AKHWAT WANNA BE!!!

AKHWAT WANNA BE!!!

AKHWAT WANNA BE!!!

Aisyah memandangi pantulan bayangan dirinya di cermin. Memperbaiki tatanan jilbab lebar yang kini membungkus kepala dan sebagian tubuh atasnya.
“hmmm…. manis juga..hehe” gumam Aisyah.
Setelah berpose dengan berbagai gaya, Aisyah melepas jilbab lebar “jadi-jadian” nya. Tak lama, sembari merapikan jilbab tersebut, Aisyah merenung. Mengenang beberapa saat lalu ketika wajah lugunya menatap heran sekaligus bingung melihat akhwat-akhwat “keren” yang beredar di kampusnya.

Awalnya, sama seperti pandangan orang lain, Aisyah menganggap para muslimah tersebut terlalu “berlebay-an” dalam berpenampilan. Ahh, kenapa tidak? Lihat saja baju yang mereka kenakan, terlalu dalam dan sepertinya kebesaran. Trus, lihat jilbab-jilbab besar yang melambai-lambai itu. Kenapa coba dibikin 2 lapis gitu. Mubazir gak sih? Naah, itu lagi…kaus kaki, kayag anak SD aja… kita kan udah kuliah coy!!!

Itulah sekelumit pemikiran sumbang yang sempat nangkring di otak Aisyah. Aisyah sendiri sudah berjilbab sejak SMP. Tapi menurutnya, berjilbab ya sekedarnya saja. Gak usah dalam-dalam kayag gitu banget.

“fiuf… gak bisa nih, aneh sekali jilbaber2 itu, aku musti nanya” gerutu Aisyah.

Aisyah mulai tanya sana-sini, kenapa begini,kenapa begitu. Hmm… lambat laun ia mulai berpikir positif karena jawaban kakak-kakak senior, teman-teman “si jilbab melambai” yang sempat diinterogasinya, sangat memuaskan. Dan mematahkan semua teori “duniawi” Aisyah karena mereka memakai senjata ” Al-Qur’an” dan “Hadist” yang tak terkalahkan. Sekaligus hipotesa2 cerdas bin rasional yang dilontarkan para akhwat membuat Aisyah semakin terperangah.

[Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (Q.S. Al-Ahzab: 59)]
“Nah Aisyah, jelas sudah kan? yang namanya berjilbab itu tidak lagi memperlihatkan lekuk tubuh makanya dipilih yang longgar dan dalam, paham kan? Atau perlu kak ulangi lagi surat Al-Ahzab tersebut?” jelas seorang senior yang ditanyai Aisyah.

“Oh, cukup kak. Sudah sangat jelas dan tidak terbantahkan..hehe, naah,trus knpa jilbab kakak 2 lapis gitu? gak panas tuh kak? ntar cuciannya makin nambah donk…”

“Simpel saja dek, jilbab kak yang ini kan tipis, trus kalau dipake, khan tetap keliatan rambutnya..terawang..syarat hijab yang lain: tidak tipis dan jarang. Makanya pakai 2…”

“oh…begono…iya ya..kenapa aku lemot ya, gak mikir ke arah itu ..hehe… eh kak, musti pakai kaus kaki ya kak? trus yang di pergelangan tangan itu apa namanya kak?gak gerah kak?”

“hehe,,,hmm…coba kak tanya, yang bukan aurat dari wanita apa aja?”

“wajah dan telapak tangan kak…humm…oh iya…aku tau! berarti kaki juga aurat kan kak? trus pergelangan tangan ini….hmm…. naah, karena lengan baju sering naik2, makanya pake sarung lengan itu ya kak? hahaha… pinter juga aku…” Aisyah menepuk-nepuk jidadnya.

“yup… betul banget… tumben otaknya encer!”

Dari semua penyelidikan yang dilakukannya, Aisyah sangat menyayangkan kenapa dirinya tidak bisa berjilbab secara “kaffah” seperti kata kakak seniornya tersebut.

“Hmm…masak aku mau kalah sih. Gak mau ah,,,, kalau mereka aja sanggup memenuhi perintah berhijab, kenapa aku tidak?” jerit hati Aisyah.

Sedikit demi sedikit, Aisyah mulai menanamkan tekad untuk menjadi seorang akhwat betulan. Bukan akhwat “kebetulan” seperti sekarang.

Misi “Akhwat wanna be” itu tak lantas langsung mengubah tampilan luar Aisyah. Karena pikir punya pikir, Aisyah meragukan kapabilitasnya sebagai wanita islam yang “biasa-biasa” saja. Apalagi menimbang keterkejutan serta kepanikan keluarga besar jika melihat sosok Aisyah yang biasanya berpenampilan rada “tomboy”, jarang pakai rok, suka ngomong ceplas-ceplos dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba menjadi seorang muslimah yang lebay dalam berpenampilan serta sedikit kemayu… Yang paling dikhawatirkan tentu saja tuduhan-tuduhan “ngaco” yang bakal dilemparkan kepadanya.

“Aisyaaaahh!!! kamu masuk-masuk aliran sesat ya? huaduh,,pokoknya mama gak mau tau… kalaw kamu jadi sesat nantinya…bla..bla..bla..ble…ble..” omel Mama lengkap dengan bukti-bukti konkrit cerita anak tetangga yang tiba-tiba gila karena ikut aliran, trus ada yang gak mau ketemu sama orang lain kecuali keluarganya, dan masih banyak contoh2 ngaco yang akan disemburkan mama.

