MengEnal Karate LEBIH DEKAT…

Definisi Karate

Karate berasal dari pengucapan dalam bahasa Okinawa “Kara” yang berarti Cina dan “Te” yang berarti tangan. Selanjutnya arti dari dua pengucapan itu adalah tangan Cina, teknik Cina, tinju Cina. Selanjutnya sekitar tahun 1931 Gichin Funakoshi – dikenal sebagai Bapak Karate Moderen – mengubah istilah Karate kedalam huruf kanji Jepang yang terdengar lebih baik.

Tahun 1936 buku Karate-do Kyohan diterbitkan Gichin Funakoshi telah menggunakan istilah Karate dalam huruf kanji Jepang. Dalam pertemuan bersama para master di Okinawa makna yang sama diambil. Dan sejak saat itu istilah “Karate” dengan huruf kanji berbeda namun pengucapan dan makna yang sama digunakan sampai sekarang.

Saat ini istilah Karate berasal dari dua kata dalam huruf kanji “Kara” yang bermakna kosong dan “Te” yang berarti tangan. Karate berarti sebuah seni bela diri yang memungkinkan seseorang mempertahankan diri tanpa senjata.

Menurut Gichin Funakoshi Karate mempunyai banyak arti yang lebih condong kepada hal yang bersifat filsafat. Istilah “Kara” dalam Karate bisa pula disamakan seperti cermin bersih yang tanpa cela yang mampu menampilkan bayangan benda yang dipantulkannya sebagaimana aslinya. Ini berarti orang yang belajar Karate harus membersihkan dirinya dari keinginan dan pikiran jahat.

Selanjutnya Gichin Funakoshi menjelaskan makna kata “Kara” pada Karate mengarah kepada sifat kejujuran, rendah hati dari seseorang. Walaupun demikian sifat kesatria tetap tertanam dalam kerendahan hatinya, demi keadilan berani maju sekalipun berjuta lawan tengah menunggu. Demikianlah makna yang terkandung dalam Karate.

Karena itulah seseorang yang belajar Karate sepantasnya tidak hanya memperhatikan sisi teknik dan fisik, melainkan juga memperhatikan sisi mental yang sama pentingnya. Seiring usia yang terus bertambah, kondisi fisik akan terus menurun. Namun kondisi mental seorang Karateka yang diperoleh lewat latihan yang lama akan membentuk kesempurnaan karakter. Akhiran kata “Do” pada Karate-Do memiliki makna jalan atau arah. Suatu filosofi yang diadopsi tidak hanya oleh Karate tapi kebanyakan seni bela diri Jepang dewasa ini (Kendo, Judo, Kyudo, Aikido, dll)


Sejarah Dan Perkembangan Karate

Ilmu bela diri sebenarnya sudah dikenal semenjak manusia ada, hal ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan purbakala antara lain: kapak-kapak batu, lukisan-lukisan binatang yang dibunuh dengan senjata seperti tombak dan panah.

Bela diri pada waktu itu hanya bersifat mempertahankan diri dari gangguan binatang buas dan alam sekitarnya. Namun sejak pertambahan penduduk dunia semakin meningkat, maka gangguan yang datang dari manusia mulai timbul sehingga keinginan orang untuk menekuni ilmu bela diri semakin meningkat.

Tersebutlah pada 4.000 tahun yang lalu, setelah Sidartha Gautama pendiri Budha wafat, maka para pengikutnya mendapat amanat agar mengembangkan agama Budha keseluruh dunia. Namun karena sulitnya medan yang dilalui, maka para pendeta diberikan bekal ilmu bela diri. Misi yang ke arah Barat ternyata mengembangkan ilmu Pangkration atau Wrestling di Yunani. Misi keagamaan yang berangkat ke arah Selatan mengembangkan semacam, pencak silat yang kita kenal sekarang ini. Salah satu misi yang ke Utara menjelajahi Cina menghasilkan kungfu (belakangan di abad XII, kungfu dibawa oleh pedagang Cina dan Kubilaikhan kenegara Majapahit di Jawa Timur).

Dari Cina rombongan yang ke Korea menghasilkan bela diri yang kemudian kita kenal dengan Taekwondo. Dari Korea ternyata rombongan tidak dapat meneruskan perjalanan ke Jepang, tetapi berhenti hanya sampai di kepulauan Okinawa. Tidak berhasil masuknya rombongan ke Jepang, karena di Jepang saat itu sudah mengembangkan ilmu bela diri Jujitsu, yudo, kendo dan ilmu pedang (kenjutsu).

