Kader DAKWAH Atau Kader PARTAI??

“Mujahidah on the blog!”

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh Friendsfillah Rahimakumullah,,,
Apa kabar blogger semua? Masih setia kan main-main di blog ini?? I hope so 🙂

Kali ini saya akan mengangkat suatu tema yang cukup berat. Berat karena pembahasannya akan menimbulkan pro dan kontra…. Antara Mahasiswa, parpol, dan ideologinya…

Hal ini cukup menarik bagi saya…dan saya cukup setia menjadi pengamat “setia” atas fenomena ini.

Sahabat, saya tak akan membahas mengenai partai politik di sini. Karena jujur, saya bukan orang yang memiliki pengetahuan yang LUAS seperti sahabat semua tentang lika-liku seni perpolitikan Indonesia mulai dari ilmu putih sampai ilmu hitamnya. Sungguh saya adalah orang yang sangat awam untuk masalah yang satu ini…..

Namun saya sedikit tergelitik dengan komentar dan kritikan dari beberapa orang sahabat terkait dengan banyaknya aktivis kampus (terutama aktivis dakwah kampus) yang sepertinya memihak dan pro kepada parpol. Yang mereka gugat adalah tentang ke-independenan-mahasiswa di sini. Dimana letak komitment terhadapa ideologi mahasiswa jika “mereka yang biasanya turun ke jalan untuk menggugat” tiba-tiba menjelma sebagai sosok yang “sepertinya” tidak lagi objektif dalam melihat permasalahan perpolitikan di Indonesia karena sudah terkontaminasi dengan bergabungnya mereka sebagai simpatisan a.k.a pendukung a.k.a kader suatu parpol.

Okeh, saya sepakat sekali dengan mahasiswa yang independent, namun independent bukan berarti tidak memilih kan? *terinspirasi dari perkataan seseorang*

Saya sepakat dengan mahasiswa yang tidak “maniak” dengan suatu parpol…

Dan Saya juga sepakat dengan opsi bahwa peran mahasiswa “terutama ketika musim-musim pemilu muncul” adalah sebagai agen untuk mencerdaskan masyarakat agar memilih dengan hati. Bukan asal pilih, atau milih karena “si A adalah Bapak Paman Nenek Cucu keturunan Eyang Buyutnya”, atau memilih karena si A sudah memberikan sekian-sekian untuk dipilih…., sedangkan si B cuma sekian…. atau lagi masyarakat pilih si C karena calonnya ganteng (nah lo!!)

Tapi ada satu KASUS dan KONDISI lain teman, dimana kita (baca: kader dakwah) dituntut untuk memiliki PERAN GANDA, amanah lain selain sebagai MAHASISWA. Amanahnya tidak main-main ternyata. Langsung diamanahkan oleh Yang Maha Pemberi Amanah. Amanah sebagai seorang pendakwah! Amanah sebaagi seorang Jundi!

Nah, ternyata…. selain dari mahasiswa yang sosialis, ada lagi ternyata rekan-rekan kita yang memiliki “visi ke depan” yang sama, namun dengan “cara” yang berbeda, yang menolak dan menentang kehadiran suatu jamaah yang mengcover-i diri mereka dalam sebuah naungan Hizbt yang mereka namai sebagai partai dakwah.

Friends, di bawah ini saya lampirkan sebuah artikel yang “SANGAT” membantu saya memberikan jawaban atas komen-komen dari ikhwafillah tentang maraknya aktivis dakwah kampus yang “mendukung” parpol (refers to partai dakwah sajah)….
(syukron kak Khaleeda atas artikelnya yang inspiratif^^)

Kader DAKWAH Atau Kader PARTAI??

Sesungguhnya hanya ada satu nama bagi kita: muslim. Nama lainnya hanyalah sarana untuk menuju kemusliman kita. Yang penting bukan siapa yang mengajak, tapi dengan cara apa dan terhadap apa kita diajak.

Benarkah kita telah berjuang?

Berjuang untuk apa dan siapa?

