ENDOMETRIOSIS

 

  1. PENGERTIAN

ENDOMETRIUM

Endometrium adalah lapisan terdalam pada rahim dan tempat menempelnya ovum yang telah dibuahi. Di dalam lapisan endometrium terdapat pembuluh darah yang berguna untuk menyalurkan zat makanan ke lapisan ini. Saat ovum yang telah dibuahi (yang biasa disebut fertilisasi) menempel di lapisan endometrium (implantasi), maka ovum akan terhubung dengan badan induk dengan plasenta yang berhubung dengan tali pusat pada bayi.

Pada suatu fase dimana ovum tidak dibuahi oleh sperma, maka korpus luteum akan berhenti memproduksi hormon progesteron dan berubah menjadi korpus albikan yang menghasilkan sedikit hormon diikuti meluruhnya lapisan endometrium yang telah menebal, karena hormon estrogen dan progesteron telah berhenti diproduksi. Pada fase ini, biasa disebut menstruasi atau peluruhan dinding rahim.


Endometrium terdiri atas jaringan ikat/stroma dan sel-sel selapis kubis yang berproliferasi dan menebal setelah haid lalu runtuh pada saat haid.  Siklus endometrium juga dipengaruhi oleh poros hipotalamus-hipofisis-ovarium. Puncak LH hipofisis terjadi 24-36 jam sebelum ovulasi. Estradiol dihasilkan sel teka interna folikel dan pasca ovulasi sel teka tersebut berubah menjadi sel lutein yang menghasilkan progesteron.

 

 

 

 

 

ENDOMETRIOSIS

  • Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium (kelenjar dan stoma) diluar uterus (Arif Mansjoer, 2001)
  • Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium diluar kavum uterus. Bila jaringan endometrium terdapat didalam miometrium disebut adenomiosis (adenometriosis internal) sedangkan bila diluar uterus disebut (endometriorisis ekterna).
  • Endometriosis adalah pertumbuhan jaringan yang mirip endometrium, di luar kavum uteri (Manuaba, 2001).
  • Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium (kelenjar dan stroma). (Mansjoer, 2001).
  • Endometriosis adalah satu keadaan dimana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas kelenjar-kelenjar dan stroma, terdapat di miometrium ataupun di luar uterus. (Wiknjosastro, 1999).
  • Endometriosis merupakan suatu kondisi yang dicerminkan dengan keberadaan dan pertumbuhan jaringan endometrium di luar uterus. Jaringan endometrium itu bisa tumbuh di ovarium, tuba falopii, ligamen pembentuk uterus, atau bisa juga tumbuh di apendiks, colon, ureter dan pelvis. ( Scott, R James, dkk. 2002)

 

KEMUNGKINAN LOKASI ENDOMETRIOSIS:

  • Endometriosis interna: dibagian lain uterus misalnya serviks dan isthmus.
  • Endometriosis eksterna: di luar uterus.
  • Adenomiosis: endometrium di dalam lapisan miometrium.
  • Endometrioma: endometrium dalam ovariium- kista coklat.
  • Pada organ / tempat lain misalnya di ppermukaan/ dinding usus, cavum Douglasi, ligamen-ligamen, dan sebagainya. Jaringan endometrium ektopik ini berproliferasi, infiltrasi dan menyebar ke organ-organ tubuh

 

 

 

 

KLASIFIKASI ENDOMETRIOSIS (ACOSTA, 1973)

  1. Ringan:
  • Endometriosis menyebar tanpa perlekatan pada anterior atau posterior cavum
  • Douglasi/ permukaan ovarium/ peritoneum pelvis.
  1. Sedang:
  • Endometriosis pada 1 atau kedua ovarium disertai parut dan retraksi atau endometrioma kecil.
  • Perlekatan minimal juga di sekitar ovarium yang mengalami endometriosis.
  • Endometriosis pada anterior atau posterior cavum Douglasi dengan parut dan retraksi atau perlekatan tanpa implantasi di kolon sigmoid
  1. Berat:
  • Endometriosis pada 1 atau 2 ovarium ukuran lebih dari 2 x 2 cm2.
  • Perlekatan 1 atau 2 ovarium / tuba fallopii / cavum Douglasi karena
    endometriosis.
  • Implantasi / perlekatan usus dan / atau traktus urinarius yang nyata.

