Sebuah Catatan “Karena hari ini tanggal 10 November”

Sebuah Catatan “Karena hari ini tanggal 10 November”


Hari ini tanggal 10 November 2010. Dan tidak ada kejadian istimewa apapun yang kualami. Yang kutahu hari ini bangsa Indonesia merayakannya sebagai hari Pahlawan. Namun tak ada ada perbedaan berarti yang kurasakan pada aktifitas ku pada hari ini.

Aku tidak tahu, hari ini tanggal merah atau bukan. Rasanya bukan tanggal merah, karena adik kelasku masih ada yang melaksanakan UTS-nya pada hari ini. Sedangkan aku sendiri masih ada dua mata kuliah tersisa yang belum diujiannkan. Tapi itu akan dilaksanakan pada hari Jum’at dan Senin depan.

Jadilah pada hari ini kuhabiskan di wisma bersama kakak-kakak penghuni wisma yang lain. Melaksanakan rutinitas harian yang sempat terbengkalai dan kuabaikan karena kesibukan aktivitas luar rumah dan ujian. Mulai dari beberes kamar, ngerapiin barang-barang, ngerapiin isi lemari, puncaknya adalah nyetrika setumpuk pakaian (rasanya tak penting juga ini kuceritakan..heh).

Ada hal lain yang sempat kulakukan bersama aktifitas rumahanku kali ini. Yaitu mendengarkan radio. Yah, as you know… Sejak pindah ke wisma, aku sudah jarang (boleh dikatakan tidak pernah lagi) menonton Televisi. Tak ada TV di sini. Dan aku menyadari betul akan ketidak-up-date-an diriku terhadap informasi-informasi yang beredaran di luar sana (sampai-sampai berita Feni Rose dan kehebohannya saat inipun aku tak tahu).

Palingan yang sempat kukonsumsi adalah berita berita terTOP yang simpang siur di halaman Facebookku. Hasil share teman teman yang aktif mengupload berita dari beberapa situs berita di internet. Mulai dari berita “gak jelas”, gosip nyeleneh, fitnah ter-aktual (jenis fitnah baru nih!), sampai informasi-informasi yang kuserap dari acara “ngegosip bebas” beberapa aktivis melalui komentar status, balas-balasan komen, link, dsb.

Dan tentu saja, untuk beberapa berita dan informasi yang kudapatkan di facebook, sungguh masih kuragukan keshahih-an nya. Dan untuk itulah, aku (yang nota bene udah lama gak buka-buka siaran radio) mencoba kembali mendapatkan input-input berita yang bisa dipercaya seperti siaran berita nasional dan lokal dari RRI (Wah…jadul nya saia! Berasa balik ke zaman tahun 80-an). Yeah… sekurang-kurangnya itu cukup membantu. LoL

Nah karena kebetulan hari ini adalah hari Pahlawan dan juga kebetulan si Presiden Amrik jaulah ke Indonesia, bisa di tebak semua berita dan informasi masih terkait dengan dua topik hangat tersebut.Begitu juga halnya dengan ap-date-an status teman-teman di FB.

Ah, bukan itu yang ingin ku bahas sebenarnya (-_-)’.

Tiba-tiba secara sengaja, aku mendapatkan satu chanel radio yang memutar lagu lagu wajib nasional. Tentu ini sangat “terduga” dan menyenangkan. Secara, sudah lama sekali aku tak mendengarkan lagu-lagu yang dulu ketika zaman zaman masih menjadi kanak-kanak sering kunyanyikan bersama teman teman di sekolah. Yah, itulah backsound dan soundtrack perjalanan kehidupan kami di sekolah dasar dulu. Di samping ada lagu anak-anak populer lainnya yang juga mengisi hari hari kami yang penuh riang gembira (seolah olah masa kecil ceria banget). Hm… anak-anak sekarang pemikirannya udah canggih. Saking canggihnya, lagu lagu yang mereka hapal adalah lagu lagunya orang dewasa. Yang penuh dengan kalimat-kalimat percintaan (yang membuatku hampir vomitus) dan kadang dengan kalimat nyeleneh yang “tak sepatut”nya di ucapkan anak kecil.