Ada baiknya kita mengingat nasehat Ustadz Ahzami Samiun Jazuli tentang muroja’ah manhaj/metode hidup kita. Jangan-jangan ada yang menyimpang? Manhaj kita adalah Al-Islam. Benarkah seluruh aktivitas kita mengacu pada Al-Islam? Atau kita sudah terjebak pada keangkuhan intelektualitas kita? Sehingga capaian intelektual itu telah menjadi acuan ketimbang ajaran Islam? Atau juga kita terjebak pada injazat siyasiyah, target-target politis? Sehingga hal tersebut menjadi pola pikir dalam berpolitik dan bermasyarakat. Ataupun kita yang dikenal al khabir (pakar) yang dipakai adalah tingkat kepakaran kita meski bertentangan dengan Islam? Muroja’ah! Cek kembali semua aktivitas kita. Sampai akhirnya kita benar-benar ‘alaa bashirah berada dalam manhaj. Ingat! Tidak akan ada faedahnya jika aktivitas kita jauh di luar manhaj Islam! (Jazaakallah khairan katsiira yaa ustadziy…)

Dakwah Partai Lewat Partai Dakwah


Mengapa kita berpikir sempit bahwa yang mereka bawa adalah partai? Hanya partai! Partai yang sudah terlanjur buruk citranya karena mengumbar janji-janji dusta. Partai yang berisi orang-orang kotor yang hanya berorientasi pada dunia. Partai yang menyebabkan adanya perpecahan dan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Bahkan ada sebagian dari kita yang menganggap dakwah dengan partai adalah haram dan bid’ah? Begitukah? Wallaahu ta’aala a’laamu…

Ah, siapa saya yang mampu membahas persoalan seperti ini. Dengan ilmu yang masih “cetek” dan baru mencicipi manisnya tarbiyah, saya tak lebih dari anak kemaren sore yang biasa disebut ABG (Akhwat Baru Ghiroh).

Jujur, saya sangat takut keluar dari orbit dakwah. Saya sangat takut jika tak lagi bersama jama’ah. Takut tak bisa berkumpul lagi bersama orang-orang sholih dalam satu halaqoh. Ketakutan-ketakutan itulah yang mengharuskanku dan semua kader dakwah untuk mempertahankan eksistensi! Eksistensi jama’ah yang telah dibangun dengan kesungguhan perjuangan dan keikhlasan bertahun-tahun lamanya oleh para masyaikh dakwah kita. Menjaga agar kebenaran tetap eksis di muka bumi. Menjaga agar sistem dan manhaj Islam terus berkembang dan tetap eksis di muka bumi. Sampai akhirnya dunia dan alam semesta mengakui eksistensi umat islam sebagai pengemban risalah dan pemangku amanah (khalifatullah) dapat menjalankan tugasnya dengan baik, menjaga eksistensi syari’at Islam dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Untuk memudahkan merealisasikan tugas-tugas dakwah itu, dibutuhkan payung hukum dan kekuatan struktural yang diakui secara sistem kenegaraan agar dakwah berjalan dengan “aman”. Jangan sampai kasus di masa lalu terulang kembali: Muslimah dilarang memakai jilbab, aktivis-aktivis dakwah diciduki, atau halaqoh secara sembunyi-sembunyi.

Untuk itu, diperlukan kekuatan penopang, pelindung, dan penyempurna penerapan ajaran agama dan syari’ah. Dalam hal ini, penguasa adalah pihak yang memiliki kekuatan karena ucapannya didengar dan titahnya dijalankan. Masalahnya, penguasa seperti apa yang mau sadar melakukan tugas menopang, melindungi dan menyempurnakan ajaran islam? Tentu penguasa yang sholih dan mengerti. Bagaimana memilih orang yang sholih dan mengerti serta memiliki kekuasaan? Tentu harus melalui aturan main (mekanisme) yang telah terlanjur ada dan mapan di sebuah Negara. Umumnya, melalui jalur politik kepartaian. Begitulah alur yang harus dipahami dan dilalui jika ingin memperbaiki umat dengan syari’at. Apa jadinya jika umat Islam sendiri mengharamkan keberadaannya? Jalur apa yang dapat dijadikan sarana bagi aktivis Islam untuk bergerak dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera? Tentu kita tidak akan ridho jika kita dipimpin oleh orang-orang kafir, dzolim, atau fasik. Jadi, biarkan sebagian dari aktivis Islam bergerak mengikuti mekanisme yang ada sebagai jalur perjuangan yang mereka yakini. Nyatanya, Rasulullah pernah memanfaatkan kebiasaan masyarakatnya untuk mashlahat dakwah ketika kedudukan beliau masih lemah seperti keadaan aktivis dan umat Islam saat ini.

