Wajib Baca Part II (Cerpen GAJE *yang Gak jelas Judulnya apa* yang Tiba-Tiba Terlintas di Fikiranku Beberapa Waktu Ini)

Zaza meletakkan pelan pelan ransel hitamnya ke atas kasur. Ah, sungguh melelahkan sekali hari ini. Seharian ia harus terbungkuk-bungkuk membawa ransel yang entah kenapa selalu terisi penuh setiap kali ia ke kampus. Ya, kalau tak harus membawa laptop dan perlengkapan yang seabrek abrek mungkin ia tak perlu memakai ransel itu.
Fiufh, perlahan Zaza mulai melepas jilbab lebarnya, mengambil wudhu’ dan menunaikan sholat Ashar yang sengaja dikejarnya agar tetap dilaksanakan di Wisma. Kondisi kampus sungguh tak kondusif untuk sekedar bersujud padaNya. Ah, menyebalkan, dengan jumlah mahasiswa sebanyak itu, kampus hanya menyediakan tempat sholat minim dan kurang kondisif. Mahasiswa harus dempet-dempetan dan ngantri jika waktu sholat sudah datang.
Hari ini tanggal 26 Oktober, besok sudah tanggal 27. Ah… moment istimewa (*menurut orang orang) dalam hidup Zaza karena konon kabarnya Ibu Zaza telah melahirkannya pada tanggal itu. Hari milad bahasa kerennya. Zaza tersenyum simpul, kado istimewa apa yang akan didapatkannya besok? Walau tak terlalu menantikan tanggal itu cepat cepat hadir dalam hidupnya, namun Zaza masih berharap ada yang mengingat dan memberikan seuntai do’a untuknya.
Malam pun mulai beranjak. Zaza mulai mengambil laptop, menghidupkannya serta memasang modem agar ia segera bisa berseluncur di dunia maya. Mencari bahan untuk makalah yang harus diselesaikannya malam ini. Sejenak Zaza melupakan tentang “tanggal 27”nya. Fokus kepada makalah yang harus dikumpul besok pagi, melirik perbaikan makalah mata kuliah lainnya yang juga akan dikumpul besok, serta mempersiapkan presentasi kelompok. Huwaaaaahh …. Sepertinya bakalan jadi romusha malam ini. Semangat.Keep Fighting!
Tiililtiititliiitlii….. Zaza yang masih fokus pada bahan bahannya di laptop tersentak kaget mendengar bunyi alarm dari HP nya. Di layar HP jelas tertulis “My birthday \(^_^)/”. Zaza tersenyum simpul. Segera tangannya menggerakkan mouse, membuka situs jejaring sosial Facebook. Benar saja, sudah ada beberapa notification yang memberitahukan ada beberapa teman yang menulis di wallnya. Ucapan Selamat Milad!! The day is coming Guys!!!
Tapi euforia itu hanya sebentar. Beberapa menit kemudian Zaza kembali disibukkan dengan halaman Mc.Word. Walau sudah rada puyeng dan merasakan sedikit kepenatan pada leher dan punggungnya, Zaza bertekad makalah itu harus selesai malam ini juga.
Alhamdulillah, tepat pukul 1.25 dini hari makalah yang dinanti nanti pun jadi. Tinggal nge-print dan menjilid besok pagi. Zaza kembali men-cek Facebook dan HP. Wah, sudah ada beberapa teman lagi yang menulis di wall nya dan beberapa in box serta sms di HP. Alhamdulillah, sarana komunikasi zaman kini sungguh memberikan manfaat pada momment moment tertentu. Contohnya saja pada tanggal biasa yang jadi tak biasa karena ada yang berulang tahun pada hari itu.
Perlahan Zaza menutup layar laptop, dan merebahkan tubuhnya ke peraduan. Sejenak ia mulai berpikir:
“ULANG TAHUN. Hmmm… kenapa namanya Ulang tahun? Kenapa tidak ulang tanggal atau ulang bulan saja? Kenapa orang orang begitu bahagia jika sudah mendekati tanggal kelahirannya? Bahkan merayakannya secara besar-besaran.Padahal bukankah setiap helaan nafas tiap detik berarti pada hakikatnya, umur kita semakin berkurang di dunia ini…
Lepas dari satu tarikan nafas, maka berkuranglah jatah hidup kita.
Pertanyaanya sekarang,,, sudah lembar ke berapakah kita sekarang? Berapa lembar lagi yang tersisa untukku bertahan di dunia ini? Dan dengan apakah selama ini aku mengisi lembar demi lembar yang kupunya? Dan lembaran akhirku kelak akan diisi oleh cerita seperti apa? Bahagiakah atau kesengsaraan?”
