Serenade Perpisahan Part II

Serenade Perpisahan Part II
for my beloved ukhty there…
untuk mereka yang tersebar di pelosok dan karena satu dan lain hal tak bisa memenuhi undangan terakhir majlis ilmu,,,
Berat kutuliskan ini kawan. Karena sisa sisa kesedihan masih menyelimutiku. Bahkan semakin membuncah ketika mendapati kenyataan pertemuan tadi adalah yang terakhir sebelum beliau meninggalkan Padang, dan entah kapan kita bisa menatap mata teduh dan senyumnya yang menyejukkan itu lagi.
Jujur, aku tak pernah menyukai yang namanya perpisahan. Kurasa kita semua juga begitu. Aku tak suka ada kesedihan, tak suka dengan adegan melankolis yang biasanya hanya kulihat di sinetron-sinetron itu terjadi padaku di kehidupan nyata. Untuk itulah kenapa tak satu tetes air matapun yang jatuh dari kelopak mataku tadi. Aku menahannya, tak ingin terlihat cengeng di depan beliau. Harus ada yang menguatkan di saat yang lain lemah, itu yang harus kulakukan, seperti petuah beliau biasanya.
Namun, tak bisa kupungkiri. Kadang air mata sangat membantu untuk melepaskan sesak di dada. Ah.. biarlah tangisan ini kusimpan untuk rindu-rinduku berikutnya yang pastinya akan terus menghantui. Rindu duduk melingkar mendengarkan majlis ilmu yang biasanya beliau sajikan di setiap Senin sore di Mesjid posko kedua kita setelah Tarandam. Rindu dengan nasehat yang bila kudengar lebih tepat disebut sebagai “motivation training”. Yah, sepulang dari majlis ilmu kita, aku seperti baru menghadiri sebuah training motivasi dengan trainer yang sangat hebat. Itulah beliau teman.
Teman, sekali lagi kukatakan padamu… Sebenarnya aku tak terlalu suka menuliskan hal hal yang berbau kesedihan, apalagi jika melibatkan permainan perasaan. Tapi, sebuah amanat telah membuatku harus menulis ulang semua dinamika emosi yang terjadi agar dirimu yang tak berkesempatan hadir di majlis nasehat terakhir kita dengannya juga ikut merasakan apa yang kami (aku dan teman kita yang satu lagi) rasakan di detik detik perpisahan.
Banyak amanat dan untaian nasehat yang mengalun sepanjang kebersamaan kami (seperti biasa tak ada detik yang terbuang percuma dengan obrolan yang tidak berguna dari lisannya).
Mungkin kubagi saja di sini, sedikit banyak kuharap bermanfaat untukmu.
Pertama, beliau berpesan: jangan bersedih! Kita hanya dipisahkan oleh jarak dan ruang. Sedikit berseloroh ibu bilang,”Ibu belum mau masuk liang lahat kok”. Jika dulu jarak kita terpisah sejauh satu kali naik angkot, sekarang sekali naik pesawat. Masih banyak jalur jalur lain yang akan menghubungkan. Sms, telfon, e-mail, webcam, dan lain sebagainya. So… La tahzan.
*Walaupun aku sendiri tak bisa memprediksi berapa tahun lagi kita akan berjumpa dengannya, dan bisakah smeua fasilitas tersebut mengobati kerinduan nantinya*
Kemudian, pesan ibuk… Mulailah membuat peta kehidupanmu! “Tuliskan apa-apa yang engkau inginkan. Analisis SWOTnya. Kalau engkau juga berniat ingin kuliah S2, tuliskan Universitas mana yang engkau mau (kalau perlu tempel foto Universitasnya), rinci sampai biaya-biaya masuknya, cari infonya” kata ibuk sambil mengeluarkan buku agendanya yang berisi rincian biaya S2 UI. Tunjukkan pada Allah engkau benar-benar ingin dan akan berusaha. Ketika semangatmu untuk mencapai apa yang engkau inginkan turun, lihat lihat lagi peta tergetan kehidupanmu.
Apa yang akan engkau lakukan setelah memperoleh gelar sarjana, harus sudah memiliki konsep dari sekarang. Sehingga arah dan tujuanmu jelas. Ibuk siap 24 jam jika kalian ingin berkonsultasi demi perbaikan diri.
Semuanya memang tidak akan segampang yang kita bayangkan. Tapi yakinlah Allah akan memberikan pertolonan bagi hamba-hambanya yang berusaha.
Rencana Allah memang lebih baik dari apa yang diinginkan oleh manusia.
Mulailah langkah-langkahmu dengan niat yang benar. Lillah!! Hanya karena Allah. Itulah motivasi tertinggi kita dalam melangkah. Bukan karena hal hal lain yang sifatnya lebih menduniawi.
Sekeras apapun cobaan datang melanda, sebanyak apapun orang yang menghina, memojokkan, menjatuhkan, mempersulit, namun Allah punya cara-cara indah yang lebih menakjubkan untuk menolongmu, mempermudahmu jika engkau benar benar berniat tulus karena Allah, ikhlas, sabar, dan tawakal.