Sekali lagi, jangan berhenti pada pintu bernama partai, tapi bukalah dan lihatlah lebih jauh ke dalamnya. Ada ruangan yang begitu luas. Sangat luas! Ada cita-cita dakwah di sana. Ada visi misi dakwah yang dibawanya. Partai hanya salah satu sarana untuk mencapai sasaran dakwah (ashdafud da’wah) yang keempat (Bina’ul Daulatul Islam). Setelah terbentuknya pribadi-pribadi muslim, keluarga-keluarga islami dan membentuk masyarakat islami, diharapkan akan terbentuk Negara Islami, yaitu Negara yang pemerintahannya selalu melakukan amar ma’ruf nahi mungkar secara konsisten sehingga tumbuh masyarakat yang adil, beradab, dan sejahtera. Negara yang pemimpinnya beriman dan tunduk kepada hukum Allah. Dan kemudian, terbentuk dan terbinalah alam semesta ini dengan nilai-nilai islam. Dunia tunduk pada ajaran Allah secara menyeluruh. Pada waktu itulah, tidak ada lagi fitnah di muka bumi. Kaum muslimin pada waktu itu benar-benar telah menjadi rahmat bagi semesta alam (Bina’ul ustadziyatul ‘alaam). Berhenti pada satu sasaran dakwah adalah sikap pengecut! Sikap kepahlawanan muncul dari keberanian memperjuangkan seluruh sasaran dakwah, betapapun berat dan sukarnya jalan ke arah sana.

Ustadz Satria Hadi Lubis menjelaskan, era reformasi (demokratisasi) dalam suatu negara menyebabkan munculnya peluang bagi jama’ah untuk berkiprah di arena politik. Berpolitik adalah sarana untuk menyalurkan aspirasi jama’ah secara formal kenegaraan. Dengan berpolitik, jama’ah semakin mudah dan semakin cepat merealisasikan tujuannya, yakni membentuk masyarakat islami. Untuk berkecimpung dalam arena politik (formal dan legal) tak bisa tidak kecuali dengan membentuk partai politik. Parpol, sama halnya dengan organisasi masyarakat, yayasan, lembaga swadaya masyarakat, dll hanya merupakan sarana yang dapat berwujud apa saja selama hal itu dianggap efektif untuk mengamalkan islam. Jika jama’ah masih tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadist, maka masalah badan hukum adalah masalah yang bersifat situasional. Dengan ijtihad, para pemimpin jama’ah bisa saja menganggap bahwa partai merupakan badan hukum yang terbaik untuk keberlangsungan jama’ah pada situasi tertentu. Tapi, mungkin suatu ketika pendapat itu berubah, bergantung dari situasi yang berubah pula.

Sampai di sini, saya harap semua akan mengerucut pada satu pendapat, bahwa dakwah siyasi memang perlu! Kemudian, timbul lagi pertanyaan: Kenyataanya, realitas di lapangan seringkali terjadi penyimpangan. Ke mana idealisme kader dakwah yang dulu?

Lagi-lagi soal idealitas yang berbenturan dengan realitas. Hmm…satu yang tak bisa ditawar-tawar lagi, bahwa idealisme harus menjadi pijakan dalam beramal. Ada titik yang ingin kita tuju. Titik idealitas! Walau pada tataran aplikasi, para kader dakwah kadangkala belum memenuhi tuntutan idealisme, sehingga selalu diperlukan introspeksi, evaluasi, dan reorientasi. Cita-cita perjuangan tidak boleh bergeser dengan adanya berbagai kendala teknis dan belum adanya daya dukung yang memadai bahkan seluruh kekuatan dan komponen bangsa menolaknya sekalipun. Kader dakwah harus tetap komitmen pada idealisme perjuangan. “Maka tetapah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah ebrtaubat beserta kamu da jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112). Rasulullah juga berpesan pada Hudzaifah Ibnul Yaman, “berpegang teguhlah kamu pada jama’atul muslimin dan imamnya (idealisme) sekalipun kamu harus memakan akar-akar pepohonan”. (HR Bukhari).

