Nursing Diary Part… (Gak inget ini udah Part keberapa.. :p)

milkysmile

Nursing Diary Part… (Gak inget ini udah Part keberapa.. :p)

Hai..Hai…Hai…

Jumpa lagi dengan Aini di Zona cahayamata!!! *Smile Super Lebar*

Nursing Diary Part kesekian ini akan bercerita tentang pengalaman preklinik season II di IGD (Instalasi Gawat Darurat), ICU (Intensive Care Unit) , dan CVCU (Cardio Vaskuler Care Unit) yang semuanya akan kita rangkum dengan JUDUL BESAR “PREKLINIK KGD” (Keperawatan Gawat Darurat)>> eng ing eeengggg…!!! *backsound: Naruto Shipunden

Sebagai sipen (sipenanggungjawab mata kuliah KGD), walhasil aku cukup mengambil peran untuk ber-repot repot ria mengurus preklinik kali ini. Mulai dari memperbanyak silabus dan men-jarkomkan apa apa aja yang diperlukan untuk Preklinik nanti sampai menerima instruksi-instruksi dadakan dari dosen untuk disampaikan ke teman-teman. Contohnya saja ketika H-kurang 1 hari (kira-kira 18 jam) sebelum orientasi preklinik KGD tiba-tiba sang dosen menelfonku dan menginstruksikan agar mahasiswa membawa baju stenen untuk orientasi (perkenalan) ke ruangan ICU dan CVCU (langsung jantungan!!). Mau kemana dicari seragam stenen (yang konon kabarnya tanpa baju ini kami tak bisa masuk ICU dan CVCU)???

Aku langsung menjarkomkan ke semua teman-teman. Gak pakai sms berantai lagi! Semua teman ku sms (sampai harus ngisi pulsa 2×5 rb). Holala….Sebagian besar teman-teman pada panik *seperti biasa*, ada yang sibuk nelfon, sms, nangis-nangis di pesbuk, sampai ada yang stay cool karena “pede” bakal gak nemuin ntuh baju.

Akhirnya banyak yang minjem punya senior. Yang gak punya link ke senior terpaksa bersabar menunggu keajaiban datang. Sebenarnya aku kasihan plus merasa bersalah kepada teman-teman sekelas. Seharusnya aku sudah mendeteksi kemungkinan tentang seragam ini jauh jauh hari sebelumnya. Namun apa mau dikata, sebagai manusia biasa aku-pun tak terluput dari khilaf dan salah, nah dosennya juga kagak ngasih tau sebelumnyah (*ngeyel)…

Untunglah dosen bisa memaklumi dan mengizinkan untuk memakai scor (gown bersih yang seperti jas lab). Dan perjalan preklinik KGD edisi perdana dengan agenda ORIENTASI ke Ruang IGD, ICU, dan CVCU pada tanggal 25 november itupun berlangsung lancar walau mengalami sedikit kemoloran timing dan tidak bersedianya orang orang IGD untuk mengantar kami berorientasi di sana (orientasinya pas hari H pas mau preklinik aja)

Kebetulan karena aku mendapatkan seragam stenen senior yang terlalu nge-pas-di body (seragam berwarna hijau dengan panjang lengan ¾ dan agak pendek plus celana panjang yang amat sangat tidak membuat nyaman), akhirnya kurelakan temanku saja yang memakainya. Sedang aku sendiri memilih untuk memakai score untuk masuk ICU kali itu. Lebih aman!

Dan tantangan itupun terjadi. Setelah menghadapi kenyataan kondisi seragam stenent yang kelak akan kami pakai di ICU dan CVCU, peringatan keras untuk “tidak memakai jilbab lebar dan dalam”pun datang dari perawat di ICU. Dengan jelas, tegas, dan lugas perawat tersebut memperingatkan kami “yang berjilbab gondrong” untuk memakai jilbab mini (yang kira-kira cuma menutupi leher *wathaww!) dengan rasional akan mengganggu tindakan yang akan kami lakukan. Hal ini cukup mengagetkan tapi sudah bisa kuprediksi sebelumnya. Ya, belajar dari pengalaman-pengalaman senior yang lalu.

Tapi aku sangat menyayangkan dan merasa sedih dengan kata-kata yang diucapkan perawat itu. Walaupun ia mungkin tidak tahu aku lah sang jilbaber itu (karena score lebar yang kupakai menutupi jilbabku), namun nada bicaranya sungguh menusuk qolbu terutama pas bagian:”Saya tahu di antara mahasiswa ada yang berjilbab dalam, tapi bukannya saya tidak tahu agama….bla…bla…bla….na…na…na…la…la…la…ha…ha (ah, tidak usah kuteruskan teman) dan sepertinya kami (aku dan akhwat lainnya) juga akan mengalami masalah dengan kaus kaki.

