Try Out Gempa hari ini dariNya

Pagi ini aku telat lagi ke kampus. Gak tanggung-tanggung 30 menit pula. Semuanya bermula dari ketelatan (*baca: keleletan)ku menyelesaikan beberapa tugas hari ini. Subuh-Subuh sudah bikin bahan presentasi untuk bedah buku di acara Bintang siang nanti. Mana makalah Gerontik belum di print lagi. Ketika ngeprint, sang printer pakai acara kehabisan bensin dan musti diisi dulu. Walhasil: TELAT. Gak hanya TELAT, tapi TELAT BANGET!

Dan kali ini aku sudah pasrah. Semoga bukan kelompok kami lagi yang nampil untuk presentasi makalah, karena minggu sebelum- sebelumnya kelompokku sudah dibantai habis-habisan oleh dosen yang bersangkutan untuk makalah yang kami buat.

Well, aku memutuskan untuk tidak masuk saja hari itu. Ntahlah, walaupun sudah berada di kampus, aku tidak ingin merusak suasana hati dosen dan mengacaukan mood-nya mengajar. Lagian telatnya udah keterlaluan banget, 30 menit lebih (aku gak tau berapa pastinya karena jam sengaja kustel lebih cepat). Akhirnya aku main ke kelas sebelah (tempat anak-anak 09 nongkrong) karena salah seorang adik kelas meminjam laptopku untuk memperbaiki KHS.

Namun tiba-tiba salah seorang anggota kelompokku datang dan menyuruh ku untuk masuk karena kami disuruh presentasi lagi. What!! *kebakaran jenggot* Gimana nih?? Otomatis akulah yang harus jadi presenternya. Karena makalahnya aku yang pegang, begitu juga softcopy dan bahan lainnya.

Ya sudahlah.. pasang muka tebal dan setel ke_PD-an volume maksimum karena khusus mata kuliah yang satu ini aku memang sudah sering jadi bulan-bulanan dosen. Ibarat sistem imun, sudah cukup resisten lah kalo dipermalukan atau dipermainkan lagi. Hahaha, dosen ku yang satu ini memang unik. Suka ngejek dan becandain mahasiswanya. Dan sejak semester lalu, aku adalah korban yang paling sering dikerjai. Begitu juga dengan presentasiku hari ini. Setelah sang dosen mentertawakan kenapa aku takut masuk ketika telat, kritikan perbaikan masih berdatangan dari sang dosen untuk presentasi keempatku dengan beliau ini (mudah-mudahan gak bosan ya buk). Mana softcopy bahan nya pakai Word 2007 lagi (padahal aku selalu nge-save bahan ke 2003 karena laptop kampus masih pakai ofice 2003, ntah kenapa untuk file yang satu ini mendadak lupa dan gak hati-hati). Akhirnya izin lagi untuk mindahin bahan ke 2007 di laptopku yang kutitipin ke adik adik 09. Fiufh… setelah diomelin dan ngancam gak ngasih nilai A (sambil becanda dan ngetawain kami), sang dosen pun mengizinkan.

Menurut teman-teman yang lain, kelompok kami cukup beruntung karena kelompok sebelumnya dibantai lebih parah dari kelompok kami. Whateverlah… aku sudah tidak terlalu memikirkan karena sudah terbiasa. Hohoho…

Mata kuliah berikutnya adalah maternitas. Ternyata sang dosen berhalangan hadir. Kelas pun dihebohin dengan pengumuman pengumuman dari sipen mata kuliah. And then kami diusir keluar karena kelas mau dipakai adik2 09 untuk kuliah. Aktifitas kulanjutkan dengan ngenet di ruang kosong (bekas biro yang pasca gempa tahun lalu menjadi tempat yang paling rawan karena sekujur dinding sudah banyak retakan) tapi karena itulah satu satunya ruangan nganggur yang ada colokan listriknya dan cukup sepi untuk melakukan aktifitas, terpaksalah aku melarikan diri kesana, namun akhirnya aku tak sendiri karena adik2 nol 10 tiba-tiba juga menyarok kesana. Ada yang sekedar ngerumpi, ada yang ngerjain tugas dan lain sebagainya. Dengan ditemani salah seorang adik 2010 yang nanya-nanya tentang Medika FSKI dan mbak Rin, aku mulai ngutak atik laptop. Awalnya niat mau ngedit power point untuk bahan BINTanG NIC nanti, tapi malah jadi ngerumpiin pamflet lomba design FKI bareng si mbak. Aktifitas dilanjutkan dengan ngotak atik Blog (kalau udah bareng si mbak, aktifitas gak jauh-jauh dari dua hal itu. Design dan blog)