Bangsa kita memang mayoritas muslim, tapi komitmen keislaman mereka rata-rata masih di bawah standar. Berapa persen dari mereka yang paham akan nilai-nilai islam? Karenanya, kader dakwah dituntut bersikap realistis dan rasional dalam menuju tereaisasinya hukum Allah. Bahkan, di kalangan kader sendiri mungkin terjadi kesalahan, kekhilafan, dan kekeliruan. Oleh karena itu, kita tidak boleh menutup mata terhadap masih banyaknya kekurangan, keterbatasan, tantangan, rintangan, dan hambatan yang terkadang memaksa jama’ah untuk mengambil kaidah “Al akhdzu bi akhaffi ad-dhororain” (mengambil salah satu dari dua mudharat yang paling ringan).

Sebisa mungkin, idealisme harus tetap dipertahankan, namun realitas juga harus diperhitungkan.

Bukan hanya tujuan yang selalu mendapat perhatian, tapi cara yang kita gunakan untuk meraih tujuan juga harus senantiasa dijaga dalam keberkahan.

Kami berkorban untuk taat. Kami berkorban untuk tegaknya dienullah. Kami berkorban untuk menghentikan atau meminimalisasi kedholiman. Kami berkorban untuk membantu saudara-saudara kami yang tertindas. Kami berkorban untuk menyelamatkan moralitas anak-anak negeri ini. Dalam aktivitas dakwah, pengorbanan menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Pengorbanan ini seringkali mempunyai motivasi yang beraneka ragam. Mencapai target 20% suara misalnya. Oke, sah-sah saja. Target memang harus ada. Akan tetapi, motivasi yang senansiasa diajarkan oleh dakwah ini hanya satu: Ridho Allah ‘Azza wa Jalla. Dan caranya, juga harus berkah!

Satu lagi, kita adalah jama’atul insan bukan jama’atul malaikat. Setiap kita adalah manusia yang lemah dan tak berdaya kecuali Allah memberikan kekuatan pada kita. Kita tak lepas dari kesalahan dan kekhilafan, dan hanya dengan ampunan Allah-lah kita terselamatkan. Hanya dengan kekuatan dari Allah kita bisa istiqomah di jalan dakwah. Kita akan tetap militan bila kita bersama Allah…

Jangan kau caci kegelapan, tapi nyalakanlah pelita!


Ah, rasanya terlalu jauh diri ini berlaku SOK TAHU. ‘Afwan….

Kembali ke tema. Kader dakwah atau kader partai? Terserah jawaban pembaca. Tapi jika pertanyaan itu ditujukan ke ana, akan ana jawab dengan tegas: ‘Afwan, ane kader dakwah, bukan kader partai!

Hadaanallahu waiyyakum ajma’ain, Wallahu Ta’aala a’laamu bish-showaab…

Ya Allah, kereta ini adalah sarana bagi kami untuk berfastabiqul khairat dan menyeru kepadaMu. Ya Allah, kereta ini adalah sarana bagi kami untuk bergerak dalam barisan yang rapi dan solid dalam rangka mengajak orang lain menjadi penyeru di jalanMu. Maka Ya Allah, jangan Engkau jadikan kereta ini membelokkan hati-hati kami dari selainMu. Jadikan tiap gerak langkah kami bahkan ketika kami menstrategi, mengkonsep, dan menjalankannya, tetapkanlah kami selalu mengingatiMu. Tiada tujuan lain selain menegakkan dienMu. Kereta ini sangat kecil sekali. Ia hanya salah satu wajihah untuk menuju ke sebuah tujuan yang besar: ISLAM sebagai USTADZIATUL ‘ALAAM.”


NB: Yang namanya aktivis, ya kudu aktif! Jangan cuma jadi penonton, komentator, atau pengamat dakwah. Terjunlah ke dalamnya! Bekerja dengan produktif, jangan cuma pandai mengkritik.

