REVOLUSI NIC

>

REVOLUSI NIC

Hmm… Mungkin ini judul yang tepat untuk menggambarkan hasil MUBES (Musyawarah Besar) VI Nursing Islamic Center yang diadakan pada tanggal 2-3 April 2011 lalu yang bertempat di Ruang Seminar Florence Nightingale Lantai 4 Kampus Program Studi Ilmu Keperawatan di Limau Manih.

Terdengar “agak” ekstrim ya? Hoh, baiklah… Let’s me tell to you about it…

Mubes VI kemaren memang menghasilkan keputusan yang *absolutely* different than before. Ada dua perubahan besar pada diri NIC untuk setahun mendatang. Pertama: keputusan ditambahnya sebuah Departemen di NIC yang bernama : Departemen Ar-Rijal 😀 Ya, ini memang hanya ada di NIC. Di FSI fakultas lainnya di Universitas Andalas, tidak ada Departemen yang bernama Ar-Rijal, yang ada itu Departemen Keputrian. Yup, NIC memang sedikit berbeda. Kondisi kampus yang semula “amat sangat minim” dengan laki-laki kemudian bertransformasi menjadi kampus dengan “sejumlah laki-laki”, membuat NIC merasa perlu untuk membuat Departemen khusus guna mewadahi syiar islam kepada kaum ikhwan lebih maksimal. Yeah, actually agenda2 NIC selama ini memang kental sekali nuansa akhwatnya (lah yang ngurusin mulai jadi ketua panitia sampai seksi konsumsi akhwat semua). Agenda2 yang akan diangkatkan oleh Departemen ini pun akan berbau ke-ikhwan-an, seperti FA (Forum Ar Rijal), mabit, hiking, climbing (ada ya?? ^^), de le le…

Sekarang sesuai dengan tuntutan zaman, harus ada perubahan! Yah, NIC gak hanya eksis dakwah kepada akhwat, but ikhwan too. Dan so pasti yang bakal menjadi koordinator Departemen ini adalah ikhwan! (Selamat untuk koord Dept.Ar Rijal terpilih! Anda beruntung! Sejarah akan mencatat Anda sebagai Koord ikhwan pertama di Kepengurusan NIC! Hah selama ini di NIC tidak pernah ada koord.Dept/Biro yang ikhwan ckckckc (-_-)”

Kemudian ditambahnya sebuah badan semi otonom yang mengurus masalah “per-buletin-an dan per-mading-an”, yang walaupun masih berada di bawah naungan Departemen Syiar dan Kepedulian Sosial, namun kelak diharapkan mampu berdiri sendiri dengan mandiri.

Kedua: Terpilihanya seorang ikhwan yang akan mengemban amanah sebagai Ketua Umum untuk satu tahun ke depannya. So, apa hebatnya sih? Dimana-mana yang memimpin FSI kan memang ikhwan ya? Hoho… Lagi-lagi harus kukatakan kawan, NIC memang sedikit berbeda dari yang lain. Sejak bertahun tahun rezim ke-akhwat-an telah berkuasa di NIC (hadehh…istilahnyo lai Niiii).

Dulu..ya duuuuluuuuu sekali, Ketua Umum pertama NIC adalah ikhwan! Cuma sekali itu, dan kepengurusan berikutnya sampai kepengurusan 10/11 akhwat-lah yang memegang tampuk kepemimpinan.

Ahrghhh…. Finally!!!

Menjadikan seorang ikhwan sebagai ketua NIC bukanlah perkara gampang kawan. It still need a extra hard work for several times.

Ibarat menanam bibit, memupuk, merawat dengan hati hati agar ia tumbuh besar dan kokoh. Dan saat ini ia sudah berdiri, siap memberikan manfaat bagi dan karya bagi semua.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّه…

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum pria) di atas sebagian yang lain (kaum wanita) dan disebabkan kaum pria telah membelanjakan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…”. (An-Nisa: 34)

Dan yang paling membuat aku bergidik ngeri adalah hadis di bawah ini:

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita”. (Shahih, HR. Bukhari No. 4425)

J

Yap… Mungkin kata-kata “kaum” di sini adalah umat manusia dalam porsi yang banyak. Tapi tetap saja, wanita dengan kecendrungan menggunakan perasaan daripada logika, akan sangat sulit jika harus memimpin sekelompok komunitas besar.

Hmm…. Bukan meragukan kemampuan kaum ukhty ya ^^

Banyak juga kok ukhty-ukhty tangguh yang mampu mengemban amanah besar. Namun di dalam dakwah kampus, kita memiliki sistem dan perancangan yang sudah mengatur sedemikian rupa lika-liku strategi dakwah kampus. Semuanya sudah ada manhajnya dan saling berkoordinasi satu dengan yang lainnya. Dan ada aspek-aspek tertentu yang riskan jika di handle langsung oleh ukhtyfillah.

😀

Teringat pengaduan seorang adek yang merupakan koord KPSDM ketika harus ikut berkoordinasi dengan ikwah KPSDM lain. “kakak…. Gimana nih, Cuma ana sendiri akhwat yang hadir rapat”.

Atau kaduan seorang Ketua Umum akhwat,”Masa semua ketua FSI katanya wajib ikut mabid, hmm… mungkin lupa kali ya, kalau ada nyelip satu ketum yang akhwat..ckckck *geleng-geleng kepala*”

Ya begitulah, itu contoh kecilnya.

Harapannya, ketika Ketum dan Kaput sudah berbeda gender (tidak sama sama akhwat lagi) maka tanggung jawab masing masing wilayah akan semakin fokus. Yang ikhwan ngurusin syiar islam kepada ikhwan, dan begitu juga akhwat.

Karena tidak mungkin jika dakwah hanya kepada kalangan akhwat saja. Atau dakwah kepada yang laki-laki masih ditanggulangi akhwat (bakal tidak maksimal dan rentan dengan bahaya penyakit). Yap, kita butuh untuk mencetak kader kader tangguh baik ikhwan maupun akhwat. Tidak ada likotomi atau pengkotak-kotak-an.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (An-Nisa : 09)

Roda Kepegurusan dakwah Kampus telah bergulir, pergantian kepengurusan adalah suatu keniscayaan. Seperti yang tercantum dalam petikan ayat Al-Quran di atas, salah satu indikator generasi dikatakan berhasil adalah mereka yang bisa mengkader generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya.

Di dalam suatu aktifitas dakwah kampus, kader merupakan salah satu tonggak perjuangan yang akan meneruskan estafet dakwah berikutnya. Kader adalah modal awal untuk memproduksi darah syuhada dan yang akan mewarisi perjuangan dakwah berikutnya.

 

Dan… amanah itu akan datang.Diminta atau tidak.

 

 

Tidak peduli…apakah kita siap atau tidak.Kita ingin atau tidak.Kita butuh atau tidak!

 

 

Pilihannya hanya sedikit, menerimanya dengan kesiapan, menerima dengan ketidaksiapan, Atau menjadikan kita generasi yang terlewatkan, tergantikan?

 

 

 

Percayalah…momentum selama kuliah amat singkat.

 

 

maka berikanlah yang terbaik.. 🙂

 

 


 


 

 

Sukses untuk Laskar Jihad NIC 2011/2012 terpilih

 


 

Semoga kelak tim yang akan menggembalai departemen keputrian, departemen Ar Rijal, departemen KPSDM, departemen Syiar dan Kepsos, Biro danus, Hujan, Kestari, dan Buletin adalah orang orang terpilih yang amanah dan istiqomah.

 

Allahu Akbar!

 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini, Islamic Nurse, kedokteran islam, NIC dalam berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s