CARSINOMA SERVIKS

CA SERVIKS

Pengertian

Ca serviks adalah sel-sel serviks dengan karakteristik histology, proses perubahan pertama menjadi tumor ini dimulai dengan terjadi pada sel-sel squamocolumnar junction (Reeder, 1997).

Kanker serviks adalah suatu proses keganasan yang terjadi pada serviks, dimana dalam keadaan ini terdapatnya sekelompok sel yang abnormal terbentuk dari sel jaringan yang tumbuh terus menerus dan tidak terbatas, tidak terkoordinasi dan tidak berguna bagi tubuh sehingga sel-sel sekitarnya tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya. Keadaan tersebut biasanya disertai dengan adanya perdarahan dan pengeluaran cairan vagina yang abnormal (Lucman,1995).

Klasifikasi Internasional Tentang Ca Serviks

Tahapan stadium klinis dari kanker serviks menurut The Federation of Gynecologic and Obstetrics tahun 1978 yang berdasarkan pemeriksaan klinis, radiology, kuretasi endoserviks dan biopsi (Winjosastro,1999), yaitu :

Tahapan Lesi

Lokasi

Tahap 0 (prainvasif)

karsinoma in situ, karsinoma intra epitel. Kanker terbatas hanya pada lapisan epitel, tidak terdapat bukti invasi

Tahap invasif

Tahap I

karsinoma yang hanya benar-benar berada dalam serviks. Ukuran bukan merupakan kriteria

Tahap IA

mikroinvasiv. Bila membran basalis telah rusak dan sel tumor telah memasuki stroma >3mm dan sel tumor tidak terdapat dalam pembuluh darah

Tahap IB

secara klinis jelas merupakan tahap I

Tahap II

kanker menyebar ke vagina. Lesi telah menyebar diluar serviks hingga mengenai vagina 2/3 proksimal tapi tidak melibatkan pelvis

Tahap IIA

hanya perluasan vagina

Tahap IIB

perluasan paraservikal dengan atau tanpa mengenai vagina

Tahap III

kanker mengenai bagian 1/3 bawah vagina atau telah meluas ke salah satu atau kedua dinding pelvis

Tahap IIIA

penyebaran sampai 1/3 bagian distal vagina sedang ke parametrium tidak dipersoalkan asalkan tidak sampai panggul

Tahap IIIB

penyebaran sudah sampai ke dinding panggul, sudah ada gangguan fungsi ginjal

Tahap IV

meluas ke mukosa kandung kemih dan rectum

Tahap IVA

kanker menyebar ke daerah lain sekitarnya

Tahap IVB

kanker menyebar ke organ lain yang lebih jauh seperti paru, otak, tulang, dan hepar

 

Kanker serviks pertama kali terjadi dibatas antara epitel yang melapisi ektoserviks dan endoserviks yang disebut dengan squamocolumnar junction (SJC). Pada wanita muda SJC berada diluar ostium uteri eksternum dan pada wanita >35 tahun berada didalam kanalis servikalis.

Kanker dapat tumbuh secara :

  1. Eksofitik : mulai dari SJC kearah lumen vagina sebagai masa ploriferasi yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
  2. Endofitik : mulai dari SJC tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi jadi ulkus.
  3. Ulserasif : mulai dari SJC dan cenderung merusak jaringan serviks dengan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.

Etiologi dan Faktor Resiko

Etiologi dari kanker belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor resiko yang diduga dapat mengindikasi terjadinya kanker ini, diantaranya :

–          Usia dini saat melakukan hubungan seksual

Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari dia sudah menstruasi atau belum. Tapi juga bergantung pada kematangan sel-sel mukosa yang terdapat diselaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah wanita tersebut berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang menjalin hubungan seks pada usia remaja paling rawan bila dilakukan di bawah usia 16 tahun.
Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks si wanita. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tak siap menerima rangsangan dari luar. Termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Lain hal bila hubungan seks dilakukan kala usia sudah di atas 20 tahun, dimana sel-sel mukosa tak lagi terlalu rentan terhadap perubahan. Oleh karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel, selalu berubah setiap saat, mati dan tumbuh lagi. Karena ada rangsangan, bisa saja sel yang tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga perubahannya tak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker.

–          Multiparitas

Pada multiparitas berarti serviks nya sering mengalami perlukaan, sehingga terjadilah proses inflamasi pada sel epitel.

–          Memiliki banyak pasangan seksual

Bisa juga kanker serviks muncul pada wanita yang berganti-ganti pasangan seks. Bila berhubungan seks hanya dengan pasangannya, dan pasangannya pun tak melakukan hubungan seks dengan orang lain, maka tidak akan mengakibatkan kanker serviks. Bila berganti-ganti pasangan, hal ini terkait dengan kemungkinan tertularnya penyakit kelamin, salah satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di permukaan mukosa hingga membelah menjadi lebih banyak. Jika jumlah virus tersebut terlalu banyak dan tidak sesuai dengan kebutuhan, tentu akan menjadi kanker.

