kakek? Hei pemuda! Masih mau membuat sesak nenek-nenek yang paru-parunya mulai mengalami kemunduran fungsi ini?

Akhirnya satu-persatu rokok mulai mati (bukan karena kesadaran akan kehadiran si nenek, tapi karena rokoknya emang udah habis). Fiuf,,, akhirnya…. Bisa bernafas lega sekarang. Hmmm… Si nenek ternyata lumayan hiperaktif dan cerewet. Salah seorang uni-uni yang nekad duduk di bangku serap diperingatinya agar berpegangan yang kuat supaya gak jatuh (kali ini saya kembali merutuk-rutuk dalam hati, kenapa si kakek gak mau ngerelain diri untuk pindah, dan membiarkan wanita yang sepertinya kesulitan duduk di serep untuk duduk lebih kedalam. Mengambil resiko untuk mempersingkat umur dengan merokok saja dia berani, huh… kenapa berbuat baik saja gak mau?)

Perjalanan kembali berlanjut. Wah, leganya bisa ngehirup udara tanpa suplemen dari nikotin yang terbakar itu. Tapi kesenangan saya tak berlangsung lama sodara-sodara. Karena hidung saya yang amat sangat sensitif dengan bau asap rokok ini kembali mencium sesuatu. Dan tahukah, ternyata yang sedang menyalakan rokok tersebut adalah sang nenek yang duduk di depan saya *gedubrak (lebih parah dari gubrak ) kali ini saya benar-benar nangis bombai dalam hati. Mirissss banget…

Ada apa dengan duniaku? Kenapa rokok begitu merajalelanya? Apakah kurang selama ini promosi kesehatan tentang bahaya rokok kepada masyarakat? Apakah masih kurang peringatan-peringatan dan bukti nyata akibat langsung dari merokok ini? Atau karena rakyat kita memiliki terlalu banyak uang untuk sekedar dibakar-bakar melalui rokok? Terbayang di pelupuk mataku paru-paru manusia yang digunakan ketika pratikum anatomi, begitu hitam dan rusak. Jelas itu adalah paru-parunya perokok aktif.

III. PEMBAHASAN

Terkadang kita sering tidak menyadari, bahwa kebiasaan merokok di tempat umum adalah kebiasaan jelek yang dapat mengancam kenyamanan, kesehatan, bahkan nyawa orang lain. Seorang perokok aktif yang merokok di tempat umum, secara tidak langsung memaksa orang lain untuk ikut mencicipi aroma dan asap rokok yang notabene, kandungan racun pada sisa asap rokok tersebut lebih banyak dibandingkan racun yang dihisap perokok aktif itu sendiri.

Perokok aktif sering tidak mempertimbangkan kenyamanan orang lain pada saat merokok di tempat umum. Terlebih bila mereka merokok di fasilitas-fasilitas umum yang ruang lingkupnya sempit seperti angkot, bus kota, rumah makan, tempat pemberhentian bus, ruang bioskop, ruang tamu, dan lain sebagainya.

Penumpang yang rela duduk bersempit-sempitan dengan jumlah oksigen terbatas di dalam angkot serta disajikan berbagai aroma menyengat plus asap dari kendaraan itu sendiri, dipaksa lagi harus menghisap asap rokok dari sopir angkot atau penumpang yang perokok aktif. Bukankah itu adalah suatu penyiksaan fisik sekaligus batin pada penumpang yang tidak merokok. Memang hal tersebut berlangsung singkat dan hanya selama perokok tersebut merokok. Namun, jika hal tersebut berlangsung secara berkala, bahkan tiap hari, tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan berbagai penyakit tidak hanya bagi perokok aktif tapi juga korban akan berjatuhan dari pihak yang sama sekali tidak pernah mencoba nikmatnya merokok (PEROKOK PASIF)

IV. PENUTUP

Merokok “dapat” maupun merokok “beli” sama-sama membawa mudhorat! Sayangi paru-paru Anda! Memang efeknya tak akan dirasakan dalam waktu dekat, tapi apakah Anda tidak ingin menikmati hari tua dengan fisik dan stamina terjaga? Waspadalah! Waspadalah!

V. KESIMPULAN

So, angkot bisa menggangu kesehatan juga jika kita tak berhati-hati. Mulai dari bahaya asap rookok, asap kendaraan, sampai debu-debu yang berterbangan.

VI. SARAN

Lebih baik naik Sepeda! Saya cukup bahagia karena belakangan jumlah pengendara sepeda di kampus saya mulai meningkat. *Do’akan sepeda saya yang di rumah bisa segera dihijrahkan ke Padang yak sodara-sodara!!!

Wallahu’alam bi showab, bagi yang merasa kurang senang/kurang sepakat dengan postingan saya kali ini, mohon diafwankan… fastabiqulkhairat, wabillahi taufik walhidayah, wassalamualaikum wr.wb….

@baiti jannati

05 Maret 2010, 20:33:28

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to Tragedi Angkot Part 1 (Rokok dan Angkot)

  1. Zamzami Saleh says:

    alhamdulillah di mesir orangnya lebih ta’at hukum hehehe hampir di tiap – tiap angkutan baik yang berupa citi bas (logat mesir) , bus yang kayak bis kota (merek nya abc kayak sirup) ada larangan merokok (mamnu’ tadkhin)..

    kasihan di padang..ah jadi teringat masa2 “perokok kelas kakap” sampai divonis dukun “paru-paru low udah rusak” hahaha

    sayangnya disini yang merokok malah kebanyakan mahasiswa dari INDONESIA TANAH AIR BETHA PUSAKA ABADI NAN JAYA..secara bikin orang mesir yang baik hati lagi penyayang plus suka ngasih kita-kita biaya buat makan jadi menurun tingkat kepercayaannya karena orang indonesia banyak yang perokok…

    mohon doa semoga diri pribadi dan para jamaah yang telah mulai berehenti merokok dapat istiqomah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s