Pecinta Hujan

November Rain…

Ini judul yang tepat untuk bulan November 2010 kali ini. Bayangkan sejak akhir Oktober sampai awal November ini, hujan tak henti-hentinya mengguyur kota Padang. Dalam sehari ada 5-6 kali siklus hujan turun, selang seling tak menentu. Mendung senantiasa bergelayutan membuat langit kota muram bak dirundung duka. Dan memang ini sepertinya pencitraan keadaan Sumbar hari ini. Satu kata : DUKA!!

Hujan yang turun di kota Padang kali ini cukup menjadi yang terpanjang dalam sejarah kehidupannku selama tinggal di kota Padang (rasanya seumur hidupku pun begitu). Mungkin warga asli Padang pun merasakan hal yang sama. Hujan kali ini benar benar full beberapa hari ini. Hujan berkesinambungan, berhenti sebentar, beberapa saat kemudian turun lagi, berhenti lagi, satu jam berikutnya mulai gerimis lagi. Matahari seolah olah bersembunyi malu dan tak kuasa menahan awan-awan hitam yang mencoba menghalanginya.

Bayak orang yang tidak menyukai hujan. Dan banyak pula yang mencintai turunnya hujan. Mungkin aku termasuk ke dalam segelintir orang yang menyukai hujan. Beberapa orang temanku pun seperti itu. Mereka bahagia jika hujan turun. Berteriak kesenangan. Beda dengan orang orang kebanyakan. Yang merasa hujan menghalangi aktifitas mereka.

Entah kenapa aku menyukai hujan. Terlepas dari konsep hujan sebagai berkah dan rahmat dari Allah SWT dan hujan yang kadang mengganggu aktivitas ke luar kita, namun hujan memberikan kesan tersendiri pada diriku. Di kala hujan turun, ada kehangatan tersendiri yang muncul, kehangatan seperti ketika aku berada di samping ibuku. Ya, dulu ketika kecil, hujan turun adalah moment kami berkumpul sekeluarga, menikmati penganan hangat yang disediakan bunda atau kakakku


Ketika hujan turun, ada degup di hatiku yang memerintahkan otakku untuk mengingat sesuatu. Sesuatu yang kemudian beranjak menjadi moment memuhasabah diri. Hujan memberikan suasana yang mendukung untukku dapat sejenak berhenti merenung dan memikirkan hal-hal yang sering terlupakan. Memikirkan amalan, memikirkan dosa, cita-cita dan masa depan, janji-janji yang terlupakan, amanah yang terabaikan, dan tentang KEMATIAN. Apalagi jika itu semua dilakukan sambil mendengarkan alunan nada dari Kitaro dan nasyid-nasyid penyentuh qolbu. Subhanallah, itu adalah moment yang membuatku merasa dekat dengan Tuhanku.

Dulu, ketika kecil, aku dan teman-temanku suka duduk memperhatikan hujan turun. Menghitung tetes demi tetes air yang turun dari genteng sekolah. Ketika itu kamipun sibuk bercerita dengan khayalan-khayalan kami yang sambung menyambung yang semuanya berawal dari cerita tentang hujan. Aku bercerita pada teman kecilku, tentang khayalanku bahwa hujan ini tak akan ada hentinya. Ia akan turun sepanjang hari dan akan menyebabkan sekolah kebanjiran. Dan aku ingin menjadi penyelamat orang orang yang hampir tenggelam. Dan temanku itupun mulai mengoceh tentang khayalannya. Katanya ia akan membantuku untuk menyelamatkan orang-orang. Kami berdua akan dilengkapi dengan sampan yang hebat, pertama-tama kami akan menyelamatkan kedua orang tua dan saudara-saudara kami. Kemudian para guru dan teman. Tapi ada beberapa teman yang tidak akan kami selamatkan karena dia nakal. Ya, aku ingin sekali menjadi penyelamat, membantu orang-orang. Ah… Hujan telah membantuku menemukan salah satu cita-citaku.

Ketika kecil, aku juga sangat suka bermain di tengah hujan yang turun mengguyur bumi. Berlarian sepanjang jalan, berseluncur di derasnya aliran air yang merambat dari tempat yang tinggi. Berteriak-teriak sepuasnya, tertawa bersama teman. Walau kutahu itu akan menimbulkan kemarahan dari orang tua kami.

Indahnya… Hujan memberikanku kesempatan padaku untuk bermain dengan khayalanku. Berimajinasi tanpa batas. Tahukan teman? Kebanyakan tulisanku lebih cepat selesainya jika sedang dibuat kala hujan turun.

Hujan membuatku sejenak berhenti melaksanakan aktifitas keduniaan. Mempasifkan gerak kaki untuk melakukan mobilisasi. Seolah-olah ingin menyampaikan pesan Tuhan agar manusia sejenak melepas kepenatan dalam sejuknya hujan.

Memang hujan tak selamanya menyenangkan. Adakalanya hujan membuat orang-orang megutuki anugrah Allah yang satu itu. Ada yang menganggapnya sebagai bencana dan musibah. Ada yang menjadikan hujan sebagai kambing hitam atas beberapa kehancuran yang terjadi di bumi. Namun, yang kutahu, hujan diturunkan sebagai rahmat bagi penghuni bumi. Jika toh terjadi bencana, maka sesungguhnya itu disebabkan ulah tangan manusia itu sendiri yang sering membuat kehanduran di muka bumi.

“Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. AL HAJJ:63)

Ya….

Hujan itu menyejukkan…

Hujan itu menyegarkan…

Hujan itu membersihkan…

Hujan itu menghangatkan…

I love the rain…

Padang, Kala hujan turun, 3 November 2010

milkysmile
Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

4 Responses to Pecinta Hujan

  1. rangtalu says:

    selama hujannya masih air, alhamdulillah..
    tapi kalau sudah hujan debu vulkanik atau hujan batu.. mesti ada istigfar terselip dalam syukur..

  2. apalagi jika itu hujan kodok, hujan darah, atau hujan “es”…

    selipkan juga ucapan subhanAllah, masyaAllah, Lailahailallah.. 🙂

  3. kalau Padang hujan air, Jogja hujan air campur abu….

    tapi bagaimanapun juga, hujan tetaplah rahmat Allah

    salam, mbak aini…
    an lama tak berkunjung ke sini

    • cahayamata says:

      semoga warga hujan diberikan ketabhan ya mbak..
      tetap semangat ya mbak! jaga kesehatannya juga. insyaAllah badai akan berlalu dan kita dilantik sebagai hamba hamba Allah yang menang atas ujian kesabaran.

      iya nih, lama tak berkunjung ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s