–          Pemajanan terhadap kuman Human Papiloma Virus (HPV).

Virus ini menginfeksi membrana basalis serviks. Setelah menginfeksi sel epitel serviks sebagai upaya untuk berkembang biak, virus ini akan meningalkan sekuensi genomnya pada sel inang. Infeksi ini terjadi melalui kontak langsung. Tipe virus risiko tinggi menghasilkan protein yang dikenal dengan protein E6 dan E7 yang mampu berikatan dan menonaktifkan protein p53 dan pRb epitel serviks. P53 dan pRb adalah protein penekan tumor yang berperan menghambat kelangsungan siklus sel. Dengan tidak aktifnya p53 dan pRb, sel yang telah bermutasi akibat infeksi HPV dapat meneruskan siklus sel tanpa harus memperbaiki kelainan DNA nya. Ikatan E6 dan E7 serta adanya mutasi DNA merupakan dasar utama terjadinya kanker.

–          Pengaruh zat karsinogenik

Peningkatan radikal bebas yang menyebabkan terjadinya mutasi sel meningkat, sehingga terjadi kanker serviks.

–          Merokok

Ini peringatan paling penting buat wanita perokok. Kecuali mengakibatkan penyakit pada paru-paru dan jantung, kandungan nikotin dalam rokok pun bisa mengakibatkan kanker serviks (leher rahim). Nikotin membuat semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru, juga serviks. Sayangnya tak diketahui pasti seberapa banyak jumlah nikotin dikonsumsi yang bisa menyebabkan kanker serviks. Tapi, mengapa harus ambil risiko, lebih baik tinggalkan segera rokok jika kita ingin terbebas dari kanker

–          Umur antara 35-60 tahun

Pada wanita umur 35-60 tahun mengalami perubahan keseimbangan streroid endogen yaitu progesdiol dan estradiol. Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan sel diamana terjadinya gangguan proliferasi sel epitel serviks.

–          Keturunan

Tingginya resiko pada wanita yang keluarganya mempunyai riwayat kanker.

–          Pencucian vagina

Banyak orang yang melakukan pencucian vagina dengan obat-obatan antiseptik tertentu. Alasannya beragam, entah untuk “kosmetik” atau kesehatan. Padahal, kebiasaan mencuci vagina bisa menimbulkan kanker serviks, baik obat cuci vagina antiseptik maupun deodoran. Douching atau cuci vagina menyebabkan iritasi di serviks. Iritasi berlebihan dan terlalu sering akan merangsang terjadinya perubahan sel, yang akhirnya jadi kanker. Jadi, sebaiknya pencucian vagina dengan bahan-bahan kimia tak dilakukan secara rutin. Kecuali bila ada indikasi, misalnya, infeksi yang memang memerlukan pencucian dengan zat-zat kimia.
Itu pun seharusnya atas saran dokter. Artinya, jangan sembarangan membeli obat-obatan pencuci vagina. Terlebih lagi, pembersih tersebut umumnya akan membunuh kuman-kuman. Termasuk kuman Basillus doderlain di vagina yang memproduksi asam laktat untuk mempertahankan pH vagina. Kita tahu, bila pH tidak seimbang lagi di vagina, maka kuman lain, seperti jamur dan bakteri, bisa punya kesempatan hidup di tempat tersebut. Ini akan bisa menimbulkan penyakit-penyakit lain.

–          Kurang vitamin C

Pola hidup mengkonsumsi makanan tinggi lemak pun akan membuat orang tersebut melupakan zat-zat gizi lain, seperti beta karoten, vitamin C, dan asal folat. Padahal, kekurangan ketiga zat gizi ini bisa menyebabkan timbul kanker serviks. Beta karoten, vitamin C, dan asam folat dapat memperbaiki atau memperkuat mukosa diserviks. Jika kekurangan zat-zat gizi tersebut akan mempermudah rangsangan sel-sel mukosa tadi menjadi kanker.Beta karoten banyak terdapat dalam wortel, vitamin C terdapat dalam buah-buahan berwarna oranye, sedangkan asam folat terdapat dalam makanan hasil laut.

 

Patofisiologi

Munculnya penyakit ini diakibatkan oleh sel dinding (epitel) rahim berkembang tidak normal. Dan seperti penyakit kanker lainnya, pemicu dari kanker serviks ini belum diketahui secara pasti. Tapi dari beberapa penelitian diketahui adanya virus papilloma sebagai penyebab lain dari kanker ini. Kebanyakan penelitian menemukan bahwa infeksi human papilloma virus (HPV) bertanggung jawab untuk semua kasus kanker serviks. Virus ini hidup pada suasana lembab di cairan vagina yang dialami oleh penderita keputihan (leukore). Dalam waktu yang lama apabila keputihan yang diderita tersebut tidak kunjung membaik, umumnya berisiko pada kanker rahim. Biasanya keadaan ini ditandai dengan banyaknya cairan keputihan yang disertai bau yang tidak sedap, dan perdarahan yang keluar dari alat genital. Tapi ada kalanya kanker yang dialami muncul tanpa gejala – gejala sakit tersebut.