Namun sejarah mencatat bahwa pasda tahun 1600-an, Kerajaan Jepang telah menguasai Okinawa. Kerajaan Jepang telah memerintah Okinawa dengan tangan besi, penduduk dilarang memiliki senjata tajam, bahkan orang tua dilarang memakai tongkat. Diam-diam bangsa yang terjajah ini mempelajari ilmu bela diri dengan tangan kosong yang waktu dikenal dengan nama TOTE. Dari satu teknik ke teknik lainnya, ilmu bela diri diperdalam dan para pendeta ikut mendorong berkembangnya ilmu bela diri TOTE ini.

Kemudian pada tahun 1921 seorang penduduk Okinawa bernama Funakoshi Gitchin memperkenalkan ilmu bela diri dari TOTE ini di Jepang, dan namanya pun berubah menjadi karatre, sesuai dengan aksen Jepang dalam cara membaca huruf kanji. Sejak saat itu karate berkembang dengan pesat di Jepang.

Karate Sebagai Seni Beladiri

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, keberadaan beladiri jadi suatu kebutuhan : manusia kerap memanfaatkan kaki dan tangannya sebagai senjata utama guna melindungi diri menghadapi kerasnya kenyataan duniawi. Karate ….. ?

Asal-usul Karate berasal dari Kempo alias seni beladiri tinju Cina (China Boxing) diciptakan oleh Darma, Guru Budha yang Agung, manakala tengah bermeditasi di Biara Shorinji, Mt-Sung, Provinsi Henan, Cina (generasi Darma selanjutnya menyebut beladiri ini dengan nama Shorinji Kempo) yang berakar di Okinawa melalui kontaknya dengan Cina pada medio abad ke 14. Pada abad itu, pengadilan Bakhuco (di bawah penguasa setempat) di Okinawa membuat larangan penggunaan senjata. Itulah sebabnya embrio beladiri Karate muncul.

Dalam budaya (bahasa) Cina, Kempo berasal dari kata kara yang berarti Cina dan te yang berarti tangan. Di Jepang, pada proses perkembangannya kemudian, kara berarti kosong dan te berarti tangan.

Jadi hakikatnya, seni beladiri Karate merupakan suatu bentuk beladiri yang mengandalkan tangan kosong. Lahirnya Karate sebagai seni beladiri diketahui pada abad ke-19.

Adalah Matsumara Shukon (1797-1896)-seorang prajurit samurai dan pelindung Raja Soko Okinawa yang berjasa melahirkan seni beladiri Karate. Ia menciptakannya dengan menggabungkan unsur seni militer Jepang (bushido).

Matsumara adalah pendukung adanya dua kebijakan : latihan militer (fisik) dan kesarjanaan (intelektualitas). Ialah anggota kelas berkuasa di Pulau Ryuku yang berjasa meletakkan pondasi dasar dan pengembangan ilmu Karate.

Gichin Funakoshi, penemu Shotokan, mengemukakan suatu filosofi bahwa Karate yang sesungguhnya adalah : dalam kehidupan sehari-hari, pikiran dan tubuh seseorang dilatih dan dikembangkan dalam kerendahan hati. Dan, pada saat-saat kritis, ia akan mengabdi seluruhnya pada keadilan.

Pemahaman terhadap Karate digambarkan pula sebagai seni perang atau metode beladiri yang meliputi bermacam-macam teknik, termasuk bertahan, menyerang, mengelak, bahkan merobohkan. Latihan karate dapat dibagi menjadi tiga aspek : kihon (dasar), kata (bentuk), dan kumite (lakuan).

Kata Karate merupakan kombinasi dari dua karakter (kata) Jepang : kara berarti kosong dan te yang berarti tangan. Maka Karate dapat diartikan dengan tangan kosong. Ditambah sufiks (akhiran)-do (baca : doe), berarti cara.

Jadi, Karate-Do menerapkan Karate sebagai cara hidup yang lebih dari sekedar mempertahankan diri.

Dalam Karate-Do tradisional, kita selalu diingatkan : musuh utama adalah diri kita sendiri

.


Funakoshi mengatakan, Pikiran dan teknik menjadi satu dalam Karate. Kita berusaha membuat teknik fisik kita sebagai ekspresi dari apa yang diinginkan pikiran kita, pun meningkatkan pemusatan pikiran kita dengan memahami inti dari teknik fisik. Dengan menyempurnakan gerakan Karate, kita juga menyempurnakan jiwa dan mental.

