(PENGKAJIAN PADA ANTENATAL TRISEMESTER KETIGA)

MAKALAH

Maternitas

ASUHAN KEPERAWATAN ANTENATAL

(PENGKAJIAN PADA ANTENATAL TRISEMESTER KETIGA)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Asuhan antenatal adalah suatu program terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medic pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan.

Dalam melakukan asuhan keperawatan pada antenatal, kita perlu melakukan pengkajian terhadap ibu dan janin. Pengkajian tersebut meliputi identitas pasien, keluhan utama, riwayat kehamilan sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat khusus obstetric dan ginekolik, riwayat sosial / ekonomi. Untuk mendukung pengkajian pada ibu hamil dilakukan pemeriksaan fisik dan uji laboratorium. Disamping itu pada bayi yang perlu dikaji adalah Pada janin yang perlu dikaji adalah gerakan janin, denyut jantung janin, dilakukan setelah UK 12 minggu, tafsiran berat janin, letak dan persentasi, engagement (masuknya kepala ke panggul), kehamilan kembar / tunggal.


1.2 RUMUSAN MASALAH

  • Apa yang dimaksud dengan asuhan keperawatan antenatal?
  • Apa – apa saja pengkajian yang dilakukan pada ibu hamil?
  • Apa – apa saja pengkajian yang dilakuakan pada janin?

1.3 TUJUAN

  1. a. Tujuan Umum
  • Mengetahui pengkajian yang dilakukan pada ibu masa antenatal trimester ketiga
  • Mengetahui masalah-masalah yang muncul pada masa antenatal
  1. b. Tujuan Khusus
  • Mengetahui proses pengkajian yang dilakukan pada ibu hamil pada trimester III
  • Mengetahui bagaimana adaptasi fisiologis dan psikologis pada ibu yang akan menghadapi fase persalinan
  • Mengetahui informasi-informasi apa saja yang diperlukan pada ibu hamil trimerster III.

BAB II

ISI

ASUHAN KEPERAWATAN ANTENATAL

(PENGKAJIAN PADA ANTENATAL TRISEMESTER KETIGA)

Menemukan Arti Kata – Kata Sulit dalam Kasus

  1. G1PoAo:         Gravida           :           Hamil anak pertama

Para                 :           Melahirkan pertama

Abortus           :           Pengalaman terjadinya abortus (tidak ada)

  1. Asuhan Keperawatan  : Tindakan Keperawatan yang dilakukan oleh perawat profesional mulai dari tahap pengkajian sampai tahapan evaluasi
  2. Keperawatan Maternitas         : Pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan kepada klien yang berfokus pada pemenuhan kebutuhna dasar dalam melakukan adaptasi fisik dan psikologis dengan menggunkan proses keperawatan yang ruang lingkupnya antara lain: Wanita usia subur yang berkaitan dengan sistem reproduksi, wanita masa hamil, wanita masa nifas, wanita di antara 2 kehamilan, bayi baru lahir sampai dengan 40 hari serta keluarga.
  3. Pemeriksaan fisik        : Pemeriksaan secara umum terhadap ibu dan janin
  4. Kehamilan 36 Minggu            : Trimerster terakhir pada masa kehamilan

2.1       PENGERTIAN ASUHAN ANTENATAL

Asuhan antenatal adalah suatu program terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medic pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan.

Tujuan asuhan antenatal adalah :

  • Menjaga ibu agar tetap sehat selama masa kehamilan, persalinan dan nifas, serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat.
  • Memantau kemungkinan adanya risiko – risioko kehamilan, dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi
  • Menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal

2.2       PENGKAJIAN MATERNAL

a. Wawancara

Pertanyaan pertama pada wawancara trisemester ketiga diajukan dengan tujuan mengidentifikasikan kekhawatiran utama wanita hamil pada saat itu. Berdasarkankebutuhan yang diutarakan pasien, keadaan wanita hamil pada saat itu, dan hal – hal yang biasa dibutuhkan kebanyakan wanita pada saat –saat akhir kehamilan, keputusan klinis perawat menjadi pedoman isi arah wawancara.

