UN-Ujian Nasional- *Feel DeJavu* (nostalgila on the Spot :D)

UN-Ujian Nasional- *Feel DeJavu* (nostalgila on the Spot :D)

Seminggu yang lalu pelajar SMA telah selesai melaksanakan Ujian Nasional yang merupakan ujian ter-final untuk jenjang pendidikan tingkat SMA.

UN dan segala kisah rumit di belakang layarnya pun sudah dikupas baik itu oleh para awak media (yang kalau kita lihat beritanya di TV lumayan rada ekstrim) sampai oleh para penulis profesional hingga yang amatiran pun ikut berkomentar (seperti saya ini nih!)

Yap, UN saat ini masih berperan sebagai momok yang menakutkan bagi sebagian kalangan pelajar yang berada di grade final jenjang pendidikan Dasar dan Menengah mereka. UN datang layaknya sebuah bencana menakutkan yang akan menentukan hidup dan mati para pelajar tersebut. (*lebay version).

Sampai-sampai akhirnya banyak yang mengorbankan kejujuran dan kePD-an mereka serta mengusahakan berbagai cara agar mereka bisa melalui ujian tersebut dengan sukses. Mulai dari isyu jual beli kunci jawaban. Transfer kunci via HP, internet, nanya kiri kanan, colek depan belakang, bahkan ada yang nekad main buka buku. Di salah satu berita yang pernah saya lihat, ada juga SMA yang membiarkan siswanya melakukan perbuatan menyimpang tersebut. Tidak diberi responoleh pengawas (bahkan kabarnya melarang media untuk menyorot hal tersebut), seolah-olah hal itu sudah berlabel “halal” untuk musim UN saat ini.

Memang tak semua siswa yang berprinsip seperti itu, sebagian lain masih mampu bersikap wajar dan tetap istiqomah untuk menghadapi UN dengan kemampuan aslinya.

Namun, ada fenomena *yang sudah tidak asing lagi* yang kita tangkap di sini.

Apakah benar, UN masih “Efektif” untuk dijadikan sebagai standar kelulusan seorang siswa? Sementara dengan adanya UN ini seolah olah menjadi gerbang legitimasi para siswa oleh guru-guru untuk bersikap curang. Walaupun kertas soal nya sudah dibikin bervariasi dengan berbagai macam kode (jaman jaman saya masih 1, sekarang udah ada 5 aja), tetapi justru stressor dan tekanan ini membuat para siswa makin kreatif mengasah otak untuk mencari ide briliant agar bisa lulus tanpa harus pusing memikirkan hapalan materi pelajaran SMA yang banyaknya minta ampun.

^_^

So How??

Menurut pemikiran abal abal Aini, seorang pengamat geje yang hobbinya memaca menulis dan menggambar ini, untuk menentukan seseorang layak untuk bisa lulus dari gerbang pendidikan, tak hanya dari ujian akhir yang Cuma melibatkan beberapa mata ajar semata.

Karena dengan nilai beberapa mata ajar belum cukup untuk mewakili kelayakan seseorang untuk bisa dilepas terjun ke Univeristas ataupun masyarakat. Apalagi dalam menentukan kecerdasan seseorang.

Misalnya, ada anak yang memang tidak berminat dalam pelajarang tertentu (*sebut saja Matematika) namun dia memiliki potensi dan bakat pada pelajaran B.Inggris. Kalau kita fikir secara logika, toh dengan nilai MTk yang rendah, dia masih bisa menyambung pendidikan ke jurusan B.Inggris.

Dan hasil akhir itu tidak mutlak menggambarkan bagaimana kemampuan seseorang sebenarnya. Bisa saja karena saking groginya menghadapi UN, semua hapalan yang telah mati-matian dipelajari mendadak hilang. Atau karena tekanan dari pihak sekolah yang menggambarkan UN sebagai sesuatu yang mengerikan, para pelajar menjadi stress sehingga mempengaruhi daya tangkap dan konsentrasi dalam menghadapi UN. Yap, sebaiknya nilai diberikan setelah kita melihat proses. Mereka sekolah kan tidak hanya 1 tahun di kelas III saja. Tapi sudah 3 tahun. Kompilasikan juga dengan nilai nilai sebelumnya.

Tapi sebenarnya UN tak selalu buruk kok. Walau terkesan sebagai ‘ujian formal’ untuk menentukan kelulusan, UN sebaiknya kita pandang bukan sebagai momok yang menakutkan. Ya, anggap ini sebagai uji kompetensi untuk melihat standar kemampuan kita. Hadapi dengan kehati-hatian, namun tidak selalu dengan kengerian.

Ya, memang harus ada standar baku yang berlaku umum untuk menentukan kelulusan seseorang. Namun selama ini sepertinya pemikiran para siswa sudah di mindset kalau UN itu adalah hal paling mengerikan untuk jenjang pendidikan mereka. Sehingga para siswa dalam perjalannanya akan selalu menganggap belajar untuk UN, bukan untuk paham.

Yap, hadapi dan lalui dengan penuh semangat, bagi siswa jangan langsung takut seperti itu… *telat banget nih saya ngasih petuahnya. Lah mereka udah selesai UN kok,,ckckck*

Heheh, okelah kalau begitu…

Keep moving Forward, dan SELAMATKAN NASIB ANAK BANGSA! MERDEKA!!!

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in geje, OpIni.... Bookmark the permalink.

One Response to UN-Ujian Nasional- *Feel DeJavu* (nostalgila on the Spot :D)

  1. Syandrez says:

    tapi alhamdulillah sistem skarang dah beda kak.. UN ga lagi jadi penentu mutlak kelulusan.. cb liat di note an di http://sandurezu.blogspot.com/2011/04/ujian-nasional-2011-beda-sistem.html

    *promosi.com
    wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s