Serviks yang normal secara alami mengalami proses metaplasi akibat saling mendesaknya kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan adanya pemaparan terhadap faktor resiko dan masuknya mutagen, metaplasi yang awalnya berlangsung secara normal/fisiologis akan berubah jadi patologik (displatik-diskariotik) yang terjadi dengan beberapa tahap. Mulai dari tahap prainvasiv sampai invasiv dan menuju keganasan. Kira-kira dibutuhkan waktu 10-15 tahun dari tahap prainvasive menjadi invasive.

Orang yang menikah pada usia dini, perkembangan dan kematangan serviksnya belum sempurna dan lebih rentan terhadap rangsangan zat-zat kimia, sehingga sel mukosa berkembang menjadi sel kanker. Usia 35-60 tahun juga dapat merangsang terbentuknya sel-sel kanker karena terjadi perubahan keseimbangan steroid endrogen dan gangguan proliferasi sel-sel epitel.

Ganti-ganti pasanngan dapat menyebabkan penyebaran kuman pada reproduksi wanita, sehingga terjadi infeksi sel epadinya proses inflamaitel dan gangguan proliferasi sel epitel yang dapat menimbulkan keganasan pada serviks.

Multiparitas mengakibatkan serviks sering mengalami perlukaan yang mengakibatkan terjadinya inflamasi sel epitel. Selanjutnya terjadi proliferasi sel epitel yang dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks.

Defisiensi vitamin C, beta karoten dan juga asam folat bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan perbaikan mukosa serviks. Hal ini akan merangsang pertumbuhan sel yang tidak normal di servik.

Infeksi HPV adalah salah satu faktor resiko yang dapat menginduksi untuk terjadinya kanker serviks. Kanker dapat muncul segera atau bisa bertahun-tahun setelah infeksi. Untuk menculnya suatu kanker tidak selalu disebabkan oleh salah satu faktor resiko, ada kalanya kanker muncul karena pengaruh berbagai faktor resiko. Teori mengatakan bahwa HPV mensintesis sel serviks bersama dengan agen mutagen lain seperti merokok yang dapat menyebabkan penurunan efektivitas sistem imun untuk melawan virus yang masuk, sehingga terjadi keganasan oportunitis, yang merangsang timbulnya kanker.

Tahap dimana metaplasi sel yang abnormal terjadi disebagian SJC saja ini dikenal dengan tahap prainvasive yang umumnya tidak memperlihatkan gejala yang nyata. Ini dikenal dengan 2 bentuk yaitu : CIN (carcinoma intraepitel neoplasia) dan CIS (carcinoma in situ).

Kelanjutan tahap ini adalah tahap invasive. Tahap invasive ini terdiri dari beberapa tahap :

–          Tahap I dimana kanker hanya terbatas pada serviks saja tapi telah mengalami invasi ke stroma serviks. Akibat invasi pada stoma serviks, yang dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur serviks. Kerusakan tersebut menyebabkan ulserasi yang disertai dengan perdarahan spontan setelah coitus serta tejadi anemia. Selain itu, ulserasi juga menyebabkan sekresi serviks yang berlebihan, sehingga timbul keputihan yang berbau khas. Ini akan dapat berlanjut ke tahap II

–          Tahap II sudah ada perluasan kanker kearah bawah serviks tapi tidak melibatkan dinding panggul dan telah mengenai daerah vagina dan akan terjadi nekrosis pada vagina dan juga akan adanya pengeluaran cairan vagina yang berbau busuk dan juga dapat disertai dengan terjadinya perdarahan.

–          Tahapan III penyebaran ke vagina yang lebih luas dan juga mengalami penyebaran pada dinding panggul.

–          Pada tahap ini kanker meluas ke sistem perkemihan, pencernaan, pernapasan, dan otak. Metastasis pada sistem perkemihan dapat menyebabkan penyumbatan ureter atau penuhnya kandung kemih yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan eliminasi urine. Metastasis pada bagian pencernaan dapat menyebabkan terbentuknya ulkus dan terjadinya perdarahan. Selain itu, juga dapat terjadi peningkatan asam lambung yang merangsang mual dan muntah. Metastasis pada sistem pernapasan menyebabkan gangguan pengembangan paru sehingga terjadi gangguan pertukaran gas. Dan metastasis pada bagian otak menyebabkan terjadinya kerusakan sistem saraf sehingga terjadi stoke dan kematian.