Hmm… Lagi-lagi rasa haru menyeruak. Sosok teladan dengan segala cobaan hidup (yang tentu engkau sudah mendengar ceritanya). Dan kita sudah sama-sama menyaksikan kekuasaan Allah atas buah kesabaran dan keikhlasannya ketika menghadapi ujian dari Allah.
Dan tentu tak lupa ibu mengingatkan agar tetap istiqomah di jalan dakwah dan tarbiyah. InsyaAllah akan ada pengganti yang lebih baik dari ibu. Yang penting itu bukanlah siapa yang akan memberikan, tapi apa apa saja yang ilmu bisa kita dapatkan.
Dan sedikit pesan khusus KKn. Keep our hijab. Ingat, virus itu kecil. Dan syethan itu sangat licik, punya seribu cara untuk menggelincirkan manusia. Berhati hatilah. Kadang kerikil kecil lebih menjatuhkan daripada batu yang besar. Jaga izzah islam di negeri orang. Akhwat harus jadi orang yang kuat!!
Teman, rasanya tak cukup waktu beberapa bulan yang kita habiskan dengannya untuk meraup semua ilmu dan pengalaman yang ia punya. Rasanya ingin kuhabiskan waktu waktu yang tertinggal untuk menggali lebih banyak kata-kata ajaib yang akan dikeluarkannya. Ingin menceritakan semua permasalahan yang ada untuk mendengar solusi solusi jitu yang akan diberikannya.
Namun waktu kadang tak mengenal kata kompromi. Ia akan tetap bergerak tanpa ingin kurebut serta kuhentikan barang sesaat agar bisa lebih lama duduk bercerita di bawah rindangnya pohon yang ada di taman Imam bonjol tadi.
Suasana lebih mengharukan, ketika pelan-pelan azan berkumandang menandakan waktu ashar telah masuk dan kami harus segera berpisah. Ibu menjabat tanganku dan memelukku erat, sambil berbisik agar tetap kuat dan istiqomah di jalan dakwah.
Sebuah pelukan yang pastinya akan kurindukan dan kunantikan suatu saat nanti…
Langit kelabu kota Padang dengan angin yang berhembus semilir seolah turut berempati terhadap apa yang kami rasakan. Tak banyak tangisan, namun tetap terdengar sedu sedan. Dan lagi lagi aku hanya bisa menelan kesedihan. Berusaha untuk tegar tanpa adanya tetesan air mata.
Ibu membiarkan kami untuk meninggalkannya terlebih dahulu. Perlahan berjalan menjauh… Kutengok kebelakang, ternyata beliau masih berdiri di situ, memperhatikan kami sampai benar benar hilang dari pandangan matanya. Kubalikkan tubuhku, melambaikan tangan tanda perpisahan. Ah… berharap itu bukan yang terakhir…
Sekarang, hanya rangkaian do’a yang bisa kita kirimkan. Berharap agar ibu diberi kemudahan, kelancaran, kesehatan dalam menghadapi tugas belajarnya. Sedih memang… Namun tak boleh sampai berlarut larut. Ini hanya msalah membiasakan. Tetap jalin ukhuwah dengan ibu…
Mungkin hanya ini cerita yang dapat kusampaikan, walau sebenarnya banyak yang terlewatkan…
With fully of love…
Untuk teman teman di lokasi KKN yang tak berkempatan datang
Nb: Oh iya: satu lagi amanat dari ibuk yang belum kutunaikan. Yaitu mentransfer isi tarhib ramadhan yang kami ikuti tadi pagi di Adzkia. Tapi mungkin itu akan kubedah ketika kita jadi ngumpul sebelum ramadhan di Padang, namun jika tidak, insyaAllah akan kuusahakan….
Padang, 2 agustus 2010
Al-Husna

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Karya. Bookmark the permalink.

2 Responses to Serenade Perpisahan Part II

  1. ukhtina,ada saat-saat istimewa dimana Allah SWT memberi kesempatan kepada kita bertemu dengan pribadi-pribadi luar biasa, yang dengan kehadirannya, tutur katanya dan mungkin semua yang ada padanya menjadikan kita semakin dekat dengan Allah SWT dan semakin menyayangi pribadi tersebut. tapi, tentu saja takkan selamanya.cepat atau lambat kita pasti akan berpisah dengannya.dan mungkin tak kan ada yang mampu menyamainya. sehingga suatu waktu, kita bisa teramat sangat merindukannya. namun, disitulah startpointnya…ketika kita berusaha mengingat-ingat lagi, semua yang disampaikannya, bersyukur pada Rabbul Izzati atas kesempatan bertemu dengannya, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, dari waktu ke waktu…serta, ketika kita memutuskan untuk bertekad, bahwa kita juga akan menjadi pribadi MUSHLIH, sama seperti dia…

  2. insyaAllah kak…akan memulai lagi untuk bersemangat di lingkaran tarbuyah dengan murrobiyah yang baru…jazakillah khair kak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s