Tinjauan ulang setiap system tubuh perlu dilakukan pada setiap pertemuan. Identifikasi rasa tidak nyaman yang mencerminkan adaptasi kehamilan. Pertanyaan – pertanyaan khusus diajukan untuk mengkaji kemungkinan infeksi. Pengetahuan tentang tindakan perawatan diri dan keberhasilannya dan terapi yang diresepkan dikaji. Respon psikososial terhadap kehamilan dan pendekatan menjadi oarng tua dikaji.

Wawancara yang dilakukan meliputi:

  1. Identitas pasien

Identitas umum, perhatian pada usia ibu, status perkawinan, dan tingkat pendidikan.

  1. Keluhan utama

Ada atau tidak keluhan atau masalah yang dirasakan ketika hamil

  1. Riwayat kehamilan sekarang
  • Setiap masalah atau tanda – tanda bahaya: pendarahan vagina, sakit kepala yang hebat, perubahan visual secara tiba – tiba, nyeri abdomen yang hebat, bengkak pada muka atau tangan, gerak janin berkurang.
  • Keluhan – keluhan lazim kehamilan: pegal – pegal, kram pada kaki, sering kencing, pigmentasi kulit, sembelit.
  • Kekhawatiran – kekhawatiran lain: apakah bayi yang dikandungnya itu sehat, melahirkan itu sakit.
  • Perasaan ibu pada saat kunjungan sekarang
  1. Riwayat penyakit dahulu
  • Riwayat penyakit sistemik lain yang mungkin mempengaruhi atau diperberat oleh kelahmilan ?(penyakit jantung, paru, ginjal, hati, diabetes mellitus), riwayat alergi makanan / obat tertentu dan sebagainya.
  • Ada / tidaknya riwayat operasi umum lainnya maupun operasi kandungan (miomektomi, section cesarean, dan sebagainya)
  1. Riwayat penyakit keluarga

Apakah pasien memilki keluarga yang memiliki riwayat penyakit sistemik, metabolic, cacat bawaan, dan sebagainya.

  1. Riwayat khusus obstetric dan ginekologi
  • adakah riwayat kehamilan / persalinan atau abortus sebelumnya.
  • Ada atau tidak masalah pada kehamilan atau persalinan sebelumnya seperti pramaturitas, cacat bawaan, kematian janin, perdarahan, dan sebagainya.
  • Penolong persalinan terlebih dahulu, cara persalinan, penyembuhan luka persalinan, keadaan bayi saat baru lahir, berat badan lahir jika masih ingat.
  • Riwayat menarche, siklus haid, nyeri atau tidak pada saat haid, riwayat penyakit kandungan lainnya.
  • Riwayat kontrasepsi, lama pemakaian, ada masalah atau tidak.
  1. Riwayat sosial / ekonomi

Pekerjaan, kebiasaan, kehidupan sehari – hari.

  1. b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada ibu dilakukan setelah dilakukannya anamnesa. Sebelum memulai pemeriksaan, perawat harus menjelaskan pada ibu dan kelurga apa yang akan dilakukan. Berikan mereka waktu untuk mengajukan pertanyaan sehingga mereka dapat memahami pentingnya pemeriksaan tersebut.

Pemeriksaan fisik berguna untuk mengetahui keadaan kesehatan ibu dan janin serta perubahan yang terjadi pada suatu pemeriksaan ke pemeriksaan berikutnya. Pada setiap pemeriksaan kehamilan dengan melihat dan meraba ditentukan apakah ibu sehat dan janin tumbuh dengan baik. Tinggi fundus uteri sesuai dengan perhitungan umur kehamilan dan pada umur kehamilan lebih lanjut ditentukan letak janin.

Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi badan, tinggi fundus uteri (tafsiran berat janin), auskultasi (untuk mengetahui denyut jantung janin), palpasi abdominanl untuk mendeteksi kehamilan ganda ( setelah UK 28 minggu), menuver leoppld untuk mendeteksi kedudukan normal.

Di beberapa klinik, pemeriksaan pelviks mingguan di mulai dari minggu ke 36 sampai 38dan dilanjutkan sampai aterm, terutama untuk memastikan presentasi, stasiun, dan dilatasi dan effacement cerviks.

