LIVOR MORTIS, Tragedi Kemanusiaan di Balik Institusi Kesehatan

Judul: LIVOR MORTIS, Tragedi Kemanusiaan di Balik Institusi Kesehatan
Penulis: Deasylawati P.
Editor : Mbak Rien
Tebal : 240 halaman: 20,5 cm
Cetakan pertama : Juni 2008
Penerbit : Afra Publishing
LIVOR MORTIS, Tragedi Kemanusiaan di Balik Institusi Kesehatan
Assalamu’alaikum…
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*salamnya dijawab dulu euy! Jangan dibaca doank…hehe*
Apa kabar blogger semua? Khaifa haluk friendsfillah???
Hope you in a good condition. Dan jangan tanyakan kabar saya. Karena tanpa ditanyapun, saya mau cuap-cuap di sini kalau segenap muskuloskeletal saya sedang rangkik-rangkik (bahasa Indonya pegal-pegal) semacam spasme otot atau contair pain gitulah kalau dibawakan ke bahasa Medisnya.

Why??? Karena malam ini (sebelum nulis catatan ini) saya baru saja melalui prosesi pembantaian tahap pertama, latihan fisik menuju kenaikan sabuk (pre pelantikan). Next time: latihan mentalnya (do’akan saya yah friends!)

Yang jelas, yang paling sakit sekarang ini adalah bagian pergelangan bahu kanan karena sempat saya paksakan untuk melakukan gerakan *yang saya tidak inginkan dan kurang sanggup untuk melaksanakannya* seperti gerakan berjalan menggunakan tangan dengan kaki dipegang dari belakang oleh teman (ampun dah senpai). Belum lagi push up, sit up, dan back up yang kami lakukan berkali-kali (mungkin totalnya ratusan)* Tapi demi keinginan untuk nulis, saya mengabaikan semua itu *rangkik rangkik nyo kito pending dulu. Sepakat??*
Cukup dua pragraf di atas saja tentang pre pelantikan sabuk karate yang saya alami malam ini. Next time kita bedah lagi kalau senpai udah benar-benar mengikatkan sabuk baru di pinggang kami. *Hokehh*
Well, kita masuk pada pembahasan yang sesuai dengan judul (yang lumayan seram) “LIVOR MORTIS, Tragedi Kemanusiaan di Balik Institusi Kesehatan” ini. Livor mortis adalah bahasa medis yang jika ditranslet artinya “LEBAM MAYAT” (*bergidik tak?? Tak lah ye…kan Cuma tulisan)
Judul di atas adalah judul yang saya ambil langsung dari judul sebuah buku yang akan saya bedah malam ini. Sebuah novel yang menurut saya sangat bagus. Apalagi jika dibaca oleh calon calon tenaga medis yang ingin mengabdikan dirinya di klinik. Baik itu perawat, dokter, farmasi, gizi, kesmas, and everyone who will working in hospital.
Novel ini mengangkat tema tentang beberapa sisi kemanusiaan yang terabaikan ketika berada di RS. Banyak perlakuan, tindakan, etika, akhlak yang berbenturan dengan norma dan nilai agama yang seharusnya.
Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang perawat, akhwat… yang berusaha tetap mempertahankan prinsip prinsip “islam” nya ketika menginjakkan kaki di rumah sakit umum milik pemerintah tempat ia bekerja. Seperti memakai rok walaupun peraturannya mewajibkan memakai celana. Ketika ia berada di OK (operatie kemmer/ruang operasi), sebagian besar perawat berjilbab merasa santai saja jika harus memakai seragam OK yang berlengan pendek, jilbab super mini, dan tanpa kaus kaki. Sedangkan Fatiya (nama tokoh utama) tetap mempertahankan auratnya. Walau di cerca habis habisan oleh kepala ruangan karena menganggap kaus kaki adalah sampah yang tidak boleh dimasukkan ke OK yang harus dipertahankan ke-sterilan-nya dan stumpuk peraturan tentang kedisiplinan yang sengaja dilanggar Fatiya karena merasa itu bertentangan dengan aturan agama islam. Namun Fatiya tidak putus asa, ia terus mencari cara agar auratnya tetap tertutp (like this person banget. Pelajaran untuk saya kelak jika harus masuk OK ^^)
Banyak hal hal sumbang yang diperhatikan dan sangat bertentangan dengan hati nuraninya yang dirasakan oleh Fatiya ketika berada di RS. Mulai dari ketidakramahan para pegawai yang tampak mengagung-agungkan senioritas dan junioritas, kesenjangan perlakuan terhadap pasien berdasarkan kelas ekonomi, dimana pasien yang memiliki “uang lebih” diberikan service dan pelayanan yang lebih cepat daripada pasien ekonomi rendah. Yang berobat ke RS dengan mengandalkan askeskin lebih menderita dan ditunda-tunda pengobatannya. Sehingga proses penyembuhan yang seharusnya memakan waktu yang tidak lama menjadi sangat lama bahkan ada yang terkena infeksi nosokomial (infeksi yang didapatkan dari RS itu sendiri).
Ada juga sisi kelam RS dimana RS berusaha mati-matian untuk menyembunyikan kasus mallpraktek yang dilakukan oleh residen ketika operasi (meninggalkan satu potong kasa di dalam perut pasien yang menyebabkan luka pasien tidak mau sembuh) karena takut tercium media, RS segera melakukan operasi perbaikan tanpa meminta maaf dan menjelaskan kepada keluarga pasien tentang kondisi sebenarnya.
Kemudian banyaknya tindakan-tindakan KKN yang berlaku di RS jika ingin segala sesuatunya berlangsung cepat. Tentang perawat perawat yang lalai dalam melaksanakan tugas, tentang co-ass co-ass, residen (dokter yang masih dalam tahap belajar untuk menjadi spesialis) yang menganggap pasien miskin sebagai mainan (arena latihan) untuk memperdalam keahlian mereka dengan terkadang mengabaikan sisi kemanusiaannya dan masih banyak konflik konflik kemanusiaan yang menjadi tragedi di RS tersebut.
Nah, di sinilah Fatiya bersama seorang teman sejawat dan seorang residen bedah mencoba memperbaiki kondisi (perlu di catat, ketiga-tiganya adalah orang yang tarbiyah/ikhwah :D). Ketiganya yang memiliki hati yang peka *pastinya karena didikan tarbiyah* merasa perlu untuk meluruskan apa apa yang dapat diluruskan. Walaupun mereka hanya bagai buih di lautan, yang kekuatannya tak ubah seperti semut yang sedang melawan gajah.

