Napak Tilas Jaman-Jaman SMA (Kisah Klasik Untuk Masa Depan Part II)

Huahhhhh….finally bisa posting tulisan ini juga *jingkrak-jingkrak *setelah sekian lama menjanjikannya kepada Buya (my friend)….maaph buy, prosesnya jadi berminggu minggu gini, maklumlah…*sok sibuk mode:on*
okeh check it out !!!

******

Hola, hola…
Assalamualaikum semuanya…

WARNING: Sebelum baca note ini disarankan untuk:
1. Membacanya melalui komputer atau laptop, karena ada sesuatu yang tidak biasa yang akan terlihat.
2. Membacanya dengan backsound “Semua Tentang kita”nya peter pan atau “Kisah klasik untuk Masa Depan” dari Sheila On 7, tapi amat sangat tidak disarankan menyetel lagu Gugur Bunga (apa hubungannya coba)
3. Dilarang membaca sambil ngemil; karena bisa mengakibatkan efek samping tercekik atau tersedak jika Anda tidak berhati-hati ketika mengunyah dan menelan (tu lah iya nya)
4. Bagi yang kena tag, diwajibkan untuk membacanya sampai selesai. Jika tidak, bisa-bisa kena penyakit menular yang tak sembuh sembuh tujuh turunan (*ngarang) bagi yang tidak kena tag, disunnahkan untuk membaca sampai ending :p
Note ini special saya buat karena kita baru saja melewatkan “kembali” suatu tanggal bersejarah yaitu dua puluh delapan (28) April lalu. Dan tanggal 14 Juni.
Kenapa saya mengatakan tanggal ini bersejarah? Karena tepat pada tanggal tersebut saya dan sahabat-sahabat saya seangkatan di SMA tercinta secara resmi dipisahkan melalui sebuah prosesi yang bernama “ACARA PERPISAHAN” dan pada tanggal 14 Juni adalah moment pengumuman kelulusan kami.

Sebenarnya tidak tepat juga pada hari tersebut dikatakan hari kami berpisah, karena keesokan harinya kami masih bertemu (^^). Namun sekurang-kurnangya momment tersebut lumayan mengharu biru penuh dengan tangisan.
Okeh, sebelum kita memasuki rangkaian-rangkaian cerita indah masa SMA ku, ada baiknya kita baca dulu sinopsis yang saya buat kurang lebih setahun yang lalu ini:
Catatan Akhir Sekolah, Sebuah kisah klasik untuk Masa Depan….
“Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala”
“Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa”(Semua tetang kita, Peter Pan)
Ketika ditanya tentang kesan seseorang mengenai masa-masa SMA nya, kebanyakan jawaban yang timbul adalah : “Menarik”, “tak terlupakan”, “wah,,,masa-masa indah…” dan banyaaak ungkapan-ungkapan yang muncul sesuai dengan latar belakang pengalaman dan kisah yang berbeda.

Namun semuanya sepakat, bahwa SMA adalah masa-masa yang tak terlupakan. Dan itu memang benar adanya.

Dahulu, ketika langkah-langkah polos kita mulai menapaki rajutan hari-hari di SMA, tak pernah terpikirkan bahwa tiap detik yang kita lalui saat itu, kelak akan menjadi hal-hal yang akan sangat kita rindukan pada 5, 10, 15, atau 20 tahun mendatang.
Setiap jengkal kejadian, baik itu kisah sedih, menyenangkan, pahit, manis, memalukan adalah hal-hal yang menarik untuk diceritakan KELAK ketika kita sudah tidak bisa lagi melalui semua pengalaman itu.

Siapa sangka, pengalaman ketika dimarahi senior pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa) yang sangat membuat kita kesal, akan membuat kita tertawa sendiri jika dikenang.
Siapa sangka, ketika pikiran polos kita sudah terkontaminasi dengan keinginan bolos, cabut, nyontek, suka membantah perkataan guru, yang ujung-ujungnya adalah Skors, dihukum, kena marah…(ahh, menyakitkan memang), tetapi semua itu sekarang bak sebuah kisah manis yang sangat seru untuk diceritakan,,

Atau pengalaman ketika menjadi seorang bintang kelas, aktifis sekolah, ikut berbagai kegiatan dan perlombaan,,,telah meninggalkan seraut kebanggan di memory internal dan eksternal otak kita.

