CINTA DI RUMAH HASAN AL-BANNA


Sebagaimana yang dituliskan oleh adiknya Hasan Al Banna, Abdur-Rahman Al Banna, bahwa Imam Hasan Al Banna menerima pendidikan agama dari ayahnya, alumni Universitas Al-azhar yang mendalami ilmu hadits dan fiqh. Abdur-Rahman Al Banna menyebutkan bahwa ketika mereka pulang sekolah ayah menyambut dengan penuh kasih sayang, menyediakan jadwal pengajian di rumah, mengajarkan kitab sirah Rasulullah Saw, ilmu fiqh dan nahwu.

Hari-hari Imam Hasan Al Banna penuh dengan jadwal yang telah di atur sedemikian rupa. Jam enam pagi mengaji Al-Qur’an, jam tujuh belajar tafsir Al-Qur’an dan Hadith, jam delapan belajar Fiqh dan Usul Fiqh. Selanjutnya pergi ke sekolah. Ada banyak buku di dalam perpustakaan ayah dan mengizinkan mereka untuk membacanya dan bahkan mendorong mereka untuk membaca. Ayah mereka selalu mengadakan diskusi ilmiah yang dikaji dengan para ulama yang lain. Imam Hasan Al Banna dan adiknya selalu menyimak kajian tersebut dan memahaminya dengan serius yang terekam dalam ingatan mereka. Segala masalah yang sukar dipahami oleh mereka ditanyakan kepada ayah ataupun dirujuk kepada kitab-kitab tafsir dan As Sunnah.

”Aku Ingin Menyampaikan Dakwah Ini Sampai Kepada Janin di Perut Ibunya” Hasan Al Banna

Dalam sebuah keluarga, kedudukan ayah adalah salah satu batu bata yang menopang bangunan umat Islam. Ada banyak peran ayah dalam Islam yang harus ditunaikan dengan benar. Jika seorang ayah telah menunaikan kewajibannya, berarti ia telah terbebas dari tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT di hari kiamat. Allah berfirman dalam QS. At Tahrim : 6, ”Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di sana ada malaikat yang kasar dan keras, tidak melanggar perintah Allah kepada mereka dan mereka melakukan apa yang diperintahkan.” Dan sebuah Hadits Rasulullah Saw, ”Setiap kalian adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas yang dipimpinnya… Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari dari hadits Nafi’ bin Umar r.a)

Hasan AL Banna seorang pemimpin dakwah, seorang pembina para kader ummat, sekaligus seorang ayah dalam keluarga bahkan berperan dalam membina anak-anak diseluruh dunia ini. Dialah yang melontarkan kalimat-kalimat emasnya yang berbunyi, ”Aku ingin sekali menyampaikan dakwah ini sampai kepada janin yang ada di dalam perut ibu mereka.”

Mari Bertamu ke Rumah Hasan Al Banna

Imam Hasan Al Banna memberikan contoh yang agung dalam penunaian misi seorang ayah yang berhasil. Ia teladan praktis, hati yang penuh tanggung jawab, pemimpin yang mengayomi, gelombang rindu dan kasih sayang, cahaya kebaikan, mata air pemberian, sumber kedermawanan dan kemurahan, uluran kasih sayang dan ketegasan, pemimpin penuh disiplin yang diiringi cinta, mata yang tak terpejam untuk terus mengejar keberhasilan dalam perbaikan. Imam Hasan Al Banna menerapkan teori pendidikan dan pembinaan yang diserukannya dengan sangat baik di dalam keluarganya. Antara perkataan dan realitas hidupnya, menyuarakan satu hal yang sama.

Imam Hasan Al Banna dikaruniai enam orang anak, satu laki-laki dan lima perempuan. Anak pertama bernama Wafa, istri seorang da’i terkenal yakni Sa’id Ramadhan rahimahullah yang berusia 17 tahun saat ayahnya wafat. Anak kedua Ahmad saiful Islam, seorang advokat Mesir dan mantan anggota parlemen Mesir. Usianya baru 14 tahun saat ayahnya wafat. Anak ketiga, Dr. Tsana, dosen urusan pengaturan rumah tangga yang berusia 11 tahun ketika ayahnya meninggal. Anak keempat, Ir. Roja’, usianya sekitar lima setengah tahun ketika ayahnya wafat. Anak kelima, Dr. Halah, dosen kedokteran anak di Universitas Al Azhar, usianya dua tahun lebih saat ayahnya meninggal. Anak keenam yang masih dalam kandungan ibunya bernama Dr. Istisyhad, dosen ekonomi Islam. Dinamakan Istisyhad yang berarti memburu mati syahid.

