SEBUAH CATATAN BAGI MEREKA YANG DISEBUT AKTIVIS KAMPUS

Pemuda hari ini adalah pemimpin di hari esok…

Saya awali note tentang “Mahasiswa aktivis Kampus” kali dengan quotes yang mungkin sudah sering kita dengar dan founding Father of Indonesia, Soekarno yang sjuga pernah mendeklarasikan,”Give me ten youths, would shake the world!!” yang artinya kira-kira: berikan kepadaku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia.

Oke, mari kita alihkan dan hubungkan sejenak peran pemuda dan mahasiswa. Dan tentu kita sama-sama sepakat bahwa mahasiswa adalah pemuda! Pemuda yang intelek lebih tepatnya. Mahasiswa hari ini, boleh jadi akan menjadi pemimpin di masa depan. Dan pemimpin kita hari ini, kebanyakan adalah orang orang yang memiliki basic sebagai aktivis kampus di masa lalunya. Jadi, mahasiswa adalah kader-kader pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Mahasiswa dengan segala dinamika dan keintelek-annya adalah stock pemimpin untuk masa depan.

Kampus sebagai inkubator peradaban…

Kampus yang kita kenal pada hari ini adalah objek yang sangat unik. Ridwansyah Yusuf Achmad dalam bukunya yang berjudul menuju kampus madani mengatakan bahwa: mahasiswa dikenal memiliki kapasitas intelektual yang homogen, yaitu berpendidikan, logis, serta terbuka terhadap informasi baru. Serta menyebut Kampus sebagai inkubator peradaban.

Ya, kampus adalah inkubator peradaban. Di sinilah potensi besar mahasiswa sebagai agen perubahan diasuh dan diasah secara terampil melalui wadah-wadah organisasi yang banyak kita temukan di kampus-kampus. Sebut saja Senat mahasiswa atau yang kita kenal saat ini dengan nama Badan eksekutif Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Unit-Unit Kegiatan Kemahasiswaan yang tak tanggung-tanggung banyak jenis dan ragamnya. Semua wadah ini membuktikan kepada kita bahwa kampus tak hanya berperan sebagai sarana pendidikan formal, namun juga menjadi wadah serta menjadi media yang capable menampung minat, bakat, kemampuan berpolitik, aspirasi, dan pergerakan dari mahasiswa yang kelak akan sangat dibutuhkan ketika terjun ke kehidupan non-kampus (masyarakat). Sehingga adanya gelar aktifis kampus bukanlah hal yang “wah” lagi di lingkungan kampus saat ini.

Di dalam sejarah Perjuangan Indonesiapun kita mengetahui bagaimana peran pemuda dan mahasiswa yang cukup memegang kendali dalam beberapa kali perguliran pemerintahan di Indonesia. Kita awali dengan peristiwa Sumpah Pemuda, yang mendeklarasikan point-point penting sekaligus menunjukkan eksistensi pemuda secara nyata. Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yang dalam sejarahnya, konon hal ini dikatalis oleh para pemuda yang mendesak golongan tua untuk segara bertindak, perguliran orde lama menjadi orde baru kemudian bertransfomasi menjadi Reformasi, turut mewarnai kancah jejak peristiwa yang diukir para mahasiswa dan pemuda, serta banyaknya peristiwa-peristiwa politik yang ditingkahi aksi para mahasiswa yang sering kita dengar dalam sejarah kehidupan pemerintahan di Indonesia. Semua ini membuktikan bahwa mahasiswa adalah kaum intelek dengan keideologisannya, keobjektifan, ke-kritisan pola pemikirannya memiliki peran yang besar dalam menjaga stabilitas pemerintahan.

Ya, itu adalah gambaran seorang aktivis kampus yang bisa kita tangkap dalam perguliran zaman di berbagai belahan bumi Indonesia. Dan sampai saat ini, aktvis kampus masih memegang peranannya walau tidak sama lagi aura dan nuansanya dengan ke-aktivis-an mahasiswa zaman dahulu. Kelunturan ideologi… Mungkin itu yang bisa kita tangkap dan simpulkan. Walaupun kita tidak bisa mengeneralisir hal ini untuk seluruh mahasiswa.

Fenomena yang bisa ditangkap adalah menurunnya semangat dan tingkat partisipasi aktif mahasiswa dalam beroganisasi dan beraksi. Banyak mahasiswa yang memutuskan ke kampus hanya untuk melaksanakan kewajibannya untuk kuliah dengan baik sehingga menjadi Study Oriented. Yang tak lagi acuh ketika ada pergeseran kebijakan (merugikan), yang tak peduli terhadap dinamika pemerintahan, yang tidak mau tahu dengan serba-serbi kehidupan kampus jika tidak terlalu berdampak bagi kehidupan akademiknya, dan bahkan ada yang apatis tidak mau dirugikan dan takut mengambil resiko jika dianggap menentang sistem, dan tidak lagi kritis dalam menanggapi peristiwa-peristiwa seputar kampus.

Mari kita tengok sejenak Kampus kita tercinta, UNIVERSITAS ANDALAS. Bagaimana dengan aktivis kampus Unand saat ini? Mungkin tidak ada perbedaan mencolok jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain di Indonesia, namun ada satu inovasi baru yang ditangkap penulis, dimana Kampus Unand sejak 3 tahun lalu (dimulai dari angkatan 2007) menerapkan suatu sistem yang justru memediasi dan menuntut keaktifan seluruh mahasiswa dengan melaksanakan program BBMK yang mewajibkan mahasiswa baru untuk magang di Unit Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada di Unand. Setidaknya program ini memberikan kesempatan bagi seluruh mahasiswa untuk terpapar dalam kehidupan aktivis kampus sesuai dengan minat dan bakatnya. Ya, sebelum akhirnya mahasiswa terlena dengan kehidupan kampus yang “Study Oriented” mahasiswa harus dikenalkan pada unit-unit kegiatan mahasiswa yang ada. Harapannya, mahasiswa tidak hanya sampai pada tahap mengenal, tetapi juga melakukan follow up dengan berpartisipasi aktif menjadi anggota penuh pada unit-unit kegiatan yang diminati.

Ya, aktivis kampus saat ini, seharusnya bukan hanya para mahasiswa yang membaktikan dirinya pada kehidupan akademik saja, namun sebaiknya juga harus mendapatkan pengalaman melalui wadah-wadah untuk berpikir kritis melalui pergerakan mahasiswa.

Karena kehidupan yang sebenarnya tak hanya membutuhkan kecerdasan otak belaka, tetapi juga kecerdasan dalam berstrategi, dalam memecahkan masalah, kecerdasan dalam bergerak, berorganisasi yang semuanya insyaAllah akan didapatkan training dan latihannya sejak dini melalui dunia AKTIVIS KAMPUS.

Totalitas Perjuangan

Kepada para Mahasiswa, yang merindukan kejayaan

Pada rakyat yang kebingungan, di persimpang jalan

Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan

sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia

wahai kalain yang rindu kemenangan

wahai kalian yang turun ke jalan demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta

 

 

Original Writing By: Nur’aini

14 Desember 2010

 

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s