Kelopak matanya mulai menutup. Berharap mimpi indah datang menghiasi tidurnya malam ini…
***Pagi telah menjelang. Sayup sayup terdengar kicauan burung yang bertenggeran di atas pohon mangga depan wisma. Matahari bersinar cerah dipadupadankan dengan tiupan semilir angin pagi yang menambah kesejukan pagi itu.
10 tahun sudah sejak ia meninggalkan kampus dan wisma tercinta. Dan sekarang ia hadir lagi. Bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai seorang alumni yang terbilang sukses karena baru saja menyelesaikan program pasca sarjana di slaah satu perguruan tinggi di luar negeri dan sedang bersiap-siap untuk mengajukan beasiswa Doktoralnya tahun besok.
Wah… Bahagianya bisa merasakan kesejukkan pagi di kota yang telah mendidiknya sekaligus men-tarbiyahnya ini. Wisma para akhwat kampus masih berada di tempat yang sama. Namun dengan kondisi yang lebih bagus dan terkesan lebih mewah. Alhamdulillah… Sepertinya peminat wisma sangat banyak sekarang. Sampai sampai para akhwat senior dibikin kerepotan untuk menyeleksinya.
Zaza melirik jam tangannya. Pukul 8 pagi. Masih ada 2 jam lagi sebelum pertemuan dan silaturrahim dengan para aktivis dakwah junior di kampusnya. Zaza diundang sebagai pemateri untuk sesi motivasi training nanti. Sepak terjang Zaza 10 tahun pasca kampus sepertinya layak dan patut untuk dibagikan kepada mahasiswa baru dan aktivis kampus.
Zaza melangkah meninggalkan wisma tempat menginapnya semalam setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan demi memenuhi undangan junior tercinta.
Zaza menyetop angkot yang biasa dinaikinya ketika masih kuliah dulu. Ah, rindu rasanya mengulangi moment moment itu. Tampak di dalam angkot sudah ada beberapa ibu dengan pakaian rapi dan seorang akhwat yang sedang fokus membaca Al-Qur’an mini yang sepertinya selalu dibawanya kemana-mana. Hmm sunggguh indah.
“Assalamualaikum..” Zaza mengucapkan salam
“Waalaikumsalam..” serempak seisi angkot menjawab salamnya.
Tampak ibu ibu itu saling berbincang. Menceritakan kisah kisah lucu dari anak anak mereka, atau tentang keluarganya. Ah, tak ada acara bergosip ria di pagi hari itu. Dari perbincangan para ummahat tersebut sepertinya mereka akan menghadiri majlis taklim mingguan. Subhanallah, semakin menjamur saja majlis taklim untuk ibu ibu di kota ini.
Suasana angkot sungguh tenang. Beda dengan nuansa 14 tahun lalu ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Tak ada lagi alunan musik keras sebangsa rock, tak ada lagi lirik lirik jahiliyah yang selalu disajikan dalam menu musik pop atau dangdutan. Yang terdengar malah alunan nasyid dari munsyid yang tengah tenar saat ini. Beberapa menit kemudian irama nasyid digantikan dengan alunan asmaul husna. Dan satu hal yang paling membahagiakan, tak ada yang merokok di angkot ini. Kabarnya, pemerintah sudah membuat peraturan ketat bagi para perokok agar tidak merokok di tempat tempat umum. Tentu diiring dengan sanksi tegas yang tak sekedar omongan belaka. Subhanallah… Sungguh indah…
Tak lama angkot pun melewati taman kota yang jaraknya tak seberapa jauh dari kampus Zaza dulu. Secepat kilat, Zaza segera menyetop angkot dengan menyebutkan “password” yang sepertinya sudah menjadi kosakata yang selalu terdengar sehari hari di sini.
“Depan kiri Mbak…”
Mbak?? Hehehe… ini kan angkot khusus akhwat. So yang mengendarainya juga wanita donk. Memang jumlahnya belum terlalu banyak. Tapi pagi pagi begini banyak juga mbak mbak sopir angkot yang beroperasi. Hmm… Angkot spesial wanita, hebad kan!!!. Tak ada lagi desak desakan dan sempit sempitan dengan non muhrim. Lagi-lagi kebijakan baru yang diambil pemerintah setempat.