Sebagai contoh, meniadakan gerakan dalam gerakan Karate yang lemah dan ragu-ragu dapat membantu menghilangkan kelemahan dan keragu-raguan berpikir, begitu pula sebaliknya. Dengan makna itu, Karate menjadi suatu cara hidup, dimana kita mencoba untuk menjadi orang yang kuat, tapi bahagia dan penuh kedamaian. Seperti yang dimaksud Tsutomu Ohshima, Kepala Instruktur (Shihan) Shotokan Karate America (SKA),

Kita harus cukup kuat mengekspresikan pikiran kita terhadap lawan, kapan saja, dimana saja. Tapi, kita harus tenang mengekspresikan diri kita secara rendah hati.

Ada salah satu bentuk latihan Karate yang unik dalam SKA. Latihan itu dinamakan latihan khusus, yaitu satu seri dari latihan Karate dimana kita mencoba untuk menghadapi diri kita sendiri dan menyempurnakan mental dan jiwa kita.

Falsafah Karate

1. RAKKA (Bunga Yang Berguguran)

Ia adalah konsep bela diri atau pertahanan di dalam Karate. Ia bermaksud setiap teknik pertahanan itu perlu dilakukan dengan bertenaga dan mantap agar dengan menggunakan satu teknik pun sudah cukup untuk membela diri sehingga diumpamakan jika teknik itu dilakukan ke atas pokok, maka semua bunga dari pokok tersebut akan jatuh berguguran. Contohnya jika ada orang menyerang dengan menumbuk muka, si pengamal Karate boleh menggunakan teknik menangkis atas. Sekiranya tangkisan atas itu cukup kuat dan mantap, ia boleh mematahkan tangan yang menumbuk itu. Dengan itu tidak perlu lagi membuat serangan susulan pun sudah cukup untuk membela diri

2. Mizu No Kokoro (Minda Itu Seperti Air)
Konsep ini bermaksud bahwa untuk tujuan bela diri, minda (pikiran) perlulah dijaga dan dilatih agar selalu tenang. Apabila minda tenang, maka mudah untuk pengamal bela diri untuk mengelak atau menangkis serangan. Minda itu seumpama air di danau. Bila bulan mengambang, kita akan dapat melihat bayangan bulan dengan terang di danau yang tenang. Sekiranya dilontar batu kecil ke danautersebut, bayangan bulan di danauitu akan kabur
Adapun ciri khas dan latar belakang dari berbagai aliran Karate yang termasuk dalam “4 besar JKF” adalah sebagai berikut :

 SHOTOKAN
Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan. Sehingga Shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu Karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan Karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Gichin Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan.

 GOJU-RYU
Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan tehnik keras dan tehnik lembut, dan merupakan salah satu perguruan Karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak tehnik-tehnik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa “dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan”. Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.

 SHITO-RYU
Aliran Shito-Ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-Ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-Ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju.

 WADO-RYU
Adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-Ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki tehnik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-Ryu selain mengajarkan tehnik Karate juga mengajarkan tehnik kuncian persendian dan lemparan/ bantingan Jujutsu. Didalam pertarungan, ahli Wado-Ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan terkadang menggunakan tehnik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-Ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.

 KYOKUSHIN
Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi aliran ini sangat terkenal baik didalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa mempopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970 an. Aliran ini didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut system Budo Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut untuk berani melakukan full contact kumite, yakni tanpa pelindung, untuk mendalami arti yang sebenarnya dari seni beladiri Karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan (budo). Aliran ini juga menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana Karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan 5 – 10 kumite berturut-turut.

Gichin Funakoshi mendefinisikan Dua Puluh Ajaran Karate (juga disebut Niju kun). Ini yang membentuk Dasar-dasar dan Filosofi Shotokan Karate. Dasar menekankan anatar lain pada Kerendahan Hati, Rasa Hormat, Kasih Sayang, dan Kesabaran. Para Karateka harus mematuhi aturan dalam semua bidang kehidupan untuk mencari kesempurnaan karakter.