B. ETIOLOGI

Sampai saat ini belum ada yang memastikan penyebab endometriosis. Ada beberapa teori yang menerangkan endometriosis seperti:

  1. Teori implantasi yaitu implantasi sel endometrium akibat regurgitan transtuba pada saat menstruasi
  2. Teori metaplasia yaitu metaplasia sel multipotensial menjadi endometrium, namun teori ini tidak didukung bukti klinis maupun eksperimen
  3. Teori induksi yaitu kelanjutan teori metaplasia dimana faktor biokimia, endogen menginduksi perkembangan sel peritoneal yang tidak berdiferensiasi menjadi jaringan endometrium (Arif Mansjoer, 2001)

 

 

Teori lain :

  1. Teori transplantasi bahwa aliran darah haid (menstruasi retrogard) mengirimkan kembali jaringan endometrium ke tempat ektopik melalui tuba fallopi
  2. Teori metaplasi berhubungan dengan jaringan epitel embrionik yang tertahan yang selama pertumbuhannya dapat berubah menjadi jaringan epitel oleh stimuli dari luar (Brunner & Suddarth, 2002)

 

FAKTOR RESIKO

Ada beberapa faktor resiko penyebab terjadinya endometriosis, antara lain:

  1. Wanita usia produktif ( 15 – 44 tahun )
  2. Wanita yang memiliki siklus menstruasi yang pendek (7 hari)
  3. Spotting sebelum menstruasi
  4. Peningkatan jumlah estrogen dalam darah
  5. Keturunan : memiliki ibu yang menderita penyakit yang sama.
  6. Memiliki saudara kembar yang menderita endometriosis
  7. Terpapar Toksin dari lingkungan. Biasanya toksin yang berasal dari pestisida, pengolahan kayu dan produk kertas, pembakaran sampah medis dan sampah-sampah perkotaan. (Scott, R James, dkk. 2002)

 

  1. PATOFISIOLOGI

Endometriosis dipengaruhi oleh faktor genetik. Wanita yang memiliki ibu atau saudara perempuan yang menderita endometriosis memiliki resiko lebih besar terkena penyakit ini juga. Hal ini disebabkan adanya gen abnormal yang diturunkan dalam tubuh wanita tersebut. Gangguan menstruasi seperti hipermenorea dan menoragia dapat mempengaruhi sistem hormonal tubuh. Tubuh akan memberikan respon berupa gangguan sekresi estrogen dan progesteron yang menyebabkan gangguan pertumbuhan sel endometrium. Sama halnya dengan pertumbuhan sel endometrium biasa, sel-sel endometriosis ini akan tumbuh seiring dengan peningkatan kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh.

Faktor penyebab lain berupa toksik dari sampah-sampah perkotaan menyebabkan mikoroorganisme masuk ke dalam tubuh. Mkroorganisme tersebut akan menghasilkan makrofag yang menyebabkan resepon imun menurun yang menyebabkan faktor pertumbuhan sel-sel abnormal meningkat seiring dengan peningkatan perkembangbiakan sel abnormal.

Jaringan endometirum yang tumbuh di luar uterus, terdiri dari fragmen endometrial. Fragmen endometrial tersebut dilemparkan dari infundibulum tuba falopii menuju ke ovarium yang akan menjadi tempat tumbuhnya. Oleh karena itu, ovarium merupakan bagian pertama dalam rongga pelvis yang dikenai endometriosis.

Sel endometrial ini dapat memasuki peredaran darah dan limpa, sehingga sel endomatrial ini memiliki kesempatan untuk mengikuti aliran regional tubuh dan menuju ke bagian tubuh lainnya.

Dimanapun lokasi terdapatnya, endometrial ekstrauterine ini dapat dipengaruhi siklus endokrin normal. Karena dipengaruhi oleh siklus endokrin, maka pada saat estrogen dan progesteron meningkat, jaringan endometrial ini juga mengalami perkembangbiakan. Pada saat terjadi perubahan kadar estrogen dan progesteron lebih rendah atau berkurang, jaringan endometrial ini akan menjadi nekrosis dan terjadi perdarahan di daerah pelvik

Perdarahan di daerah pelvis ini disebabkan karena iritasi peritonium dan menyebabkan nyeri saat menstruasi (dysmenorea). Setelah perdarahan, penggumpalan darah di pelvis akan menyebabkan adhesi/perlekatan di dinding dan permukaan pelvis. Hal ini menyebabkan nyeri, tidak hanya di pelvis tapi juga nyeri pada daerah permukaan yang terkait, nyeri saat latihan, defekasi, BAK dan saat melakukan hubungan seks.