Disamping itu juga ada kisah mengharukan dari sepasang suami istri tua nan miskin yang terpaksa berurusan dengan RS ini karena sang suami menderita DM (diabetes mellitus) yang sudah komplikasi dengan Gagal Ginjal Kronik. Akhirnya sang suami meninggal tanpa diketahui penyebab jelasnya walaupun Fatiya dan residen bedah tersebut sudah berusaha menolong. Konfliknya: pasien meninggal ketika Fatiya lah yang sedang dinas malam. Tapi Fatiya ketiduran, dan menemukan pasien terbujur kaku dengan livor mortis di sekujur tubuhnya yang menandakan bahwa sang mayat sudah meninggal lebih dari 8 jam. Fatiya sangat menyesalkan kejadian ini. Kenapa ia lalai dan tidak memperhatikan tanda –tanda kematian sebelum sang bapak menjemput kematiannya.
Kisah lain tentang seorang pasangan muda yang sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka. Namun karen keterlambatan prosedur, sang bayi meninggal beberapa minggu setelah dilahirkan karena asfiksia (sesak nafas). Sedangkan istrinya yang terpaksa dioperasi mengalami infeksi karena operator lupa mengambil sepotong kasa dari dalam perut istrinya dan harus melakukan operasi ulang. Hal ini terus menjadi tanda tanya bagi suaminya karena RS terkesan menutup-nutupi dan tidak menjelaskan alasan konkrit kenapa harus dilakukan operasi ulangan. Sang suami kemudian meminta tolong Fatiya yang notabene adalah mantan juniornya ketika pramuka SMA (wah…wah wah anggota pramuka juga nih tokoh utamanya heheh*gaje mode:on) untuk mencari tahu. Setelah mengetahui penyebab operasi ulang ini dari salah seorang sejawat yang bekerja di OK, Fatiya menjadi bimbang, dimana ia harus mengungkapkan kejujuran yang diminta keluarga pasien, atau mempertahankan keprofesionalannya sebagai keluarga besar RS dengan menjaga kehormatan dan harga diri instansi tempat ia bernaung.
Setelah dipusingkan dengan berbagai targedi yang terjadi di RS, Fatiya juga ikut dipusingkan dengan datangnya lamaran dari sang residen bedah (ngajak ta’aruf nih ceritanye) sementara ada rekan sejawat yang juga menaruh harapan padanya. Fatiya bingung menentukan pilihan, apalagi si ikhwan beralasan memilih Fatiya karena agamanya. (yeahhh untuk sesi ini silahkan dibaca sendiri dari novelnya yak. Saya mendadak kehabisan kata-kata untuk memaparkannya)

Bahasa yang digunakan pengarang dalam menyampaikan pesan moralnya cukup ringan dan gampang dimengerti. Memang dalam substansinya banyak menggunakan istilah kedokteran mengingat latar dan tema novel ini berkaitan dengan kesehatan serta latar belakang penulis yang seorang perawat. Tapi penulis selalu menyajikan penjelasannya dalam kalimat simpel dan mudah dimengerti.
Sub bab yang disajikan juga cukup jelas, walaupun penyajian awalnya terkesan bernarasi mundur. Akhir cerita cukup mengagetkan dan tidak seperti fairry tale yang selalu happy ending. Ini menunjukkan pada kita bahwa permasalahan ini adalah isyu kesehatan yang masih belum terbantahkan dan terselesaikan sampai sekarang.
Yup…demikianlah ringkasan dan gambaran tentang novel “LIVOR MORTIS, Tragedi Kemanusiaan di Balik Institusi Kesehatan” yang berhasil saya tamatkan dalam waktu kurang lebih 5 jam sajo (tu karena gak ada kerjaan lain). Membaca novel ini sempat membuat saya shock, takjub, dan gemes karena memang buktinya hal hal tersebut sangat sering sekali terjadi di RS.
Dimana hukum rimbapun seolah olah berlaku di sana. Banyak yang dirugikan , namun karena kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu, jadi mereka terpaksa diam dan bungkam. Adapun yang lebih terpelajar, berusaha menggugat. Meskipun tahu bahwa ia hanyalah seekor semut yang menantang gajah. Tak banyak hal yang akan berubah. Hukum rimba berlaku leluasa di negeri ini. Siapa yang kuat dialah sang raja. Siapa berkuasa dialah pemenangnya. Tak peduli dimanapun arena nya. Tak peduli apakah itu menyangkut nyawa manusia. Yang masih puny ahati tersingkiri. Yang mempertahankan nurani menjadi orang orang yang ditertawai. Dunia ini adalah sebuah panggung, di mana semua arogansi menjadi mutlak demi mendapatkan materi (sedikit dikutip dari sinopsis)
Hokehh…teman teman silahkan cari bukunya, dan temukan “something good” di sana.
Actually buku ini jadi membuka mata saya untuk memulai berkarya dengan tema-tema kesehatan (kok baru sempat terpikir yah???)
Demikianlah friendfillah. Semoga bermanfaat bagi Anda semuanya…
Waslamualaikum….
@Al-Husna: 19/06/010

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s