Nursing Diary Part 2 (Pengkajian Pertamaku)

Nursing Diary Part 2 (Pengkajian Pertamaku)

Bismillahirrahmanirrahim…

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang…

Mengkaji Sindroma “disorientasi” kegiatan pada Mahasiswa Preklinik yang melakukan pengkajian pertamanya…

Tsaahh!! Keren nggak tuh judul postingan kali ini. Kurang apa lagi coba, dari yang curhat, cuap-cuap, celotehan, sampe tulisan yang berbau ilmiah-pun hadir di blog kesayangan kita ini (heuheuh..). Tapi jangan dibayangkan tulisan saya nanti bakal ngeluarin teori-teori kesehatan lengkap dengan pengkajian, intervensi, dan outcome sesuai Nanda, NIC dan NOC yah (bengong mode:ON) hehehe. Tenang Prenz, nyantai aja. Kita gak akan bicara mengenai kesehatan secara lengkap koq. Judul di atas adalah efek dari ke-stress-an akibat membuat bertumpuk-tumpuk tugas yang mengharuskan saia begadang sampai jam setengah 3 malam. (Ooh Aini, jangan bawa2 matakuliah ini di blog dunk. Jangan biarkan dia menjadi momok yang menakutkan dan selalu menghantui hari-harimu. Biarkan untuk sekali ini, dirimu merasakan lepas dan bebas dari kejaran deadline Laporan Pendahuluan, laporan Pengkajian, dan laporan-laporan lainnya yang bentar lagi harus dikumpulkan “AGAIN”. SEMANGAAATTTT!!!)

Ngomong apaan seh?? Jangan dihiraukan Prens. Ni orang hanya sedikit depresi aja koq. Bentar lagi juga sembuh. Mari kita berdo’a bersama demi kesembuhannya….Berdoa, mulai…!
Kembali ke topik…

Sesuai dengan tema “Nursing Diary” part 2 kali ini, lagi-lagi Ni ingin berbagi cerita sama blogger semuanya. SENIN KEMAREN PREKLINIK KEDUAAA Euuuuyyyy!!!! Haaaa? Iya ya? Biasa aja kale!!!

Tapi hari ini BEDA guys! Mau tau kisah dan perjalanan pertama seorang “calon” perawat menginjakkan kakinya di ruangan untuk melakukan pengkajian pertamanya ke pasien???
Mari kita ikuti kisahnya secara tajam, setajam cutter!!!

Begini cerita….

Suatu pagi yang mendebarkan, kami (aku dan kelompok preklinikku) melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan menuju ke bagian Neuro (bagian sarap) tepat sebelum jam setengah delapan (mendadak kami menjadi rajin semua). Sesampainya di sana yang kami lakukan adalah mondar-mandir gak jelas seraya nenteng map berisi laporan pendahuluan sambil nyari-nyari perawat yang menjadi penanggungjawab mahasiswa preklinik. Itu pun tak langsung ketemu karena kabarnya beliau belum sampai ke RS.
Wah wah wah, preklinik hari itu memang seperti yang kubayangkan. Everything is “bagalebuik” . Makin membuat kami bingung. Terlalu banyak orang dengan jumlah pasien yang terbilang sedikit. Selain kami (mahasiswa preklinik PSIK) di sana juga ada mahasiswa preklinik dari Stikes-stikes yang ada di Padang, ada praktek mahasiswa D3, ada kakak-kakak yang lagi ngambil profesi Ners, ada kakak-kakak coAss (a.k.a dokter muda), ada uni-uni perawat di sana, ada mahasiswa dari Gizi, ada mahasiswa Magister Farmasi Unand yang juga lagi pengkajian di sana. Fiufh,,, benar-benar membuat bingung saya dan ketiga rekan saya yang lain.

Tapi tenang sodara-sodara, kami hanya mengalami disorientasi tempat beberapa saat karena adegan-adegan berikutnya yang kami lakukan adalah SKSD (sok kenal sok dekat) kepada kakak kakak yang lagi ngambil profesi Ners. Yah, mau ngadu ke siapa lagi cobak? Di sini kita kudu aktip dan kreatip. Kalau nggak, ya “ngango-ngango ndak jaleh” aja pada akhirnya.
Next, saiya mulai kasak kusuk ngejar-ngejar kakak2 profesi, dan kami diminta untuk ikut preconference (konfrensi apa pula ini??) dan saya dengan Pedenya duduk di salah satu kursi di sebelah kakak profesi sampai akhirnya kakak tersebut “dengan tampang agak segan” berkata: “dek duduknya di sebelah sana” sambil menunjuk deretan kursi di belakang. Uuuppss….(tasuruik mode:On) memang di sanalah bangkunya para mahasiswa preklinik.Ck ck ck…*saking SKSD Palapa-nya (sok kenal sok dekat padahal gak tau apa-apa)

Pada conference tersebut dijelaskan tentang keadaan masing-masing pasien serta intervensi apa yang akan dilakukan pada hari itu (dan kami dengan lugunya ikut mencatat semua keterangan yang disampaikan PJ ruangan, rajin kan??^^). Setelah breefing dengan perawat penanggung jawab mahasiswa preklinik akhirnya kami diperbolehkan hunting pasien untuk melakukan pengkajian,,yeszz!! Akhirnya dapat pasien juga.

