Upin Taiiaankk Ipin….

Facebook!

Jejaring sosial terpopular saat ini yang kabarnya segaptek gaptek apapun orang pasti tau dengan Facebook. (Tapi ini belum dibuktikan dengan penelitian ilmiah, jadi jangan langsung percaya!). Sepakat dengan pendapat beberapa orang teman yang mengibaratkan facebooker seperti pasien yang sedang terkena wabah “Seleb Wanna Be” yang ingin semua aktivitas dan kegiatan nya diketahui dan dikomentari oleh publik (*tapi tidak berlaku umum untuk semua fb-ers lo!)

Tidak hanya status! Nama, relationship, note, profilpicture dsb – pun menjadi ajang untuk bernarsis-ria oleh para pengguna Fb. Acara narsis ini dipadu padankan dengan gejolak ke”alay-alay” an yang konon kabarnya menjadi trend mark di antara remaja labil saat ini.

Kali ini, saya sangat tertarik sekali mengangkatkan kasus “in relationship” nya seseorang di Facebook. Maaf sebelumnya, mungkin tulisan saya kali ini akan sedikit banyak menyinggung warga perkampungan facebook.

Memang bukan hal yang janggal lagi jika kita lihat banyak member facebook yang menggunakan berbagai alternatif status relationshipnya. Memang banyak pilihan yang tersedia. Mulai dari pilihan tidak memajang status relationship, sampai yang status “in relationship and it complicated” pun tersedia di sana. Dan tentu tidak ada larangan dari pihak facebook jika Anda ingin memalsukan status di sini.

Dan lagi-lagi, media ini dijadikan ajang untuk bernarsis ria untuk memamerkan ke-relationship-an seseorang kepada khalayak. Mulai dari remaja-remaji (*dapat istilah ini pas dengar pengumuman dari Mesjid) yang nekad menyulap status mereka menjadi “engadge” (*atau bahasa Indonesianya “tunangan”) with “sebut saja namanya BUNGA” , bahkan parahnya ada sepasang cewek dan cowok yang berpacaran membuat status mereka “married” (*tau kan artinya? Kalau gak tau, BUKA KAMUS!)

Kadang saya sendiri ingin tertawa menyaksikan ulah teman teman ini (sambil sesekali geleng geleng kepala seraya berdecak kagum tentunya). Saya sempat berimajinasi, seandainya kita hidup di negeri “yang tak mengenal ada kata bohong”, seperti sebuah film yang pernah saya tonton, tapi saya lupa apa judul filmnya. Di film itu dikisahkan ada sebuah kota yang warganya tidak mengenal kata bohong!

Semua yang dikatakan adalah sesuatu yang jujur (fakta, apa adanya walaupun tidak masuk logika), dan mereka tidak mengenal apa itu “bohong”! Bayangkan saja jika Anda berkata: Saya adalah seorang penemu mobil, mereka akan percaya! Saya menyimpan uang 1 juta dollar di bank ini dan saya akan menariknya (padahal simpanan Anda tidak sebanyak itu) teller Bank nya juga akan sangat percaya. Bahkan jika Anda berkata Sebentar lagi kiamat, semuanya akan langsung panik.

Benar benar mereka tidak mengetahui apa itu bohong. Sehingga dalam berkomunikasi, tidak ada kata-kata pemanis, berbasa-basi, dan lain sebagainya. Semuanya disampaikan dengan penuh keterusterangan. Seperti: “Wah, hidung anak Anda pesek sekali ya!” atau seorang dokter yang berkata kepada pasiennya: “Nyonya, hidup Anda sudah tidak lama lagi. Semua teknologi kedokteran tidak akan bisa menyembuhkan Anda, jadi Anda silahkan bersiap-siap untuk mati. Sampaikan kepada keluarga Anda untuk segera menyiapkan upacara pemakaman!” kemudian dokter meninggalkan pasien.

Hua, bayangkan saudara-saudara, pasien itu beberapa saat kemudian mungkin akan langsung meninggal karena stress mendengarkan ucapan sang dokter.

Oia, di kota ini tidak mengenal “ini benar” dan “itu salah” “Ini baik” dan “itu tidak baik”. Mereka juga tidak mengenal Tuhan! (*jadi kalau ada yang berminat ingin berprofesi seperti Tuhan/Nabi, datang saja ke kota ini, ajukan surat lamaran kepada walikotanya *sarap!)

Nah, jika seandainya kita berada di lingkungan yang seperti itu, dan kita memakai “status palsu” yang akan dipercaya oleh semua orang, bisa dibayangkan dampak dampak apa yang akan terjadi. Mungkin saja beberapa tahun kemudian, ketika sang remaja-remaji (*wah suka sekali saya memakai istilah ini :D) beranjak dewasa dan benar-benar akan segera menikah, maka mungkin tidak ada orang tua yang mau menikahkan anaknya dengan mereka. Apa pasal? Karena orang tuanya sudah yakin betul bahwa ntuh orang udah berstatus suami orang atau istri orang! Ataupun kalau mereka sudah tidak memakai kata “married” itu lagi, semua orang akan percaya bahwa mereka sedang menyandang status “Janda/duda”.