 

Biasanya penderita sudah meninggal lebih dahulu disebabkan oleh perdarahan yang eksesif dan gagal menahun akibat uremia oleh karena obstruksi ureter.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prognosis kanker serviks yaitu :

  1. Umur penderita
  2. Keadaan umum
  3. Tingkat klinik keganasan
  4. Ciri-ciri histologi sel tumor
  5. Kemampuan ahli yang menangani
  6. Sarana pengobatan angtersedia

 

Manifestasi Klinis

Pada fase permulaan kanker serviks terdapat kemungkinan bahwa penderita belum mempunyai keluhan dan diagnosis. Dalam fase yang lebih lanjut sebagai akibat nekrosis (kematian sel) dan perubahan-perubahan poliferatif jaringan serviks timbul keluhan-keluhan.

Tidak ada gejala yang spesifik untuk kanker ini. Perdarahan merupakan satu-satunya gejala yang nyata, tapi ini sering tidak terjadi pada awal penyakit sehingga kanker telah lanjut saat ditemukan.

Gejala paling dini yang dapat muncul antara lain :

–          Keputihan

–          Siklus menstruasi yang tidak teratur

–          Tidak menstruasi sama sekali

–          perdarahan setitik sehabis bersetubuh

–          pengeluaran cairan encer dari vagina

–          nyeri

–          lemah

–          Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi)

–          Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause

Keluhan lain yang mungkin muncul yaitu adanya rabas, tapi walau bagaimanapun pada prinsipnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala spesifik pada stadium awal.

Dengan terus berkembangnya kanker ini dan jika mencapai kanker servikal invasive dan juga diikuti dengan serangan pada fundus uteri dan mengenai regional saraf, maka penderita dapat mengalami nyeri tajam pada punggung dan tungkai.

Pada tahap akhir, ketika penyakit ini tidak diobati akan timbul emisiasi dan anemia biasanya diikuti dengan demam akibat infeksi sekunder.

 

PEMERIKSAAN

Pap Smear

Pap Smear (pemeriksaan serologi) adalah satu teknik pemeriksaan yang dapat menggambarkan keadaan tingkat perubahan serviks. Selain untuk deteksi keganasan, Pap Smear dapat pula untuk menilai keadaan hormon dan mengatahui adanya mikroorganisme (Tricimonas Vaginalis dan Candida Albicans), tapi HPV tidak selalu dapat dideteksi dengan teknik ini (Reeder, 1995).

Hasil Pap Smear dapat dipisahkan sebagai berikut (Reeder, 1995) :

  1. Class I : sel normal
  2. Class II : terdapat sel abnormal, harus dilakukan pengulangan Pap Smear
  3. ClassIII : terdapat sel – sel yang kemungkinan ganas, dibutuhkan biopsi
  4. Class IV : terdapat sel – sel ganas sedikit, harus dilakukan biopsi
  5. Class V : banyak sel – sel ganas

Hasil Pap Smear yang mencurigakan perlu untuk dilakukan pengulangan Pap Smear dalam 3 bulan. Walaupun Pap Smear sendiri tidak memberikan penilaian yang adekuat.

Kolkoskopi dan Biopsi

Kolposkopi dan biopsi adalah teknik yang dapat untuk mendeteksi penyakit yang lebih serius. Wanita dengan CIN dan CIS membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Kolposkopi, biopsi, dan endoservikal kuratase adalah bentuk penanganan yang teknik penanganan yang dapat dilakukan yang diikuti dengan teknik yang dapat menghancurkan jaringan dan juga pergantian jaringan. Wanita dengan infeksi mikroorganisme ditangani dengan pemberian obat yang cocok dan diikuti dengan Pap Smear ulangan dalam 3 bulan. Jika kondisi abnormal masih ada kolposkopi dan biopsi dapat langsung dilakukan (Reeder, 1995).

Servikologi

Sebuah kamera khusus yang digunakan untuk mengambil gambar dari servik setelah servik tersebut diberi asam asetat. Kemudian dibawa ke laboratorium untuk dilihat apakah teridentifikasi kanker atau tidak.

Penanganan medis yang dilakukan terhadap kanker serviks tergantung pada perluasan CIN yang terjadi. Jika sel endoservikal bebas dari penyakir dan hasil Pap Smear menunjukkan CINsebagian dan CIS, teknik penanganan yang diberikan adalah yang bertujuan untuk menghancurkan dan menghilangkan permukaan yang abnormal. Teknik yang dapat digunakan diantaranya adalah Cyrosurgery, terapi laser, conizatiuon dan elektroutery (Reeder, 1995).

Ketika CIN telah berubah menjadi tahapan mikroinvasive, surgical conization adalah bentuk penanganan yang dapat dilakukan. Ini dilakukan ketika kolposkopi dan biopsi gagal untuk menghancurkan kondisi abnormal tersebut. (Reeder, 1995).

Kanker serviks tahap invasive adalah tahap dimana perluasan telah berkembang jadi stroma dan juga telah mengalami perluasan pada organ lain seperti vagina, rektum, kandung kemih, ginjal dan juga terjadi metastasis. Kondisi seperti ini ditangani dengan dilakukan histerektomi, radioterapi, kemoterapi. Semua tindakan yang akan dilakukan tergantung pada perluasan penyakit, umur wanita tersebut, kesehatan secara umum dan kondisi abnormal lainnya (Reeder, 1995).

