Napak Tilas Kegiatan KKN

Finally….

Akhirnya KKN selesai juga!!! *bakar kembang api*

Alhamdulillah…. Alhamdulillahirrabilalamin….

Lebih kurang selama 50 hari telah saya dan rekan rekan sekelompok lewati di lokasi KKN tepatnya di jorong Lasuang Batu Kenagarian Kapau Alam Pauah Duo, kecamatan Pauah Duo, Kabupaten Solok Selatan. Dan tepat pada tanggal 31 Agustus ini, KKN dinyatakan secara resmi S-E-L-E-S-A-I

Saya bersyukur kepada Allah swt, yang telah mengizinkan saya untuk melewati perjalanan panjang yang penuh tantangan selama di lokasi KKN. Tantangan yang tak hanya menguras tenaga, namuan juga fisik, mental, pikiran, dan terlebih perasaan.
Banyak sudah ukiran ukiran kenangan kenangan yang tak terlupakan yang terjadi selama di lokasi KKN. Yah, semuanya memiliki rasanya masing-masing. Ada manis, sedang, asin, biasa, pahit, sampai hampir membuat muntahpun pernah terjadi dalam jangka waktu kurang lebih 7 minggu tersebut.

Sebagai salah seorang mahasiswa kesehatan, saya cukup bersyukur karena telah dibekali dengan arahan arahan yang jelas dari Dekan Fakultas Kedokteran tentang apa-apa saja yang harus kami lakukan selama di lokasi KKN.

Terlebih, yang paling saya syukuri adalah keberadaan dan status sebagai kader dakwah Yang membuat saya harus selalu dalam keadaan “on mission” sehingga banyak kegiatan lain yang bisa saya lakukan sebagai seorang mahasiswa KKN di tempat ini.

Napak Tilas program, kegiatan, dan kejadian penting selama KKN yang Alhamdulillah berhasil diangkatkan… (ssttt..sedikit berbagi untuk para calon KKN-ers 2011)

1.Pelatihan Dokter Kecil (Dokcil)

Dua hari di lokasi KKN, kami langsung menghubungi pihak puskesmas untuk meminta izin dalam pelaksanaan program dokter kecil ini. Alhamdulillah pihak puskesmas sangat menyambut baik rancangan kegiatan kami. Maka berlangsunglah pelatihan dokcil ini dalam duakali periode skop kecamatan yang diikuti lebih dari 8 SD yang ada di kecamatan tersebut.

Bahkan ada satu SD yang lumayan terpencil, waktu tempuh lebih kurnag dua jam dari posko KKN, jalan setapak dan musti jalan kaki. Bahkan Kepseknya bersedia menyediakan penginapan asalkan kami mau membimbing siswa siswa di SD tersebut dengan materi kesehatan sebagai bekal untuk menjadi dokci. Subhanallah… ternyata masih ada SD yang seperti itu. Namun saying beribu saying, waktu yang kami punya dan tenang mahasiswa yang ada tak memungkinkan untuk ke sana (terlebih masalah kendaraan).
Jujur, ingin sekali rasanya membantu SD tersebut. Namun mungkin Allah masih belum memberikan kesempatan.

2.Pembuatan TOGA (Tanaman Obat Keluarga)

Tertatih bersama rekan sekelompok, akhirnya Toga yang kami kerjakan dalam beberapa tahapan kali kerja ini berhasil terlaksana. Walaupum kurang maksimal karena rencana untuk memperindah dengan menambahkan kolam dan miniature rumah gadang gagal. Tapi tak apalah. Sekurang-kurangnya, kita sudah memberikan contoh kepada warga seperti apa taman TOGA tersebut.

3.Membantu Pelaksanaan Posyandu dan pendataan jumlah bayi, balita, dam ibu hamil

Nah, ini kerjaan yang lumayan asik dan seru karena nanti kita akan dikelilingi oleh bayi bayi mungil dan balita balita lucu nan menggemaskan. Walau terkadang musti bergidik ngeri menyaksikan mereka diimunisasi. Tangisan yang amat memilukan.

Sedangkan untuk melakukan pendataan, hal ini dilakukan door to door jalan dari rumah ke rumah hunting bayi dan balita. Karena tak semua ibu yang mau membawa anaknya untuk posyandu tiap bulan.Melelahkan memang, namun cukup seru karena sekalian bisa silaturrahim dengan warga di sana.

4.Penyuluhan Kesehatan

Penyuluhan Ini diadakan dalam dua versi. Yang pertama, kami lakukan secara mendiri kepada ibu ibu ketika acara posyandu berlangsung, yang kedua berkerjasama dengan fakultas lain (senagari) melaksanakan penyuluhan kelilingi sambil bersafari Ramadhan antar mesjid dalam nagari. Yang memberikan penyuluhan adalah dari semua fakultas secara bergiliran. Wah seru juga. Walau kami terpaksa harus selalu pulang malam di atas pukul 11 malam karena penyuluhannya dilaksanakan sekitar pukul 21.30 ba’da tarawehan, itupun sebelumnya didahului oleh beberapa agenda.