Dalam pemeriksaan kehamilan meliputi beberapa langkah antara lain :

1. Perhatikan tanda – tanda tubuh yang sehat

Pemeriksaan pandang dimulai semenjak bertemu dengan pasien. Perhatikan bagaimana sikap tubuh, keadaan punggung dan cara berjalannya. Apakah cenderung membungkuk, terdapat lordosis, kifosis, scoliosis atau pincang dsb. Lihat dan nilai kekuatan ibu ketika berjalan, apakah ia tampak nyaman dan gembira, apakah ibu tampak lemah

2. Pengukuran tinggi badan dan berat badan

Timbanglah berat badan ibu pada setiap pemeriksaan kehamilan. Bila tidak tersedia timbangan, perhatikan apakah ibu bertambah berat badannya. Berat badan ibu hamil biasanya naik sekitar 9-12 kg selama kehamilan. Yang sebagian besar diperoleh terutama pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Kenaikan berat badan menunjukkan bahwa ibu mendapat cukup makanan. Jelaskan bahwa berat badan ibu naik secara normal yang menunjukkan janinnya tumbuh dengan baik bila kenaikan berat badan ibu kurang dari 5 kg pada kehamilan 28 minggu maka ia perlu dirujuk. Tinggi berat badan hanya diukur pada kunjungan pertama. Bila tidak tersedia alat ukur tinggu badan maka bagian dari dinding dapat ditandai dengan ukuran centi meter. Pada ibu yang pendek perlu diperhatikan kemungkinan mempunyai panggul yang sempit sehingga menyulitkan dalam pemeriksaan. Bila tinggu badan ibu kurang dari 145 atau tampak pendek dibandingkan dengan rata-rata ibu, maka persalinan perlu diwaspadai.

3. Pemeriksaan tekanan darah

Tekanan darah pada ibu hamil bisanya tetap normal, kecuali bila ada kelainan. Bila tekanan darah mencapai 140/90 mmhg atau lebih mintalah ibu berbaring miring ke sebelah kiri dan mintalah ibu bersantai sampai terkantuk. Setelah 20 menit beristirahat, ukurlah tekanan darahnya. Bila tekanan darah tetap tinggi, maka hal ini menunjukkan ibu menderita pre eklamsia dan harus dirujuk ke dokter serta perlu diperiksa kehamilannya.

Khususnya tekanan darahnya lebih sering (setiap minggu). Ibu dipantau secara ketat dan anjurkan ibu persalinannya direncanakan di rumah sakit.

4. Pemeriksaan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki

Pemeriksaan fisik pada kehamilan dilakukan melalui pemeriksaan pandang (inspeksi), pemeriksaan raba (palpasi), periksa dengar (auskultasi),periksa ketuk (perkusi). Pemeriksaan dilakukan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, yang dalam pelaksanaannya dilakukan secara sistematis atau berurutan.

Pada saat melakukan pemeriksaan daerah dada dan perut, pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi dilakukan secara berurutan dan bersamaan sehingga tidak adanya kesan membuka tutup baju pasien yang mengakibatkan rasa malu pasien.
Dibawah ini akan diuraikan pemeriksaan obstetric yaitu dengan melakukan inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi terhadap ibu hamil dari kepala sampai kaki

– Lihatlah wajah atau muka pasien

Adakah cloasma gravidarum, pucat pada wajah adalah pembengkakan pada wajah. Bila terdapat pucat pada wajah periksalah konjungtiva dan kuku pucat menandakan bahwa ibu menderita anemia, sehingga memerlukan tindakan lebih lanjut. Jelaskan bahwa ibu sedang diperiksa apakah kurang darah atau tidak. Sebutkan bahwa bila ibu tidak kurang darah ia akan lebih kuat selama kehamilan dan persalinan. Jelaskan pula bahwa tablet tambah darah mencegah kurang darah.