Sampai akhirnya SATU Hentakan kuat yang berbunyi lumayan keras membuat suasana kacau dan panik. Orang-orang langsung berhamburan keluar. Ketika itulah aku sadar kalau GEMPA baru saja menghampiri. Wah, nih orang lari tanpa tendeng aling-aling. Udah biasa dan terlatih banget kayagnya. Langsung chaw. Sedangkan aku, masih sempat mikir mau ngapain dulu sebelum lari. Dan dengan sigap langsung nyandang tas punggung, nutup laptop (yang masih nyala, biarin aja nyala sampai bateraynya kritis dan mati sendiri), baru ngacir keluar (kayagnya aku yang terakhir keluar dari ruangan itu). Di luar, ternyata sudah banyak mahasiswa dengan histerianya masing-masing.

Si mbak ngajak pulang (*baca: kabur dari kampus_). Duh harus kabur ya? tapi kayagnya Cuma sekali hentakan deh. Tapi mengingat jarak kampus yang kurang dari 1 Km dari bibir pantai dan kemungkinan adanya gempa susulan, membuat ku tak ragu untuk ikut meninggalkan kampus segera. Tapi tentu setelah menyelamatkan charger dan mouse yang masih berserakan di dalam ruang itu.

Ya begitulah, berdua kami diantara keramaian manusia berusaha mencari celah untuk pergi. Sungguh pengalaman yang mendebarkan (si mbak protes kalau aku menyebut ini pengalaman yang seru). Di simpang kami ketemu Muty dan Ipit (yang juga lagi berdua). Muty ngajak ikut ke rumah nya di tanah Sirah daerah Indarung yang merupakan jalur evakuasi. Kami Ok-kan (karena kami gak tau juga mau kemana). Walhasil kami berempat dengan mahasiswa-mahasiswa PSIK lagi bertaburan di tengah jalan. Tujuan kami: Singgalang. Karena di sanalah Muty akan dijemput sama Papa mertuanya. Weleh-weleh susah sekali untuk menyeberang. Daerah Pondok nyaris macet dan padat kendaraan. Angkot merah kayagnya putar haluan juga.

Selama perjalanan, mbak Rin sibuk nelfon, aku sibuk sms *malas nelfon karena nanti kesannya panikan dan akan membuat keluarga di rumah cemas*, sibuk foto (aku aja sih yang sibuk, si mbak gak minat kayagnya), dan si mbak masih sempat sempatnya mencoba untuk ON LINE!!! o..o…o, jangan bersuudzon dulu. Kami lagi nunggu info dari BMKG yang biasanya beberapa menit pasca gempa langsung up date info di Facebook atau twitter. Tapi sepuluh menit berlalu, belum juga ada postingan dari BMKG.

Akhirnya kami sampai di Minimarket Singgalang (*tarik nafas lega). Nunggu mobil jemputan Muty sambil ngehubungin keluarga masing masing, minta supaya tidak terlalu panik. Dari Simpang Alang Laweh, kulihat Desi dan Nami. Otomatis kuajak gabung. Ntahlah… Keinginan untuk terus bersama orang orang yang kukenal sangat tinggi saat itu. Anit tadi udah bareng Liza pakai motor. Feni belum tau kabarnya gimana. Muty keliatan panik banget karena keinget sama Afif, buah hati yang masih sama oma nya di Purus.(gitu tuh kalo udah punya anak :D)

Akhirnya mobil jemputan Muty datang. Kami berenam segera naik dan menuju arah Gadut. Olala… rame kali jalanan Proklamasi saat ini. Wajah pada panikan. Hmmm…. Inikah rasanya ikut dan melihat arus pengungsian karena gempa???