5.Sekedar praktek

Yup… Sekedar praktek ilmu ilmu medis yang telah di daptakan di kampus. Sebenarnya ini bukan program resmi, namun lebih ke arah program praktek mandiri. Seperti mengukur tanda tanda vital: suhu, denyut nadi, tekanan darah orang orang rumah, tempat konsultasi penggunaan obat dan kesehatan, membantu membalut luka, memberikan perawatan pada anggota yang sakit. Waktunya pun tidak bisa ditentukan, kapan saja dibutuhkan. Yeah, Mencoba untuk “caring”…
Nah, itu yang dari segi kesehatannya….

Trus ada lagi program lain yang dilakukan selama KKN bekerjasama dengan rekan rekan sejorong atau senagari…

6.Bimbel (bimbingan Belajar) bagi siswa

Nah, kegiatan bimbel ini terlaksana hampir di semua jorong. Biasanya anak anak yang ada di kampung tersebut akan beramai ramai menuju posko mahasiswa KKN untuk belajar atau sekedar minta diajarkan untuk membuat PR mereka di sekolah. Hmm… ribut memang, namun bisa mengarahkan adik adik tersebut menghasilakan kebahagiaan tersendiri. Sekalian mengulang ngulang pelajaran.

7.Seleksi Personil drumband dan pelatihan drumband

Nah, ini khusus hanya ada di jorong kami karena kebetulan SD yang ada di jorong kami memiliki peralatan drumband (saya cuma ikut menyeleksi sedangkan yang melatih adalah teman yang lain). Latihan 3 kali seminggu sebelum ramadhan.

8.Partisipasi pada acara Perkemahan Peringatan HUT Pramuka

Actually, ini adalah kegiatan yang paliiiiiingggg saya senangi. Bisa merasakan kembali hawa perkemahan di bumper, mengajarkan anak anak pramuka cara membuat tenda, bergelut kembali dengan simpul-simpul, menjadi protokol ketika upacara apel pembukaan berlangsung, dan menjadi fasilitator adik adik pramuka adalah hal hal menyenangkan yang hampir 3 tahun tak pernah lagi saya lakukan. Alhamdulillah… Untunglah di lokasi KKN tersebut masih ada teman teman KKN yang memiliki keterampilan pramuka dan bisa diajak kerjasama…

9.Pembuatan Gapura / Batas antar Jorong
Hmm… Ini adalah program kami yang hampir nangis darah melaksanakannya (lebay) namun tak jua kunjung bisa dikatakan “selesai”. Tugunya sudah berdiri, namun belum sempat kami cat. Tidak sama dengan jorong jorong lain yang sudah memperindah tugu batas antar jorong mereka dengan warna warna menarik. Hmm.. tapi tak apalah, semoga masyarakat meneruskan pekerjaan kami yang terbengkalai.

10.Kultum di Mushala

Hmm… sebenarnya saya mengusulkan ini dijadikan sebagai program jorong saja. Tapi teman-teman banyak yang tidak setuju dan merasa tidak pantas untuk meberikan kultum di Mushala. Akhirnya yang memberikan kultum hanya saya sendiri.

Itupun tidak bisa dilakukan secara maksimal seperti permintaan warga yang meminta saya untuk kultum setiap selesai sholat Maghrib SETIAP HARI (wadhawww).

Yang paling seru adalah ketika mengisi tausyiah (ceramah agama) sehabis sholat taraweh, anak-anak menyerbu meminta tanda tangan. Hua… jadi teringat jaman-jaman SD. Dulu saya juga seperti itu. Mendengarkan ceramah Ramadhan, mencatatnya di buku agenda, dan meminta tanda tangan ustad yang menjadi pembicara.

11.Mengisi kegiatan Pesantren Ramadhan SD

Walaupun tidak berperan sebagai pantia langsung dan sama sekali tidak mengetahui ada program sanlat (pesantren kilat di SD Lasuang BAtu) Alhamdulillah kepala sekolah memberikan kepercayaan kepada untuk memandu kegiatan muhasabah di akhir sanlat. Pertamanya bagi saya untuk memimpin muhasabah untuk anak SD. Sedikit kesulitan dalma mencari redaksi kata kata yang tepat dan sesuai untuk anak SD, namun Alhamdulillah dengan dibantu sound system dan searching beberapa teknik muhasabah terhadap anak SD di internet, anak anak yang dimuhasabahi banyak yang berucuran air mata (sekurang kurangnya ini mengindikasikan mereka mendengarkan apa yang saya bawakan  )

12.Donor Darah

HUaaa… KKN membuat saya melakukan hal yang selama ini saya takuti. Sssttttt!!! Yeah saya mengaku, seumur hidup saya belum pernah mendonorkan atau ikut kegiatan donor darah yang ada di kampus.