Sambil nyetrika pakaian dan sambil ngedengerin radio lewat headset, aku mulai berpikir. Kenapa lagu lagu seperti ini hanya di gadang-gadangkan ketika hari hari tertentu, seperti hari pahlawan ini contohnya, hari kemerdekaan, dan hari apa lagi ya???

Dan itupun tidak semua media elektronik yang memutarnya. Bahkan setahuku, di TV amat sangat jarang diputar (kecuali pas Upacara Pengibaran Bendera yang disiarkan secara live dan menurut protokolernya ada sesi menyanyikan lagu wajib Nasional di samping lagu Kebangsaan Indonesia Raya).

Sungguh syahdu mendengarkan lagu lagu ini. Lirik-liriknya menambah semangat patriotisme. Sekurang-kurangnya “ketika itu” aku merasakan bahwa ternyata AKU BENAR BENAR BANGSA INDONESIA.

Demi mendengarkan lagu-lagu itu, *masih sambil nyetrika*, tiba-tiba terlintas di otakku sebenarnya bagimana sih cara kita menghargai bangsa sendiri? Bagaimana caranya kita menghargai jasa para pahlawan?

Dulu ketika SD, jaman-jamannya kita belajar PPKn, ketika di ujian materi cinta tanah air dan ada pertanyaan: “Bagaimanakah caranya kita menghargai jasa para pahlawan?”. Dan aku dengan sigapnya akan menulis begini: Mengenang arwahnya, mendo’akannya, belajar sungguh-sungguh untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan membangun bangsa Indonesia (*wah, nasionalisme sekali jiwaku ketika kecil,,,hah).

Namun sekarang tiba-tiba aku merasa ragu. Benarkah dengan jawaban tersebut cukup untuk memediasi rasa penghormatan dan penghargaan kita terhadap jasa para pahlawan? Hm.. aku ragu teman.

Engkau pasti pernah mendengar kalau bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya? Dan aku yakin, saat ini bangsa kita masih belum bisa menghargai jasa para pahlawan. Mungkin jawaban “skpetis” ini tidak bisa kita generalisir untuk semua orang. Tapi mungkin kita cukup mengambil kesimpulan ini sebagai representasi terhadap beberapa kasus dan kejadian yang sepertinya sudah menjadi sebentuk “tradisi amburadul” di Indonesia.

Ok, Kita ambil contoh simpelnya saja, tentang berapa banyak veteran, dan para pelaku sejarah yang hidup dengan kekurangan, yang tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk hari tuanya. Sedangkan mereka sudah berkorban banyak untuk membantu memerdekakan republik ini.

Fakta Kedua: Begitu banyaknya tempat-tempat bersejarah, peninggalan-peninggalan sejarah yang tidak terurus di Indonesia. Coba lihat bekas bekas bangunan tempat terjadinya peristiwa penting di Indonesia, banyak yang terbengkalai dan tidak terurus. Dindingnya banyak yang retak dan dipenuhi lumutan. Museum-museum tak terurus yang menyebabkan rakyat pun enggan mendatanginya.

Belum lagi masalah krisis moral di kalangan pejabat dan pemerintah yang makin membuat bobrok bangsa yang hampir 3,5 abad terjajah dan dengan penuh perjuangan keras dibebaskan oleh mereka “yang kemudian kita panggil pahlawan”. Tapi dengan semena-mena pemerintah menjelma menjadi “Penjajah edisi revisi” dengan cara yang lebih “modern” dan “terpelajar” (menurut mereka)

Yah, sudahlah… tak ada gunanya mengutuk ketidaksempurnaan.

Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa BERUBAAHHHHH!!!!

Yah… that’s the key!

milkysmile
Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini, kisah klasik untuk masa depan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s