**************

So, jika friendsfillah nanya ke saya (Nur’aini)….
Saya juga bakal jawab: Saya kader dakwah!! tapi juga kader partai dakwah!! (ishk…ishk…)

Partai bukan sekedar kendaraan. Dia adalah jamaah dakwah, yang berganti nama atau “bereinkarnasi” menjadi partai untuk kondisi saat ini. Memang suatu saat partai bisa bubar tapi jamaah dakwah tidak pernah bubar. Tapi jamaah dakwah tidak akan pernah meninggalkan politik dan pemerintahan, dan konsekuensi saat ini ketika mengikuti politik adalah dengan berpartai.

Dakwah itu berpartai
Otomotis kalau kita mengaku berdakwah, Otomatis kita berpartai
Memang substansinya kita berpartai karena dakwah, dan kerena dakwah kita berpartai,
berarti karena dakwah pula kita menjadi kader dakwah sekaligus kader partai
keduanya tidak bisa saling meniadakan.

Sama dengan kita kekampus untuk kuliah sekaligus berdakwah. Bukan untuk kuliah saja atau berdakwah saja
Kalau ada seorang aktivis dakwah mengatakan bahwa dia hanya kader dakwah, bukan kader partai, berarti sama dengan mengatakan saya berdakwah tapi tidak berpolitik

Memangnya ada apa dengan politik? Ada masalah apa ketika kita mengaku kader dakwah sekaligus kader partai?
Ingat partai dalam pengertian kita berbeda dengan partai dalam pengertian umum.
Partai kita bukan sekedar partai. Partai kita adalah partai dakwah. (taujihat Ustad ^^Y)

Dan jika ada orang-orang yang berjuang untuk memenangkan dakwah islam , atas alasan apa saya tidak ikut serta di dalamnya???

***Postingan “agak” berat pasca gagal ikut agenda penting Ahad lalu….

Nitip cuap-cuap salam:

Untuk semua sahabat yang akan dan sedang menjalankan Ujian Tengah Semester, selamat berJOANK!!! Maksimalkan potensi untuk mendapatkan hasil yang terbaik!!!! Semoga kita senantiasa dalam keridhoan Allah SWT.

Buat kampusku Universitas Andalas tertjintah yang lagi musim-musimnya PEMIRA, FSI (Forum Studi Islam) yang telah selesai atau akan melaksanakan MUBES -nya, SEMOGA terpilih pemimpin yang sholeh, jujur, cerdas, amanah, adil, dan sejahtera. Semoga dakwah kampus makin jaya dan berkah!!

SELAMAT bertugas untuk adik-adikku Presidium NIC ‘1011 terpilih…. Dakwah menunggu KARYAMU!!!

Selamat berjoank juga untuk para Jundi yang akan bertempur untuk memenangkan Pilkada Sumbar 2010!!! Hamasah! Hamasah! Hamasah! InsyaAllah Allah akan memberikan kemenangan itu!!!
^^

@baitijannati-AlHusna: 12-04-010 at 23:45 am

http://zonacahayamata.blogspot.com/

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

6 Responses to Kader DAKWAH Atau Kader PARTAI??

  1. rangtalu says:

    komentar sebelum berkomentar :
    pertama ada yang aneh di blog ini, dulu lagunya penuh semangat, eh ketika menjelang “perang” lagunya malah berubah menjadi edcoustic.. kurang bersemangat rasanya..

    “independet bukan berarti tidak memilih” sepertinya abang kenal dengan kata-kata itu.. 🙂

    komentar :
    jamaah kita adalah partai ini, partai ini adalah jamaah kita.
    kalau orang yang masih memperdebatkan antara “kader da’wah” dan “kader partai”, berarti ia belum memandang islam sebagai sistem yang menyeluruh.. padahal islam adalah politik dan ibadah, jihad dan hukum, dll.. Ust Hasan Al-Bana punya narasi lengkap untuk melanjutkan kaliamt ini.

    ( ha, iyo.. barek saketek..)

