K A R M A

Sore ini adalah pertemuan kedua ku dengan adik adik yang berhasil direkrut untuk meneruskan halaqoh (mentoring) nya. Mereka semua angkatan 2009. Sebelumnya, aku sudah meng-informasikan kepada mereka melalui sms beberapa hari sebelum hari H bahwam halaqoh akan diadakan ba’da ashar. Kalau bisa, mereka sholat ashar langsung di Mesjid. Hmm… aku berharap mereka tidak ada yang telat lagi seperti pertemuan sebelumnya yang membuatku harus menunggu lebih dari setengah jam di mesjid.
Padatnya agenda dari pagi sampai siang, cukup membuatku lelah dan akhirnya tertidur setelah sholat Zuhur. Azan Ashar pun berkumandang, tersentak, aku berusaha bangkit dan membuka mata. Setengah sadar, kupandangi jam yang tertera di layar Handphone, masyaAllah ternyata sudah ashar saja. Buru-buru aku segera berwudhu untuk menunaikan sholat Ashar serta segera bersiap siap untuk ke Mesjid, memenuhi janji dan menunaikan amanah. Ya Allah, pasti sudah terlambat nih… Tak seharusnya aku membuat adik adikku menunggu.
Sesampainya di Mesjid, kulirik deretan sendal yang biasanya berantakan di depan pintu. Tak kulihat ada tanda-tanda sepatu wanita atau sendal adik-adik yang hinggap di sana. Wah, tampaknya belum ada yang datang. Aku terduduk sambil bersandar pada salah satu tiang Mesjid. Lagi-lagi adik adikkut terlambat. Ada apa ya? Apakah ada yang salah dengan sistem komunikasi kami? Sejenak dua jenak ku mulai berfikir. Teringat masa-masa Liqo dengan Murobbiyah ku yang sekarang sudah terbang ke Jawa untuk menyelesaikan S2 nya.
Beliau sering menunggu kami di Mesjid ini. Tak tanggung-tanggung, kami pernah membuatnya menunggu hampir berjam-jam, sehingga beliau sempat mampir ke pasar raya sejenak karena kami masih belum datang. Bahkan tak jarang akhirnya penantian beliau terhadap kedatangan kami para mutarabbi sia-sia karena akhirnya kami tidak bisa datang, entah karena mendadak ada kuliah, agenda forum, hujan lebat di kampus, dan banyak alasan-alasan lain yang walau sebenarnya tidak dibuat buat dan cukup syar’i, namun kami terlalu sering membuat beliau menunggu.
Subhanallah… Subhanallah… Sepertinya Allah sedang menunjukkan kepadaku ujian yang sama yang Ia timpakan kepada Murobbiyahku dulu. Inilah rasanya menunggu Ni…! Inilah saatnya kesabaran dan ketabahanmu diuji…! Ibu dulu tidak pernah mengeluh pada kami, dan seharusnya aku pun harus meneladani itu…
Sesaat kemudian, tiba-tiba Handphone ku berdering, ada sms masuk yang isinya,” Kak. Sepertinya banyak teman-teman yang tidak bisa mentoring sore ini. Kalau kita ganti harinya gimana kak?”
Aku menarik nafas lega…
Sungguh indah pengajaran yang disampaikan Allah padaku sore ini. Mungkin ini sebentuk ujian, atau mungkin juga KARMA atas kedzoliman yang kulakukan pada Murobbiyahku dulu… Aku tahu betul bagaimana rasanya tidak bisa memenuhi janji kepada murobbiyahku, dan sekarang Allah tengah membagi perasaan dari pihak sebaliknya untuk kupelajari.
Imam Syahid berkata: Sebagian dari makna jihad dalam Islam wahai saudaraku tercinta, adalah Anda menyisihkan dari sebagian waktu, sebagian harta, sebagian tuntutan pribadimu untuk kebaikan Islam dan putra-putri kaum muslimin.

“Kewajiban ini menuntut adanya jiwa yang dipenuhi keimanan dan hati yang luhur. Berusahalah untuk senantiasa meneguhkan komitmen kalian dan memurnikan hati kalian. Kewajiban ini menuntut –dan akan selalu menuntut- kalian untuk terus berkorban dengan harta dan kesungguhan. Bersiaplah dan singsingkanlah lengan baju kalian. Sesungguhnya apa yang ada pada kalian akan pupus habis, dan apa yang ada pada Allah akan kekal selamanya. Sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum muslimin jiwa dan harta benda mereka, dengan memberikan balasan berupa surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Jelas ini adalah pelajaran berharga! Sesuatu yang akan mendewasakan dan menambah pengalaman berdakwah fardiyah….
Aku tersenyum simpul. Tak ada sedikitpun rasa kecewa ataupun marah. Dengan bibir yang menyunggingkan senyuman, kubalas sms salah satu binaanku itu: “iya, gak pa pa dek, jadi kapan bisanya?”
milkysmile
Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in halaqoh. Bookmark the permalink.

3 Responses to K A R M A

  1. Sivi B.S. says:

    Subhanallah… mengingatkanku pada kebiasaan buruk yang masih merajalela tak bergerak dari jiwa.. hehehe, kadang2 aku juga bikin mbak murabbiyahku menunggu, tapi Alhamdulillah… udah ada temen lain yang menemani…Semangat mbakkk!!!

  2. wah iya nih Sivi, kebiasaan buruk yang harus diubah…
    semoga kita bisa bekerja dengan sebaik mungkin untuk dakwah ini

  3. jessi y says:

    Wahh udah jadi murobbi ya mba. Hehe. Saya kbetulan membaca masalah liqoan yg dirolling #karena saya kena rolling# eh malah keterusan sampe sini bacanya. Hehe. Semangat berdakwah mbak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s