**Menggenggam Hidayah**


Ada yang bangga, karena terbiasa menggenggam bara, berkawan percikan, mereka adalah para penggembala api.Pahit getir, hiruk pikuk, kerasnya episode kehidupan telah memahatkan gurat ketangguhan dari simetri kecakapan pada wajah wajah tabah mereka..

Yang lain berhasil tenang dengan seringnya menggenggam salju. Sepi dan kekurangan yang selalu menyelimutinya tak ubah seperti nyanyian angin lalu saja. Dan mereka selalu dapat menciptakan senyum dari setiap dingin yang menelusuk jiwa mereka. Lalu kehangatan kembali menjalari binar binar matanya.

Yang Satu lagi, ia begitu sibuk bergumul , berjibaku, bersimbah keringat, terdera dimana mana, berjuang mempertahankan apa yang sudah ada di genggamannya. Tak sulit bagi Sang Maha Pemilik untuk menebarkan apa yang sedang ia genggam erat kini. Tapi, tetap saja berkali kali benda berhaga ini lepas dan lepas lagi.

Hidayah, terlalu sering ia melepaskannya, terlalu sering ia mengabaikannya. Juga terlalu sering ia bertekad menggenggamnya erat.Sebelum lalu lepas lagi..

Ia lebih panas dari api, ia membekukan lebih dingin dari es, tapi tak jarang, ia begitu hangat, begitu lembut..

Menggenggam hidayah, baginya..

Adalah tentang seberapa lama ia bertahan disana, mendegup kisah kehambaannya, berpayung pada munajat, dan menggelorakan semangat memperbaiki diri. Juga, memaniskan riak wajah ukhuwahnya.

Ahh..

Sungguh ia tak ingin, mengikuti kisah fluktuasi sang iman, dan memaklumkan kemalasan, kelemahannya. Meski inilah yang lebih sering terjadi disana.

Sebelum..

Tumpah lagi air mata buaya itu, deklarasi taubat berkumandang menggegap gempita seluruh ruang jiwanya.

Itulah saat ia genggam lagi hidayahnya.

Ini bukan tentang seberapa ingin Sang Maha Raja, menyadarkannya

Tidak! Allah Azza wa zalla adalah Sang Maha pemurah. Hidayah yang ia tebarkan , berserakan dimana mana. Hanya saja, Adakah satu dua lembar dapat memikat para manusia!?

Maka, ia mulai mengusap usap lagi lentera jiwanya, membersihkan hatinya, biar tajam lagi ia mengindera setiap peluang hidayah. Melatih otot otot hatinya, untuk menggenggam erat setiap hidayah yang telah ia perangkap disana..

Wahai sang maha pemurah,

Tujuh belas kali sehari setidaknya, kami mohonkan engkau turunkan hidayah, petunjuk pada kami..

Rabirgfirli wahdini.. wahdini.. wahdini..

Bersama dengan itu wahai Al Huda..

Anugerahkan juga kepada kami kemampuan memegang erat petunjuk ini

Jangan biarkan kami melepasnya, dan terjerumus pada lembah kesesatan..


*menjaga dan mempertahankan itu ternyata sungguh sulit ya Rabb….

Izinkan aku menggenggam kekuatan untuk menjaga dan mempertahankan cahaya ini….di hatiku….dan di hati mereka…..

#special note: for all of my beloved ukhty, para muharrik dakwah Nic….

SATU HAL: Aku hanya takut jika ada di antara kita yang “pergi”

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CAhaya Hikmah.., Copasus. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s