Cuap-Cuap Gak Jelas *Bahasa per-ikhwahan*

Hai hai hai….

Ane hadir lagi nih (*jiahhh… bahasanya udah pake “ane” nih sekarang…ciyyeehh…)

Hah, just for make my self be usual with “ikhwah’s language” boleh lah di try skali-skali…

Tapi kalau makai bahasa “ane” malah jadi inget dengan forum Kaskus =ane+agan= gan! (nah kan….langsung praktek)

Tak pa lah, harap dimaklumin aja yah sobat pembaca blog setia.

Si Nur’aini itu orangnya memang rada-rada mood-mood-an. Tipe dewasa muda yang masih suka gonta ganti kepribadian (nah lo!). Hehe, memang agak kurang konsistent. Liat aja dari design dan layout blog. Sering gonta ganti tak karuan. Sampai-sampai yang datang berkunjung juga pada puyeng, nih blog kok gonta ganti baju mulu yak? (ngegosipin diri sendiri).

Well.. sekarang si empunya blog pengen juga nyoba make bahasa gaol nya aktipis {ana-red}

tapi nanti di perjalanan akan ada sedikit perubahan tergantung enak atau kagaknya yak! (fiuf… apa-apaan ini!)…


Dari dulu sebenarnya ane biasa menyebut diri sendiri dengan “Ni”, ujung nama dari “nur’aiNI”. Tapi pas udah merambah dunia aktifis yang memakai bahasa gaol :ane-antum-ukhti-akhi, ane jadi bingung karna gak terbiasa mengubah panggilan ke diri sendiri pake ana, walau dalam rapatpun (+_+)…. Curhat ke senior, katanya musti pake. Apalagi jika ada urusan per-sms-an, per-temu-an, per-syuro-an, de es be dengan yang ada ikhwannya. Wahh… ane kan gak biasa gan…

Butuh usaha ekstra untuk mengingatkan diri agar menempatkan sapaan dengan tepat….(-_-)’


Apa semua aktivis mesti gitu yah (*itu pertanyaan terpolos jaman-jaman jadi ABG *aktivis baru ghiroh*). Tapi ketika ane curhat ke MR, kata beliau gak apa tak pakai, mana yang nyaman aja. Tetapi alangkah baiknya kita membiasakan memakai bahasa Arab. Huaa… karena ane gak nyaman pakai “ana” (*kecuali dalam keadaan2 tertentu yang menuntut HARUS pakai “ana”) walhasil balik lagi ke kebiasaan memakai kata ganti orang pertama jadi :Ni: :Aku: :Saya:

Kalau dicoba-coba, kan gak mungkin juga Ni (*nah kan gak konsisten banget! Ck ck ck) nyapa desi dengan “eh, antum mo kemana si??” atau manggil mbak Rin dengan sapaan,”Eh ada ukhti mbak Rin…”. Yang ada tuh anak bakal ngakak guling guling. sambil natap penuh curiga,”Nih si uni kesambet dimana ya?”
Malahan kami sering memanggil yang lain dengan sapaan “bro”, “cuy” *itu di awal awal keakraban dulu*. Tapi sekarang sudah punya nama panggilan masing-masing. Yah, seperti itulah… Ini hanya masalah bagaimana mengubah kebiasaan.

Karena ada orang orang yang tidka ingin mem-spesifik-an diri mereka menjadi sesuatu yang berbeda dengan yang lain atau mungkin karena sapaan “ala altivis” tersebut masih terdengar berat disandang di telinga sebagian orang.

Aku jadi teringat dengan peristiwa kira kira setahun lalu. Ketika itu aku harus memberikan pengumuman kepada angkatan 2009 tentang masalah per-magangan-BBMK-red.

Jadi secara SENGAJA aku menggunakan kata-kata “ikhwan” “akhwat” untuk adik adik laki laki dan perempuan. (yap, angkatan 09 PSIK udah ada yang laki-laki nya). Tapi tiba-tiba yang laki laki protes “cowok kak” (maksudnya bukan ikhwan). Kuulangi lagi.. “Jadi, adik adik kak yang ikhwan….” Belum selesai aku berkata-kata, mereka langsung nyahut koor-an. “cowokkk kaakkk”seraya ketawa kecil. Walhasil, terhabiskan juga waktu lebih kurang 10 menit untuk menceramahi mereka kalau ikwan itu adalah bahasa Arab bla bla bla….

Sketsa yang kutangkap, mereka belum siap dan meresa “kurang pas” jika dipanggil ikhwan.Secara makna bahasa, memang tidak ada perbedaan antara laki-laki-perempuan dengan ikhwan-akhwat. Tapi kita di Indonesia yang memberikan paradigma berbeda. Kalau ikhwan dan akhwat hanya boleh disandang oleh mereka para aktivis Forum Studi Islam, LDK, LDS (lembaga dakwah sekolah).

