★Orientasi Maba★ (My another Journal for Unand Blog Competition)

Orientasi Mahasiswa Baru….

 

 

Bagi sebagian orang, orientasi Mahasiswa Baru merupakan hal yang tidak menyenangkan. Namun bagi sebagian yang lain, orientasi Maba adalah moment-moment yang sangat dinanti.

Bisa ditebak kenapa “orientasi Maba” atawa bahasa kerennya OSPEK ini menjadi hal yang mendapatkan dua ekspektasi yang berbeda? Terutama bagi mereka yang berstatus senior dan junior??

Yap, Tepat!! Karena ketika moment “orientasi maba” dilaksanakan, terdapat penyikapan dan proses (*yang berbeda) yang pastinya akan menimbulkan pro-kontra dari pihak pihak yang berkepentingan. Ketika orientasi Mahasiswa baru, banyak sekali terjadi permasalahan-permasalahan yang sebagian besar berdampak pada dirugikannya mahasiswa baru itu sendiri.

Ok, mari kita coba bedah Permasalahannya dalam bentuk narasi di bawah ini

Dari jaman saya belum menjadi mahasiswa (anggap saja sejak jaman saya SMA) sampai saat ini (*sudah menginjak tahun keempat kuliah) orientasi siswa (MOS) /mahasiswa (OSPEK) jarang sekali bebas dari aksi kekerasan. Baik itu di Sekolah/kampus negeri, maupun swasta. Walaupun di dalam sketsa agenda yang disetujui pihak kampus, tidak tercermin agenda-agenda yang menimbulkan potensi senior melakukan aksi plonco kepada juniornya.

Namun begitulah, mahasiswa saat ini sungguh kreative. Tidak mendapatkan izin kegiatan secara legal, merekapun nekad menyelenggarakannya secara “illegal”. Sampai-sampai pihak kampus mengeluarkan ancaman akan mengskors mahasiswa senior yang melakukan aksi plonco memploncloi junior. Hmm… seharusnya untuk tataran mahasiswa yang sudah dewasa, ancaman seperti ini tidak patut lagi untuk dikeluarkan.

Alasan terjadinya KEKERASAN

Kekerasan dalam kegiatan orientasi seringkali dilatarbelakangi oleh semangat “balas dendam” oleh mahasiswa senior tahun kedua yang dulu pernah “dikerasi” oleh abang/kakaknya sewaktu mereka masih mahasiswa baru. Bagi mahasiswa SOK SENIOR ini, belum lengkap rasanya menjadi mahasiswa senior bila belum memarahi, membentak, mengerjai, atau memukuli mahasiswa baru.


Alasan lain adalah: –HAUS KEHORMATAN- karena PRESTISE gelar SENIOR yang kini mereka sandang membuat mereka yakin kalau mereka harus DIHORMATI.

Solusi

Untuk menghilangkan kekerasan dalam kegiatan orientasi mahasiswa, menurut saya ada dua pilihan:

Pertama,hapuskan orientasi mahasiswa baru secara total atau pihak kampus dan fakultas terlibat langsung dalam kepanitiaan.

Pilihan pertama jelas tidak mungkin bisa terlaksana karena orientasi kampus itu sendiri memiliki manfaat yang cukup urgent yaitu bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa baru kepada kehidupan akedemik yang akan mereka hadapi nantinya.

Karena itu, pilihan kedua jauh lebih baik. Bagaimana bila ada pihak mahasiswa tidak setuju? Lah, sewaktu mahasiswa diberi banyak kebebasan malah timbul kekerasan. Dan untuk mensukseskan option ini, pihak Kampus juga harus serius dan bertindak tegas. Memang dalam perencanaannya, biasanya banyak dosen yang dilibatkan dalam kepanitian, tetapi ketika aksi, masih saja ada aktivitas senior-junior yang luput dari perhatian Pihak kampus.

 

 

Bahkan ada Himpunan Mahasiswa yang mencuri-curi timing untuk mengerjai a.k.a meng-ospek juniornya “WALAUPUN” dikemas dalam bentuk nama kegiatan yang cantik. Namun “judul” pada kegiatan itu sebenarnya hanya sebuah kamuflase untuk menutupi apa yang akan dilakukan.

Dan sepertinya kita harus memberikan beberapa tambahan peraturan lain seperti:

1. Hapuskan kebiasaan berteriak-teriak terhadap mahasiswa baru selama acara orientasi berlangsung.

 

2. Buang juga aksi lagak seram atau memukul terhadap mahasiswa baru dengan alasan untuk mendapatkan penghormatan. HELLOW!!! KEHORMATAN ITU HARUS DIRAIH, RESPECT MUST BE EARNED!!!

 

Bagaimana cara meraih penghormatan dari mahasiswa baru? Ya, mulailah dengan menghormati keberadaan mereka dulu. Terima mereka dengan keramahan, tangan terbuka dan senyum lebar. Jika sikap mahasiswa senior baik, saya yakin sikap mahasiswa baru-pun juga akan baik. Bagaimana jika masih ada mahasiswa baru yang masih tengil dan tidak hormat padamu? Hey, tujuan kamu kuliah di kampus kan untuk mengembangkan potensi akademik. Jadi, buat apa kamu pikirkan mengapa ada orang yang tidak hormat kepadamu di dalam kampus.

