Wisma Al-Husna, Aini’s 2th Home….(Baiti Jannati)

WISMA BARU AIDA

“Aida, masuk wisma ya?”
Aida terdiam, lagi-lagi pertanyaan itu terlontar dari mulut kak Mimi
“Wah kak, Aida belum kasih tau Mama Papa, ntar mereka shock kalau Aida tiba-tiba memutuskan untuk pindah.”
“Iya, makanya kasih tau secepatnya ya dek”
“Okelah kak… Nanti Aida coba lobi Mama Papa”

Seminggu kemudian……

“Assalamualaikum ukhti, gimana? Udah dikasih izin?”
“Waalaikumsalam…engg..”

Kak Mimi menarik tangan Aida dan mengajaknya duduk di bangku taman kampus.

“Aida, Aidaukti tau sendirikan, wisma itu pusatnya tarbiyah, tempat kita rencanakan strategi dakwah. Di wisma kita punya program-program yang bagus untuk pembinaan ruhiy. Di sanalah kader akan dibina secara intensif.”

“Aida tau kak. Tau sekali, tapi Ai merasa berat meninggalkan kos-kosan sekarang. Apalagi meninggalkan Yana dan Sari. Ukhuwah kami sudah benar-benar erat kak. Kami sering kok sholat berjamaah, tilawah bareng, tapi agenda-agenda rutin seperti wisma seperti bedah buku dan lain-lain tu aja yang belum diterapkan.”

“Beda Aida… Gak bisa disamain dengan wisma. Wisma itu programnya jelas. Kalau Aida gak masuk wisma, siapa lagi yang akan melanjutkan estafet dakwah kita. Ingat, Aida tu sekarang statusnya ketum. Kalau ketum aja gak di wisma gimana kita mau narik adek-adek yang lain ke wisma?”

Aida kembali tercenung. Sebenarnya Aida ingin sekali tinggal di wisma itu. Tapi ia juga tidak ingin meninggalkan kos-kosannya yang sekarang. Ia sudah terlanjur betah di sana. Dan alasan paling kuat yang membuat hatinya tak ingin bergerak dari sana adalah persahabatan dan kedekatannya dengan dua orang rekannya yang lain yang berada di sebelah rumah kosnya.
“Hmmm… Seandainya kos-kosanku bisa disulap jadi wisma… Seandainya lagi Yana dan Sari juga mau diajak pindah ke wismanya Kak Mimi…Wah, kok jadi berandai-andai gini… Ya Allah berikan aku satu alasan kuat agar bisa angkat kaki menuju wisma…” Aida berteriak dalam hati.

Aida semakin pusing memikirkan hatinya yang bimbang dan setengah-setengah. Duh kenapa Syeitan kian gencar mengiriminya setumpuk alasan untuk tidak pindah, padahal ia tahu persis kalau di wisma ia akan semakin intensif dalam beramal dan melaksanakan tarbiyah. Untunglah seniornya yang satu itu tak lagi gencar mendesaknya. Namun tetap saja hati Aida terbebani dengan hal ini.

************
“Kak kita jadi ke walimahannya kak Mutia kan?”
“Iya, jadi… Kita nanti pergi bareng akhwat wisma dan akhwat yang lain, kita carter mobil”
“Okelah kak kalau begitu”

************

“Wah kak, rame juga yang mau pergi. Muat nih kak mobilnya?” Tanya Aida
“InshaAllah muat kok, ayok naik… yang lain udah pada nunggu”
“Asslamualikum, kenalkan Afifa…” salah seorang akhwat yang tak dikenal Aida sebelumnya menjabat erat tangan Aida.
“Waalaikumsalam, Aida kak…”
“Mimi, Aida ini tinggal di wisma juga?” Afifa yang duduk paling depan melirik Kak Mimi.
“InshaAllah secepatnya akan dilantik sebagai anggota baru wisma” Terang Kak Mimi lugas, tanpa beban.
“amiiiiinnnn” Semua yang ada di atas mobil melafazkan amiin secara koor.
Gleg. Aida hanya bisa menelan ludah dan tersenyum simpul. Dalam hati ia juga mengaminkan seraya berdoa agar Kak Mimi tidak kecewa dengan pengharapannya.

Sepulang menghadiri walimahan Mutia, rombongan kecil akhwat tersebut meninggalkan TKP dan memutuskan untuk berhenti menunaikan sholat Ashar di salah satu Mesjid sebelum batas kota. Aida, Kak Mimi, dan beberapa orang akhwat lainnyapun sholat berjamaah, kebetulan Mesjid tampak lengang. Sesaat setelah mengucapkan salam terakhir, tiba-tiba bumipun bergoncang, keras. Aida yang sadar segera berdiri melompat dan berteriak.” Gempaaaaa…!!!!”