Nah, pasien yang kukaji kali ini adalah seorang pasien stroke non hemoragik (kalau diagnosa medisnya : Stroke Tromboemboli Cerebral). Sepertinya sudah tidak terlalu parah karena Beliau sudah bisa duduk sambil ngobrol dengan sang istri. Hwu hwu… Bagaimana cara memulai ya? Tanya sama kakak senior dulu, dan akhirnya kakak-kakak ners memberikan spirit untuk berani memulai percakapan dengan bapak tersebut. Alhamdulillah, mendapatkan pasien yang “Open” dan tidak pelit memberikan jawaban. Walaupun agak bingung dan susah menangkap apa yang dimaksud oleh sang Bapak (maklum, penyakit yang dideritanya membuat beliau kesulitan mengungkapkan kata-kata, walau sebenarnya Beliau tau harus mengatakan apa).

Beliau juga berusaha menyampaikan kepadaku (dengan lidah yang sedikit kaku) bahwa ia sekarang sudah kesulitan dalam membaca dan menulis. Sembari menunjuk-nunjuk pelipisnya, bapak itu juga menyampaikan kalau ia sangat susah untuk berfikir, sering tidak bisa tidur di malam hari. Ya Allah, padahal belum seberapa kerusakan syaraf yang dideritanya, tapi efek dan akibatnya sungguh besar.

(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan)*gleg*

Sebenarnya pengen cerita-cerita lagi lebih lanjut dengan sang Bapak, apalagi Bapak tuh senang ketawa, selama wawancara ada-ada saja yang kami tertawakan. Tapi perawat keburu datang karena sang bapak harus segera melakukan scanning.
Hufft… Data subjektif dari pasien sudah kudapatkan (walau rada kurang lengkap). Nanti tanya lagi sama istrinya ah…
Next, yang kulakukan adalah mondar mandir sepanjang lorong untuk mencari status sang Bapak (semacam map yang berisi semua perkembangan kesehatan pasien semenjak masuk)
Karena tak berhasil kutemukan (karena kabarnya dibawa oleh beberapa “oknum” *mencurigakan mode:On). Akhirnya yang kulakukan adalah mengekori kakak-kakak yang lagi ngambil orofesi Ners disana. Liat-liat cara pemasangan infus, membersihkan luka dekubitus (waw dahsyat), dan sempat disuruh melakukan pemeriksaan fisik pasien satu ruangan bersama salah seorang rekanku. (*lumayan capek gan)
Yup.. Ketika preklinik semuanya tergantung kita, mau main-main aja, mau duduk-duduk aja (mending kalau ada tempat duduk). Kita dilepas mau melakukan apa (asal tidak melakukan “tindakan” yang akan membahayakan pasien) karena menurut kontraknya, yang boleh dilakukan mahasiswa preklinik Psik Cuma mengkaji pasien. Actually, beberapa ruangan membolehkan juga untuk melakukan tindakan asal diawasi oleh perawat yang lebih profesional.

Beberapa mahasiswa memang “agak” kurang suka dekat-dekat dengan kakak-kakak perawat di sana. Takut disuruh-suruh katanya. Hmm… Kalau dipikir pikir lagi, benar juga sih…Buuuutttt…. Ngapain ke RS kalau Cuma mau ngambil data doank? Nah, demi menambah skill dan wawasan, ada baiknya kita liat-liat kerjanya kakak-kakak kita yang udah profesional. Gak apa-apa disuruh-suruh. Kapan lagi kan mau nyoba. Syukur-syukur dapat kesempatan melakukan tindakan. Wah, Ni iri juga sama beberapa teman di ruangan lain yang dapat kesempatan nyuntik, adek-adek 08 yang udah preklinik kemaren (mereka dengan kurikulum berbeda) udah ada yang bisa ngambil darah, masang kateter, dll. Huffttt…
Jadi malu juga pas tadi malam Papa nelfon dan nanyain>>> Jadi lah bisa ani masang kateter samo nyuntik pasien tuh?>>>> Hmmm kalau di phantom lah bisa Pa, tapi ke pasien… (garuk-garuk kepala juga akhirnya)

Yeah… Mungkin belum saatnya. Dan masih banyak pertarungan dalam bathin antara memupuk keberanian dan rasa takut ataupun segan. Memang awalnya pasti ada rasa grogi dan ngeri melihat berbagai macam bentuk pasien yang kita temukan di RS. Namun, Ni teringat dengan pesan Ibu (actually nenek, tapi biasa dipanggil ibu) kepada tante (yang juga perawat) ketika Ni masih kecil dulu: Perlakukan pasien seperti keluarga sendiri. Kalau ia seorang Bapak, maka anggaplah seperti Bapak kita, ibu kita, adik kita. Selalulah berprilaku sopan…. (hmmm masih panjang sebenarnya, namun karena pesan ini Ni tangkap ketika aku kelas 2 SD, hanya segini yang berhasil diingat)

Yahh… seperti itulah yang Ni alami selama di RS kemaren. Walaupun tidak banyak hal berarti yang bisa dilakukan kepada pasien, namun Ni banyak mendapatkan hikmah serta pelajaran (baik menyangkut tentang keperawatan ataupun pelajaran moral) selama di sana.
Hmmm… Ternyata benar juga kata Bu Leni (dosen PSIK) ketika kita ikhlas melakukan dan memberikan “caring” yang baik, akan ada perasaan lega dan “bahagia” ketika melangkah keluar RS.

Alhamdulillah, Thank You Allah… Semoga preklinik ketiga di IP (Interne Pria) bisa kuhadapi dengan baik…
Dan mendapatkan banyak pelajaran lagi tentunya…
SEMANGAAAT!!! GANBATEE!!!

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Islamic Nurse, kisah klasik untuk masa depan, Nursing Diary. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s