>Sepenggal Cerita dari Bangsal Anak

>

Sepenggal Cerita dari Bangsal Anak

Siang itu pukul 13.45 yang cukup terik. Namun sepertinya hawa panas telah dikalahkan oleh debaran dan rasa penasaran yang menggebu-gebu untuk merasakan preklinik Anak pertamaku di Rumah Sakit Umum Daerah ini. Kebetulan untuk hari pertama ini aku dan beberapa orang temanku yang lain mendapatkan shift dinas siang di Ruang rawat Anak.

Dinas siang akan dimulai dari pukul 14.00 dan berakhir pukul 21.00 dan kami berusaha untuk datang tepat pada waktunya. Masih bermodalkan rasa penasaran yang tinggi, kukayuh langkah langkah kaki menjejali lorong menuju ruang Anak. Tak kupedulikan teman teman yang tertinggal beberapa meter di belakang.

Baru memasuki pintu depan, sudah terdengar musik melow De Massive yang jika didengarkan sambil tiduran akan membuat mata semakin mengantuk (hmm siapa yang tega memperdengarkan musik keras di tempat ini?). Sesampainya di meja perawat, kulihat teman teman sejawat yang dinas pagi tertegun berdiri menatap ke dalam ruangan bagsal anak. Di sudut yang lain kusaksikan seorang Bapak menangis sesenggukan, sementara perawat yang lain sibuk menghubungi dokter jaga.

Suasana berubah menjadi tidak mengenakkan. Kuhampiri salah seorang teman untuk mengetahui apa yang terjadi. Setengah berbisik, temanku berkata,” Ruangan ini sedang berduka. Anak Bapak itu baru saja meninggal, kekurangan darah. Diagnosa awal demam kejang. Tapi karena terlambat ditangani dan tidak ada pasokan darah, nyawa anak itu tak terselamatkan”.

Teman sejawatku yang laki-laki datang menghampiri,” Itu pasien yang aku kaji hari ini. Sudah susah rasanya merawat anak itu dari tadi. Musti di TTV setiap seperempat jam sekali, namun apa daya”

“Kok tidak segera dicari transfusi darahnya?” Aku bertanya kembali

“Stok darah golongan O di PMI sudah habis. Sementara dari keluarga dan perawat di sini tidak ada yang golongan darah O selain Bapak itu.Tapi kita tidak bisa mengambil darahnya karena berat badan Bapak itu tidak cukup,” jawab temanku yang laki-laki.

“Ah, pasti Bapak itu menyesal sekali. Kenapa tidak memaksakan diri untuk transfusi darah. Mana dokternya juga tidak ditempat lagi”, imbuh temanku yang lain

“Sudahlah teman-teman, sekuat apapun usaha kita, jika Allah sudah berkehendak tidak akan ada yang bisa merubah”

Dan kami pun mulai offeran. Teman teman sift pagi menjelaskan satu persatu detail penyakit anak-anak yang dirawat di ruangan itu beserta tindakan apa yang harus dilakukan. Total ada 4 pasien setelah anak yang meninggal itu. Dan dinas pertama di ruang anak pun dimulai. Bismillah…

Dokter yang ditelfon akhirnya datang. Memeriksa sebentar sang anak untuk memastikan tanda-tanda kematian. Untuk kemudian membuat laporannya.

Kuikuti langkah langkah uni uni perawat yang akan mengurusi jenazah pasien anak yang baru saja meninggal itu. Subhanallah… wajahnya begitu putih dan tampan. Sekujur tubuh anak berusia 1 tahun itu tampak memucat kekurangan darah. Di lengannya tampak semburat setetes darah merah segar. Pasti itu bekas suntikan infus.

Perawat senior di sana lalu menanggalkan setiap peralatan yang menempel di tubuh anak itu. Sementara orang tua dan kakak laki-lakinya yang masih berumur di bawah lima tahun menangis sesenggukan di samping tempat tidur si anak. Keluarga nya yang lain sibuk menelfon untuk mengurus pengembalian jenazah ke rumah dan keperluan untuk pemakaman lainnya.

Jenazah bocah itu mulai dibedong dengan kain panjangnya. Tapi bedongannya sekarang berbeda. Wajahnya juga akan ditutup rapat. Wajah, tangan dan kakinya diikat dengan sepotong perban sebelum akhirnya terbungkus rapi dengan kain panjang bermotif batik itu.

Sebelum uni uni perawat menutup wajahnya, kuusap kening mulus sang bocah. Ya Allah, anak ini sudah tidak bernyawa lagi. Tak akan ada lagi tangisan dan keceriaan yang akan menghiasi rumah keluarga kecil ini. Suami istri yang masih sesenggukan itu sepertinya menyadari betul akan kehilangan anak, bocah berumur di bawha lima tahun itu sepertinya juga mengerti bahwa ia sedang kehilangan seorang adik.

Kutatap lagi kelopak mata indah bayi ini. Mulai saat ini, kelopak mata itu tidak akan membuka lagi. Menutup untuk kembali ke hadapan Rabbnya. Rupanya hanya sebentar ia singgah di dunia ini. Kubayangkan ia dan para jundi kecil yang berpulang bermain dan berlarian di taman syurga, menjadi sosok-sosok indah yang akan menjemput sang orang tua dengan payung dan kendi kecil air ketika di hari akhir kelak.

Ya Allah, semoga ia mendapatkan tempat yang lebih indah dari bumi ini…

Karuniakan juga orang tuanya kesabaran dan ketabhan menerima cobaan yang indah ini…

Hmm… lagi lagi tak sanggup berempati. Masih selalu terbawa perasaan…

Namun ketika itu aku mulai sadar… Hal ini akan menjadi pemandangan biasa yang kelak harus kuhadapi dengan tegar…..

[con’t]

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s