Matahari yang Kutunggu

Apa kabarmu teman?

Hmm… sepertinya engkau masih seperti dulu. Masih sama dengan para pejuang-pejuang itu. Masih setiakah engkau melangkah di “jalan” yang kau yakini kebenarannya itu.

Sedangkan aku? Masih termangu di sini, statis dan diam di tempat. Dengan sisa-sisa harapan yang kuperjuangkan agar tidak pernah padam.

Adakah imanmu baik-baik saja duhai kawan?
Yah, aku yakin keimanmu semakin kokoh terpatri seiring dengan kezuhudan yang kian terpancar dari wajahmu nan cerah.

Lalu aku? Menunduk malu di hadapan Tuhaku, sekian lama berjalan memunggung dariNya cukup membuatku tersipu ketika memohon agar Ia sudi menengok lagi ke arahku…
Bagaimana engkau bisa terus berjuang wahai sahabat?

Lalu kau ceritakan kepadaku bagaimana semangatmu menggelegar menerjang “setumpuk lahan” yang kau anggap ladang pahala dan bisnisnya para nabi itu. Tak kenal menyerah dan secara diplomatis engkau pun mendeklarasikan kelelahan-kelelahan itu sebagai sahabat setiamu. Ah mujahid! Aku sungguh salut melihatmu!

Dan engkaupun menoleh padaku…

Hah, apa yang bisa kubanggakan? Apa harus aku koarkan kepadamu setumpuk kekhilafan yang sengaja kulakukan? Atau segudang prestasi “indah” yang membuat hatiku berkarat? Menderita… Yah, hanya itu kata yang bisa kuungkapkan…

Matamu yang bercahaya mulai memandang dua bola mataku yang kian kelabu…kelam…

Dan engkau pun berusaha menangkap kegelisahan yang menurutmu tak dapat kusembunyikan. Haha… percuma! Percuma wahai makhluk yang menganggap dirinya sebagai sahabat setia! Terlalu dalam kegelapan yang akan engkau temukan. Sudah! Biarkan saja aku di sini! Tinggalkan saja aku dengan wahamku ini. Hidup dalam khayalan “kebahagian” yang selama ini kuciptakan sendiri. Sudah terlalu lama aku menanti, sudah terlalu lama kawan!

Apa kabarmu saat ini kawan? Akankah engkau merasa tertantang? Ataukah engkau merasa malu dengan kondisiku ini? Tercemarkah kesholehanmu jika dekat denganku?

Tak bosan, akan selalu kutanyakan, Apa kabarmu kawan? Khaifa haluki wa IMANuki?
Kuharap akan masih tetap sama dan takkan pernah berubah mundur seperti semburat lembayung senja yang beranjak menjadi kelamnya malam…. tanpa adanya bintang, tanpa adanya rembulan.

Dan aku? Aku masih menunggu datangnya pagi. Menunggu terbitnya sang mentari!! Menunggu kemunculan sang fajar!! Dengan sisa-sisa keyakinan aku berdo’a… engkaulah matahari yang kutunggu….

*** Ternyata masih banyak orang-orang terdekat yang “terlupa” kan….

A sparkling mind touch me in the dark night. Hope it will be a silver dream “the road to the heaven

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Matahari yang Kutunggu

  1. ice says:

    diksinya bagus..
    sentimentilnya juga dapet

    jgn pesimis, harapan itu masih ada 🙂 (buat siapa pun yg sdg kyk gini)

  2. Aini Cahayamata says:

    Syukron ce….

    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s