Persamaan Antara Latihan Karate dengan Praktikum Medis (note sotoyy)

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh…Sudah lama tidak mengangkat “Karate” sebagai tema postingan di blog.

Ok, kali ini saya akan sedikit mencoba mengupas sisi lain dari karate yang ditilik ditinjau secara sotoy oleh mahasiswa keperawatan.*apolah ko a*milkysmile

Akhir akhir ini memang banyak agenda karate yang sedikit luar biasa dari latihan biasanya.

Di antaranya : Latihan Fisik menjelang pelantikan sabuk *yang ujiannya akhir tahun kemaren,tapi pelantikannya baru tahun ini et causa senpai cuti baralek* huahahaha (mudah2an senpai gak baca nih note, kalo gak bisa dibantai saya).

milkysmile

Latihannya agak beda dengan latihan fisik sebelum-sebelumnya karena kali ini senpai ngajak kami ke pantai(yang kalau dari wisma Al-Husna Keperawatan ‘agak’ jauh dikit, musti melalui beberapa kali belokan, beberapa lampu merah, dan menghabiskan beberapa mililiter bensin *gak penting*). Ya itulah,,, tempatnya memang agak tersuruk, saya baru pertama kali ke sana dan terbukti dengan ketersurukannya tersebut mengakibatkan beberapa orang teman seperguruan musti tersesat dulu baru sampai di Tekapeh *ckckck, nasib nasip…


Ok, intinya latihan di taplau (a.k.a tapi lawuik) tidak segampang, semudah, dan se-asyik yang dipikirkan (kecuali untuk adegan main air dan kejaran dengan ombak). Karena struktur dan kontur tanah pasir yang lunak dan banyaknya benda benda kecil (*dan geje ) yang menyarok di sekitar situ. Pemanasan aja udah susah terutama ketika harus lari 10 kali keliling lapangan. Yang pasti, musti punya ketahanan kaki untuk menyeimbangkan tubuh, karena pasir akan mencengkramnya masuk. Sedangkan untuk gerakan karate sendiri (kihon dan kata) weleh weleh… *tidak bisa diungkapkan dengan kata kata yang normal.

Well, klimaks dari latihan fisik kami di taplau adalah melakukan serangkaian adegan geje latihan fisik seperti yang sudah pernah saya ceritakan di Note ini —>> PELANTIKAN ATAU PEMBAYATAN , huah… bisa dibayangkan. Kalau di dojo sendiri (yang berlantai keras) itu harus dilakukan dengan tenaga ekstra apalagi dengan kontur pantai.

Dan yang paling serunya adalah kibadachi sambil menahan gelombang ombak (*yang cukup keras karena kami dipaksa senpai berdiri agak ke tengah laut). Ok, akhirnya karategi basah (pastinya) dan penuh dengan pasir (gimana gak disuruh guling-gulingan, merayap di pasir).



Beberapa minggu kemudian, tanpa sempat benar benar mengganti sabuk dengan yang seharusnya, akhirnya timing untuk ujian kenaikan tingkat pun datang. Hehe, kasihan kohai kohai yang sabuk kuning, berarti tidak jadi makai sabuk hijau karena sudah harus ujian sabuk biru. Yang sabuk hijau terpaksa mingkem karena makai sabuk hijaunya kelamaan.



Tidak ada yang istimewa dengan kejadian ujian kenaikan tingkat kemaren (Kamis lalu), kecuali porsi ujian kumite ‘agak’ diperbanyak. Walhasil malam itu pulang dengan keadaan babak belur. Hohoho, gak kok becanda. Yang jelas tangan, perut, dan kaki terasa nyeri karena ‘ter’pukul. (bilang aja gak bisa nangkis pukulan teman…!! Yakccss).

Selesai ujian, berarti kita sudah bisa naik tingkat, kyu mulai semakin sedikit (kata senpai: jangan bangga dengan kyu yang tinggi *angka kyu yang tinggi menunjukkan kita masih banyak kelemahan) dan artinya lagi semakin gelap sabuk, maka semakin harus merunduk seperti padi (*nah lo!) baca note—>>FILOSOFI KARATE

Dan malam tadi adalah latihan pertama pasca ujian kenaikan tingkat (sebenarnya yang kedua, tapi malam sebelumnya saya memboloskan diri … hohoho, maaph senpai). Malam tadi konsentrasi latihan adalah gerakan kumite “gyakusuki”. Kumite itu adalah apa ya? Hmm adalah seperti “bacakak”, yang mana bacakak adalah bahasa Minang yang adalah kalau di-Indonesiakan namanya adalah berkelahi.(c.p.d)

^_^ ajaran sesat si Aini ko mah.. hehe

milkysmile

Tapi kalau teman teman mau searching, kumite dapat diartikan sebagai :

Kumite (組手:くみて) secara harfiah berarti “pertemuan tangan”

Kumite (pertarungan) adalah bentuk Pelatihan dimana dipraktekkannya kihon dan kata dilakukan untuk diterapkan kepada lawan.

Kumite : melawan beberapa lawan dari berbagai arah.