Bila terdapat bengkak diwajah, periksalah adanya bengkak pada tangan dan kaki. Sedikit bengkak pada mata kaku dapat terjadi pada kehamilan normal, namun bengkak pada tangn dan atau wajah tanda preeklamsi. Perhatikan wajah ibu apakah bengkak dan tanyakan pada ibu apakah ia sulit melepaskan cincin atau gelang yang dipakainya. Mata kaki yang bengkak dan menimbulkan cekungan yang tak cepat hilang bila ditekan, maka ibu harus dirujuk ke dokter, dipantau ketat kehamilannya dan tekanan darahnya, serta direncanakan persalinannya dirumah sakit.

Selain memeriksa ada tidaknya pucat pada konjungtiva, lihatlah sclera mata adakah sclera kuning atau ikterik

– Lihatlah mulut pasien. Adakah tampak bibir pucat, bibir kering pecah-pecah adakah stomatitis, gingivitis, adakah gigi yang tanggal, adakah gigi yang berlobang, caries gigi. Selain dilihat dicium adanya bau mulut yang menyengat.

– Lihatlah kelenjar gondok, adakah pembesaran kelenjar thyroid, pembengkakan saluran limfe

– Lihat dan raba payudara, pada kunjungan pertama pemeriksaan payudara terhadap kemungkinan adanya benjolan yang tidak normal. Lihatlah apakah payudara simetris atau tidak, putting susu menonjol atau datar atau bahkan masuk. Putting susu yang datar atau masuk akan mengganggu proses menyusui nantinya. Apakah asinya sudah keluar atau belum. Lihatlah kebersihan areola mammae adakah hiperpigmentasi areola mammae.

– Lakukan pemeriksaan inspeksi, palpasi dan auskultasi pada perut ibu.
Tujuan pemeriksaan abdomen adalah untuk menentukan letak dan presentasi janin, turunnya bagian janin yang terbawah, tinggi fundus uteri dan denyut jantung janin.
Sebelum memulai pemeriksaan abdomen, penting untuk dilakukan hal– hal sebagai berikut :

  • Mintalah ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya bila perlu
  • bantulah ia untuk santai. Letakkan sebuah bantal dibawah kepala dan bahunya. Fleksikan tangan dan lutut. Jika ia gelisah bantulah ia untuk santai dengan memintanya menarik nafas panjang.
  • cucilah tangan anda sebelum mulai memeriksa, keringkan dan usahakan agar tangan perawat cukup hangat.

Lihatlah bentuk pembesaran perut (melintang, memanjang, asimetris) adakah linea alba nigra, adakah striae gravidarum, adakah bekas luka operasi, adakah tampak gerakan janin, rasakan juga dengan pemeriksaan raba adanya pergerakan janin. Tentukan apakah pembesaran perut sesuai dengan umur kehamilannya. Pertumbuhan janin dinilai dari tingginya fundus uteri. Semakin tua umur kehamilan, maka semakin tinggi fundus uteri. Namun pada umur kehamilan 9 bulan fundus uteri akan turun kembali karena kepala telah turun atau masuk ke panggul. Pada kehamilan 12 minggu, tinggi fundus uteri biasanya sedikit diatas tulang panggul. Pada kehamilan 24 minggu fundus berada di pusat. Secara kasar dapat dipakai pegangan bahwa setiap bulannya fundus naik 2 jari tetapi perhitungan tersebut sering kurang tepat karena ukuran jari pemeriksa sangat bervariasi. Agar lebih tepat dianjurkan memakai ukuran tinggi fundus uteri dri simfisis pubis dalam sentimeter dengan pedoman sebagai berikut

:
Umur                   kehamilan                                        Tinggifundusuteri
20                           minggu                                         20cm
24                           minggu                                         24cm
28                           minggu                                         28cm
32                           minggu                                         32cm
36                           minggu                                         34-46cm

Jelaskan pada ibu bahwa perutnya akan semakin membesar karena pertumbuhan janin. Pada kunjungan pertama, tingginya fundus dicocokkan dengan perhitungan umur kehamilan hanya dapat diperkirakan dari hari pertama haid (HPHT). Bila HPHT tidak diketahui maka umur kehamilan hanya dapat diperkirakan dari tingginya fundus uteri. Pada setiap kunjungan, tingginya fundus uteri perlu diperiksa untuk melihat pertumbuhan janin normal, terlalu kecil atau terlalu besar.

