Kito Sadonyo Monang….


Seperti tahun tahun sebelumnya, pada tahun ini pun dihiasi dengan semaraknya PEMIRA (Pemilihan Umum Raya) BEM KM Unand. Semacam tradisi di kampus ini yang mana akan terjadi pergantian periode kepemimpinan dengan generasi penerus yang pastinya diharapakan dapat memberikan perubahan menjadi lebih baik.

Pesta demokrasi “ala anak Unand” yang penuh dengan intrik dan polemik pun bergulir. Yah, seperti layaknya perang politik yang diperankan oleh Bapak-Bapak “terhormat” kita di jajaran atas sana dalam memperebutkan suara, begitu jugalah halnya dengan para ‘calon’ Presiden yang masing-masing tim suksesnya berupaya dengan hebohnya mempromosikan capres yang mereka usung.*

Pamflet-pamflet bertaburan, baliho baliho terpampang, hiasan-hiasan angka berserakan, menambah semarak Pemira kali ini. Kuakui, Pemira keempat yang kurasakan di Unand kali ini, adalah Pemira yang paling ”terasa” nuansa pesta demokrasinya. Mungkin karena mobilisasi kami ke kampus Unand yang segera mengkatalis adernalin sesuai dengan nuansa lingkungan.

Perjalanan Pemira mulai dari dibukanya pendaftaran capres, kampanye, hari H pencoblosan, penghitungan suara, sampai akhirnya pengumuman capres yang mendapatkan suara terbanyak menjadi sorotan teraktual di kampus selama kurang lebih satu bulan belakang ini. Tak jarang isyu berbagai konflik berhembus, kehebohan dan tragedi kecil pun terjadi. Banyak yang berargumen sinis, mengeluarkan statement-statemen negatif, ada yang merasa sebagai pihak ‘minoritas’ yang terinjak dan lain sebagainya.


Namun kupikir ini adalah semacam dinamika perpolitikan yang seharusnya tidak menjadi bomerang untuk memecah kesatuan anak Unand, tetapi sebagai wahana pembelajaran bagaimana kita bisa membiasakan hidup dalam kancah perbedaan gelombang pemikiran.


Bersikap arif dalam menghadapi perbedaan pendapat, menghargai ide pemikiran orang lain, serta bersikap tabah dalam menerima kekalahan mungkin menjadi point penting yang harus kita tonjolkan dalam menetralisir suasana. Karena Pemira ini adalah pesta demokrasi kita semua, bukan hanya segelintir orang, tetapi Rakyat Unand secara global. Ya, Pemira diadakan untuk semua kalangan.

Toh jika pun ada yang merasa “merebut” kesempatannya untuk berkuasa di Unand ini, tak lain ini hanyalah trik syeithan dalam menjerumuskan kita ke dalam lembah perpecahan. Ingat cerita Abdullah ibn Ubay? Yang merasa kesempatannya memimpin Madinah terlepas karena kedatangan Rasulullah. Hati Abdullah Ibn Ubay terluka, tetapi ia bukannya menyembuhakn luka tersebut, tetapi malah memupuknya menjadi luka kronik yang bernanah dan busuk. Dan ia selalu berpikiran negatif jika nanti ketika mereka kembali ke Madinah, maka orang-orang yang mulia (Rasulullah dan kaum muslimin) akan mengusir yang hina dari dalamnya. Padahal tentu saja Rasulullah tidak akan berbuat seperti itu. Rasulullah datang sebagai rahmatanlil’alamin, bukan sebagai laknatanlil’alamin.


Seperti kata John C.Maxwell “Orang terluka juga sulit menerima kegagalan”. Semua ketidakberesan dalam kehidupan yang sebenarnya bersumber dari lukanya yang tidak disikapi sebagai pelajaran berharga. Dia selalu menemukan orang, pihak, kelompok, benda, atau apapun yang menurutnya menjadi sebab atas semua kepahitan.


Oke, itu cerita tentang Abdullah Ibn Ubay. Seseorang yang terluka. Dan kita harapkan, jikapun ada yang terluka sebagai “side effect” dari Pemira kali ini, segeralah sembuhkan luka itu. Jangan selalu berfokus kepada “sakitnya” luka itu, tapi mari berfokus kepada bagaimana caranya membuat “luka” tersebut tidak menimbulkan nyeri yang berkepanjangan.


Ya, pada akhirnya, hasil Pemira selayaknya kita jadikan “kemenangan” kita bersama. Bukan kemenangan segelintir orang, segolongan oknum, atau kemengan komunitas orang pikumbuah lima puluh kota saja (*kebetulan yang menang berasal dari 50 Kota). Yap, insyaAllah kita semua MONANG… ^_^

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s