Sebentuk persahabatan sejatipun telah kita bina di indahnya masa-masa SMA. Teman yang bukan hanya sekedar pelepas tawa, namun juga hadir di kala kita berduka, yang bersedia menyediakan pundaknya ketika kita butuh sandaran. Bahkan menjadi teman seperjuangan yang turut andil dalam meramaikan jagat kenakalan-kenalakan remaja yang kita lakukan. Bahu membahu ketika cabut,memanjat pagar, merokok di lingkungan sekolah, membuat PR di kelas,ketika ujian, dan lain sebagainya.Kemana lagi akan kita cari sahabat seperti itu selepas masa-masa SMA??? (nb: perilaku di atas hanya refleksi, bukan aktifitas penulis ya!heh)

Dan, sekelompok orang tua kedua yang kita panggil dengan sebutan “Bapak” dan “Ibu” GURU itu… Kasih sayang dan jasanya kepada kita sungguh luar biasa. Hmmmm…walaupun terkadang kita mengikuti pelajaran beliau dengan adegan tambahan “terkantuk-kantuk”, diiringi rasa bosan, jenuh, bahkan lebih ekstrimnya lagi kita meninggalkan beliau yang dengan kesungguhannya mengajar, untuk sekedar nongkrong di kantin,ngaso di perpus, tidur-tiduran di Mushala, atau nekat pulang ke rumah dan gak balik-balik lagi ke sekolah (sinonimnya CABUT)

Jika seorang pemikir ulung mengatakan bahwa ”future is’nt to be found, but to created” mungkin itu benar adanya. Dan tahukah kawan, secara tidak langsung, masa-masa SMA merupakan bagian dan langkah untuk kita mencapai kondisi seperti saat ini. Masa-masa SMA turut berkontribusi untuk menciptakan ”kita” yang seperti ini.

Maka patutlah rasanya jika kita mengucapan terimakasih kepada guru, sahabat, semua civitas dari SMA, yang turut andil mewarnai kehidupan kita dengan hitam, putih, merah, birunya dunia.

Klise memang, namun begitulah adanya. Sepahit, seburuk, semanis apapun kenangan itu, kenangan tinggalllah kenangan… dan setiap kenangan itu tak kan pernah terulang persis sama seperti dahulu…Namun ada satu teori konsep kenangan yang sepertinya harus kita sepakati, bahwa; kenangan bukanlah untuk dilupakan…Biarkan menjadi sebentuk kisah, SEBUAH KISAH KLASIK UNTUK MASA DEPAN… Sebuah kisah klasik yang akan kita ceritakan kepada anak, cucu kita kelak.
****
Jiah, keren tak tulisan di atas???hoho :p
Yup, masa SMA adalah masa-masa indah yang insyaAllah tak pernah terniatkan bagiku untuk melupakannya.
Masa dimana aku mulai mencari jati diri, berusaha menemukan dan mengadaptasikan diriku dengan hal-hal baru yang kadang cukup menyenangkan, namun tak luput dari kata tak menyenangkan.
Napak Tilas Kehidupan SMA ku….
Kelas X

Orientasi

Ketika status sebagai anak SMA melekat padaku, perasaan pertama yang kualami adalah: biasa aja tuh! Hehehe…. Ya, maklum… sebagian besar teman-teman SMA ku yang baru kebanyakan adalah orang-orang lama yang sudah kukenal juga. SMP dan SMA tempatku belajar jaraknya terbilang dekat, dan aku memutuskan untuk masuk ke SMA terdekat saja.
Zaman-zaman kelas X adalah masa mencari jati diri, masa-masa mencari tokoh idola yang akan dijadikan panutan dan role model untuk merintis karir sebagai anak SMA.
Kelas X adalah rangkaian masa-masa orientasi yang penuh dengan penganiayaan dari senior (hehehe lebay)
Mulai dari MOS, seleksi OSIS, rangkaian kegiatan pramuka (yang penuh dengan kejadian seru), dan lain sebagainya….
Dan pastinya sedikit demi sedikit mulai mencari cara “belajar” yang seru ala anak SMA.
Actually, masa-masa kelas X adalah masa peralihan bagiku. Di sini aku tak begitu banyak menemukan keseruan-keseruan dalam berinteraksi dengan teman-teman sekelas. Rasanya lebih “amazing” ketika menikmati peran di dalam organisasi.
Ketika SMA, secara nekad, aku mengikuti tahapan seleksi OSIS (that I have never follow this step before). Merasakan pengalaman orasi dan kampanye sebagai kandidat calon pengurus inti di usia belia (jiah belia euyy). Tanpa persiapan sebenarnya. Karena 2 hari sebelum hari H aku mengikuti kemping pelantikan penegak. Tidak sempat memikirkan visi misi dan ngetik rapi. Walhasil, aku minta tolong sama akak untuk mengetikinya.
Walaupun penuh kegrogian dan ketakutan, kampanye hari itu berlangsung lancar (tanpa adegan memalukan –red) dan posisi sebagai sekretaris 1 pun diamanahkan kepadaku.
Itulah perjalananku di kelas X (sepuluh)
Kelas XI