“Ma, brentiin aja tuh si Aisyah dari kampus. Pergaulannya udah gak bener!” terbayang kakak perempuannya ikut2an nge-judge nantinya.

“huuahahaha…kak Aisyah mau jadi muridnya Om Nurdin M.Top ya?? sekalian kak pakai cadar. Buat ngalahin pamor Aisha Ayat-Ayat Cinta…Wkwkwk…” terbayang Radit,adik laki-lakinya yang akan tertawa tanpa rasa berdosa di atas penderitaanya.

Belum lagi ledekan teman-teman se-SMA jika reunian nanti.
“jie…jie…aliim nih yeee”
“wuiiss… si Aisyah gak se-lepel lagi neh ama kite-kite,,, ah jadi segen gue!!”
“eghm…eghm…assalamualaikum bu ustajah…hahaha”

Dan akan banyak ejekan-ejekan “gazebo” yang akan menghujaninya dari teman-teman satu SMA dulu yang punya prinsip “gak ngejek gak keren”.

“Tidaaaaaaakkkk…mental gue belon siaap” Aisyah berteriak dalam hati.
Beberapa lamanya, Aisyah pun menumpahkan uneg2 nya kepada Zaila,,, teman sekelas yang udah hijrah duluan.

“Ai…di setiap niat baik, pasti ada cobaan, godaan yang akan menghalangi kita. Anggap aja itu ujian kenaikan tingkat. Coba hadapi! Jangan dihindari. Pe-de aja lagi. Itu mah usaha syetan untuk membuat kamu ragu. Nah, mungkin untuk tidak membuat syok kluarga kamu, coba aja dalemin jilbab sedikit demi sedikit… mula-mula mungkin cuma sampai segini, trus tmbah lagi jadi segini…nah orang-orang akan mulai terbiasa nantinya liat kamu jilbabnya udah gak ngelilit-lilit leher lagi…” jelas Zaila sambil memperagakan dg tangan…

“Gitu ya za,,,” gumam Aisyah sambil menopang dagu.

“iya…aku juga dulu kayag gitu, kadang keluarga dan lingkungan gak nerima perubahan secara drastis dan mendadak dari anggotanya. Sebelumnya, yah kamu coba dekati mama,,,cerita-cerita dulu…pinter-pinter kamu nge-loby lah”

“oke deh…tapi…za, pemahaman agamaku masih low…imtaq masih jauh di bawah standar, gak sebanding sama dalamnya jilbab nanti” Aisyah mulai cemberut lagi.

“Tapi kamu mau belajar kan??? Ai, satu hal…. dalamnya jilbab seorang muslimah, bukan indikator mutlak derajat ketaqwaannya di sisi Allah. Belum tentu aku yang jilbabnya segini lebih mulia daripada kamu yang jilbabnya segitu! Yang penting, lakukanlah semuanya sesuai dengan orientasi ketaqwaan kita!” jelas Zaila panjang lebar.

“Owhh.. gitu ya…Hmmm keraguan masih sedikit membayangi neh za… Khan banyak orang bilang tuh, mau menjilbab-kan hatinya dulu…ntar aku berjilbab tapi hatinya masih kotor lagi… hikss..”

“Oh Tuhan, Aisyah…kamu mau ikut-ikutan mereka? Sampai kapan kamu mau nunggu Ai? Emang kamu yakin esok hari Allah masih jatah umur buat kamu??? Ayok.. sekarang kuat kan lagi azzammu! Ketika nanti kamu telah benar-benar berjilbab secara syar’i, inshaAllah hatimu akan tertata secara alami jika kamu sendiri emang berjilbab secara ikhlas!!”

Mendapat pencerahan dari sahabatnya, Aisyah mulai melancarkan agresi ” Akhwat wanna be” nya dengan mulai berhijab secara benar. Mengikuti tarbiyah-tarbiyah islamiyah, membaca buku, dan serangkaian aktifitas bermanfaat guna memperkokoh keistiqomahannya.

Kekagetan-kekagetan keluarga mulai dicairkan Aisyah dengan memberi penjelasan bahwa yang dilakukannya bukan tuntutan organisasi, aliran, atau apalah namanya, tapi hanya sebagai bukti kepatuhan kepada perintah Allah. Yah, awalnya banyak pertentangan dari keluarga, namun Aisyah berusaha membuktikan bahwa ia akan bersikap wajar sesuai tuntunan yang syar’i dan gak akan macem2.

“Soal ejekan, cemoohan, ledekan…it’s okey…. belum tentu yang ngejeg lebih baik dari yang diejek…hehe” bisik Aisyah dalam hati.

Hari demi hari dijalani Aisyah dengan terus berusaha memperbaiki diri.

Karena… kalau bukan kita yang mulai memperbaiki diri sendiri, siapa lagi? kalau tidak sekarang, kapan lagi? Yakin hari esok masih bersinar untukmu???

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu KETETAPAN, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

NB: Special for all of My ukhty:

Islam tidak menjadikan wanita sebagai dagangan murah yang bisa dinikmati setiap pandangan mata. Sungguh perhatian islam terhadap wanita muslimah sangat besar agar mereka dapat menjaga kesuciannya, serta supaya menjadi wanita yang mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi. Dan syarat-syarat yang diwajibkan pada pakaian dan perhiasannya tidak lain adalah untuk mencegah kerusakan yang timbul akibat tabarruj (berhias diri). Inipun bukan untuk mengekang kebebasannya akan tetapi sebagai pelindung baginya agar tidak tergelincir pada lumpur kehinaan atau menjadi sorotan mata.


Selasa, 13/10/09

CahayaMata

milkysmile
Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CERPEN^^. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s