Hah, itu hanya imajinasi saya sodara-sodara. Sayangnya kita tidak sedang berada di tempat seperti itu. Namun sebenarnya justru kita harus mencerminkan dunia seperti “kota tanpa mengenal kata :bohong:” itu. Karena apa? Karena kita sudah memiliki norma-norma yang mengatur setiap sendi kehidupan kita. Dan dahsyatnya lagi, norma norma itu sudah diatur langsung oleh Allah SWT.

Ok, mungkin teman teman akan berkata,”wah ini kan Cuma main-main, bagarah se nyoh! Apalagi mana mungkin orang percaya kami benar-benar menikah sedangkan tidak ada acara baralek sebelumnya.

Waha, saya tiba-tiba ingat, bahwa Rasulullah pun melarang becanda dengan menyelipkan unsur kebohongan di dalamnya. Terlepas dari itu bercanda, bohong-bohongan (saya sedikit ragu dengan hukum “bohong-bohongan” ini, apakah ini sama dengan bohong ya?? *ambigu), “berpacaran” saja dalam islam sudah sangat jelas hukumnya apa. (Ok, hal ini tidak akan terlalu saya kupas)

Next kasus; Saking narsis nya dalam memboomingkan hubungan mereka (mungkin ini semacam dampak “saking cinta” *muntah bertebaran*), nama pun langsung ikut disulap oleh sebagian orang untuk nama Fb nya. Example Kumbang taiiankk Bunga, Bunga taiiank Kumbang, Upin sayannya Ipin, Ipin sayangnya Upin, sampai sampai saya bingung ini Fb nya si Upin atau si Ipin! Karena photo profil nya pun dibuat sama.

Status status mereka diwarnai dengan kemesraan-kemesraan, puisi-puisi,berpantun ria (wah tinggi nih nilai Bahasanya pasti). *eiitss jangan bilang saya sirik ya!!!—>ini sirik! Bukan Syirik!! Sirik gak pakai “Y”). Yah, seperti selebritis-selebritis di infotainment!! Aktivitas pacaran nya di umumin. Eh lagi nonton bareng lah, jalan bareng lah, bla bla bla.. *pueh, speechless saya.

Saking “nyeleb” nya, sampai-sampai kalau lagi bertengkar dengan pacarnya juga diketahui oleh khalayak per-fesbuk-an. Lah wong betengkarnya di status and komen. Main jontok-jontokkan, status ngejelek-jelekin pasangan masing masing. Apa gak ingat ya nama fesbuknya masih “Upin Taiiank Ipin”??? hohoho, nama nya apa, isi statusnya apa.

Hah, lagi lagi saya berimajinasi (maaf, saya memang suka berimajinasi u_U *spongebob mode on). Jika dilogikakan, nama seperti “Upin taiiank Ipin” ini mengandung maksud si Upin sayang sama si Ipin *emang bener kalle!. Eh, jangan upin Ipin deh, mereka kan sodara-an bo’.

Misalnya Bunga taiiank Kumbang. Nah, jika saya adalah orang tua nya si Bunga, saya akan protes habis-habis-an. Sekate-kate dia hanya bilang sayang sama si Kumbang. Emang Cuma si Kumbang aja makhluk Allah yang perlu disayang? Orang tua gimana? Kakak-adik-nenek-kakek-om-tante-SAHABAT-TEMAN-guru- *yang udah JELAS manfaat dan kontribusinya bagi kehidupan di dunia (Selain Allah dan Rasulullah tentunya yang harus ditempatkan di urutan teratas). Kalau mau, bikin nama taiiank taiiank-ngan sekalian aja jadi “Bunga Taiiank Semua”. Nah, ini gak bakal menimbulkan kecemburuan sosial. Hahah, bahkan teman saya “sebut saja namanya si N”, udah ngewanti wanti teman saya yang lain “Sebut saja namanya D”.

N: Eh, D kalau kamu ganti nama Fb jadi taiaank taiiank-an gitu, aku langsung remove kamu dari list friend di fb aku ya!

D: *ngamuk-ngamuk* N ini!!! Bukannya bantuin menyadarkan malah main tinggal-in aja

Nah, begitulah kira-kira sodara sodara….

Beberapa fenomena yang terjadi selama ini, namun baru baru ini cukup menggelitik saya. Maaf kan bila postingan ini isinya “agak menyampah” atau “sedikit menyinggung” teman-teman. *maklum masih belajar #alasan basi!!

Nb: maaf untuk teman-teman saya yang namanya “Bunga”.Karena jadi bahan percontohan *kayagnya dimana-mana udah banyak juga kok yang make “sebut saja namanya Bunga” heheh

Posted by:

Aini taiiank semua 😀



milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini, geje. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s