Warna-warni Komunitas, warna apakah yang akan kau pilih?


Tahun tiga Kuliah, semester 6 yang menyeramkan…!!!!!!!

Tak terasa perjuanganku di dunia perkuliahan sudah memasuki akhir dekade ke 3. Semester 6 yang pastinya akan penuh dengan warna dan warni yang menarik.

Pertama, karena di semester ini, kami akan mulai memasuki dunia klinik dan komunitas KKN (Kuliah kerja nyata). InsyaAllah pasca UTS ini, kami sudah bisa memulai preklinik dan bulan berikutnya KKN.

Hmmm…. Membayangkan preklinik, lumayan membuat jantungku berdetak kencang. Bagaimana tidak? Dunia klinik yang penuh cerita nano-nano (manis, asam, asin, dan pahit) kabarnya memang membutuhkan perjuangan yang ekstrak keras.

Actually semua mahasiswa akan merasakan beratnya turun ke lapangan. Tapi ada sesuatu yang lain bagi mahasiswa kesehatan (seperti kedokteran dan keperawatan) kawan. Ada beberapa peraturan akademik yang membuat diriku dan akhwat lainnya cemas. Apalagi kalau bukan masalah tata tertib berpakaian.

Hal ini mungkin tidak terlalu bermasalah bagi rekan-rekan putri yang lain, tapi amat menjadi masalah bagi akhwat (baca: yang jilbabnya dalam). Kabarnya demi lancarnya proses belajar dan melakukan tindakan medis, semua yang berjilbab dalam harus mengkondisikan jilbabnya yang dalam menjadi sedemikian rupa agar tidak mengganggu proses medis (a.k.a dipendekkan).

Dan kabar terakhir yang juga turut membuat nadi ku berdenyut cepat dengan sedikit takikardi dan nafas yang tiba-tiba ngos-ngosan adalah kenyataan dan cerita di lapangan dari angkatan 08 yang udah duluan masuk klinik (kami memakai kurikulum yang berbeda) adalah di beberapa ruangan mereka diwajibkan memakai CELANA, sekali lagi C E L A N A, bukan R O K.

Owwwwwwwww tidaaaaaaaaaakkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!

Menurut cerita dari angkatan 06, alhamdulilah mereka memang tidak memakai celana. Dan karena kami sama kurikulumnya dengan 06, jadi kemungkinan besar juga tidak memakai celana. Tapi permasalahan berikutnya adalah, kami masuk klinik berbarengan dengan angkatan 08. Jadi perawat-perawat ruangan tersebut akan mempersepsikan kami sama dengan yang 08. Peraturan akan disamakan. Hiks…

Cerita-cerita tragis pun mulai bergaung dan kugali dari pengalaman-pengalaman akhwat di klinik. Yah, memang akhwat masuk klinik butuh extraordinary survive!

Pertama pengalaman adik kelasku (2008) akhwat yang kena teguran keras dari perawat ruangan karena jilbab dalamnya yang melambai-lambai. Teguran keras itupun berusaha untuk tidak ditanggapinya dengan konsekuensi namanya dicoret. Wallahu’alam… tapi bentuk teguran yang disampaikan perawat tersebut sungguh membuat hati miris.

Kedua cerita kakak kelas yang juga masih terkait masalah jilbab di ruang anak. Dan setumpuk kisah-kisah yang sama….

Hampir sebagian besar akhwat mendapatkan bagiannya masing-masing dalam mempertahankan prinsip berjilbabnya. Dan mau tak mau, aku dan akhwat preklinik 07 lainnya harus siap-siap mental, harus mempersiapkan ruhiy untuk menghadapinya.

Karena secara teoritis dalam melaksanakan tindakan medis tertentu memang akan susah jika jilbab terlalu dalam. Namun ada trik dan cara khusus bagaimana agar jilbab tidak lagi menjadi masalah ketika melakukan tindakan. Namun faktanya, kendala lain yang sering terjadi adalah tidak adanya toleransi dan Pemakluman dari pihak berkuasa terkait. Sehingga peringatan yang dikeluarkan tidak lagi objektif, tapi sudah menjadi ajang untuk sekedar mencaci dan memaki.

Belum lagi cerita dari senior-senior yang masuk OK (ruang operasi) yang mana jilbab memang super duper mini (untung kalau dibolehkan pakai jilbab, di beberapa daerah malah tidak boleh) No kaus kaki, dan dan… (*cerita terputus karena akhwat yang kuinterogasi tak mau lagi mengingat-ingatnya). Semakin membuat ku takut…

Berikutnya KKN. Kuliah kerja nyata ini juga memiliki tantangan yang berbeda lagi. Beberapa qodhoya yang berhasil kugali dari pengalaman senior di antaranya adalah permasalahan hijab, tarbiyah, amalan yaumi, dan sederetan permasalahan lainnya.

Memang sangat berbeda ketika kita berada di tengah-tengah lingkungan syar’i, berada di antara saudara-saudara kita yang mampu menjaga dengan ketika berada di lingkungan yang benar-benar ammah. Benar kata ustadzahku, bahwa ADK ketika berada di luar lingkarannya seolah-olah berada di kandang harimau yang siap menerkam, dan seberdarah-darahnya di lingkaran dakwah adalah lebih baik daripada diluar lingkaran dakwah.

Tarbiyah yang kurang lancar akan memiliki efek kepada amalan yaumi, amalan yaumi yang mandeg akan berpengaruh kepada ruhiy, ruhiy menurun maksiat sedikit demi sedikit mulai mengerogoti… Jadi??? Tetap pertahankan kualitas ibadah jika tarbiyah memang kurang menungkinkan (demikian kata-kata seniorku)

Memang butuh persiapan yang matang dari internal agar kelak ketika terjun ke lapangan bukan kita yang “terwarnai” tapi justru kita yang harus “mewarnai” lingkungan dimanapun kita berada.

