Self Defense and Muslimah

Self Defense and Muslimah

Pengantar dari Admin blog:
Tulisan saya copasus (copy paste tanpa kasus) *karena sebelumnya saya sudah meminta izin untuk merepost ulang di blog ini* dari sahabat, senpai (karena saya panggil dia “mbak” dan pastinya karena beliau lebih gahek dari saya *penting ya?*langsung kena timpuk sama penulis asli* sekaligus beliau adalah sensei saya (karena saya suka menuntut bermacam-macam ilmu darinya)…

Untuk lebih mengenal penulis dan sumber saya meng-copass artikel ini, silahkan blogger semua berkunjung ke blog “yang agak menyeramkan” ini: (seram karena bertemplate hitam)

Rin’s Rhapsody

*mohon setelah ini transfer uang promosi ke rekening saya mbak…heheh*

Menurut saya artikel ini cukup bermanfaat dan agak lain dari yang lain….
okeh, check it out guys!!


**********************************************************

Well…. Akhirnya timbul juga motivasi yang cukup kuat untuk mempublishkan tulisan yang ini…… =============================================


PERHATIAN!!!
jangan skip dua paragraf yang pertama!!

Menurut data yang dilansir oleh LBH APIK, pada tahun 2006, DKI Jakarta menempati urutan pertama jumlah kasus kekerasan pada perempuan, yaitu sebanyak 7.020 kasus. Angka kekerasan terhadap perempuan di Jakarta itu meliputi kekerasan dalam rumah tangga sebanyak 3.682 kasus, dan kekerasan dalam komunitas sebanyak 1.787 kasus dalam bentuk pencabulan sebanyak 12 kasus, pemerkosaan (343 kasus), pelecehan seksual (7 kasus), kekerasan seksual (548 kasus), perdagangan perempuan (15 kasus), buruh migran (712 kasus), penganiayaan (74 kasus), dan lain-lain (76 kasus).

Ya, walaupun data yang ditunjukkan adalah data DKI, tapi bukan berarti hal-hal tersebut tidak terjadi di daerah-daerah lain. Data tadi setidaknya cukup menjadi gambaran tentang betapa banyaknya kasus kekerasan yang dialami oleh para wanita. Kita lihat data nasional. Menurut data Komnas Perempuan, ada peningkatan jumlah kasus yang signifikan dalam kurun waktu tahun 2003-Maret 2007. Tahun 2003 total kasus yang terjadi adalah 7.787, tahun 2004 sebanyak 14.020 kasus (naik 80 %), tahun 2005 sebanyak 20.391 kasus (naik 69 %), dan tahun 2006-Maret 2007 sebanyak 22.512 kasus. Data tersebut adalah data jumlah kasus yang ditangani oleh 257 lembaga di 32 propinsi di Indonesia.

Sekarang kita simak sebuah hadist. Seseorang sahabat pernah datang kepada Nabi saw, kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika ada orang hendak merampas hartaku?“ Beliau bersabda, “Jangan berikan hartamu.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana jika dia hendak membunuhku?” Beliau menjawab, “Bunuh dia.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana bila ia berhasil membunuhku?” Beliau menjawab, “Maka, kamu syahid.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana bila aku berhasil membunuhnya?” Jawab Beliau, “Dia masuk neraka” (HR Muslim) Nah, apa artinya? Secara sederhana, hadist tadi mengajarkan bahwa tak ada alasan bagi seorang muslim untuk berdiam diri ketika didzalimi oleh orang lain. Nah, begitu juga bagi para muslimahnya. Tak ada alasan bagi para kaum ibu ini untuk tidak berjuang mempertahankan harta, jiwa, agama, dan kehormatannya. Permasalahanya sekarang, kaum lembut ini seringkali tidak memiliki keberanian dan pengetahuan yang kuat untuk persiapan ketika menghadapi hal-hal tersebut. Padahal itulah dua hal dasar yang dapat membantu kita untuk bisa lepas dari situasi yang kurang menyenangkan. Pertama keberanian, atau dengan kata lain, mental. Sudah sangat alamiah jika dalam situasi berhadapan dengan masalah atau bahaya baik dari kriminalitas maupun kekerasan, para perempuan biasanya menjadi panik luar biasa.


Nah, bagaimana meminimalisir faktor kepanikan dan bagaimana tetap dapat tenang dan berpikir jernih di situasi genting??
Dari mana kekuatan mental itu kita dapatkan?? Benar-benar pertanyaan yang sulit bagiku pribadi untuk menjawab. Secara mendasar, sikap mental seorang muslim hendaknya berakar kokoh dari keimanan. Iman yang kuat yang nanti akan melahirkan kepercayaan dan keyakinan yang mendalam kepada Allah dan kepada seluruh kekuasaan-Nya. Kita harus yakin bahwa Allah akan selalu melindungi hamba-hambaNya. Allah akan senantiasa menolong hambanya yang berjuang keras mempertahankan segala hal yang telah diberikan-Nya. Nah,biasanya, inilah yang pertama kali lenyap saat kita menghadapi keadaan kritis. Yang kedua, bekal pengetahuan. Saya tidak bicara tentang pengetahuan terhadap bela diri murni semisal karate, tae kwon do, ju jit tsu dan sebangsanya. Nah, bekal pengetahuan ini tentu saja bekal pengetahuan rumus praktis membela diri bagi para Perempuan.

