IDUL ADHA VS KULIAH

Sedikit protes

Aku mau protes sobat. Ya protes tes tes !!!

Walau kutahu protes ku ini tidak akan ada manfaatnya. Tapi begitulah… aku hanya sedikit kecewa dengan sistem yang ada di kampusku.

Hal yang dilakukan pihak kampusku tercinta * yang sungguh membuat kecewa dan terkesan sekuler* adalah keputusan perkuliahan hanya diliburkan sesuai dengan tanggal merah idul adha yang ada di kalender. Padahal ketika itu sudah jelas ada perbedaan pelaksanaan sholat id. Ada yang melaksanakan pada hari selasa, ada yang hari Rabu. Dan pihak kampusku dengan amat sangat bijaksana hanya memberikan kesempatan liburan untuk mahasiswanya HANYA pada hari Rabu.

Nyambung dari postingan sebelumnya, hari Senin rencananya hanya ada jadwal kuliah Riset (dan kami sudah mempersiapkan tugas makalah sebelumnya). InsyaAllah dengan penuh kebulatan tekad aku ingin segera melarikan diri ke kampung halaman setelah perkuliahan selesai. NAMUN sebuah jarkom yang amat sangat mengerikan datang menggoda HP ku dalam bentuk sms yang mengatakan bahwa ada kuliah Fisiologi 1 pada hari Senin ini jam 1.30, dan faal 2 pada hari Selasa pukul 1.30 juga. Oh my God…

Yang membuat semangatku patah adalah jadwal kuliah Fasiologi 2 (karena aku tidak akan mengambil Faal 1 “lagi”). Bagaimana ini. Mengundur kepulangan sehari demi kuliah??

Ok… kukuatkan lagi hatiku yang sudah luruh ini. Apa mau dikata. Ini adalah kuliah yang penting. Perdana… Kuingat ingat lagi cita-citaku sehingga tekad ku yang sudah bulat 360 derjat untuk pulang kampung hari itu menciut membentuk sudut lancip kurang dari 15 derajat. Terpaksa aku melewatkan kesempatan sholat id di rumah.Karena keluargaku merayakan idul adha pada hari Selasa.

Karena banyak yang ngambil faal 1, walhasil kuliah riset hari itu ditiadakan (*padahal tugas sudah mati matian dibuat). Akhirnya aku wasting time dengan jalan-jalan “sendiri” ke Gramedia. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca berbagai buku sampai akhirnya fibula dan tibia-ku merasa kan kelelahan karena penumpukan asam laktat.

Keesokan harinya….

SELASA… Dengan penuh keharuan dan kesedihan karena ini adalah sholat id pertamaku di negeri orang… tak ada keluarga, Tanpa kue, makanan, minuman khas lebaran, sungguh menyedihkan ternyata mendengarkan alunan takbir di negeri orang.

Setengah dua… Cepatlah berlalu… I wanna go Home…

Akhirnya jam itu datang juga. Dengan penuh semangat aku segera menuju kampus FK di Jati. Sungguh besar rasa takjubku pada kampus ini. Di saat sebagian besar umat muslim merayakan idul adha, masih saja menjadwalkan kuliah.

Dan yang paling membuat kecewa berat adalah: kenyataan sang dosen sedang sakit, dan perkuliahan dibatalkan (tanpa mengabari kami jauh sebelumnya) *nangis darah*

Ok… aku pulang…

Selama menunggu kedatangan bus, aku menelfon dosen mata kuliah yang akan ngajar hari kamis. Apakah beliau bisa dilobi untuk mentiadakan perkuliahan pada hari kamis? Dan o o o….TERNYATA KAMI TETAP KULIAH PADA HARI KAMIS SODARA-SODARA…

Dengan penuh kehati-hatian aku kembali mencoba melobi dan memberikan beberapa pertimbangan pada beliau. Komunikasi kami (aku dan sang dosen) berlangsung sampai keesokan harinya ketika aku sudah menginjakan kaki di rumah tercinta. Dari lobi lobi yang kulakukan (demi menyelamatkan nasib teman teman yang sudah pulang kampung) justru memperparah kondisi. Sang dosen minta kuliah hari kamis dipadatkan dengan rasional kelas masih banyak yang kosong dan tidak ada kuliah.

