Sukai, Tapi Sekedarnya Saja (*Awal virus Media!!!)

Norman Kamaru, sang legendaris “keduax”  lipssing pasca ketenaran Sinjo (Sinta-Jojo) yang “pertamax” tenar lewat lipssing di jejaring youtube  dengan “keong Racun” mereka.

Saya mendapatkan link youtube yang berisi video lipssing seorang Briptu yang berjudul “Polisi Gorontalo menggila” ini beberapa minggu lalu dari wall-an fesbuk teman teman ITB, (*dan beberapa hari kemudian teman teman di Unand pun gencar sekali sepertinya nge-share link ini). Mereka bilang sih lucu. Dengan tidak begitu penasaran saya buka juga link tersebut. Awalnya saya gak ngeh apanya yang lucu dari video ini. Olala, setelah mendengarkan beberapa saat… barulah saya menangkap apa maksud kelucuan dari video ini. Ya, lucu… mengundang gelak tawa. Tapi ya sampai di situ saja. No follow up. Tak lantas membuat saya nge-fans dengan Briptu tersebut. Bahkan dari komentar komentar teratas yang saya baca di youtube tersebut malah hinaan, cemoohan yang diberikan. Katanya: tidak etis dengan seragamnya, polisi kok ditindik, bahkan ada yang bilang ini seperti b*nC*.


Beberapa hari kemudian, kembali heboh heboh di facebook tentang “lipssing” India itu lagi. Saya buka kembali bagaimana perkembangan video tersebut. Wew, ternyata sudah mencapai 1 juta-an lebih yang membuka video tersebut. Dan komen2 yang muncul lebih positif. Hmm… berarti masyarakat sudah mulai apdet dan menerima ya…

Namun saya betul betul kaget setelah beberapa hari kemudian pemberitaan yang muncul justru sangat heboh. Maklum saya gak punya TV untuk ditonton, jadi sangat terpukau dengan ke-lebay-an berita yang diangkat “Terutama” oleh media media infotaintment ketika hari ini saya berhasil mengakses salah satu tontonan dari mobile TV. Kok sampai segitunya ya? Seorang polisi (*brimob) yang awalnya biasa-biasa saja tiba-tiba mencuat layaknya bintang besar yang kemana-mana diteriaki maling sama fansnya. Sebenarnya tidak perlu terlalu diherankan jika media terlalu melebih-lebihkan pemberitaan ini. Ya, saya sih anggap ini sebagai pundi pundi “cekeran” bagi awak media karena masyarakat memang lagi tergila-gilanya dengan Briptu yang satu ini. Sampai-sampai urusan seragam Mister Norman yang terpaksa minjem sama temannya karena harus memenuhi undangan di Jakarta dan tak sempat bersiap-siap pun dijadikan berita oleh si media. *trus kepentingannya dengan masyarakat apa ya???

Hah, yang paling membuat saya heran, adalah para fans yang sepertinya nge-fans- banget alias tercrazy-crazy dengan Pak Norman. Sama halnya dengan keheranan saya dengan para gadis remaja yang hobby dan suka dengan bintang korea sampai-sampai semua artikel, foto dikolekasi, kebiasaan, merk sepatu, makes, mikes-nya dicatet di luar kepala, atau keheranan saya dengan ramenya muda mudi, dewasa, tua mengantri berdesak-desakkan hanya untuk sekedar mendapatkan tiket konser nya Justin Bieber.

Keyword yang saya garis bawahi di sini adalah: Sikap Berlebih-Lebih-an.

Sifat terlalu ter-obsesi terhadap sesuatu.

Dan sikap media yang terlalu melebih-lebih kan terhadap pemberitaan sesuatu bisa saja men-sugesti- seseorang untuk turut mengikuti “sifat” yang mengalir melalui alur pemberitaan media. Misalnya saja: Di dalam pemberitaannya, media menyampaikan jika sesuatu itu baik, bagus, hebat, mengagumkan, maka secara tidak langsung, media sedang menghipnotis para audience untuk ikut menyukai atau mengagumi hal tersebut. Sama halnya ketika kita yang pada awalnya sama sekali tidak peduli terhadap hal hal yang berbau korea, namun karena sering berinteraksi dengan teman yang “tergila gila” abis sama Korea, bisa saja banyak informasi yang memasuki otak dan mensugesti kita untuk ikut-ikut-an. Walhasil menobatkan diri menjadi Korea-hollic.

Makanya gak heran, input infromasi dari lingkungan sangat mempengaruhi bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu.

Termasuk pemberitaan pemberitaan miring media. Banyak fitnah bertaburan tanpa bisa dikendalikan dewasa ini. Yang dengan gampangnya membentuk opini media. Banyak kebohongan yang mulai menjelma sebgaai hal aktual. Hah, padahal semuanya hanya palsu dan penuh dengan unsur fitnah.

Maka jadilah penonton yang bijak! Yang mampu menyaring kebenaran dan kekinian berita secara objektif. Jangan langsung percaya terhadap informasi yang masuk. Ada baiknya diolah dan ditelaah terlebih dahulu. Dan berpandai-pandailah dalam memilih konsumsi berita berita yang akan dilahap. Ada baiknya hal hal yang berbau “gak penting-penting amat” (I mean kalau gak dintonton gak bakal ngurangin kepintaran dan ke-up date-an kamu dalam bersosialisasi) itu DIKURANGI. Example media media Ghibah *astagfirullah*.

Termasuk pemberitaan lebay seperti yang dikisahkan di paragraf2 awal…

Tidak ada yang melarang jika kita menyukai sesuatu, tapi janganlah terlalu berlebih-lebih-an. Apalagi terhadap hal-hal yang sifatnya tidak memberikan mafaat kepada kita.

Sukai, tapi sekedarnya saja! OK…

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in geje, OpIni.... Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s