Hampir 3 tahun main kucing kucingan dengan anak SN (SWARA NIGHTINGLE) yang selalu menodong untuk ikut donor darah jika lagi ada baksos (dan saya selalu berhasil kabur!! *_*). Hm… ini bukan terkait masalah sisi kemanusiaan saya yang mengalami krisis. Tapi ini masalah ambang nyeri yang rendah.

Yap… semacam sedikit phobia terhadap jarum suntik yang ditusukan ke kulit saya (namun tidak takut dengan jarum yang disuntikan kek kulit orang lain).
Sebenarnya phobia semacam ii tak boleh menghigapi calon paramedic. Namun saya tahu, sebenarnya hanya butuh sedikit keberanian diri untuk menahan rasa sakit.

Nah, jadi ceritanya, ada seorang pemuda setempat yang membutuhkan darah untuk ibunya yang masuk RS. Dan kebetulan dari sekian anak KKN yang ditanyai (masyarakat pada umumnya tidak mengetahui golongan darah mereka) terdapat 4 orang yang bergolongan darah cocok, termasuklah saya ke dalam salah satunya. Namun sayang, tiga orang yang lainnya tidak bisa diambil darahnya karena alasan baru selesai sakit dan pembuluh darahnya terlalu kecil sehingga dikhawatirkan akan membuat pembuluh darahnya pecah.

Maka jatuhlah pilihan satu satunya kepada Nur’aini. Awalnya saya menolak karena alasan puasa. Namun akhirnya saya tak kuasa lagi menolak ketika tahu bahwa stok darah PMI untuk darah bergolongan B sudah habis. Dan pendonoran akan dilakukan setelah berbuka puasa (jadi tidak akan mempengruhi puasa)

Maka dengan gagah berani (namun sebenarnya takut) saya diantar oleh teman teman KKN senagari untuk mendonorkan darah di RS setempat. Wah,..sungguh terharu. Teman teman rela datang untuk menyemangati.

Well, dengan menahan rasa sakit yang amat sangat sakit (jujur, disuntik itu SAKIT sodara sodara) akhirnya darah saya berhasil diambil sebanyak 350 cc aau sekantong. Alhamdulillah, setidaknya saya sudah pernah mencoba dan insyaAllah tidak akan takut lagi untuk mendonorkan darah.

13.Kepanitiaan MTQ

Hm.. kalau yang ini agak berat juga untuk mengisahkannya. Karena saya pribadi tidak setuja alias kurang suka dengan tata cara pelaksanaan perlombaan MTQ ini. Yang pertama, jelas Karena masih terdapat perbedaan pendapat tentang apakah boleh dilaksanakannya perlombaan MTQ ini. Karena pesertanya umum, semua orang bisa ikut (dalam artian wanita juga bisa jadi peserta). Sedangkan sebagaimana yang kita ketahui suara wanita itu adalah aurat. Wallahu’alam.

Tapi hal lain yang paling tidak saya senangi adalah diadakannya lelang singgang ayam dalam perlombaan MTQ ini. Kenapa? Pertama karena suasana Mesjid tempat diselenggarakan nya MTQ sekaligus sebagai tempat pelelangan menjadi sangat berisik dengan teriakan teriakan dari moderator dan juga peserta lelang yang kebanyakan adalan pemuda (jika kata-kata “preman” terdengar kasar). Mesjid yang seharusnya kita jadikan sebagai rumah ibadah menjelma menjadi pasar yang diinjak injak dengan sandal begitu saja dan penuh dengan asap rokok. Laki-laki dan perempuan bercampur baur tanpa ada hijab yang jelas. Sampah sampah berserakan. Dan yang paling tidak mengenakkan adalah permintaan panitia setempat agar anak KKN juga ikut menjadi pemegang singgang.

OH NOOOOO!!! It’s not me anymore.

Do you khow why? Hentahlah… menjadi pemegang singgang yang sedang dilelang saya kira adalah pilihan yang buruk. Pemudi (alias anak anak gadis) berbaju kurung berdandan cantik dengan jilbabnya memegang singgang yang sedang dilelang di depan semua warga sambil mengambil pose. Huaa……

Saya sempat marah marah pada salah seorang pemudi yang dengan semena-menanya mendaftarkan nama saya sebagai salah satu pemegang singgang (Apa-apaan itu!!!) Biarlah saya menjadi seksi dokumentasi atau seksi keamanan saja (nah loh) daripada “mengamek ngamek” sambil memegang singgang di depan orang banyak. Walaupun posisi saya sebenarnya adalah sebagai seksi dekorasi.