Hadduuhh…. Sebagai sipen, jadilah aku merasa orang yang paling bertanggung jawab atas kasus ini. Sang dosen penanggungjawab mata kuliah menginginkan kami kuliah 3 sift (pagi, siang, dan sore) di hari Kamis itu. Dan dua dari tiga dosen masing masing telah mem-PR-kan sebuah kasus untuk dibahas dalam bentuk makalah. INI TIDAK MUNGKIN… teman teman pasti akan ngamuk ngamuk padaku. Dan jujur, aku juga tak mungkin rasanya balik ke padang Rabu sore. Lah wong nyampenya aja Selasa malam.

Dan lebih dari setengah hari di hari Rabu yang kulakukan di rumah hanyalah mondar mandir seperti setrikaan mengatur jadwal kuliah agar tidak memperburuk kondisi. Nelfon dosen A, ngelobi dosen B, memastikan jadwal dosen C, sambil nge-cek kuliah lain agar tidak bentrok. Ya Allah… Tak terasa lagi nuansa ber-hari Raya untukku. Sementara keluargaku sibuk dengan daging qurban, membagi-bagikan daging, mengolah masakan. Dan aku?? Bolak balik dapur, kamar, ruang TV, dan ruang makan sambil memegang 3 buah HP sekaligus (minjam Handphone Papa untuk nelfon dosen ). Hari itu benar-benar penuh ketegangan.

Sampai akhirnya aku menyerah karena sang dosen sudah naik pitam dan marah. Ah… sungguh disayangkan, akhirnya aku harus luluh mendengar ancaman tidak diperbolehkan preklinik jika perkuliahan tidak segera diselesaikan karena minggu depan kami sudah harus ke klinik jadi semua mata kuliah HARUS DITUNTASKAN hari Kamis itu.

Baiklah, dengan berat hati, akhirnya aku mengirim jarkom “tersadis abad ini” tentang ancaman tidak boleh preklinik bagi mahasiswa yang tidak datang di perkuliahan hari Kamis. Redaksi yang kubuat sepertinya sangat mengerikan (itu sengaja kulakukan agar teman-teman bersegera kembali ke Padang). Kami Cuma 29 orang, 75 persen adalah perantauan. Jika 75% itu pada memutuskan tidak balik ke Padang, berapa umat yang akan masuk hari kamis itu??? Yang di Padang bakal kewalahan menyelesaikan makalahnya sendirian.

Atas jarkom yang kejam itu, banyak protes, pekikan stress, dan kepanikan muncul di antara teman-teman. Itu kuketahui dari up date-an status FB (pelajaran pertama hari ini: Anda bisa mengetahui keadaan seseorang dari up-date-an statusnya!!), ada yang nge-sms mengkonfirmasi berita jelek tersebut, ada yang langsung nelfon, macam-macam. Ah, teman… seandainya kalian juga mengetahui tekanan bathin yang kurasakan karena mendengar redaksi kata-kata itu langsung dari dosen kita.

Ya mereka sama kondisinya dengan ku. Baru nyampe semalam kemaren di rumah. Mana makalahnya belum fix lagi. Maka wajar mereka seperti itu.

Alhamdulilah kesepakatan (*yang menurutku ini lebih baik) tercipta antara aku dengan dosen. Kamis BESOK (bukan minggu depan) kami akan kuliah 2 shift saja. Siang dan sore. Dosen yang akan masuk juga sudah ditentukan (dosen A dan B). Lumayanlah kawan. Biar malam ini masih bisa tidur di kamar ku yang hangat.

Dan Kamispun datang. Ba’da subuh, bus kembali membawaku ke kota harapan ini. Alhamdulilah jam 8 pagi telah mendarat dengan selamat di kota Padang tercinta. Tempat aku menuntut ilmu. Dan kenyataan pahit pun TERJADI lagi. Dosen shift siang (yang sebelumnya dijadwalkan pagi) datang PAGI. WHAT!!! Buukk dosenku tercinta, bukannya kita sudah sepakat kalau dirimu akan masuk siang nanti jam 1….!!! Oalah… pagi-pagi sudah dapat kopi pahit dari dosen. Dengan bete nya dosenku marah dan berkata kenapa jadwalnya harus diundur siang jika kita bisa kuliah pagi??? Ketika aku sampaikan bahwa teman-teman masih banyak yang di kampung dan baru akan berangkat pagi ini ke Padang, justru dijadikan “senjata” oleh sang dosen untuk semakin menyudutkanku. Dosenku tercinta berkata, kenapa harus mempertimbangkan mahasiswa yang pulang kampung? Itu resiko mereka. Mau 3 atau 5 mahasiswapun yang kuliah tak masalah. Kan tidak ada jadwal untuk libur hari ini.