Tahap utama yang dilakukan Imam Hasan Al Banna dalam membina anak-anak yang akan menjadi keturunannya dimulai dari proses pemilihan perempuan yang mendampinginya. Istri Imam Hasan Al Banna adalah seorang anak dari keluarga terhormat As Shauli. Mereka umumnya dari keluarga pedagang kelas menengah dan mempunyai sentimen agama yang baik. Diceritakan suatu hari Ibu Imam Hasan Al Banna ketika berkunjung kerumah keluarga ini dan terkesan dengan alunan suara pembacaan Al Qur’an yang baik sekali yang tengah dibaca oleh seorang putri dalam keluarga tersebut ketika sedang sholat. Ibu Imam hasan Al Banna menceritakan perihal tersebut dan saat itulah Ia mulai terbetik bahwa wanita seperti itulah yang layak menjadi pendamping hidupnya. Akhirnya Imam Hasan Al Banna menikahi wanita itu menjadi istri yang mendampinginya saat lapang dan sempit, sulit dan senang, dialah penolong yang baik dalam dakwahnya, sampai akhirnya ”Imam Hasan Al Banna menyongsong kematian menemui Rabb-nya sebagai seorang yang dizalimi (Al Ikhwan Al Muslimun, Ahdats Shana’at Tariikh, Mahmud Abdul Halim, hal. 68).”

Ketika Imam Hasan Al Banna mendirikan sebuah sekretariat pusat Ikhwanul Muslimun di Kairo, istrinya meminta untuk membawa sebagian besar perabot rumah agar sekretariat menjadi lebih hidup. Hal tersebut justru membuat istrinya sangat senang dan bahkan sepertinya ia tidak merasakan memberikan apapun untuk dakwah ini dari perabotan rumahnya. Kepercayaan istrinya pun sangat besar sekali dan sulit digambarkan. Seperti para akhawat datang mendiskusikan masalah dakwah dan istrinya tidak merasakan kesempitan dengan hal itu dan tidak bertanya apa yang dilakukan para akhawat itu. Bahkan sampai ketika rumah Imam Hasan Al Banna termasuk dalam peta rumah yang akan dihancurkan, istirnya meminta untuk membelikan rumah kecil. Tapi imam hasan Al Banna menjawab bahwa istana kita menanti kita di surga dan Allah tidak akan menyia-nyiakan kita di dunia. Perkatan itu meresap dalam hati istrinya dengan penuh cinta dqan sikap lapang bahkan ia tidak marah dan tidak kecewa. Rasa saling menghormati di antara mereka terasa sekali dengan cara saling memanggil, Imam Hasan Al Banna memanggil istrinya dengan ungkapan, wahai Ummu Wafa dan istrinya memanggil Imam Hasan Al Banna dengan panggilan, wahai Ustadz Hasan.

Kondisi keluarga yang penuh kasih sayang, penuh perhatian dan kepedulian yang akan menyebabkan anggota keluarga saling hormat dan saling menghargai. Diantaranya adalah adanya lingkungan yang mendukung untuk tujuan pendidikan dan membantu sang anak lebih mudah memiliki perilaku yang baik. Perilaku Imam Hasan Al banna di rumah, interaksinya dengan istrinya, hubungannya dengan anak-anaknya, itu semua mewakili lingkungan yang baik dan subur untuk menghidupkan generasi yang shalih.

Praktik Tarbiyah Hasan Al Banna kepada Anak-anaknya

Adanya visi yang benar dan kemampuan aplikasi sikap yang baik, adalah syarat utama dalam pentarbiyahankeluarga. Imam Hasan Al Banna memiliki visi yang jelas dan mulia, sehingga itu juga yang menjadikannya secara sadar menjalani berbagai aktivitas hidupnya. Diantara bagaimana Imam Hasan Al Banna mendidik anak-anak dan istrinya, yaitu:

ü Makan bersama yang menjadi prioritas

ü Tak ada suara keras di rumah

ü Bangunkan aku tujuh menit lagi (kemampuannya mengatur dirinya dan selalu disiplin terhadap dirinya sendiri )

ü Melakukan perencanaan yang baik untuk semua anak-anaknya dengan setiap anak memiliki catatan yang khusus tentang anak-anaknya seditail mungkin (contohnya, tanggal dan sejarah kelahiran, jadwal pemberian obat dan surat keterangan dokter tentang kondisi sakit anak secara detail, ijazah, catatan seputar prestasi anak di sekolah, dll)

ü Membawakan bekal ke sekolah (untuk anaknya Roja yang sering lupa membawa roti untuk makan pagi)

ü Memenuhi kebutuhan rumah setiap bulan bahkan untuk makanan yang hanya ada pada musim-misim tertentu

ü Anak-anak menuruti tanpa harus diperintah (ketulusan cinta dan memelihara perasaan anak-anak yang berbuah wibawa indah di mata anak-anaknya)

ü Ada uang jajanan harian, mingguan, dan bulanan

ü Mengirim mata-mata apakah uang yang diberikanya untuk diinfaqkan telah dilakukan oleh anak-anaknya atau tidak sehinnga ia merasa tenang dengan penggunaan uang yang dipercayakan

ü Nilai hidup ini ada pada keimanan (melatih anak-anaknya untuk belajar memenej kehidupan, bagaimana menciptakan kesuksesan agar mereka tidak terhempas oleh topan kegagalan dan kesiasian setelah kepergian orang tua)