Adhesi juga dapat terjadi di sekitar uterus dan tuba fallopii. Adhesi di uterus menyebabkan uterus mengalami retroversi, sedangkan adhesi di tuba fallopii menyebabkan gerakan spontan ujung-ujung fimbriae untuk membawa ovum ke uterus menjadi terhambat. Hal-hal inilah yang menyebabkan terjadinya infertil pada endometriosis. (Scott, R James, dkk. 2002) ; (Spero f, Leon. 2005)

 

 

  1. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala endometriosis antara lain :

  1. Nyeri :
    1. Dismenore sekunder
    2. Dismenore primer yang buruk
    3. Dispareunia
    4. Nyeri ovulasi
    5. Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam paha, dan nyeri pada bagian abdomen bawah selama siklus menstruasi.
    6. Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah hubungan seksual
    7. Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter
    8. Teraba massa tumor dan nyeri tekan di adneksa.
    9. Dinding forniks posterior vagina memenndek.
    10. Perdarahan abnormal
      1. Hipermenorea
      2. Menoragia
      3. Spotting sebelum menstruasi
      4. Darah menstruasi yang bewarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau di akhir menstruasi
      5. Keluhan buang air besar dan buang air kecil
        1. Nyeri sebelum, pada saat dan sesudah buang air besar
        2. Darah pada feces
        3. Diare, konstipasi dan kolik
        4. Pertumbuhan endometrium di tempat lain dapat menimbulkan reaksi inflamasi. Pada haid dapat menimbulkan sakit hebat karena :
          1. Perdarahan intraperitoneal.
          2. Perlengketan (tertahan pada pergerakann).
          3. Akut abdomen.
          4. Endometriosis peritoneum :
            1. Warna merah (aktif/baru) atau coklat hhitam (sudah lisis) atau putih (fibrosis).
            2. Dapat hipervaskuler (lesi aktif) atau avaskuler (lesi baru atau fibrosis).
            3. Permukaan rata atau menonjol atau iregguler.
            4. Letak superfisial (di permukaan organ / peritoneum) atau profunda (invasif keorgan). (Scott, R James, dkk. 2002)

 

  1. KOMPLIKASI
  2. Obstruksi ginjal dan penurunan fungsi ginjal karena endometriosis dekat dengan kolon atau ureter
  3. Torsi ovarium atau rupture ovarium sehingga terjadi peritonitis karena endometrioma
  4. Calamenial seizure atau pnemotoraks karena eksisi endometriosis
    1. DIAGNOSA BANDING
    2. Tumor ovarium
    3. Mioma multipel
    4. Karsinoma rectum
    5. Radang pelvis.

 

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan yang dilakukan untuk membuktikan adanya endometirosis ini antara lain:

  1. Uji serum
  • CA-125
    Sensitifitas atau spesifisitas berkurang
  • Protein plasenta 14

Mungkin meningkat pada endometriosis yang mengalami infiltrasi dalam, namun nilai klinis tidak diperlihatkan.

  • Antibodi endometrial

Sensitifitas dan spesifisitas berkurang

  1. Teknik pencitraan
  • Ultrasound
    Dapat membantu dalam mengidentifikasi endometrioma dengan sensitifitas 11%
  • MRI

90% sensitif dan 98% spesifik

  • Pembedahan

Melalui laparoskopi dan eksisi.

(Scott, R James, dkk. 200)

 

 

  1. PENATALAKSANAAN

Terapi yang dilakukan ditujukan untuk membuang sebanyak mungkin jaringan endometriosis, antara lain:

  1. Pencegahan yaitu menunda kehamilan, tidak melakukan pemeriksaan kasar atau melakukan kerokan pada haid
  2. Observasi pada pembesaran analgesik yaitu pemeriksaan periodik dan berkala
  3. Pengobatan Hormonal

Pengobatan hormaonal dimaksudkan untuk menghentikan ovulasi, sehingga jaringan endometriosis akan mengalami regresi dan mati. Obat-obatan ini bersifat pseudo-pregnansi atau pseudo-menopause, yang digunakan adalah :

  • Derivat testosteron, seperti danazol, dimetriose
  • Progestrogen, seperti provera, primolut
  • GnRH
  • Pil kontrasepsi kombinasi
  • Namun pengobatan ini juga mempunyai beberapa efek samping.
  1. Pembedahan
    Bisa dilakukan secara laparoscopi atau laparotomi, tergantung luasnya invasi endometriosis. (Scott, R James, dkk. 2002)

 

 

REFERENSI

  1. _________. 2009. Endometriosis. http://www.lusa.web.id/endometriosis. diakses tanggal 3 Januari 2011
  2. Mansjoer, A. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
  3. Mansjoer, Arif.2000 Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga Jilid kedua . Jakarta: Media Aesculapius
  4. Manuaba, 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
  5. Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Jakarta: Widya Medica
  6. Wikjosastro. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
    1. Spero f, Leon. 2005. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. Lippincot Williams & Wilkins : Philadelphia.

 

 

 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in MATERNITAS. Bookmark the permalink.

2 Responses to ENDOMETRIOSIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s