1. Karate bukan hanya Tempat Latihan.
2. “Jangan lupa” Karate dimulai dan diakhiri dengan membungkuk.
3. Dalam Karate, Tidak pernah serangan pertama.
4. Karate harus mengikuti Jalan Keadilan.
5. Pertama Anda harus mengenal diri sendiri, maka anda dapat mengenal orang lain
6. Perkembangan spiritual sangat penting; keterampilan teknis hanyalah alat untuk mencapai tujuan.
7. Anda harus melepaskan pikiran Anda.
8. Kemalangan yang keluar dari kemalasan.
9. Karate adalah latihan seumur hidup.
10. Masukkan karate dalam segala sesuatu yang Anda lakukan.
11. Karate adalah seperti air panas. Jika Anda tidak memberikan secara terus-menerus panas akan menjadi dingin.
12. Jangan berpikir kamu harus menang. Berpikir bahwa Anda tidak harus kehilangan.
13. Kemenangan tergantung pada kemampuan Anda untuk memberitahu titik-titik rawan dari titik tak terkalahkan.
14. Bergerak menurut lawanmu.
15. Pertimbangkan lawan tangan dan kaki seperti pedang tajam.
16. Ketika Anda meninggalkan rumah, berpikir bahwa jutaan lawan sedang menunggu Anda.
17. Posisi siap untuk pemula dan posisi alam untuk siswa lanjutan.
18. Kata adalah satu hal, terlibat dalam pertarungan sungguhan adalah hal lain.
19. Jangan lupa
a. kekuatan dan kelemahan kekuasaan
b. ekspansi dan kontraksi dari tubuh,
c. lambat dan kecepatan teknik.
20. Rancangan setiap saat.

Ajaran Latihan adalah serangkaian prinsip-prinsip yang diulangi pada akhir setiap kelas oleh semua siswa dan instruktur. Ajaran Latihan tidak hanya seperangkat aturan yang harus diikuti dalam Dojo, tetapi dimaksudkan untuk mengingatkan para siswa mengapa mereka melatih dan bahwa prinsip-prinsip yang harus diterapkan untuk kehidupan sehari-hari di luar Dojo.
Prinsip Karate:

1. Sanggup Memelihara Kepribadian (Jinkaku kansei ni tsutomuru koto)
2. Sanggup Patuh Pada Kejujuran (Makoto no michi o mamoru koto)
3. Sanggup Memeprtinggi Prestasi (Doryoku no seishin o yashinau koto)
4. Sanggup Menjaga Sopan Santun (Reigi o omonzuru koto)
5. Sanggup Menguasai Diri (Keki no yu o imashimuru koto)

Metode Pelatihan

Metode pelatihan dasar yang digunakan di dojo pada umumnya dikelompokkan ke dalam tiga bidang:

1. Kihon (Dasar)
Kihon berarti “dasar” atau “fundamental”. Kihon mencakup teknik seperti kuda-kuda, pukulan, tendangan, blok dan pemogokan yang membentuk dasar Karate. Praktek dan penguasaan kihon sangat penting untuk semua pelatihan lanjutan. Mempraktikkan dasar-dasar siswa akan mengembangkan fokus, konsentrasi dan disiplin bersama dengan memperkuat tubuh. Setelah siswa tubuh lebih kuat dan sehat, kepercayaan tidak dapat dihindari.

2. Kata (Jurus)

Kata adalah sebuah kata dalam bahasa Jepang yang menggambarkan pola koreografer rinci gerakan yang dimaksudkan untuk mensimulasikan membela diri melawan banyak lawan imajiner. The Karateka (praktisi karate) visualisasi para lawan ‘serangan dan tanggapan nya. Umumnya, setiap kali sebuah kemajuan Karateka ke peringkat berikutnya kata yang baru dipelajari. Namun, selalu ada lebih banyak yang dapat dipelajari dari awal katas dan bahkan peringkat tertinggi Karateka akan terus berlatih katas awal. Kata juga dapat digunakan sebagai suatu bentuk meditasi.

3. Kumite (Perkelahian)

Kumite berarti perkelahian, dan ini adalah bagian dari karate di mana Anda melatih melawan musuh, dengan menggunakan teknik belajar dari kihon dan kata. Kumite dipraktekkan dalam beberapa format, tergantung pada peringkat dari mahasiswa. Para Karateka akan diperkenalkan kepada jenis berikut tentang kemajuan kumite :

a. Sanbon Kumite (Tiga langkah Perkelahian)

Tiga serangan diikuti oleh satu serangan counter. Teknik diumumkan sebelumnya, dihitung keluar, kemudian lanjutkan dalam garis lurus. Ini adalah jenis pertama kumite dipraktekkan. Setiap peserta tahu siapa yang menyerang untuk mengharapkan dan kapan. Pada tahap ini tujuannya adalah untuk mengembangkan teknik-teknik yang efektif sementara dalam gerakan dan dalam koordinasi dengan pernapasan.