Yah, jadi seperti itulah. Kihon kumite sendiri sudah mulai diperkenalkan sejak sabuk kuning, namun semakin bertambah tingkatan, maka akan semakin banyak teknik yang harus diasah dan dipertajam (dan ini pun ternyata banyak teori nya!)

milkysmile

Berdasarkan pengalaman latihan semalam, tiba tiba tercetus sebuah pemikiran di kepala ini. Setelah dipikir-pikir, ternyata ada semacam persamaan karakteristik antara belajar (latihan) karate dengan belajar (praktikum) kesehatan/medis. Hehehe, sebenarnya ini hanya pemikiran geje Aini. Jadi sangat tidak disarankan untuk menjadikannya referensi karya tulis ilmiah (*hualahhhh ke-Pe-De-an sekali kamu Aini!)

Apakah ituuuu????

1. ****Seragam-an putih. Karategi (pakaian karate) —>> warnanya putih, jas lab dan pakaian preklinik juga putih (hihihi, B.P.S —>>bapasoan)


2. ****Ditinjau dari tujuan, sama sama untuk menyelamatkan nyawa manusia. Praktikum Medis/tindakan medis bertujuan untuk menyelamatkan nyawa pasien ketika diserang penyakit, latihan karate tujuannya agar kita mempunyai pertahanan jika diserang lawan (menyelamatkan nyawa sendiri). Haiikk… jadi membalance kan diri.

3. ****Sama sama adalah pelatih/pengajarnya. Kalau praktikum dibimbing dosen, kalau karate diajar senpai (tu lah ka iyoo nyoh)

4. ****Dimulai dengan lafal sumpah.

Sebelum masuk praktek klinik di RS, mahasiswa kesehatan (keperawatan/bidan) biasanya angkat diangkat sumpah nya dulu.Inget cerita di postingan ini?? —>> KEPANITERAAN

Nahh,,, begitu juga dengan latihan karate. Setiap sebelum dan sesudah latihan, kita melakukan upacara terlebih dahulu, dan menyebutkan “sumpah karate” (inget point point sumpah karate yang udah pernah di bahas di sini:—-> DOJO KUN

Hehehe, kalau ingat cara menyebutkan sumpah karate, saya jadi suka teringat dengan lafal Dasa Dharma Pramuka. Kayagnya rada-rada mirip gitu ya.. (de javu mode_on)

5. ***Filosofi, kamsudnya… kalau kata dosen, sebelum kita melakukan tindakan medis, ada baiknya kita “mencobakan” terlebih dahulu bagaimana rasanya “sakit” pasien ketika kita melakukan tindakan itu. Example: ketika praktikum injeksi (menyuntik), kami juga disuruh untuk mencobakan ke kulit masing masing/kulit teman. Supaya tahu “rasa” sakitnya kena suntik. Supaya kita ber-empati dan ridak ceroboh.

Nahhh…kalau kata senpai, cobakan dulu merasakan “sakit” nya kena tonjok, supaya kita juga tidak ragu ragu nonjok orang *nah lo!!…huohohohohoho… ajaran sesat ‘again’. Jangan dipercaya.Maksudnya, di dalam karate kita harus belajar untuk bisa menahan sakitnya pukulan, melatih keberanian agar tidak takut dipukul, di sini sangat dibutuhkan ketahanan tubuh (makanya rajin rajin latihan fisik!), kalau berani maju menyerang, harus juga berani menerima pukulan; dan untuk meminimalisir rasa sakit, kita harus latihan “sanchin”–> pernafasan perut untuk menahan rasa sakit dari sekarang. Begono….

6. ****Dilarang memakai jewelry (perhiasan) cincin, gelang, jam tangan. Yap Yap, kalau di praktikum, kita harus melepas dulu semua atribut tangan sampai lengan ketika akan memakai handscun karena dapat diindikasi sebagai tempat bersarangnya kuman dan mengganggu tindakan medis. (tidak untuk semua tindakan medis_). Kalau kata dosenku yang boleh tidak dilepas itu cincin kawin.

Dan begitu juga dengan karate. Kalau dosen ketauan kita masih pakai cincin, palingan kena tegur dan musti dibuka, tapi kalau ketahuan senpai memakai cincin ketika latihann??? palingan disuruh push up atau sit up. Makanya saya akhirnya sedikit ragu apakah harus memakai cincin atau tidak (karena dibuka pakai terus.. (-.-)

7.Hmmm apalagi yakk???? Mungkin teman teman punya tambahan??? ^_^

Ditunggu masukannya!


Okeh, sekian note ‘sotoy’ karate kali ini!

Ingat! Amat sangat tidak disarankan untuk mengcopass sebagai referensi makalah ilmiah (*ditimpuk orang sedunia maya)

Heheh.. okeh okeh, keep healhty! And SALAM KARATEE..oshhh!! *nunduk 90 derjat*

***Akhirnya kelar juga nih note


http://zonacahayamata.blogspot.com/


milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Karate. Bookmark the permalink.

2 Responses to Persamaan Antara Latihan Karate dengan Praktikum Medis (note sotoyy)

  1. ak jga ikutan karate loh di dojo inkanas bener bgt tuh karate kaya gitu
    kapan kapan bikin lgi ya blog ny yg lebih serruuu
    ok ok…………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s