Tapi bersedih dan merasa frustasi bukanlah solusinya kawan. Aku yakin maskud dari perawat itu bukanlah untuk merenggut kebebasan dan hak kami untuk mempertahankan keidealisan kami masalah jilbab(apalagi untuk menghina-dinakan jilbab).. Tapi karena tuntutan profesi dan prosedural. Tapi menyerah pada kondisi dan keadaan juga bukan solusi yang tepat. Alhamdulillah aku mendapatkan anggota kelompok senasib sepenanggungan untuk masalah ini. Aku dan 3 orang temanku yang akhwat dengan panjang jilbab “se-abdomen” tergabung dalam satu kelompok, yang gak enaknya, ada satu senior laki-laki juga yang sekelompok dengan kami (piss Bang Kip! 😀 ).

Kami (aku dan teman teman akhwat) sepakat untuk membuat seragam stenent selonggar mungkin, dan mencari jilbab yang tidak terlalu mini serta sendal “naruto” a.k.a sendal “baim” yang memiliki penutup pada punggung kaki. Wallahu’alam teman-temanku mengusahakannya seperti apa. Yang jelas, minggu itu aku langsung pulang kampung untuk menjahit baju ke langganan kami di rumah plus minta mama menemani ngobrak ngabrik pasar untuk mencari “jilbab mini yang menutupi”. Haddehhh… susah ternyata. Apalagi para pedagang yang menawarkan jilbab dengan jenis antah berantah. Sambil nangis bombai (dalam hati) akhirnya aku menerima tawaran mama untuk membeli jilbab yang menutupi pundak dan sedikit lengan atas yang kedalamnya kira-kira di bawah thoraks sedikit. Ya, ini yang paling lumayan dari semua pilihan yang ada. Semoga perawat itu gak protes lagi. T_T. Stenent dan jilbab itu akan dipakai pada minggu ketiga preklinik selama 4 kali pertemuan (dalam satu minggu Cuma 1 kali preklinik).

Hari pertama di IGD

Pertamax!!! *kaskuser mode:on*

Udah pasang semangat 2010 campur semangat 45, dan taaadaaaaa!!! Kami langsung dapat peringatan keras season 2!!

Kami diperingatkan untuk tidak hanya berdiri-diri menyarok dan mengerubungi pasien berame-rame seperti kelompok preklinik sebelumnya yang di IGD dua hari lalu.

Hmm… Mungkin perlu sedikit kujelaskan kawan. Preklinik anak-anak keperawatan PSIK dan teman-teman yang ada di STIKES agak berbeda dalam penerapannya. Dimana kami tidak dibolehkan melakukan tindakan invasif (tindakan yang dapat merusak jaringan seperti: menyuntik, meng-infus, mengambil darah) tanpa didampingi perawat senior, dan itupun jika kami sudah yakin dengan keterampilan sendiri.

Sedangkan untuk tindakan non-invasif seperti memeriksa TTV (tanda-tanda vital) mengukur tekanan darah, nadi, pernafasan, dsb kami diperbolehkan. Sedangkan teman-teman di D-3 atau STIKES boleh (dan sepertinya memang harus mencoba) melakukannya. So, ngapain aja kerjaan kami pas preklinik? Kerjaan kami adalah mengkaji pasien!!! Melakukan serangkaian tindakan pengkajian untuk mengidentifikasi masalah keperawatan yang muncul pada pasien untuk kemudian menetukan asuhan keperawatan dan intervensi apa yang cocok untuk diberikan kepada pasien tersebut. Yah, memang lebih banyak tindakan berfikir otak daripada melakukan tindakan medis keperawatan. Dan itu gak gampang kawan!! T_T

So, lebih terampil anak-anak D3 dari S1 donk dalam hal tindakan?? Untuk masalah ini, aku jawab “iya”. Karena rekan rekan dari D3 sejak tahun pertama kuliah sudah diberikan kesempatan untuk praktek ke RS dan terpapar langsung dengan aktivitas perawat di klinik (mereka bisa dinas seminggu, 2 minggu, sampai sebulan di RS secara rutin). Sedangkan kami? Mendapatkan jatah preklinik sekali seminggu selama beberapa minggu (Cuma 5-6 kali ke RS dalam satu semester) di semester 6,7, dan 8 untuk beberapa mata kuliah yang berbeda. Bisa dibayangkan betapa minimnya wawasan dan keterampilan kami mengenai prosedural keperawatan.