Akhwat-akhwat tersebut segera berhamburan keluar dari Mesjid, masih dengan mukena mereka. Anak-anak MDA setempak juga berhamburan ke pekarangan Mesjid. Goncangan tambah kuat, kaca-kaca pecah dan debu-debu dari dinding bertebaran.

Semuanya panik, anak-anak menangis. Gempanya cukup lama dan dengan kekuatan yang dahsyat. Seperti mau kiamat saja. Setelah beberapa menit, gempa pun berhenti. Anak-anak masih menangis. Sebagian memutuskan untuk pulang, sebagian berlarian ke seberang jalan.
Aida dan rekan-rekannya segera kembali ke Mesjid yang sekarang berantakan dengan serpihan-serpihan kaca, pecahan-pecahan tembok untuk mengambil barang-barang yang tertinggal. Setelah mengambil barang, rombongan akhwat itupun berlalu dari Mesjid menuju ke kota.
Selama dlaam perjalanan ke kota, pikiran Aida berkecamuk. Teringat nasib rekannya di sana. Kalau di daerah ini saja goncangannya sebegitu dahsyat dan berhasil meluluh lantakkan beberapa bangunan, , apalagi di pusat kotanya yang terkenal sering digoncang gempa.

Waktupun mencapai Maghrib, Memasuki batas kota, kehancuran demi kehancuran terlihat di sepanjang jalan. Rombongan-rombongan warga yang berlari panik untuk mengungsi. Tubuh Aida lemas. Bagaimana nasib kos-kosannya? Bagaimana nasib keluarga ibu kos dan teman-temannya di sana? Tak ada yang dapat diperbuatnya. Signal Hanphone pun raib dari peredaran.

“Kak Mimi, kalau terjadi apa-apa di kos-koan Aida, atau gak ada orang di sana, Aida numpang ngungsi ke wisma ya?”

“Ya, tentu boleh” Kak Mimi mengangguk seraya tersenyum.

Yah, Aida berfikir wisma adalah tempat yang cukup aman untuk saat ini, di sana banyak akhwat yang dikenalnya. Mobilpun mengantar Aida menuju kos-kosan. Kos nya memang tidak apa-apa, Cuma barang-barang ibu kos saja yang jatuh berantakan. Kamarnyapun masih bisa dipakai, Cuma buku-buku dari lemari yang tak terkunci yang berhamburan ke luar. Alhamdulillah, bisik Aida dalam hati.

Tapi hanya ada ibu kos dan seorang anaknya yang masih SD di sana. Sedangkan yang lainnya ternyata ikut arus pengungsian. Setelah menunaikan sholat Maghrib, Aidapun membantu ibu Kos membersihkan rumah ibu kos.

Empat hari pasca gempa. Aida sudah berada di kampung halamannya, masih dengan shock pascagempa. Perkuliahan akan diliburkan sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan. Hmmm… tak dapat ia gambarkan bagaiman nasib kampusnya. Nasib rekan-rekannya yang lain, dan nasib-nasib lainnya.

Kriiiiiiiingggg..kriiinggggg,,,,,
Aida beranjak dari lamunannya, mengambil HP berwarna hitam hadiah dari Papa atas keberhasilannya jebol SPMB 2 tahun lalu. Tampak nomor tak dikenal…
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam, ini Aida?”
“Iya… ini Aida”
“Ini Bu Ning Ai…”
“Oh, Ibu… ada apa bu, kabar di sana mulai membaikkan?” Aida sedikit kaget, tak biasanya Ibu kosnya menelfon.
“Ibu Alhamdulillah sehat kok Ai, gini… ibu mau menyampaikan sesuatu”
“Ada apa Bu?” Perasaan Aida mulai tak enak, seperti mendapatkan sebuah firasat jelek.
“Gini, Aida tau sendiri kan kalau rumah orang tua ibu runtuh karena gempa kemaren, dan sepertinya seluruh keluarga ibu di sana akan dipindahkan ke rumah ibu”
Aida mulai menangkap maksud dari yang disampaikan ibu kosnya itu.
“Jadi, ibu mohon maaf sekali kalau kamar depan gak bisa disewakan lagi sama nak Aida, ibu minta maaf ya”

cesssttss… Serasa ada bangunan runtuh di samping Aida ketika akhirnya Ibu kos menyampaikan secara tak langsung kalau ia musti pindah dari kos-kosannya yang sekarang.