Dalam perjalanan ke Tanah Sirah (lokasi rumah baru Muty), barulah kami ketahui bahwa gempa berkekuatan 4,2 Skala Richter yang bersumber 7 Km dari kota Padang, kedalaman 10 km, tidak berpotensi sunami dan konon kabarnya adalah gempa vulkanik yang berasal dari gunung Talang. Fiufhh… tarik nafas lega. Namun sungguh disayangkan. Info MBKG ini terbilang lambat. Lebih dari 10 menit baru terbit. Biasanya belum 5 menit sudah ada kabar. Sehingga membuat warga panik gak karuan.

Ada-ada saja yang kami lihat di sepanjang perjalanan, melihat orang orang yang dikenal (*termasuk desi yang heboh ngeliat orang yang pakai baju seperti baju punya feni) termasuk ke-kreatifitas-an anak-anak SMK di bundaran Simpang Haru yang berame-rame memanjat tugu spiral berapi (ntahlah tugu apa itu namanya). Ini memang aksi waspada menyelamatkan diri atau sekedar iseng doang yak??? Hohoho, namun cukup diacungin jempol juga, tapi di atas tugu itu panas banget lo. Salah salah malah bisa demam atau heatstroke.

Ucapan syukur alhamdulilah tiada hentinya terucapkan kepada Allah swt. Sungguh Allah masih memberikan kemudahan pada Try Out gempa yang Ia adakan pada hari ini. Ya, ini masih TO nya kawan. Bagaimana kita menyiagakan diri dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Sempat terlintas di otak, seandainya kami preklinik pada hari goncangan gempa terjadi, mungkin tak akan sempat terfikirkan untuk menyelamatkan diri sendiri. Karena ada beratus-ratus pasien yang harus diawasi terlebih dahulu. Seandainya juga kami tidak mengetahui arah tujuan, mungkin akan terseok-seok mengikuti arus pengungsian yang kurang jelas arah dan rutenya di tengah kepanasan dan kehausan (mana Singgalang dan Batagor Ihsan udah sepi lagi *gubrak)<—- sempat kaget waktu Desi dan Nami bilang berniat berhenti dulu di Batagor untuk makan pasca jalan dari Pondok ke Tarandam.

Bersyukur karena ketika angkot dipadati penumpang (bangku 4 langsung disulap jadi bangku 6, setiap celah diisi penumpang), kami mendapatkan tumpangan yang sungguh nyaman. Walaupun macet disana-sini, alhamdulilah masih bisa sampai di rumah Muty dan acara dilanjutkan dengan agenda masak-masak mie rebus (*sempat-sempatnya, biar kerasa nuansa lagi ngungsinya).

Wah, kebetulan juga gempanya terjadi ketika warga kota Padang sedang dalam rentang waktu sibuk-sibuknya beraktifitas di luar rumah (jam kerja), anak-anak pada sekolah. Makanya kondisi panik dan kekacauan tak dapat dihindari. Jika kejadiannya ketika malam hari dan aku berada di rumah, mungkin tak ada keinginan untuk ikut lari karena gempanya tidak terlalu kuat.

Ya, masih ada ibroh yang bisa dipetik dari semua kejadian ini. Contoh sederhananya, kami jadi tau alamat rumah Muty yang baru, bisa sempat main bareng Afif, makin mengokohkan kekompakan, dan mana tahu dengan kejadian ini, kepindahan kami ke kampus Unand LEBIH dipercepat. Amin ya Rabb…

Ya Allah, jika memang ini sebentuk ujian dariMu, jadikanlah kami hamba-hamba yang bersabar dan kembali mendekatkan diri kepada Mu….

Nb: ternyata kepanikan itu menular! Tapi cobalah untuk tidak terlalu panik…

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in gempa padang, kisah klasik untuk masa depan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s