Secara tidak langsung, sapaan (Ikhwan-akhwat-ana-antum-akhy-ukhty-dll) ini pun meng-eksklusive hanya dipakai oleh kalangan ikhwah. Padahal menurut ana (balik lagi pakai ana) tidak seperti itu. Pertanyaan: kalau bahasa Arab nya wanita kan akhawat yak. Nah, kalau bahawa arabnya cewek apa??? Apakah ada pembedaan pemanggilan antara wanita aktivis dan wanita yang bukan aktivis di arab sana? Hmm… rasanya tidak.Berarti kita bisa saja menggunakan panggilan ini untuk teman-teman non aktivis… Kadang bersikap inklusive dan tidak membeda-beda kan merupakan jembatan yang bagus untuk menjalin komunikasi dengan mad’u.

Yap, memang sapaan itu lebih menunjukan identitas keislaman dan ke-aktifis-an seseorang. Kalau ada yang malu memakai kata-kata itu, berarti ia malu dengan jati diri nya sendiri. Nah, pertanyaannya buat apa maluuu???

Tapi kalau Memang TIDAK TERBIASA gimana? Sama halnya ketika kita sudah terbiasa memanggil Ibu dengan sapaan “Mama”, ketika harus diiganti jadi “Mami” kan ada semacam fase “ketidaknyamanan” dan “ketidak enakk-an” nya. (*hah..jadi bingung saya*)

Ketika di dunia maya, aku pun juga banyak melihat para aktivis dakwah pada make sapaan ikhwah mereka di fesbuk. Oh iya, sedikit berbagi cerita juga, aku suka sekali nyari teman aktivis di dunia maya *Walaupun saya SAMA SEKALI tidak MENGENAL orang orang tersebut* Cuma naluri untuk berukhuwah dengan rekan-rekan sesama aktivis (dimanapun mereka berada) baik ihkwan maupun akhwat, laki-laki atau perempun, tua ataupun muda, dari padang sampai jalur Gaza, jika sekiranya mereka bisa memberikan reinforcement positif, inspirasi, semangat, and stuff like that bagi saya walau Cuma melalui status mereka di dunia maya, notes notes mereka, tanpa ragu insyaAllah saya akan nge add duluan. Hah, kebiasaan aneh…

Okeh balik lagi, jadi… setelah dilihat-lihat… banyak teman-teman aktivis yang istiqomah memakai sapaan ntum, khy, ukh, an, na, *langsung tasuruik*
. Dan memang ada juga rekan rekan lain di belahan dunia lain yang memakai lo-gue… Sepertinya ad afaktor kebiasaan dan kondisi juga yang mempengaruhi. Hmm… mungkin butuh proses untuk mengubahnya.

Well well… sepertinya catatan kali ini sudah ngelantur kemana-mana. Sebelum akhirnya menjadi tidak bermanfaat dan Cuma menjadi “sampah”, ane akhiri aja yak….

Salah dan janggal mohon diafwankan sejiddan-jiddannya…

wassalam

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in catatan buruk, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

3 Responses to Cuap-Cuap Gak Jelas *Bahasa per-ikhwahan*

  1. Sivi B.S. says:

    lucu bgt ni postingan.. hehe…
    pass banget dah sama aku yang rada gajelas pake bahasa ikhwah,, 😀
    kadang2 make kadang nggak, BLM TERBIASA ajaa.. (nyari pembelaan nih), hbs itu yg diomongin mbak di atas..
    LUCU DAH pokonya… ^^

  2. Kalau saia sih setuju dengan bagaimana nyamannya kita,, di Al Baqoroh (klo ga salah) kan udah dibilang bahwa setiap umat memiliki tempat minumnya masing2, setiap kita punya ciri dan level nyaman masing2.. I love to call my self FENI, for example, so I will say FENI when I talk to other people, except klo emang itu tidak dimungkinkan, misalnya dalam bahasa Inggris… “Ni, Feni nio ka kampus”.. ndak mungkin lantas I say, “Ni, Feni wants to go to campus”. Hahahaha… seem weird, doesn’t it?

    *Mohon maaf atas komentar geje nya, afwan se afwan afwan-nya ya ukhti ^_*

  3. @Sivi: iya dek… hehehe,,,kakak emang belum terbiasa…

    @Feni: Kali ini sepakat banget dehh Fen. Yeah, I just try to be my self…whehehehe….
    syukroon jiddan sejidan jidannya fen…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s