*********************

Sesungguhnya dalam diri setiap pendakwah.. terdapat diri-diri yang mandiri..
.. setiap diri akan melalui perjalanan hidupnya sendiri..
.. setiap diri akan mendapatkan pengalaman pribadi..
.. setiap diri sesuai dengan tingkatan keimanannya akan diuji..
.. setiap diri akan memilih dan menentukan kemana dia akan melangkah..

Semangat yang membara disaat muda ada karena..
.. dia selalu dekat dengan sumber energi yang memelihara bara idealisme tetap hidup..
.. dia selalu bersama dengan komunitas yang mendukung dia..
.. dia masih berdiri dalam topangan orang tua yang memfasilitasi kehidupan..

Dalam masa mudanya…
.. dia dikenalkan oleh lingkungan yang memandang dunia ini dalam dua warna.
..hitam dan putih, sehingga kebenaran baginya hanyalah satu..
.. kalaupun ada warna dia hanya mau mendengar tanpa mau melihat warna lain abu-abu bak awan yang menggantung ataupun warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu.. nan indah bak pelangi

.. dia diyakinkan hanya ada satu jalan untuk meraih kebenaran..
.. sehingga dia tak mau kompromi dengan jalan lain

.. dia digauli oleh pemahaman “kedzaliman hanya akan hancur dengan hantaman dan kekuatan kebenaran”
.. sehingga hanya orang kuat dan berani yang bisa mengatasi kedzaliman

Namun… setiap diri akan menjalani takdirnya masing-masing

Ketika saatnya tiba..
.. dia harus menjauh dari sumber energi yang memelihara bara idealisme
.. dia harus terpisah dari komunitas yang selama ini menjaga
.. dia harus mandiri dan tak boleh lagi meminta uluran fasilitas orang tua

Dan dia harus..
.. melihat warna-warna lain selain hitam dan putih..
.. melalui jalan-jalan lain selain yang mereka yakini..
.. bergaul dengan paham yang erat dengan kedzaliman..
.. memasuki dunia lain.. dunia kerja yang penuh intrik dan seringkali digauli dengan godaan.. kemunafikan..dan kemaksiatan..
.. berada dalam lingkungan yang tidak mendukungnya..

Sementara..
.. yang telah mereka dapatkan adalah..
.. kaderisasi yang tak matang..
.. pemahaman dan ketidak jelasan arah perjuangan..
.. tak ada ikatan duniawi yang kuat untuk mengontrolnya bila sedikit menyimpang..
.. tak ada komitmen tertulis yang disepakati dari awal..

Maka…
… dia tak siap untuk menjadi bara yang mandiri….
… dia merasa komunitasnya tak peduli dengan permasalahan yang mereka hadapi..
… dia merasa sendiri dalam persimpangan yang sepi..

Sementara..
.. dunia di luar sana lebih menjanjikan..
.. syetan di sekelilingnya lebih pandai memperlihatkan keindahan dalam kesesatan..

Akhirnya..
.. semangat itu makin lama semakin redup..
.. idealisme itu makin lama semakin pupus..
.. warna itu makin lama semakin bercampur aduk..
.. dari arah dakwah ketika masih muda, dia semakin jauh..

Dan..
.. semua tersentak ketika jalan menyimpang sangat jauh yang dia pilih..
.. semua menyayangkan keputusan yang dia ambil..
.. semua mempertanyakan kenapa itu bisa terjadi..
.. semua digauli oleh rasa salah.. kegelisahan.. dan kegalauan yang tak henti..

Entah kenapa kondisi ini terus terulang..
..setiap beberapa dekade akan mendengar cerita yang sama..

Padahal Allah..
…memberikan kita kemampuan untuk belajar,sehingga seharusnya hal ini tak perlu terulang..
…telah memperlihatkan ayat-ayat kauniyah yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan..

Setiap diri harus mempunyai keterampilan dan kecakapan hidup..
.. kemampuan untuk trampil dan cakap dalam hidup merupakan proses panjang..
.. sehingga dia mampu melihat, memilih dan memutuskan jalan hidup yang tak menyimpang..

Setiap komunitas harus mempunyai kesepakatan dan komitmen..
.. untuk saling menjaga..
.. untuk mendukung setioap anggota agar mempunyai ketrampilan dan kecakapan hidup..
.. sehingga akan ada sistem yang mengontrol bila ada yang sedikit menyimpang..

Ketrampilan dan kecakapan hidup setiap diri..
Sistem kontrol komitmen dalam komunitas..
Hanya akan terjaga bila semua mempunyai proposal hidup pribadi dan proposal “corporate dakwah” yang dibuat dan disepakati bersama..

********************

*Renungan sebelum memasuki dunia preklinik dan KKN….

Akankah kita menyerah karena takut?
Atau kita akan menerjang dengan kesiapan iman dan kekokohan komitment?
Atau menolak dan menjadi generasi-generasi tertinggal?

Satu hal: Perjuangan itu memang pahit kawan, karena syurga bukanlah kado yang dihadiahkan begitu saja… Karena keimanan bukan hanya di bibir saja, tetapi dibuktikan dengan deraan dan cobaan yang menerpa… semoga Allah senantiasa menganugrahi kita dengan keistiqomahan…..Amin ya Rabb!

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Warna-warni Komunitas, warna apakah yang akan kau pilih?

  1. softwaratep says:

    Allah & kami orang2 beriman insya Allah selalu menjadi sobatmu yaa ukhtiy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s