Manajemen Terapeutik

Kanker serviks adalah bentuk keganasan yang sering dijumpai pada wanita. Sama halnya dengan keganasan yang lainnya prognosis dari penyakit ini setelah pengobatan akan makin baik jika lesi ditemukan dan diobati lebih dini. Tingkat harapan kesmbuhan dapat mencapai 85% untuk tahap I, 50-60% untuk tahap II, 30% untuk tahap III, dan 5-10% untuuk tahap IV (Prince & Wilson, 1995).

Untuk mengetahui diagnosa secara dini, maka seorang wanita walaupun tidak merasakan keluhan, perlu untuk melakukan pemeriksaan. Untuk wanita usia kurang dari 30 tahun dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan genitalia sekali setahun, lebih dari 30 tahun 6 bulan sekali dan sekurang – kurangnya satu kali pada wanita yang hamil (Purnawan dkk, 1982).

Pemilihan pengobatan tergantung kepada ukuran tumor, stadium, pengaruh hormon terhadap pertumbuhan tumor dan kecepatan pertumbuhan tumor serta usia dan keadaan umu penderita.

Metoda Pengobatan :

  1. Metode pengobatan pada stadium awal
    1. Pemanasan                                                                                                 Diathermy atau dengan sinar laser.
    2. Cone biopsi

Mengambil sedikit dari sel-sel leher rahim, termasuk sel yang mengalami perubahan. Tindakan ini memungkinkan pemeriksaan yang lebih teliti untuk memastikan adanya sel – sel yang mengalami perubahan.

  1. Metode pengobatan Pre-Kanker
  1. Pembedahan

Penderita akan mengalami histeroktomi (pengakatan rahim). Ovarium dan tuba falopi bisa juga diangkat tergantung tingkat penyebaran kanker tersebut.

  1. Terapi penyinaran

Terapi penyinaran merupakan terapi lkal, hanya menyerang sel-sel kanker pada daerah yangdikenainya. Pada stadium I, II, dan III dilakukan terapi penyinaran dan pembedahan.2 Penyinaran bisa dilakukan sebelum pembedahan (untuk memperkecil ukuran tumor) atau setelah pembedahan (untuk membunuh sisa sel – sel kanker yang tersisa)

  1. Kemoterapi

Pada terapi hormonal digunakan zat yang mampu mencegah sampainya hormon ke sel kanker dan mencegah pemakaian hormon oleh sel kanker. Hormon bisa menempel pada reseptor hormon dan menyebabkan perubahan di dalam jaringan rahim.

PENATALAKSANAAN

Tingkat

Penatalaksanaan

0

Biopsi kerucut,Histeroktomi transvaginal

Ia

Biopsi kerucut,Histeroktomi transvaginal

Ib, Iia

Histeroktomi radikal dengan dengan limfadenoktomi panggul dan evaluasi kelenjar limfa para aorta (bila terdapat metastatis dilakukan radioterapi pasca pembedahan)

IIb, III, dan IV

Histeroktomi transvaginal

Iva dan IVb

Radioterapi, Radiasi paliatif, kemoterapi

Tabel  2 : penatalaksanaan pengobatan kanker tiap stadium

 

Kanker serviks yang telah mengalami metastasis ditangani dengan pemberian agen chemoteraphic seperti cisplatin, tapi ini rata – rata berefek rendah dan jangka pendek. Klien yang ditangani dengan radioterapi dan kemoterapi adalah yang telah mengalami kerusakan pelvic partial atau keseluruhan yang diikuti dengan uterostomi dan kolonostomi (Reeder, 1995).

Selain penanganan secara medis, kanker serviks juga melibatkan intervensi dari keperawatan. Peran perawat disini dapat berupa memberikan pendidikan dan informasi untuk mengatasi kurang pengetahuan, ketakutan dan kecamasan klien. Perawat memberikan dorongan kepada pasien untuk mampu merawat diri sendiri untuk menjaga kesehatan dan mencegah komplikasi. Perawat perlu untuk mengidentifikasi bagaimana klien dan pasangannya memandang kemampuan reproduksinya. Pada beberapa wanita masalah harga diri dan body image bisa terjadi. Intervensi difokuskan untuk membantu klien dan pasangannya untuk menerima perubahan fisik dan psikososia terkait dengan perubahan dan ketidakmampuan (Reeder, 1995).

Pengetahuan mengenai faktor resiko yang dapat meningkatkan kejadian kanker perlu diinformasikan pada wanita muda, diantaranya tentang hubungan seksual dini dan memiliki banyak pasangan seksual dapat meningkatkan terjadinya kanker dan juga betapa pentingnya dilakukannya Pap Smear.