 

3. Menghapuskan kegiatan-kegiatan “geje” (gak jelas) “gepe” (gak penting) “gema” (gak bermanfaat) yang dilakukan secara semena-mena oleh senior di jurusan selama semester pertama (bahkan ada yang selama satu tahun pertama kuliah).


Selain membuang-buang waktu, tenaga, dan uang, hal ini juga berpotensi menimbulkan konflik antar angkatan (senior dan junior-red). Saya pernah mendengar kasus di suatu jurusan (*sebut saja jurusan X) yang mahasiswa barunya menolak untuk mendaftar menjad anggota himpunan jurusan tersebut hanya karena persyaratan-persyaratan yang memberatkan dan tidak penting, dan karena diancam-ancam (kalo gak melakukan “ini” atau melakukan “itu” tidak akan dilantik). Nah, jika ini benar-benar terjadi, apa kabarnya nasib HIMA ini kedepannya? Hal ini bisa mempersulit pengkaderan dan regenerasi kepengurusan tahun berikutnya.

–0)I(0–

 

Nothing will change if you never do anything. Bicara panjang lebar tidak akan menyelesaikan masalah. Aksi yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Beranilah untuk menjadi korban yang terakhir agar mahasiswa baru tidak lagi terbelenggu dalam lingkaran kekerasan yang sama. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar generasi berikutnya bisa hidup dalam kedamaian yang Anda inginkan.

Penutup

Kebiasaan “hitam” dalam dunia orientasi kampus kini sedikit demi sedikit mulai terkikis. Saya contohkan saja di kampus kita terjtintah, Universitas Andalas. Untuk urusan orientasi mahasiswa ini, Standing Applaus berhak diberikan atas kebijakan Rektor Unand untuk mengganti semua format Orientasi maba atau yang kita kenal sekarang dengan nama BAKTI Unand ini menjadi lebih baik dan berisi. Serta melarang segala bentuk aktivitas yang memberatkan mahasiswa baru.

Saya masih ingat bagaimana “marahnya” dekan Fakultas Kedokteran ketika BAKTI 2009 lalu, panitia BEM masih nekad mengumpulkan maba (padahal sudah hampir jam 6 sore) untuk mengumumkan tugas-tugas yang harus dikumpulkan maba keesokan harinya. Walhasil, panitia BAKTI dari BEM diinstruksikan untuk menghapus segala bentuk penugasan.

Dan juga ketika Pakde (Pak dekan) marah ketika kami (*panitia) memungut bayaran dari maba untuk setiap Buku SALINGKA FAKULTAS yang dibagikan kepada maba (*padahal cuma untuk mengganti biaya percetakkan), tapi menurut dekan, semua biaya BAKTI sudah dipungut ketika pendaftaran. Jadi tidak dibenarkan meminta pungutan BIAYA APAPUN kepada maba.

Well… Untuk hal ini saya cukup berbangga atas ketegasan pimpinan Fakultas dalam menyikapi instruksi langsung dari rektor Unand ini. Tapi wallahu’alam bi showab dengan fakultas lain. Sungguh miris jika masih ada yang menerapkan budaya “negative ospek” kepada adik-adiknya. Padahal mereka tidak melakukan kesalahan yang significant.

Yup, sebenarnya Design kegiatan BAKTI benar-benar telah di set sedemikian rupa sehingga tidak ada celah bagi mahasiswa senior untuk berekspresi melakukan tindakan anarkis atau membebani maba dengan berbagai macam peraturan “tambahan”, atribut “tambahan”, dan tugas “tambahan”. Walaupun, masih banyak fakultas yang kecolongan dan masih menerapkan tardisi klasik itu.

Ya, semuanya tergantung dari kebijakan dan ketegasan pihak Fakultas masing-masing. Ketika pihak kampus sudah mampu komit dalam menjalankan peraturan yang sudah ditetapkan bersama, maka semuanya akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Dan kepada elemen organisasi mahasiswa (BEM;HIMA;UKM), seharusnya bisa bekerjasama dan memikirkan kembali bentuk agenda orientasi yang betul betul dibutuhkan oleh mahasiswa baru. Hal-hal bermanfaat yang diberikan dengan penuh kebaikan justru akan lebih berkesan dan menghasilakn hasil yang positif ketimbang menyajikan hal-hal anarkis yang dikenang sebagai catatan menyakitkan yang kelak akan terus diwariskan oleh adik-adik kita kepada juniornya.

Ingat, belajar di Unibersitas tidak hanya sekedar mencari ilmu, namun juga untuk “memanusiakan manusia”. Berikanlah apa yang maba butuhkan, contohkan kepada mereka hal-hal baik yang seharusnya dilakukan mahasiswa, budayakan 5S selalu. Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun. Ketika kita mampu menjadi suri tauladan dan mencotohkan sesuatu yang baik, insyaAllah adik-adik kita mahasiswa baru sedikit demi sedikit meniru dan ikut menerapkannya.

 

milkysmile

Mahasiswa biasa yang mencoba menjadi luar biasa

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s