Hmmm… sang dosen ngambok dan memutuskan untuk tidak mau masuk siang ini. Terbayang di mataku kekecewaan dan marah yang akan hadir di wajahwajah kelelahan teman teman sekelas (yang terpaksa ke padang demi mengejar kuliah yang satu ini) jika mengetahui dosennya gak jadi masuk. Oh… tak sangguuuuuuuuuuuppppppp…..

Dan begitulah… kuliah shift siang ditiadakan. Sampai akhirnya terbentuk kesepatakan baru antara aku dengan sang dosen yang merajuk. Untunglah beliau mau memahami dan minta dicarikan jadwal baru.

Dari kasus ini ada beberapa pertanyaan dan kesimpulan yang bergentanyangan di kepalaku. Pertama: Tak selamanya miss dan discommunication bisa kita jadikan kambing hitam atas semua konflik. Rasanya aku sudah begitu jelas dan clear dalam membentuk kesepakatan jadwal kuliah dengan dosen-dosennku (sampai harus ngisi ulang pulsa dan minjam HP Papa). Kedua: Fakta dosen mogok ngajar lebih sering ditemukan daripada mahasiswa ngambok masuk kuliah, dan aku belum menemukan jawaban kenapa dosen suka mogok (mungkin kelak ketika telah menjadi dosen aku akan menemukan jawabannya…. Amin!)

Sungguh aku sangat mengagumi dosen yang disiplin, yang tidak ingin jadwal kuliahnya diganti-ganti. Sungguh seorang profesional yang harus dihargai pengabdiannya. Namun tidak adakah sedikit rasa “empati” itu? Kami mahasiswa yang baru belajar merantau ini sangat menganggap hari raya adalah hari mutlak berkumpul dengan keluarga.

Aku tak akan menyalahkan sistem, namun pertanyaannya, “Tidak adakah sedikit kebijaksanaan?” Seandainya kampus ku yang memiliki jargon terkemuka dan bermartabat ini membuat suatu kebijakan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk merayakan idul adha nya dengan tenang. Aku betul betul merasa dirugikan.

Namun hanya pemakluman demi pemakluman yang kupatrikan ke dalam benakku. Maklum “kita” hanya mahasiswa. Maklum, kita yang butuh ilmu! Maklum, dosen itu kedudukannya lebih tinggi dari kita. Maklum, beliau-beliau itu orang yang sibuk! Maklum kita kan membayar sedang mereka dibayar… Jadi waktu waktu yang ada hendaknya termanfaatkan dengan baik.

Ternyata Berusaha “MEMAKLUMI” sesuatu yang bertentangan dengan naluri kita sungguh merupakan hal yang MENYIKSA kawan!!

Akhirnya aku kembali mengalah dengan sistem ini. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Kadang kita memang harus berkorban… untuk sesuatu yang lebih baik. Ya, aku berusaha menghibur diri. Walau suasana mendung tetap bergelayut di hati. Ah… Idul Adha kelabu. Sepertinya kami memang sedang diajarkan makna “Qurban” oleh Allah. Berqurban yang tak hanya mengorbankan materi, namun juga mengorbankan sifat-sifat buruk Dan mungkin juga ber-qurban perasaan. , EGOISME, MALAS, TAK IKHLAS, ENYAHLAHHH….

Ya itulah maknanya…

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini, KamPus.... Bookmark the permalink.

One Response to IDUL ADHA VS KULIAH

  1. Apriyandi says:

    “Sebesar apa cinta mu kepada Allah, segitulah cinta manusia kepadamu.
    sejauh mana ketakutanmu kepada Allah, sejauh itu keseganan manusia terhadapmu…
    sebanyak apa kesibukanmu dengan Allah, segitulah manusia pedulimu terhadapmu..”
    (al-mughirah bin syu’bah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s