ü Menasehati tidak secara langsung ketika anaknya, Saiful Islam menyukai baca komik dengan mengarahkan secara tidak langsung agar apa yang dilakukan oleh anak-anaknya tumbuh dari diri sendiri, bukan dari perintah ataupun tekanan siapapun

ü Menyemai cinta dengan contoh langsung

ü ”Aku mulai membaca dari ayat ini …” membina melalui metode tidak langsung, yaitu metode menyampaikan tanpa meminta

ü Berinteraksi secara wajar dengan lingkungan (membolehkan ikut wisata sekolah dan berinteraksi secara wajar dengan tetangga dan lingkungan rumah)

ü Keterlibatan yang bijaksana (ketika Wafa mulai memakai jilban dan salah seorang guru mereka tidak menyetujuinya)

ü Sekretaris pribadi ayah (Wafa yang ditugaskan seperti layaknya sekretaris yang turut hadir bersama ayah dalam pertemuan-pertemuan informal dengan para akhwat untuk mendiskusikan sejumlah masalah)

ü Setiap anak mempunyai rak-rak buku dan memberikan uang untuk membeli buku yang disukai anak-anaknya

ü Menemani anak-anaknya saat bermain dan liburan sekolah

ü Berupaya selalu menyenangkan hati anak, menenangkannya, mencerahkan pikirannya, menyisipkan kebahagiaan dalam hati mereka

ü Membiarkan Saiful Islam membaca dan menghabisi buku komik

ü Menyodorkan kesepakatan tentang memuliakan tamu masing-masing

ü Tidak memaksa untuk melakukan sesuatu, tapi mengarahkan dengan cara yang tepat (Tsana tidak naik kelas karena kesalahannya sendiri)

ü Memberikan reward dan punishment ( Saiful Islam dijewer telinganya dan Tsana dipukul telapak kakinya karena tidak memakai sendal)

ü Kehangatan pelukan sang ayah (ketika Saiful Islam sudah mulai dewasa dan menanyakan sesuatu)

ü Menyadarkan anak perempuan dengan peran keperempuanannya

ü Pasangan yang romantis dan harmonis ( tidak membangunkan istri ketika pulang larut malam dan menyediakan sendiri makan malam baik untuk sendiri maupun untuk rekan-rekannya)

ü Menanamkan solidaritas dengan kondisi dunia Islam ( melarang membuat kue untuk menyambut hari raya karena ada dua belas kader ikhwan yang gugur di Paleatina)

ü Tidak memarahi ketika Saiful Islam mengambil berkas-berkas pentingnya

ü Teman belajar dan berdiskusi

ü Memberikan arahan ”Jangan menganggap ayahmu bermanfaat untukmu di akhirat kelak”

ü Menunaikan hak-hak keluarga dengan sangat baik (tidak meremehkan salah satu pun anggota keluarga dan ketika dalam perjalanan, saat bekerja, saat berdakwah tidak ada di rumah, telah menyiapkan dan mengatur semua urusan keluarganya dengan baik)

Petikan Wawancara Saiful Islam Al Banna ”Ayahku Pemimpin yang Disiapkan Allah SWT. ”

Ø Masa kecil Imam Hasan Al Banna pernah hilang di waktu jumat dan ditemukan ketika berada di atas mimbar khatib jumat (meniru ayahnya yang ketika jumatan jadi Khatib)

Ø Memanfaatkan semaksimal mungkin perpustakaan milik ayah

Ø Sejak usia muda ayah sudah menyatakan bahwa ia akan menentang supremasi asing terhadap banyak lokasi di dunia Islam

Ø Memiliki banyak kemampuan dan ragam potensi unik

Ø Hasan Al Banna adalah sosok yang jiwanya sentimentil tapi di sisi lain ia juga orang yang realistik dalam memandang berbagai persoalan dan juga sosok konseptualis dan sekaligus sosok praktis

Ø Hasan Al Banna sebagai pemimpin politik pemimpin gerakan Islam sebagai sosok pemimpin ideal yang bersih

Ø Seorang khatib dengan metode yang menghimpun antara agama dan politik, antara tuntunan agama dengan realitas dan problematika masyarakat

Ø Hasan Al Banna sangat mengapresiasi dan menghormati semua ikhwan karena keterkaitannya dengan dakwah, janji mereka pada dakwah, kesiapan mereka untuk berkorban di jalan dakwah

Ø Menuliskan sambutan sebuah majalah tentang tidak ada posisi pemimpin dan pasukan dalam Al Ikhwan ”Semua kita adalah pasukan di jalan Allah:

Ø Tulus dan jujur saat menghadapi lawan pemikirannya dengan sangat menjaga perkataannya dan tak ada ungkapan yang kasar

Ø Sebuah makalah yang dituliskan oleh Hasan Al Banna tentang ”Kepada Siapa Dakwah ini Diserukan?” yang menegaskan bahwa keluarga adalah nomor satu objek dakwah yang harus diperhatikan

Penulis : Muhammad Lili Nur Aulia

semoga bermanfaat ya… jzk

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Copasus. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s