b.Ippon Kumite (Salah satu langkah Perkelahian)

Satu serangan diikuti oleh satu serangan counter. Teknik diumumkan di masa depan tetapi tidak dihitung. Ini adalah jenis kedua kumite. Pada tahap ini tujuannya adalah untuk mengembangkan efektif waktu, jarak, dan kontra serangan.

c. Jyu-Ippon Kumite (Perkelahian Setengah Bebas)

Semi-bebas dalam Teknik Perkelahian masih diumumkan tetapi penyerang memutuskan kapan harus memulai. Selain itu, para penentang diperbolehkan untuk bergerak. Tujuan pada tahap ini adalah untuk mengembangkan kemampuan untuk menangkap lawan dalam satu bergerak, dan untuk mengenali dan memanfaatkan bukaan.

d. Jiyu Kumite (Perkelahian bebas)

Ini adalah bentuk paling maju Perkelahian. Pada tahap ini lawan tidak mengumumkan teknik dan bebas untuk bergerak. Tujuan adalah untuk mengembangkan kemampuan untuk memimpin lawan, untuk menciptakan bukaan, dan terus berlatih menggunakan teknik yang berbeda-beda.
Kumite tidak hanya mengajarkan kita tentang pembelaan diri. Ini juga mengajarkan kita banyak hal tentang diri kita sendiri. Berlatih Kumite mengajarkan tentang waktu, jarak dan bukaan kehidupan.


Peringkat Sabuk
Peringkat sabuk digunakan untuk menunjukkan tingkat pengalaman seorang Karateka. Dalam sabuk ISKF diberikan dalam urutan sebagai berikut:
• Putih (beginner)
• Kuning (8 Kyu)
• Orange (7 Kyu)
• Hijau (6 Kyu)
• Biru (5 Kyu)
• Biru (4 Kyu)
• Coklat (3 Kyu)
• Coklat (2 Kyu)
• Coklat (1 Kyu)
• Hitam (Dan – 1)
• Hitam (Dan – 2)
• Hitam (Dan – 3)
• Hitam (Dan – 4)
• Hitam (Dan – 5)
• Hitam (Dan – 6)
• Hitam (Dan – 7)
• Hitam (Dan – 8)

Aspek Mental Seni Bela Diri

Yang Penting Dalam Seni Bela Diri adalah Komponen Mental atau Spiritual. Pelatihan di dojo bukan hanya untuk belajar bela diri tetapi juga untuk belajar tentang diri kita sendiri.
Joe Hyam menjelaskan hal ini dalam Zen indah di Seni Bela Diri:

“Sebuah miniatur kosmos dojo adalah tempat kita melakukan kontak dengan diri kita – kita ketakutan, kegelisahan, reaksi, dan kebiasaan. Ini merupakan arena konflik terbatas di mana kita menghadapi seorang lawan yang bukan lawan melainkan mitra terlibat dalam membantu kita memahami diri sendiri lebih lengkap. Ini adalah tempat di mana kita dapat belajar banyak dalam waktu yang singkat tentang siapa kita dan bagaimana kita bereaksi di dunia. Konflik yang terjadi di dalam dojo membantu kita menangani konflik yang terjadi di luar. total konsentrasi dan disiplin yang diperlukan untuk belajar seni bela diri membawa ke kehidupan sehari-hari. Kegiatan di dojo mengajak kita untuk terus mencoba hal-hal baru, sehingga juga merupakan sumber belajar – dalam terminologi Zen, sumber pencerahan diri. “

“Karate-do … tidak punya cita-cita sebagai sempit seperti memenangkan kejuaraan. Manusia kemajuan dalam seni seperti memanjat tangga atau serangkaian langkah-langkah yang curam. Ketika pikiran dan tubuh tumbuh bersama, mahasiswa terus maju dan bergerak ke atas, satu langkah pada satu waktu. Bahkan ketika tubuh menurun, masih ada satu langkah lagi ke depan dalam mencari kesempurnaan karakter. Sampai hari kamu mati, proses ini tak ada akhirnya, karena tidak ada orang yang sempurna, tapi kita semua bisa menjadi sedikit lebih baik jika kita terus berusaha. “
– Masatoshi Nakayama-





referensi:

http://inkaiviladago.wordpress.com/ diakses pada tanggal 18 sepetember 2010

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Karate. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s