Masuk kelas XI IA 1 euuyyy….
Sebenarnya tidak ada istilah “Unggul-unggulan” di SMA kami. Namun agak sedikit “berkesan” ketika telah duduk menjadi warga XI IA 1.
Awal-awal belajar di kelas ini, yang pertama kali kurasakan adalah : bingung! Yo’i bingung banget mau ngapain di kelas ini. Ini orang pada rajin semua ye? Dikit-dikit belajar, dikit dikit ngebahas soal, pas ada waktu kosong pada sibuk ngerjain tugas dan latihan (*padahal guru aja belum sampai nerangin bab itu tuh), pas istirahat… masih juga ngetem di kelas untuk ngerjan tugas MTK. Ck ck ck *biaso ajo lah ndak…*
sampai-sampai kelas ini selalu mendapatkan pujian dari guru-guru dan dijadikan kelas percontohan. Sampai-sampai kakak kelas 3 pun dibikin gondok karena dibanding badingkan dengan kelas kami…karena kami kedapatan masih di kelas ketika ada waktu kosong/perai alias gak ada guru…hahaha

Tapi tenang sodara-sodara, ternyata kelas ini hanya rajin di awalnya saja. Awalnya umat yang berada di sini pada kalem semua… Jadi bingung saya bagaimana mendekatinya. Hanya dengan beberapa oknum saja awalnya bisa mengakrabkan diri. Hanya beberapa teman yang sudah akrab di sana. Sedangkan rekan-rekan yang lain butuh usaha ekstra untuk didekati dan dijadikan teman.
Di kelas inilah awal persahabatan kami dibentuk. Perlu dicatat, kami semua berjumlah 35 orang, dengan 9 orang laki-laki (dan pada pemalu semua)
Sebut saja namanya Buya, Kuracul, Bella wong, Master, Oon, Cukong, Ijen, Ketua, dan ichon (maap sodara-sodara demi kenyamanan kita gunakan saja gelar-gelar mereka ini..hehe)
Yo’i, inilah salah satu keunikan di kelas IA 1, masing-masing punya gelar nya sendiri. Sesuai dengan rumus penggelaran yang berbasis karakter (*kerenkan bahasa saya…ck ck ck)
Banyak hal yang terjadi di kelas ini, semua dinamika kehidupan kelas pernah terjalani dalam suatu siklus persahabatan yang komphrehensif (*nah, bahasa apa pula ini!). Mulai dari kompak-kompakan, persaingan, marah-marahan, perang dingin, perang panas, bahagia, percintaan (ada gak ya? Ada beberapa gosip sih yang santer terdengar ketika itu). Yang pasti, rangkaian persahabatan dan keakraban itu tak ingin kamo akhiri sampai akhirnya ijazah kelulusanlah yang memisahkan kami.
Yup, XI IA 1 tetap dengan personil yang sama ketika naik ke kelas XII IA 1 setelah sebelumnya melalui perjuangan yang cukup pendek melalui kolaborasi yang intens dengan warga XI IA 2 dan secara tegas menyatakan kepada pihak sekolah bahwa kami tak ingin dipisahkan (jiaahh sok mesra mode :on euy)
Zaman kelas XI adalah masanya mencapai puncak puncak kejayaan…masa emas istilah orang… ha ha ha… Sukses study! sukses organisasi!
Lebih dari separoh anggota kelas adalah aktivis sekolah, makanya tak heran jika ada rapat OSIS, maka kelas bakalan langsung sunyi senyap dan sepi karena banyak yang minta izin untuk keluar rapat. Zaman-zaman ini tampuk pergerakan siswa berada di dalam genggaman anak-anak kelas XI. Mulai dari dunia per-OSIS-an, sampai kepramukaan, dan juga keolahragaan. (perasaan semua SMA sama deh)
Hmm….. Aku masih ingat, walaupun kami yang berkuasa di pemerintahan OSIS, tapi tetap saja kami masih merasa di bawah bayang-bayang senior kelas 3 (angkatan terakhir yang pakai nama kelas 3,,,). Apalagi ketika LPJ menjelang, wah wah..udah pada sport jantung semua karna akan menghadapi kakak-kakak kelas 3. Padahal kalo dipikir-pikir mustinya kami nyantei aja ya… Kan namanya juga elpeje,,,ya iyaalah ada yang harus dibantai…
Walaupun ketika kelas X aku sudah duduk di kepengurusan inti OSIS, namun tetap saja kecemasan timbul setiap detik detik LPJ (sekali 6 bulan) Tapi tidak separah kelas XI karena masih ada kakak kakak kelas 2 yang akan menanggulangi. Nah, sekarang??? *usaho surang!* Dengan amanah yang lebih berat, tingkat kecemasan ketika mempertanggungjawabkan juga semakin meningkat..
Yang paling seru nih, zaman-zaman jadi senior pangkat satu pramuka (Bantara). Wah wah wah…. Ajang balas dendam banget bagi sebagian oknum di dunia kepramukaan atas perlakuan meyeramkan senior mereka dahulu (tamasuak ambo ciek heheh). Tapi gak juga kok, jadi senior harus mengayomi donk, menjadi tempat bertanya bagi adik-adiknya, kejamnya pas pembayatan aja *beribawa mode :on*
Bidang akademik?
Hmm… Everything is look awesome from XI IA 1. Jaman-jaman kami SMA dulu, gak ada lagi yang namanya pengumuman juara kelas. Yang ada adalah pengumuman nama siswa yang nilainya tertinggi di satu mata pelajaran (atau master akademik). Dan yang paling banyak mendapatkan gelar master akan digelari “master of the master” (juara umumnya). Wahhh kueren banget tuh gelar. Eghmmm… Alhamdulillah, walau di kelas X aku terbilang tidak terlalu menonjol dari semua juara kelas di SMA, di kelas XI ini adalah masa emas bidang akademik ku.