5. Pemeriksaan leopold I, untuk menentukan bagian janin yang berada dalam fundus uteri.
Petunjuk cara pemeriksaan :

Pemeriksa berdiri disebelah kanan pasien, menghadap kearah kepala pasien. Kedua tangan diletakkan pada bagian atas uterus dengan mengikuti bentuk uterus. Lakukan palpasi secara lembut untuk menentukan bentuk, ukuran konsistensi dan gerakan janin.

Tentukan bagian janin mana yang terletak di fundus.
jika kepala janin yang nerada di fundus, maka palpasi akan teraba bagian bulat, keras dan dapat digerakkan (balotemen). Jika bokong yang terletak di fundus,maka pemeriksa akan meraba suatu bentuk yang tidak spesifik, lebih besar dan lebih lunak dari kepala, tidak dapat digerakkan, serta fundus terasa penuh. Pada letak lintang palpasi didaerah fundus akan terasa kosong.

6. Pemeriksaan Leopold II, untuk menentukan bagian janin yang berada pada kedua sisi uterus.
Petunjuk pemeriksaan :

pemeriksa berdiri disebelah kanan pasien, menghadap kepala pasien. Kedua telapak tangan diletakkan pada kedua sisi perut, dan lakukan tekanan yang lembut tetapi cukup dalam untuk meraba dari kedua sisi. Secara perlahan geser jari-jari dari satu sisi ke sisi lain untuk menentukan pada sisi mana terletak pada sisi mana terletak punggung, lengan dan kaki.

Hasil : bagian bokong janin akan teraba sebagai suatu benda yang keras pada beberapa bagian lunak dengan bentuk teratur,sedangkan bila teraba adanya bagian – bagian kecil yang tidak teratur mempunyai banyak tonjolan serta dapat bergerak dan menendang, maka bagian tersebut adalah kaki, lengan atau lutut. Bila punggung janin tidak teraba di kedua sisi mungkin punggung janin berada pada sisi yang sama dengan punggung ibu (posisi posterior) atau janin dapat pula berada pada posisi dengan punggung teraba disalah satu sisi.

7. Pemeriksaan Leopold III, untuk menentukan bagian janin apa yang berada pada bagian bawah.

Petunjuk cara memeriksa:

dengan lutut ibu dalam posisi fleksi, raba dengan hati-hati bagian bawah abdomen pasien tepat diatas simfisis pubis. Coba untuk menilai bagian janin apa yang berada disana. Bandingkan dengan hasil pemeriksaan Leopold.

Hasil : bila bagian janin dapat digerakkan kearah cranial ibu, maka bagian terbawah dari janin belum melewati pintu atas panggul. Bila kepala yang berada diabagian terbawah, coba untuk menggerakkan kepala. Bila kepala tidak dapat digerakkan lagi, maka kepala sudah “engaged” bila tidak dapat diraba adanya kepala atau bokong, maka letak janin adalah melintang

8. Pemeriksaan Leopold IV, untuk menentukan presentasi dan “engangement”.
Petunjuk dan cara memeriksa :

Pemeriksa menghadap kearah kaki ibu. Kedua lutut ibu masih pada posisi fleksi. Letakkan kedua telapak tangan pada bagian bawah abdomen dan coba untuk menekan kearah pintu atas panggul

Hasil: pada dasarnya sama dengan pemeriksaan Leopold III, menilai bagian janin terbawah yang berada didalam panggul dan menilai seberapa jauh bagian tersebut masuk melalui pintu atas panggul.

9. Pemeriksaan denyut jantung janin.

Denyut jantung janin menunjukkan kesehatan dan posisi janin terhadap ibu. Dengarkan denyut jantung janin (DJJ) sejak kehamilan 20 minggu. Jantung janin biasanya berdenyut 120-160 kali permenit. Tanyakan kepada ibu apakah janin sering bergerak, katakana pada ibu bahwa DJJ telah dapat didengar. Mintalah ibu segera bila janinnya berhenti bergerak. Bila sampai umur kehamilan 28 minggu denyut jantung janin tidak dapat didengar atau denyutnya lebih dari 160 atau kurang dari 120 kali permenit atau janinnya berkurang gerakannya atau tidak bergerak, maka ibu perlu segera dirujuk.