Akhirnya saya memutuskan untuk kabur dari acara MTQ (yang menurut saya hanya “tameng” yang menutupi acara “lelang singgang” yang merupakan acara inti dan paling banyak peminatnya) dengan alasan sedang ada pasien di rumah. Untunglah salah seorang teman mengalami masalah dengan kepala dan perutnya dan minta diantar ke posko untuk mencari obat.

Well… walaupun hasil lelang singgang itu nantinya akan digunakan untuk mendanai acara dan juga untuk sumbangan pembangunan mesjid/mushala tapi ketika pelelangan terjadi yang tampak justru arogansi, kesombongan, cemoohan, dan wallahu’alam apakah tawaran tawaran mereka terhadap seekor singgang ayam tersebut ikhlas atau hanya sekedar peninggi prestise…

Hal positif yang saya lihat dari tradisi ini adalah kekompakan warga. Semua kalangan bergotong rotong demi terlaksananya acara ini. Mereka menyumbangkan apa yang bisa mereka sumbangkan walaupun itu hanya dalam bentuk sekaleng kecil beras, sebuti tomat, beberapa genggam bawang, seekor ayam, ataupun seribu atau beberapa ribu rupiah.

Ya, tradisi ini adalah moment moment seluruh warga berkumpul. Menurutku ini lebih baik daripada mereka berkumpul untuk menyaksikan organ tunggal atau dangdutan.
Itulah fenomena yang terjadi di masyarakat kita.ck ck ck

14. Gotong Royong

Banyak Jenis gotong royong yang dilaksanakan. Muali dari gotong royong membuat taman jorong, gotong royong membuat gapura, gotong royong membersihkan kantor walinagari, gotong royong membersihkan Mushala…dsb

Satu hal juga yang membuat ku jengah adalah paradigma yang menempatkan “wanita” sebagai kawan bercanda, pengindah suasana or stuff like that (sampai speechless saya mencari kata-kata). Contohnya saja ketika meminta sumbangan di jalan (dengan cara menyetop kendaraan atau orang lewat) nah pemuda pemuda tersebut meminta untuk ditemani oleh beberapa orang wanita (helloww… untuk apa? Jika Anda bisa mengerjakannya sendiri, kenapa harus melibatkan SDM lain yang fungsi dan perenannya tak jelas di sana). Mending tenaga yang lain digunakan untuk melakukan aktifitas lain.

Contohnya lagi ketika pembuatan gapura (gotong royong mahasiswa KKN dengan pemuda dan bapak bapak penduduk setempat) itupun kami diharuskan untuk menuggui mereka kerja. Ck ck ck… baiklah, mungkin peranan wanita di sana adalah sebagai tim konsumsi, tapi yang tidak mengenakkan adalah celotehan “kalau ada ceweknya kami tambah semangat bekerja” nah loooohhhh….apa tuh kamsudnya!!! SAYA BERKEBERATAN …!!! Jika sudah seperti ini palingan saya akan menyingkirkan diri, sambil memutar Mp3 nasyid atau murrotal.

Inti dari semua pelaksanaan program adalah “KEMAUAN UNTUK BERGERAK”
Selama ini, yang saya tangkap dari tidak terlaksananya program KKN kebanyakan bukanlah dari eksternal (perizinan, masalah tempat, dsb) tapi lebih dikarenakan mahasiswa yang terkadang terlihat malas untuk bergerak. Menjadikan KKN sebagai moment liburan to (boleh sambil liburan, tapi sebaiknya janganlah berlebihan). Serta stagnannya pemikiran mahasiswa karena mengambil acuan “asa ado yang kadilaporan lah jadi tuh”.

Yap, kebanyakan mahasiswa berfikir dan berorientasi dalam pengerjaan program adalah “LAPORAN AKHIR KKN”. Coba seandainya mahasiswa memiliki visi yang lebih jauh ke depan. Memikirkan bagaimana moment KKN difungsikan sebagai ajang untuk benar-benar memberdayakan masyarakat, sebagai ajang untuk mencari ilmu, untuk mempraktekkan apa apa yang telah didapatkan di bangku perkuliahan, maka sesungguhnya banyak hal yang bisa mahasiswa KKN lakukan.

Actually, saya pribadi merasa tidak puas dan belum maksimal dalam melaksanakan aktivitas selama KKN. Karena masih banyak hari yang terbuang percuma dan masih ada program yang belum terjalankan secara optimal. (seperti program penomoran rumah dibatalkan, padahal potensial sekali)

Ok,masih bayak cerita lain yag akan di bagi… keep stay tune di zonacahayamat!!!



About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in KKN on The STORY. Bookmark the permalink.

One Response to Napak Tilas Kegiatan KKN

  1. cukup manarik cerita donor darahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s