jadul banget nih photo^^

Yup… akhirnya kami sekelas lanjut teruuss di kelas yang sama menjadi XII IA 1 gan*eng ing engggg —> back sound*….
Kelas XII
#Zaman-Zaman tahun akhir—->post power syndrome

Yang paling seru di tingkat akhir ini adalah di awal dan akhir tahun. Terutama masa-masa Orientasi Siswa baru. Dimana-mana kami pakaii 3 pasal aturan senior: 1) senior selalu benar 2)senior tidak pernah salah 3)Jika senior salah kembali ke pasal 1. Huahahaha (berkuasa mode:on). Saking seringnya ngulang-ngulang tuh pasal di ketika MOS dan pramuka dan saking seringnya ngasih wejangan-wejangan ke junior setiap ada moment, adik adik kelas memanggilku dengan sebutan “Kakak selalu benar” atau “senior always right” (apa-apaan ini!). Fiufhh lelah sekaligus seru euy….
Akhirnya satu persatu amanah di lepaskan, regenerasi terjadi. Amahan diserahkan kepada generasi generasi berikutnya. Dan yang sering kami lakukan kemudian adalah, mengambil peran sebagai senior pemantau yang amat suka mengkritik, dan menasehati dimana saja ada celah untuk menasehati.hoho….
Tahun akhir, kami lebih banyak focus main di kelas. Lebih banyak berinteraksi dengan warga sekelas.
*walaupun sekali sekali mencuri kesempatan untuk ikut latihan pramuka, bahkan sampai H-4 UN pun masih nekad ikut kemping. ckckck

Entah sindroma apa yang menjangkit ketika kelas XII itu.Yang jelas, aku masih ingat kami semakin akrab dan semakin kental hubungan kekeluargaannya walau sekali-sekali bersilang pendapat. Sebenarnya hal ini sudah terjadi sejak kelas XI, terutama menjelang kenaikan kelas XII. Ada beberapa moment yang menyebabkan kami menjadi akrab pastinya.
Dan herannya, semakin tua (maksudnya semakin senior) aneh aneh saja tingkah laku rekan-rekanku itu.
Hmm..capek juga nulis panjang-panjang, sebenarnya masih ada yang mau Ni bedah, yaitu tentang teman-teman akrab selama di SMA. Tapi kapan-kapan ada ya….*ngacir*
wassalamualaikum…

http://zonacahayamata.blogspot.com/

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in kisah aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s