10. pemeriksaan punggung dibagian ginjal.

Tepuk punggung di bagian ginjal dengan bagian sisi tangan yang dikepalkan. Bila ibu merasa nyeri, mungkin terdapat gangguan pada ginjal atau salurannya.

11. Pemeriksaan genetalia

cucilah tangan, kemudian kenakan sarung tangan sebelum memeriksa vulva. Pada vulva terlihat adanya sedikit cairan jernih atau berwarna putih yang tidak berbau. Pada kehamilan normal, tak ada rasa gatal, luka atau perdarahan. Rabalah kulit didaerah selangkangan, pada keadaan normal tidak teraba adanya benjolan kelenjar. Setelah selesai cucilah tangan dengan sarung tangan yang masih terpasang, kemudian lepaskan sarung tangan dan sekali lagi cucilah tangan dengan sabun

12. Distansia tuberan yaitu ukuran melintang dari pintu bawah panggul atau jarak antara tuber iskhiadikum kanan dan kiri dengan ukuran normal 10,5-11cm

13. Konjugata eksterna (Boudeloge) yaitu jarak antar tepi atas simfisis dan prosesus spinosus lumbal V, dengan ukuran normal sekitar 18-20 cm. bila diameter bouldelogue kurang dari 16 cm, kemungkinan besar terdapat kesempitan panggul.

14. Pemeriksaan panggul

pada ibu hamil terutama primigravida perlu dilakukan pemeriksaan untuk menilai keadaan dan bentuk panggul apakah terdapat kelainan atau keadaan yang dapat menimbulkan penyulit persalinan. Ada empat cara melakukan pemeriksaan panggul yaitu dengan pemeriksaan pangdang (inspeksi) dilihat apakah terdapat dugaan kesempitan panggul atau kelainan panggul, misalnya pasien sangat pendek, bejalan pincang, terdapat kelainan seperti kifosis atau lordosis, belah ketupat michaelis tidah simetris. Dengan pemeriksaan raba, pasien dapat diduga mempunyai kelainan atau kesempitan panggul bial pada pemeriksaan raba pasien didapatkan: primigravida pada kehmilan aterm terdapat kelainan letak. Perasat Osborn positif fengan melakukan pengukuran ukuran-ukuran panggul luar.

Alat untuk menukur luar panggul yang paling sering digunakan adalah jangka panggul dari martin. Ukuran – ukuran panggul yang sering digunakan untuk menilai keadaan panggul adalah:

  1. Distansia spinarum

Yaitu jarak antara spina iliaka anterior superior kanan dan kiri, dengan ukuran normal 23-26 cm

  1. Distansia kristarum

Yaitu jarak antara Krista iliaka terjauh kanan dan kiri dengan ukuran sekitar 26-29 cm. bila selisih antara distansi kristarum dan distansia spinarum kurang dari 16 cm, kemungkinan besar adanya kesempitan panggul.

15. Pemeriksaan ektremitas bawah

memeriksa adanya oedema yang paling mudah dilakukan didaerah pretibia dan mata kaki dengan cara menekan jari beberapa detik. Apabila terjadi cekung yang tidak lekas pulih kembali berarti oedem positif. Oedem positif pada tungkai kaki dapat menendakan adanya pre eklampsia. Daerah lain yang dapat diperiksa adalah kelopak mata. Namun apabila kelopak mata sudah oedem biasanya keadaan pre eklamsi sudah lebih berat.

16. Pemeriksaan reflek lutut (patella)

mintalah ibu duduk dengan tungkainya tergantung bebas dan jelaskan apa yang akan dilakukan. Rabalah tendon dibawah lutut/ patella. Dengan menggunakan hammer ketuklan rendon pada lutut bagian depan. Tungkai bawah akan bergerak sedikit ketika tendon diketuk. Bila reflek lutut negative kemungkinan pasien mengalami kekurangan vitamin B1. bila gerakannya berlebihan dan capat maka hal ini mungkin merupakan tanda pre eklamsi.