BUT!! BUT!! Jangan langsung berpikiran negatif kawan!! Untuk S1 keperawatan, praktek kliniknya akan dimaksimalkan setelah mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan (S1) dalam program profesi NERS (sama seperti co-ass/dokter muda-nya teman-teman pendidikan dokter atau sama seperti apoteker-nya rekan rekan di farmasi). Itu tuh mutlak hanya praktek keperawatan, dan pengkajian-pengkajian yang berkaitan dengan profesi keperawatan. Kesimpulannya: Perawat S1 dituntut untuk menjadi perawat yang profesional..! Tidak hanya sekedar Terampil…! Kelebihannya adalah dalam kurikulum yang harus dikuasai. Memang 75% perkuliahan mencakup teori-teori yang menuntut kami (calon perawat profesional) untuk berpikir kritis.

*udah lari-lari kemana aja nih pembahasannya!!

Oke, kembali ke laptop!

Jadi sepagi itu IGD memang sepi pengunjung, pasiennya angin-anginan. Kadang masuk sekali banyak, kadang bener2 sepi, dan biasanya pasien IDG itu ramenya di kala siang dan terutama malam. Di IGD ini pun juga ada pembagian ruangannya. Ada yang namanya ruang medikal à khusus pasien gawat darurat terkait penyakit organ-organ dalam seperti sesak nafas, jantung, apendiks, dan lain sebagainya. Kemudian ada ruang Surgical–à untuk pasien luka-luka habis kecelakaan, fraktur (patah tulang), jadi pasien-pasien yang ditemukan di sini termasuk pasien-pasien yang kelihatannya gawat (berdarah-darah, patah-patah) dari yang diem-dieman (karena tidak sadarkan diri) sampai yang menjerit jerit kesakitan. Dari pasien kecelakaan lalu lintas, digigit anjing, tertusuk paku, sampai pasien korban penganiayaan ada di sini!!! *available soon!!! Heheeh*

Kemudian ruang anak, khusus menangani anak, ruang kebidanan-à untuk para ibu hamil yang mengalami kegawatan pada kandungannya, ada ruang pre-OP-à tempat persinggahan dan persiapan pasien-pasien gawat darurat sebelum Operasi, di sini tempat pasien yang bener-bener parah dan gawat serta butuh tindakan penanganan secepatnya.

Okeh, jadi pada hari itu, karena kekurangan pasien, akhirnya kami melakukan pengkajian pasien satu berdua. Pasien yang kami kaji ketika itu adalah pasien di ruang medikal dengan diagnosa medis diabetes melitus.

Hm,,,, ada suka dan ada dukanya juga preklinik di IGD ini. Sukanya karena dapat tontonan gratis penanganan luka dari dokter-dokter dan perawat jaga di sana serta menyaksikan langsung pasien-pasien gawat, dukanya: pandangan-pandangan sinis dari beberapa perawat senior yang bikin kami pengen jauh-jauh aja dari Nurse station.

Hmm.. dan hari ini adalah minggu kedua preklinik di IGD. Tadi Ni dan Anit kebagian jaga di Surgical. Namun sayangnya hampir 2 jam kami “menyarok” di sana tak kunjung datang pasien. Hufttt… kami benar benar berharap ada pasien surgical masuk hari itu (*hapah-apahan ini! Berharap orang masuk IGD ya??? Ck ck ck, do’a yang tak baik). Walhasil kami balik ke Medikal untuk nyari pasien di sana.

Okeh… Cukup untuk hari ini, walaupun preklinik nya Cuma dari jam setengah 8 sampai jam 11 pagi, namun cukup membuat pegel kaki dan capek badan. Hmm.. ntahlah, bawaannya kalau pulang dari RS itu selalu ngebawa penyakit pas pulang nya. Yang laper beratlah, yang capek kronik lah, yang sakit kepala lah… pokoknya pulang dari RS pengennya makan enak dan tiduuuuurrr….. (walaupun kagak bisa karena musti kuliah dan ngerjain laporan kasus)

Next week——>

ICU…!!!!

—>*langsung kejang-kejang dan pingsan…*lebay(dot)kom

Konon kabarnya, ini stase yang lumayan menarik dan pastinya kita gak bakal kebanyakan “melangau” seperti di IGD karena kerjaan banyak di sini, pasiennya juga udah ada. OK.. InsyaAllah pasti BISA!!! Semoga tidak mendapatkan masalah dengan kostum dan jilbab lagi…

SEMANGAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTTTTTTT >>>………..<<<

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Islamic Nurse, KamPus..., Nursing Diary. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s