Zaza mulai menyebrang menuju taman kota. Taman tempat ia dan teman temannya dulu melepas kepenatan dari dunia perkuliahan. Bahkan beberapa majlis ilmu sering mereka gelar di tengah rerumput hijau di sana. Walau dulu suasananya amat sangat kurang kondusif. Pengamen liar dimana-mana, pasangan-pasangan muda (pastinya bukan suami istri) berserakan merusak pandangan mata.
Sekarang nuansanya sudah berubah. Tak ada lagi sepasang muda mudi bekeliaran dan berdua-duaan di sana. Tampak papan pengumuman besar bertuliskan “LAKI-LAKI DAN WANITA NONMUHRIM DILARANG BERDUAAN DI TEMPAT INI” tertancap di tengah-tengah taman bunga menarik perhatian setiap pengunjung. Subhanallah… Lagi lagi hanya ucapan syukur yang bisa diucapkan Zaza.
Tampak segerombolan bocah bocah TK dengan pakaian seragam muslim mereka bermain-main dengan riangnya dipandu oleh guru-guru mereka yang berjilbab rapi. Tak jauh di sudut taman tampak seorang abi yang ditarik tarik jundi kecilnya untuk bermain bola. Di sudut yang lain terlihat lingkaran kecil akhwat yang tengah antusias mendengarkan kajian dari seorang mbak-mbak.
Zaza duduk di salah satu taman, bermain dengan pemikirannya sendiri. Telah jauh perubahan yang terjadi di kota ini. Hmm… tak sabar rasanya untuk segera ke kampus. Keajaiban seperti apa yang akan ditemukannya di kampus tercinta?
Tanpa membuang waktu, Zaza segera melangkah ke kampus tercinta, 10 menit jalan kaki dari taman kota. 10 m dari gerbang kampus, Zaza tercenung. Benarkah ini kampusnya yang lama? Kampus yang berhasil mengantarkannya hingga menjadi seperti ini? Wah… Sudah banyak perubahan tampaknya.
Zaza memasuki kampus. Tampak mahasiswa lalu lalang dengan teratur. Yang wanita memakai jilbab dengan rapi, walau tak semuanya yang berjilbab “gede” ala aktivis, namun sejuk dipandang mata. Yang noni walau tak berjilbab tetap memakai pakaian dengan sopan dan rapi. Yang laki-laki dengan kemeja mereka. No jins pastinya. Tampak gerombolan laki-laki berjalan menundukan pandangan. Subhanallah, benarkah yang kulihat itu ikhwan? Hahahaha, ada ikhwan di kampus kami. Ajaib!
Dulu ketika ia dan para sahabatnya yang menglola dakwah kampus, semuanya dihuni oleh akhwat. Pemimpin, anggotanya juga akhwat. Itu disebabkan karena tak banyak laki-laki yang berhasil jebol ke kampus ini.
Zaza mempercepat langkah menuju mushala yang notabene merupakan pusat kegiatan dakwah sekaligus sekre LDK yang menjadi tempat mangkalnya para aktivis jaman-jaman ia kuliah. Melewati sebuah kelas, Zaza kembali berdecak kagum, terdengar alunan qiraah Qur’an sebelum memulai perkuliahan. Wah wah wah, Zaza jadi teringat dengan tradisi SMA nya dulu yang selalu memulai pelajaran dengan bacaan Al-Qur’an. Dan sekarang hal tersebut didapatinya terjadi di kampus ini. Laki-laki dan perempuanpun duduknya di pisah. Tak lagi bercampur baur atau berserakan tak teratur.
Wah suasananya udah kayag di pesantren saja….
Mushala mulai tampak di depan mata. Mushala yang penuh kenangan, oouupppss ternyata sekarang sudah menjelma menjadi sebuah MESJID!!!. Bentuknya jauuuhhh lebih bagus dan luas. Zaza yakin Tak ada lagi yang akan berdesak desakkan ketika sholat seperti ia kuliah dulu. Hijabnya bagus, menandakan komunitas ikhwan sudah mulai ada di kampus sederhana ini. Hmmm… ingat mushala yang dulu tak ada tirai hijabnya karena memang hanya 1 atau 2 mahasiswa yang akan sholat di sana, selebihnya?? MAHASISWI… .
“Assalamualaikum kakak…”
Adik adik LDK menyapa ramah, mengulurkan tangan menyambut dengan hangat kedatangannya. Subhanallah… banyak akhwat di sini. Semuanya berjilbab rapi, lautan jilbab yang sungguh anggun. Berbeda dengan kondisi ketika ia meninggalkan kampus. Kami hanya sedikit. Satu angkatan tak sampai jumlahnya 10 orang yang aktif di forum.