c.Uji Laboratorium

pemeriksaan penunjang laboratorium yabg dapat dilakukan pada kunjungan antenatal adalah Hemoglobin, hematokrit, kultur untuk gonokus, protein urin, gula dalam darah , VRDL, apusan serviks dan vagina diulang pada minggu ke 32 atau sesuai kebutuhan untuk mendeteksi adanya organisme Clamydia,gonore, herpes simpleks tipe 1 dan 2 dan streptokokus grup B

  • Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan darah bertujuan untuk mengetahui kesehatan ibu hamil secara umum. Pemeriksaan darah juga dapat dlakukan dengan pemeriksaan AFP (alpha fetoprotein). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan gangguan saluran saraf tulang belakang dan untuk mendeteksi otak janin. Kadar AFP yang rendah menunjukkan adanya down syndrome pada janin. Biasanya pemeriksaan AFP dilakukan pada kehamilan pada usia kehamilan sekitar 15 – 20 minggu.

  • Uji TORCH (Toksoplasma Rubella Cytomegalovirus Herpesimpleks)

Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya parasit seperti TORCH di dalam tubuh ibu hamil. Infeksi TORCH biasanya menyebabkan bayiterlahir dengan kondisi cacat atau mengalami kematian. Pemeriksaan  TORCH dilakukan dengan menganalisis kadar imunoglobulinG (Ig G) dan Imunoglobulin M(IgM) dalam serum ibu hamil.

2.3       PENGKAJIAN JANIN

Pada janin yang perlu dikaji adalah gerakan janin, denyut jantung janin, dilakukan setelah UK 12 minggu, tafsiran berat janin, letak dan persentasi, engagement (masuknya kepala ke panggul), kehamilan kembar / tunggal.

Perkiraan berat janin meningkat keakuratannya melalui pengukuran diameter biparetal pada pemeriksaan ultrasonografi. Kemungkinan adanya retardasi pertumbuhan janin, kehamilan kembar, dan ketidakakuratan taksiran partus dapat diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi.

Status kesehatan janin dievaluasi setiap kunjungan. Ibu diminta menjelaskan gerakan janin.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  • Asuhan antenatal adalah suatu program terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medis pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan.
  • Pengkajian maternal meliputi:

Wawancara:

  1. dentitas pasien
  2. Keluhan utama
  3. Riwayat kehamilan sekarang
  4. Riwayat penyakit dahulu
  5. Riwayat penyakit keluarga
  6. Riwayat khusus obstetric dan ginekologi
  7. Riwayat sosial / ekonomi
  • Pemeriksaan fisik
  1. Perhatikan tanda – tanda tubuh yang sehat
  2. Pengukuran tinggi badan dan berat badan
  3. Pemeriksaan tekanan darah
  4. Pemeriksaan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki
  5. Pemeriksaan leopold I, untuk menentukan bagian janin yang berada dalam fundus uteri
  6. Pemeriksaan Leopold II, untuk menentukan bagian janin yang berada pada kedua sisi uterus.
  7. Pemeriksaan Leopold III, untuk menentukan bagian janin apa yang berada pada bagian bawah.
  8. Pemeriksaan Leopold IV, untuk menentukan presentasi dan “engangement”.
  9. Pemeriksaan denyut jantung janin.
  10. pemeriksaan punggung dibagian ginjal
  11. Pemeriksaan genetalia
  12. Distansia tuberan
  13. Konjugata eksterna (Boudeloge)
  14. Pemeriksaan panggul
  15. Pemeriksaan ektremitas bawah
  16. Pemeriksaan reflek lutut (patella)

 

  • Uji Laboratorium
  1. Pemeriksaan Darah
  2. Uji TORCH (Toksoplasma Rubella Cytomegalovirus Herpesimpleks)
  • Pengkakian Janin

Pada janin yang perlu dikaji adalah gerakan janin, denyut jantung janin, dilakukan setelah UK 12 minggu, tafsiran berat janin, letak dan persentasi, engagement (masuknya kepala ke panggul), kehamilan kembar / tunggal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

http://www.idhoe.co.tv/askep-antenatal.html diakses pada tanggal 17 Mei 2010

http://etd.eprints.ums.ac.id/6056/ diakses pada tanggal 17 Mei 2010

 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in MATERNITAS. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s