Adanya jenis diet yang mempengaruhi kejadian kanker perlu juga untuk diinfokan. Konsumdi rendah vitamin A, beta karoten, vitamin C atau asam folat dapat dihubungkan dengan peningkatan prevalensi kanker serviks. Vitamin A dan prekursornya dapat menghambat tahapan dari rangkaian karsinogenesis, mengontrol perubahan sel atau menghambat perubahan efek faktor pertumbuhan. Vitamin C membantu untuk mempertahankan epitel normal dan membantu untuk melawan efek dari karsinogen. Ia akakn membantu mengubah struktur karsinogen dan mencegah kontak karsinogen dengan jaringan target. Asam folat dapat menghambat atau merangsang enzim tertentu yang oenting untuk perubahan sel.

Kanker Serviks Dalam Masa Kehamilan

Kanker serviks tidak menghalangi adanya kehamilan. Tidak ada perbedaan antara kanker dalam dan diluar masa kehamilan, mengenai perjalanan penyakitnya, dalam rasio kesembuhan pada tingkat klinik yang sama. Untuk penanganan primer dipilih pembedahan, karena penyinaran mempunyai efek samping yang merugiakn terutama pada klien yang berusia muda.

Penanganan medis didasarkan atas tingkat klinik penyakit dan umur kehamilan. Pada tahap 0 kehamilan diteruskan sampai partus berlangsungsecara spontan dan bila 3 bulan asca persalinan masih ada maka ditangani seperti kondisi tidak hamil dengan memperhatikan tingkat klinik yang ada.

Pada tingkat klinik I, II, III keatas degan usia kehamilan :

  1. Trimester I dan awal trimester II : histerektomi radikal dengan limfadenoktomi panggul dengan janin in-utero.
  2. Trimester II lanjut : ditunggu sampai janin viable (dapat hidup diluar rahim/kehamilan >34 minggu). Dilakukan seksio sesaria diikuti dengan histerektomi radikal dan limfadenoktomi panggul.

 

 

  1. Trimester III : seksio sesaria diikuti dengan histerektomi radikal dan limfadenoktomi panggul.
  2. Pasca persalinan : histerektomi radikal dan limfadenoktomi panggul.

 

ASUHAN KEPERAWATAN

  1. 1. Pengkajian
    1. Identitas Klien
    2. Data Umum Kesehatan

–          Riwayat kesehatan sekarang

Keluhan keputihan, siklus menstruasi tidak teratur, tidak menstruasi sama sekali, pengeluaran sekret vagina yang tidak normal, perdarahan setitik setelah senggama, nyeri tajam pada paha dan sampai tungkai.

–          Riwayat kesehatan dahulu

Riwayat kesehatan ynag lalu tentang penyakir yang berhuibungan dengan kanker, terdapat riwayat infeksi HPV, infeksi virus herpes tipe II, hygiene seksual yang jelek.

–          Riwayat kesehatan keluarga

Adanya riwayat anggota keluarga yang menderita kanker, riwayat pasangna yang menderita infeksi reproduksi.

–          Riwayat menstruasi

Adanya riwayat menstruasi yang tidak teratur, lama dan siklus haid, usia menarce.

–          Riwayat perkawinan

Adanya riwayat menikah pada usia dini (<16 tahun), mempunyai pasangan yang lebih dari satu, sering melahirkan dan jarak kehamilan yang dekat.

–          Riwayat keluarga berencana

Adanya riwayat penggunaan alat kontrasepsi hormonal.

  1. Aspek Psikososial

–          Perilaku

Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan prilaku secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan. Intensitas perilaku akan meningkatkan gejala dengan peningkatan kecemasan.

–          Faktor predisposisi

Dalam mengkaji faktor predisposisi akan ditemukan hal yang dapat menyebabkan terjadi kecemasan, antara lain : peristiwa traumatik, konflik yang dialami, frustasi, gangguan fisik, pola keluarga menghadapi stress, riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga dan pengobatan yang pernah didapat.

–          Stressor pencetus

Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor pencetus dapat pula dikelompokkan dalam dua kategori :

  • Ancaman terhadap integritas seseorang yang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari – hari .
  • Ancaman terhadap sistem diri seseorang yang dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial.

–          Sumber koping

Individu dapat menanggulangi stress dan kecemasan dengan menggunakan sumber koping dari lingkungan diantaranya tingkat ekonomi, kemampuan memecahkan masalah, dukungan sosial, keyakinan budaya yang dapat membuat individu mengadopsi strategi koping yang sukses.

–          Mekanisme koping

Ketika mengalami kecemasan indivisu menggunakan berbagai melkanisme koping untuk mencoba mengatasi ketidakmampuan dan kecemasan secara konstruktif merupakan penyebab utama terjadinya prilaku patologis.

Untuk kecemasan ringan, pola koping yang cenderung muncul adalah menangis, tidur, makan, tertawa, atau melakukan aktivitas fisik. Namun untuk mengatasi kecemasan sedang, berat dan oanik, dibutuhkan lebih banyak energi.