“Alhamdulillah, jumlah kader kita sudah semakin banyak kak. Agenda mentoring merupakan kurikulum wajib saat ini. Kelompok kelompok mentoringpun sudah banyak yang ter follow up-i menjadi kelompok2 halaqoh. Sejak 5 periode belakang, LDK kita juga sudah dipimpin oleh ikhwan, bukan akhwat lagi kak. Peraturan akademik pun sudah mulai mengarah kepada syariah islam. Tak ada lagi dosen yang nekad mengajar di tengah kumandang azan sholat. Semuanya terbiasa sholat jamaah di sini.”
Kamipun bercerita panjang lebar tentang perubahan-perubahan positif yang terjadi di kampus dan negeri ini. Tentang forum-forum halaqoh yang terlihat di mana-mana; tentang budaya berjabat tangan nonmuhrim yang dah “gak musim” lagi; tentang prestasi-prestasi yang diukir putra-putri Pertiwi di luar negeri; tentang perekonomian yang sudah mulai stabil; tentang pendidikan gratis; tentang wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan pemerintah; tentang penerapan syari’at di berbagai daerah; tentang sebuah peradaban baru; tentang kemenangan, tentang kejayaan.
Saking asyiknya ngobrol, tanpa disadari HP Zaza sudah sejak tadi menjerit-jerit minta diangkat. Antara sadar dan tidak, Zaza memencet tombol ‘terima’ di bawah layar dan dengan mata yang masih mengatup dan mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaykum”
“Wa’alaykumussalaam Warohmatullah Wabarokaatuh. Ukhti, anti gak lupa kan kalo pagi ini jam 6.30 ada rapat?” Tanya orang di seberang sana. Zaza mengenal suaranya. Beliau partner di Forum.
“Hmm…rapat apa ya ukh? Ohh… rapat acara Halal bi Halal dengan senior dan mahasiswa baru? Ini kan masih shubuh ukh..” Zaza menguap, berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Ukhti, ini sudah jam 6.50 Rapatnya sudah berlangsung sejak 10 menit yang lalu….!!!”
“Whaaatttt…!!!” Zaza melirik jam di dinding. Matanya terbelalak. Menyadari dirinya masih memakai mukena, tertidur pulas sehabis sholat subuh.
“Afwan ukh, ana masih di rumah. Ijin telat yak!!”
Hmmm… Zaza tersenyum simpul. Hari ini hari miladnya, tanggal 27 Oktober, dan ia telah bermimpi yang sangat indah subuh ini…
Dalam hati Zaza melafazkan hamdalah, dan amin berkali kali agar Allah mewujudkan mimpi mimpinya dan menghijabah do’a do’a para sahabat atas miladnya. What a nice dream….
****************************
BANGUNLAH DARI MIMPI!
SEKARANGLAH SAATNYA BERKONTRIBUSI!
BERGERAK, ATAU MATI!
BERANI…??
Nitip cuap cuap salam:
Syukron kepada akhwat wisma atas surprise (yang sudah diduga sebelumnya…hehe) semalam. Atas kue dan kadonya. TERLEBIH atas doa dan masukannya untuk perbaikan diri ke depan. Tak ada perayaan yang lebih indah melainkan memuhasabah diri.
Terimakasih juga untuk teman teman di dunia maya dan dunia nyata yang mengucapkan kata-kata “selamat” and stuff like that… Hmm…. Umurku di dunia semakin berkurang guys!! Semoga Allah menghijabah do’a-do’a teman teman semua dan memberikan hal yang sama untuk kalian semua.
Untuk seorang kakak, beberapa rekan di dunia maya yang tulisannya banyak menginspirasi (termasuk menginspirasi untuk membuat cerita yang agak kurang jelas ini) dan menambah wawasan. Tetap bersemangat dan istiqomah dengan dakwah lewat tulisan…
“Untuk Aini, turut berduka cita atas berkurangnya usia anti. Semoga sisa usia yang tersisa menjadi lebih berkah, dan semakin dicintaiNya. Met ilang tahun ya,…I love u.. Ai shiteiru…Uhubbuki lillah…(hehehe…mencintai diri sendiri itu perlu looh!).
Bingkai kehidupan hingga 21
Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
Kan menjadi saksi pengorbanan
Allahu Ghoyatuna
Arrosulu Qudwatuna
Alquran Dusturuna
Aljihadu Sabiluna
Almautu fi sabilillah asma amanina
by: _Shoutul Harokah_
Dan, buat semua yang udah baca: semoga SUKSES DUNIA AKHIRAT!!!!
SIAPA BERANI BERMIMPI?????

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CERPEN^^, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s