“Ya bu, gak pa pa. Nanti Aida cari info tentang kos-kosan baru dulu ya bu, barang Aida taroh situ aja dulu bu. Nanti kalau udah dapat rumah baru, Aida akan packing secepatnya.”
“Iya nak, gak pa pa. Barang-barangnya taruh aja dulu. Ibu mohon maaf ya Aida”
Kembali tulang belulang Aida serasa remuk redam. Kemana akan dicarinya kos-kosan di tengah suasana duka dan banyak bangunan yang roboh….

Aida merenung, berpikir keras untuk menemukan ide. Dan tiba-tiba, seperti mendapatkan ilham, ia segera membuka HP dan mengetik sms ke Kak Mimi. Deg…deg…deg… Jantung Aida berdegup kencang tak sabar menunggu balasan sms dari kak Mimi. Ini harapan satu-satunya. Harapan yang paling memungkinkan.

Kringkringkring. Akhirnya sebuah sms masuk. Setelah membacanya secepat kilat , Aida pun berteriak sekerasnya. Mengagetkan seluruh penghuni rumahnya.

“Alhamdulillah…. Ma… Pa, Aida mau pindah ke wismaaaaa….. Terimakasih ya Allah, engkau kabulkan doaku. Sebuah alasan jitu yang akhirnya tak membuat ku ragu untuk segera hengkang menuju wisma”
Di seberang sana, Mimi tersenyum simpul. Ketika Allah berkata Kun! Fayakun! Dan bencana ini boleh jadi merupakan katalisator untuk mempercepat kepindahan Aida ke wisma.
Al-Husna: 13 Februari 2010, 18:49:46
AiniCahayamata
*******************************
Friendsfillah, demikianlah kisah “dahsyat” yang mengantarkan langkah Ni menuju Istana Kedua Ni…WISMA AL-HUSNA … Satu satunya wisma akhwat keperawatan (insyaAllah akan ditambah lagi). Wisma yang mengajarkan Ni betapa indahnya ukhuwah karena Allah, wisma yang senantiasa tak putus-putusnya memberikan tarbiyahnya melalui serangkaian agenda tarbawi mingguan yang terstruktur dan rapi. Senyum, canda, tawa, haru, semuanya bercampur aduk di sini….

Ya inilah rumah kedua Ni (setelah rumah tempat Ni dibesarkan tentunya), tempat Ni beristirahat dari setumpuk agenda, amanah, kegiatan. Tempat kami belajar bagamana menjadi akhwat yang sesungguhnya, menjadi akhwat yang mandiri. Wisma yang senantiasa mengontrol aktivitas kita agar agar tetap berada dalam koridor islami….

Syukron kepada kakakku tercinta, yang telah menyesatkanku ke jalan yang benar ini. Yang melalui rekayasa indahnya telah mengantarkan Ni berada di tempat ini.

Maaf karena telah Ni repotkan dengan penolakan-penolakan sebelumnya {pasti susah banget nyari cara agar Aini yang keras kepala ini nurut :)}
Tapi “cara” dan “strategi” Allah jauh lebih indah kak ….^^
Terimakasih atas kesabarannya selama ini. Tetap sabar dalam membina Ni ya kakak-kakakku…*_*

Semoga friendsfillah dimanapun berada, tidak ragu-ragu lagi mengambil kesempatan untuk tinggal di wisma… Dijamin tidak akan rugi….


Thanks Allah atas semua nikmat ini….

Para mujahidah Al-Husna (Al-Husna’ers)
@Al Husna: 27 Juni 2010 19:23 am

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Wisma Al-Husna, Aini’s 2th Home….(Baiti Jannati)

  1. Aslamkm…like it, like it…pesan untuk aini, lanjutan cerpen ini:sampaikan pada aida, bila dulunya ia "dijerumuskan" ke wisma. saatnya ia yang "menjerumuskan" yang lain ke wisma.sungguh ukhti, tak perlu menunggu menjadi ketum dulu baru masuk wisma. karena, tak ada tempat lain lagi yang lebih kondusif untuk membentuk "bi'ah" islamiyah selain di wisma.maka rangkullah adik2 aida dari fase awalnya…tolong tuch yah…bilangin ke aida…jzk…

  2. waalaikumsalamiya kak…udah Ni sampaiin ke si Aida yang keras kepala itu.Pesan dari kak Mimi…hehehe.kata si Aida, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk turut menyebarkan dan menarik orang ke wisma…betul tuh kak, beruntung banget bisa tinggal di wisma…tempat yang sebenarnya ada di dalam hayalan Ni semasa kecil ketika membayangkan masa masa kuliah kelak….ketika kecil Ni sering membayangkan bisa tinggal terpisah dari keluarga dan mandiri bersama teman teman, nah gambarannya kurang lebih kayag wisma kita itu lah kak…semangat kak!!syukron nasehatnya kak!!!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s