Serenade Perpisahan

Berada di Titik kulminasi kerinduan yang memuncak.

Aku merasa kesepian di sini. Ya… sangat sepi. Suatu nuansa lain yang tercipta ketika engkau mendapati orang orang yang berada di sekelilingmu tak lagi menciptakan suasana yang engkau senangi.

Mungkin ini bodoh, karena engkau pasti akan berpikir akulah yang musti beradaptasi. Aku sudah mencobanya teman! Bahkan aku sudah berusaha ikut membaur dengan “suasana buruk” yang jarang kutemui di komunitasku. Tapi aku tak bisa, dan kutahu aku harus segera menyingkir. Sehingga kuputuskan akan berkawan dengan sepi saja. Mungkin kesunyian akan menjadi teman yang setia di saat engkau merasa tak punya kawah untuk meleburkan diri. Karena dengan itu, aku bisa sedikit membuahkan pikiran pikiran indah kedalam sebentuk tulisan. Dan kutahu aku menyenanginya…

Sedih?? Hm… sedikit. Tapi itu bukan karena keputusanku untuk sedikit menyingkir. Ada hal lain kawan. Hal penting yang sangat kusesali kenapa harus terjadi ketika aku dicampakkan oleh almamaterku ke daerah yang sama sekali belum pernah kudatangi sebelumnya ini. Hal yang membuatku ingin berteriak “Kumohon jangan sekarang!!” Tapi tiba-tiba kabar itu dengan amat sangat cantiknya tetap mendarat di layar N70 kesayanganku.

Murobbiyahku tercinta, akhirnya diterima untuk program S2 di universitas Indonesia. Artinya beliau musti hijrah ke Jakarta. Sebuah prediksi yang lupa untuk kuperhitungkan sebelum berangkat KKN. Hmm… Awalnya Desi sudah mengingatkan. Jika ibuk lulus dan diterima, kemungkinan besar kami akan ganti MR dan kemungkinan bertemu dengan beliau adalah dua tahun ke depan. Kuharap pikiran buruk itu hanya selintas lalu saja. Dan kembali kutenggelam dalam kesibukan mengurus KKN-ku.

Dan… seminggu yang lalu, kembali fikiranku diganggu oleh kabar itu. Ia mengalami guncangan, stressor yang cukup menyengat, perpaduan antara kebahagiaan dan kesedihan, yang menyatu membuat ku resah dan bimbang. Hal yang kudo’akan dan kutakutkan terkabul. Dan perpisahan itu sudah berada di depan mata.

Bimbang… Aku ingin pertemuan. Sekali saja tuk mengucapkan salam perpisahan. Tak perlu berlama-lama, tapi kubutuh bertemu dan menatap wajah teduhnya. Sebuah proposal kepulanganpun terencana ditingkahi rasa ragu dan bimbang. Karena tak mudah mengumpulkan saudari-saudariku satu lingkaran. Kami berpencar dan masing masing disibukkan dengan agenda yang sudah direncanakan. Dan akhirnya satu tanggal pun ditetapkan. Dimana kami akan mengatur pertemuan kami dengan pulang ke padang bersama-sama.

Tapi lagi-lagi rencana tak seindah yang dibayangkan. Tiba-tiba ibuk sms untuk bisa berjumpa dengan akhwat lebih cepat, karena jadwal keberangkatan dipercepat. Dan tentu saja tak banyak yang akhirnya memutuskan untuk ke Padang. Karena jatah kepulangan kami terbatas kawan.
Aku sedih! Dan ijinkan aku tuk merasa sedih. Ini alamiah… Dan jika boleh, izinkan aku tuk menangis. Biarlah tetes demi tetes air mata kelak menjadi senjata pemuasan yang akan membuatku lebih lega. Ya, terkadang wanita memang butuh sebuah tangisan untuk membuatnya tenang.

Aku masih ingat. Sudah beberapa kali kami akan dipencar. Sudah beberapa kali kaderisasi berusaha untuk untuk memisahkan kami (dan aku menyebut ini dengan “suatu kesemena-menaan”) Hal tragis dalam masa tarbiyah yang masih belum bisa kuterima dengan hati yang lapang. Sampai akhirnya kami membuat surat permohonan agar bisa tetap bersama MR yang sekarang dengan menambahkan beberapa point alasan. Langkah jitu yang akhirnya tetap membuat kami bersama.

Tapi Ibuk dengan bijaknya selau berpesan,”Murobi itu bukan milik kita, mutarabbi juga bukan milik kita… So boleh jadi suatu saat dipisahkan. Walaupun sudah berganti MR, ukhti semua tetap masih bisa mengkontak ibu kan..”

Tapi tetap saja aku tak mengerti jika alasan nya hanyalah sebuah bentuk kestiqohan kepada perintah kaderisasi. Hm.. Mungkin kami masih memiliki ego yang tinggi karena bersama beliau kutemukan sesuatu yang berbeda. Hal yang membuat hatiku berbunga bunga. Setiap untaian katanya seperti nyanyian indah yang membuatku selalu terpana manja. Ah, terimaksih untuk semua yang telah engkau beri buk…

Tapi Allah punya rencana yang lebih indah kawan. Ia lebih tau apa apa yang terbaik untuk hamba hamba Nya. Suatu garis yang takkan mungkin kita tentang. Dan kita dituntut untuk bisa menerima nya dengan ikhlas dan sabar.

Itulah yang sekarang sedang coba kulakukan. Berusaha meyakinkan kembali diri yang sungguh keras kepala ini bahwa ada hikmah dan maksud Allah atas semua yang terjadi. Allah tahu apa yang kita butuhkan, tak sekedar apa yang kita inginkan…

Sebuah pertemuan untuk perpisahan, dan sebuah perpisahan untuk pertemuan…
“Laa taghdob, ukhti sholehah. InsyaAllah pengganti ibu lebih baik dari ibu. Keep hamasah ya! Semoga kita dikumpulkan Allah kelak di syorga” (sms ibu yang kembali membuat dadaku berguncang)

Amin ya Rabb… Amin ya Rabbal ‘alamin…
Syukron atas semua ilmu bermanfaat yang telah ibu bagi.
Syukron atas semua pengalaman hidup yang telah ibu ajarkan
Syukron jazakillah khairan katsiran ibu…
Afwan jiddan atas semua kesalahan Ni dan teman teman yang mungkin membuat ibu jengkel. Do’an kami tetap istiqomah di jalan tarbiyah ini Bu…
Semoga Allah senantiasa mengiri langkah ibu dalam kesehatan, kesuksean, dan kebahagiaan… Amin ya Rabbal ‘alamin….



Jum’at, 30 juli , @22:34 WIB
Lasuang Batu, Nagari Kapau al am Pauah Duo, Solok Selatan (lokasi KKN)


About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Karya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s