  1. Pemeriksaan Fisik

–          keadaan umum : lemah, klien tampak pucat.

–          Tanda – tanda vital : tekanan darh normal dan rendah, nadi meningkat, frekuensi nafas normal atau meningkat, suhu normal atau meningkat.

–          Kepala : rambut rontok, konjungtiva anemis, membran mukosa mulut kering, mukosa mulut pucat.

–          Torak : pernapasan dan nadi agak meningkat, hipotensi.

–          Abdomen : nyeri tekan, terdapat distensi abdomen atau kandung kemih.

–          Genitalia : keluar cairan (keputihan, darah) kemerahan, laserasi dan bau busuk.

–          Ekstremitas : kelemahan, edema.

  1. Pemeriksaan Penunjang

–          Papanicalow Smear

–          Biopsi

–          Kolposkopi

–          Radiologi

 

 

 

  1. 2. Diagnosa Keperawatan

Kemungkinan diagnosa keperawatan yang dapat muncul antara lain :

  1. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan berlebihan melalui rute normal dan atau banormal (perdarahan), status hipermetabolik, kerusakan masukan cairan.
  2. Ketakutan/ansietas b.d krisi situasi (kanker), ancaman atau perubahan kesehatan, ancaman kematian, perpisahan dengan keluarga.
  3. Gangguan harga diri rendah b.d efek samping kemoterapi atau radioterapi.
  4. Nyeri b.d proses penyakit (kompresi/destruksi jaringan saraf, kekurangan suplai vascular, inflamasi, obstruksi jaras saraf), efek samoing berbagai agen terapi.
  5. Perubahan nilai nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d status metabolik berkenaan dengan kanker, konsentrasi kemoterapi dan radsiasi, distress emosional.
  6. Resti infeksi b.d ketidakadekuatan pertahanan sekunder dan imunosupresi, malnutrisi, prosedur invasive.
  7. Resti perubahan mambran mukosa mulut b.d efek samping agen terapi.
  8. Resti kerusakan integritas kulit b.d efek radiasi dan kemoterapi, penurunan imunologis, perubahan statusnutrisi, anemia.
  9. Resti konstipasi/diare b.d iritasi GIT dari kemoterapi dan radiasi, masukan cairan buruk.
  10. Resti perubahan pola seksual b.d ketakutan dan ansietas, perubahan fungsi/struktur tubuh.
  11. Resti perubahan proses keluarga b.d krisis situasi, perubahan peran atau status ekonomi.
  12. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan oengobatan b.d interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, keterbatasan kognitif.

 

 

 

  1. 3. Intervensi Keperawatan
    1. Dx : Ketakutan/ansietas b.d krisi situasi (kanker), ancaman atau perubahan      kesehatan, ancaman kematian, perpisahan dengan keluarga.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan kepearawatan ketakutan/ansietas klien dapat diminimalkan atau teratasi.

Kriteria Hasil :

–          Klien melaporkan ketakutan/ansietas yang dirasakan berkurang

–          Klien mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping yang efektif dan berpartisipasi aktif dalam pengobatan dan perawatan

–          Tanda – tanda vital dalam batas normal

No

Intervensi

Rasional

1.

Tinjau ulang pengalaman klien/keluarga sebelumnya terhadap kanker

Membantu dalam mengidentifikasi rasa takut dan kesalahan konsep berdasarkan pengalaman terhadap kanker

2.

Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan

Memberi kesempatan untuk memeriksa rasa takut realitas serta kesalahan konsep tantang diagnosa

3.

Berikan lingkungan terbuka dimana klien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan

Membantu klien untuk merasa diterima terkait dengan kondisinya tanpa perasaan dihakimi dan meningkatkan rasa terhormat dan terkontrol

4.

Pertahankan kontak yang sering dengan klien. Bicara dengan menyentuh klien jika perlu

Memberi keyakinan bahwa klien tidak sendiri atau ditolak, mengembangkan kepercayaan

5.

Bantu klien/orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut yang untuk memulai strategi koping untuk menghadapi rasa takut

Keterampilan koping sering tidak efektif setelah diagnosa dan selama fase pengobatan

6.

Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis

Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan untuk membantu klien membuat keputusan dan pilihan berdasarkan realita

7.

Izinkan ekspresi marah, kecewa tanpa konfrontasi. Berikan informasi dimana perasaan adalah normal jika diekspresikan secara wajar

Penerimaan perasaan memungkinkan klien mulai menghadapi situasi

8.

Jelaskan pengobatan yang dianjurkan, tujuan dan potensi efek samping. Membantu klien menyiapkan pengobatan

Pengetahuan yang cukup dapat mendorong klien untuk disiplin dalam menjalani pengobatan

9.

Jelaskan prosedur, beri kesempatan

Informasi akurat memungkinkan klien menurunkan efek samping yang merugikan, misalnya : mual, muntah

10.