  2. Aini Cahayamata says:

    Yo agak asiang ganjianyo komentar dari Bg Ad ko ndak…
    ado lo komentar sebelum komentar…hehe,boleh boleh..

    penjelasannyo: Ni rencana ka mangganti jo nasyid bingkai kehidupan, tapi ndak kalua2 suaronyo do bg, eh tibo2 nak baliak ka edcoustic :)… Rencana ka diganti baliak mah bg, nantikan tanggal mainnyo (hati penulis yo agak suko terbolak-balik stek bg, sasuai mood,heh)

    “independent bukan berari tidak memilih” Ndeeehhh parolu lo dibuekan gadang2 (RANGTALU 2010) nyo disitu bg????….hahaha…

    Komentar atas komentar:

    Setelah berdiskusi dg ustad tentang note Ni yang ini, sepertinya redaksi akan sedikit diubah bg…

    KAder dakwah atau kader partai?
    kata ustad: Dakwah itu berpartai
    Otomotis kalau kita mengaku berdakwah
    Otomatis kita berpartai
    Memang substansinya kita berpartai karena dakwah
    Dan kerena dakwah kita berpartai,
    berarti karena dakwah pula kita menjadi kader dakwah sekaligus kader partai
    keduanya tidak bisa saling meniadakan… (nah tambah berat kan??)

    Sama dengan kita ke kampus untuk kuliah sekaligus berdakwah. Bukan untuk kuliah saja atau berdakwah saja
    Kalau ada seorang aktivis dakwah mengatakan bahwa dia hanya kader dakwah, bukan kader partai, berarti sama dengan mengatakan saya berdakwah tapi tidak berpolitik

    Memangnya ada apa dengan politik? Ada masalah apa ketika kita mengaku kader dakwah sekaligus kader partai?
    Ingat partai dalam pengertian kita berbeda dengan partai dalam pengertian umum.
    Partai kita bukan sekedar partai. Partai kita adalah partai dakwah.

    Artinya ketika kita mengatakan bahwa kita adalah kader dakwah bukan kader partai
    Berarti kita telah menganggap partai kita sama dengan partai umum lainnya
    Berarti sengaja atau tidak kita telah memisahkan antara partai dengan dakwah atau memisahkan siyasah dengan dakwah
    Ketika ini terjadi, tanpa sengaja kita telah mengatakan sebagaimana perkataan islam yes, partai islam no
    Inilah jebakan sekularisme. Kita bisa terjatuh dalam pemahamahan sekuler yang memisahkan antara islam dan politik

    Jangan jadikan alasan realitas yang tidak sesuai idealitas, sehingga membuat idealitas menjadi berubah
    Jangan rubah hukum Allah, hanya karena manusia tidak mampu melakukannya… (begitu kata sang ustad kira-kiranya bg)

    So, kader partai atau kader dakwah?
    jawabannya: kader partai dakwah…:P

    Sebenarnya Ni juga bermaksud demikian, tapi note iko tertuju ka rekan2 yang agak anti partai, jadi redaksinyo digubah untuk mempertegas awak ndak hanya berfokus pada kepartaian, tapi dakwahnyo tu intinyo….

    Yiahhh….tambah barek kaji…
    tambah penasaran Ni…

    heh

  3. rangtalu says:

    yo lah, ganti dengan yang lebih sumangaik…
    )|(
    panjang nyo lai, lah samo lo jo ciek postingan balasan aini tu ma..

  4. Aini Cahayamata says:

    sipt…
    coming soon, nasyid haroki “again”

    yo tambah sumangaik manulis dek dapek taujih cako…*ndeh kalua baso pikumbuah ha*

  5. arin says:

    jazakumullah khairan… atas penjelasannya. saya jadi tenang sekarang. karena barusan dosen saya menjelek2kan partai dakwah di forum kuliah. terus tanpa sadar saya menyanggah. lantas beliau menunjuk kemuka saya dan mengatakan “kamu PK.. s kan?!”. tak mungkin saya menjelaskan lagi karena seluruh teman menyaksikannya.

    • afwan ukhti, tetap semangat yah. Memang banyak yang tidak bisa menerima akan kehadiran parpol, kebanyakan karena mereka trauma dengan pengalaman2 parpol yang ada. TAPI KITA BEDA. kita tak sekedar parpol insyaAllah… ingat ingat lagi tujuan kita di gerak langkah ini…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s