Mulai dari pengetahuan tentang titik-titik lemah dari tubuh manusia, pengetahuan tentang alat-alat/aksesoris yang bisa digunakan sebagai ‘senjata’ sampai ke pengetahuan tentang kemana harus kabur melarikan diri jika mendapat masalah di suatu tempat. Well… ini juga salah satu hal kecil yang terlalu sering diabaikan oleh kaum perempuan. Hmm…. Jika saya boleh membuat suatu hukum, maka saya akan membuat hukum “mempelajari bela diri bagi muslim dan muslimah adalah WAJIB” Terlepas dari saya adalah praktisi bela diri, tapi ini sungguh saya katakan karena saya sangat peduli dengan saudara-saudara saya sekalian. Dan berhubung saya bukan ulama, bukan kiai, bukan ustadzah, bahkan dibilang ahli-pun tidak, maka semuanya tetaplah menjadi saran dan usulan. Mau diterima ya… Alhamdulillah… kalau tidak ya… innalillah….

Kedengarannya saya bercanda, tapi ya walaupun bercanda, saya serius menyatakannya. Rasulullah sendiri adalah ahli bela diri yang luar biasa. Memang tidak ada kisah yang mengatakan bahwa Rasul berlati bela diri di dojo ini, atau di dojang itu, atau di perguruan ini, belajar jurus itu.

Tapi tak ada satupun orang yang menyangkal bahwa beliau adalah seorang jendral perang yang luar biasa. Kemampuan tempurnya sangat hebat. Bahkan fisik beliau juga manteb, ingan pernah dikisahkan beliau pernah mengalahkan seorang pegulat dengan mudah padahal beliau sudah tak muda lagi. Begitu juga para sahabat. kemampuan bela diri mereka sangat teruji di berbagai medan dan di berbagai perang. Mau bela diri dengan senjata (pedang, tombak, panah, dan teman-temannya) maupun duel one by one dengan tangan kosong. Sahabiyah juga tak kalah tangguh. Betapa banyak kisah sahabiyah yang ikut berjuang melintasi kejamnya alam disana, bahkan sering ikut turun berperang. jadi kalau ada yang bilang Rasul dan sahabat tidak bisa bela diri?? tandanya kurang gaul….

Alasan lainnya, tentu saja kenyataan tindak kekerasan dan kriminalitas disekitar kita. Jika anda aktivis dakwah, maka tantangan yang mengancam akan jauh lebih besar. Bukan menakut-nakuti, tapi itulah kenyataan. Mulai dari tantangan agenda kegiatan dakwah seabreg yang menuntut kondisi fisik prima sampai teror yang bisa saja mengancam keselamatan dan kehormatan. Untnuk bukti betapa kerasnya perjuangan kehidupan sepertinya tak perlu saya bahas lagi. (kalau masih penasaran, silahkan googling mulai dari ancaman kudeta, penjara, sampai preman pasar-pun ada) Itulah kenyataannya!! Mulai berniat ikut bergabung dengan kegiatan bela diri?? Bagus!! Tak harus jadi atlit salah satu cabang bela diri. Karena itu tergantung dari minat masing-masing individu. Ada orang yang memang tak usah disuruh orang lain, dia bakalan ikut dalam berbagai kegiatan penempaan fisik untuk bela diri, dan ada juga orang yang memang tak berminat, sehingga jangankan ikut latihan bela diri, tiap pelajaran olah raga a.k.a penjaskes di sekolah selalu cari alasan buat nggak ikut main.

picture by: Hz R

Tapi perlu digaris bawahi. Ikutlah untuk benar-benar mempelajari beladiri praktis yang dirancang khusus untuk menghadapi model kejahatan yang biasa dialami oleh para perempuan, seperti perkosaan; pelecehan seksual; penodongan; perampokan; dan lain sebagainya. INGAT!!! Martial Art (bela diri) sebagai olah raga itu berbeda prinsip dengan Martial Art sebagai ilmu berperang. Pernah dengar WSD??? Women Self Defense (WSD) ini mungkin terbentuk dari kenyataan sekarang yang cukup tidak aman bagi wanita. Disini tidak diajarkan jurus-jurus njelimet seperti di bela diri murni. Disini diajarkan ilmu-ilmu praktis untuk menghadapi keadaan-keadaan diatas dan materinya telah disesuaikan dengan kondisi perempuan (yang fitrahnya lemah dan nggak tegaan) Tapi sayangnya, WSD ini adanya di kota-kota besar. Peminatnya pun tidak sebanyak bela diri murni apalagi dari kalangan muslimah.

Bukanya promosi, tapi memang promosi (kalau hal baik perlu dipromosikan juga) untuk mengikuti kelas-kelas seperti ini. Bahkan perempuan di Amerika yang notabenenya busy women bisa ikut kelas ini. Dan yang paling awal harus dilatih adalah mental.Meskipun tetap harus berbegang pada iman, namun pelatihan mental harusnya menjadi salah satu kurikulum wajib bagi perempuan yang berlatih bela diri. Mau tetap pasrah?? Come on…. Ya, saya juga nggak bisa maksa…. Pilihan ada ditangan anda….

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s