Berikan transfusi darah sesuai indikasi

SDM

 

 

Trombosit

 

Diperlukan untuk memperbaiki jumlah daran dan mencegah anemia yang sering pada klien kanker

Mencegah terjadi trombositopenia yang dapat beresiko perdarahan

 

  1. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan berlebihan melalui rute normal dan atau banormal (perdarahan), status hipermetabolik, kerusakan masukan cairan.

Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi

Kriteria Hasil :

–          Meningkatnya masukan cairan minimal 2000 ml, kecuali jika merupakan konrtraindikasi

–          Perdarhn terkontrol/tidak ada

–          Membran mukosa lembab

–          TTV dalam batas normal

–          Kadar hemoglobin >11 gr%

No

Intervensi

Rasional

1.

Pantau masukan dan haluaran.

hitung keseimbangan 24 jam

Keseimbangan cairan

2.

Timbang berat badan sesuai indikasi

Pengukuran sensitive terhadap fluktuasi keseimbangan cairan

3.

Pantau tanda – tanda vital. Evaluasi nadi perifer, pengisian kapiler

Menunjukkan keadekuatan sirkulasi

4.

Kaji turgor kulit dan kelembaban mukosa. Perhatikan keluahan haus

Indikator tidak langsung dari status hidrasi dan derajat kekurangan volume cairan

5.

Dorong peningkatan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai dengan toleransi individu

Membantu dalam memelihara kebutuhan cairan dan menurunkan resiko efek samping yang membahayakan

6.

Observasi terhadar kecendrungan perdarahan, misalnya : rembesan dari membran mukosa, sisi pungsi, adanya ekimosis dan pteki

Identifikasi dini terhadap masalah yang dapat muncul sebagai akibat kanker dan terapi, memungkinkan untuk dilakukan penanganan secara dini

7.

Minimalkan pungsi vena, misalnya dengan kombinasi memulai IV dengan pengambilan contoh darah

Menurunkan potensial hemoragik dan infeksi berkenaan dengan pungsi berulang

8.

Hindari trauma dam pemberian tekanan pada posisi pungsi

Menurunkan potensial perdarahan atau pembentukan hematoma

9.

Berikan cairan IV sesuai indikasi untuk bertanya dan beri jawaban yang jujur (kolaborasi)

Diberikan untuk hidrasi umum serta mengencerkan obat anti neoplastik dan menghadapi situasi lebih efektif dengan realistis sehingga menurunkan ansietas dan ketakutan karena ketidaktahuan

10.

Tingkatkan perasaan yang tenang dan lingkungan yang tenang

Memudahkan istirahat, menghemat energi dan meningkatkan kemampuan koping

11.

Identifikasi tahap berduka yang dialami klien dan orang terdekat

Pilihan intervensi ditentukan oleh tahap berduka, prilaku koping

12.

Perhatikan koping tak efektif

Mengidentifikasi masalah individu dan memberikan dukungan pada klien dan orang terdekat dalam menggunakan kemampuan dan keterampilan koping yang efektif

13.

Dorong dan kembangkan interaksi klien dengan sistem pendukung

Mengurangi perasaan isolasi

14.

Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila keputusan mayor akan dibuat

Menjamin sistem pendukung untuk klien

 

  1. Nyeri b.d proses penyakit (kompresi/destruksi jaringan saraf, kekurangan suplai vascular, inflamasi, obstruksi jaras saraf), efek samoing berbagai agen terapi.

Tujuan : klien mengalami nyeri yang minimal dan terkontrol

Kriteria Hasil :

–          Klien melaporkan nyeri yang dialami berkurang

–          Klien mengikuti aturan farmakologi

–          Klien mendemonstrasikan penggunaan keterampialn relaksasi

No

Intervensi

Rasional

1.

tentukan riwayat nyeri, misalnya lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas, serta tindakan penghilang nyeri yang dilakukan

informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan dan keefektifan intervensi

2.

berikan tindakan kenyamanan dasar, misal : reposisi, gosokan punggung dan aktivitas hiburan

meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian

3.

dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri, tertawa, sentuhan terapeutik

memungkinkan klien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa kontrol

4.

evaluasi penghilangan nyeri. Nilai pengaturan pengobatan bila perlu

tujuannya adalah untuk kontrol nyeri maksimal dengan pengaruh minimal pada aktivitas sehari – hari

5.

kembangkan rencana manajemen nyeri dengan klien dan dokter

rencana tergorganisasi mengembangkan kesempatan untuk kontrol nyeri

6.

berikan analgesik sesuai indikasi

nyeri adalah komplikasi yang sering pada kanker , meskipun respon tiap individu berbeda. Saat perubahan penyakit, penilaian dosis dan pemberian akan diperlukan

 

 

 

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in MATERNITAS. Bookmark the permalink.

2 Responses to CARSINOMA SERVIKS

  1. irha says:

    thank u……………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s