SEBENING PRASANGKA

KAMI BUTUH BIMBINGAN….!!!!

Serasa pecah tangis ini menyadari kelalaian diri dalam membina generasi penerus.

Layaknya seorang kakak yang melepaskan tangan adiknya untuk berjalan sendiri karena ia yakin sang adik sudah cukup mapan untuk menghadapi ini semua..

Namun adiknya berjalan kesana kemari mengejar sang kakak sambil berteriak ,”Kak, kita jalannya bareng yuk kak, bimbing kami kak”

Sang kakak menoleh sebentar, namun keyakinan dan kepercayaannya bahwa si adik akan baik baik saja terlalu tinggi sehingga ia tetap meneruskan perjalanan tanpa mendekap erat adik kecilnya bersamanya.

Sang kakak terlalu berhusnodzon, mempercayai yang terbaik dari adik adiknya…

Sampai-sampai husnudzonnya membias menjadi serpihan ketidakpedulian.

Tangis adik membuncah, ketika kakak kembali dan menanyakan apa saja yang sudah diperbuat sang adik selama “biasan ketidakpedulian kakak”. Dengan tertatih adik berkata sejujurnya dan berteriak marah kenapa kakak tak menoleh lagi ke belakang. Kakak tercenung, tertunduk memutar memori perjalanan.

Sesalan menyusup indah mengaliri peredaran darah sang kakak. Merasa bersalah karena terlalu terlena dengan kepercayaan kepada sang adik, sehingga malas mengontrol perjalanan adiknya. Hmm… sebegitu parahkah? Ah… tak juga…

Kakak selalu memikirkan adik. Bukan hanya ketidakpedulian! Ia memikirkan dan mendoakan. Walau tangan tak tergenggam erat bersama adiknya. Tapi ternyata adik lebih membutuhkan kakak mendekapnya dalam indah ukhuwah dan sebentuk perhatian. Tak cukup hanya peduli dan do’a…

Adik butuh didengarkan. Adik butuh bimbingan. Adik butuh dekapan. Adik butuh perhatian, do’a, dan bantuan…

Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
Karena satu kesalahanmu padakau seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
Wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali : “Jadilah hamba-hamab Allah yang bersaudara”
Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
Menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam malam, bersujud dalam dalam
Bertafakur bersama iman yang menerangi hati
Hingga tiba waktunya menjadi kupu kupu yang terbang menari
Melantunkan kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia
Lalu denagn rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
Dengan persaudaraan suci, sebening prasangka, selembut nurani,
Sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji
(Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim. A . Fillah)

 

 

http://zonacahayamata.blogspot.com/

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend, catatan buruk, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s