Tentang Seorang Teman

Hai Teman…
Tiba-tiba aku kembali teringat tentang mu. Tentang kenanganku terhadap mu. Walaupun aku tidak terlalu yakin engkau masih ingat kepada ku dan kenangan kita tempo dulu. Ah… aku juga tidak yakin apakah engkau memiliki sedikit kenangan tentangku dan aku tak berharap terlalu banyak dirimu mengingat walau hanya sedikit.
Namun ada sesuatu yang lain tentangmu yang masih teringat jelas di ingatanku. Yah, ini mungkin lebih ke sebentuk kesanku terhadapmu.
Awal pertemuan pertama kita adalah ketika kita sama sama mengikuti perlombaan yang diadakan di suatu Sekolah menengah negeri dalam rangka memperingati hari besar agama (*ah aku juga tidak terlalu ingat dengan persis). Aku datang dengan kelompokku, dan dirimu datang dengan kelompokmu. Salah seorang teman sekelompokku ternyata mengenalmu!! Dan dia hanya mengenalkanmu kepada temanku yang satunya lagi (*huh, padahal kami datang bertiga). Hmm.. tak apa, lagian ketika itu aku tidak terlalu tertarik untuk sekedar berkenalan denganmu.
Karena merasa dicuekin dan diterlantarkan oleh teman sekelompok yang sibuk ngobrol dengan kelompokmu, akhirnya aku mencari kesibukan sendiri menjelang perlombaan dimulai. Kususuri deretan bazar yang menjual buku-buku islami dan pernak pernik lainnya. Hmm… aku seperti menemukan syurga-ku ketika melihat buku buku itu. Walaupun aku merasa sedikit sedih karena tentu saja aku tak mampu membeli buku yang harganya terbilang mahal untuk ukuran remaja sepertiku. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah melihat-lihat dan jika beruntung bisa membaca sedikit isi dari buku yang sampul plastiknya sudah terlepas.
Dan tiba-tiba…ups..kulihat engkau berdiri di sana, di sisi sebelah kiri tak jauh dariku. Sama-sama sedang mengamati buku buku yang ada di bazar. Ketika itu hanya aku dan dirimu yang berdiri di sana. Sepertinya bacaan-bacaan itu tak cukup menarik perhatian peserta lomba lainnya.
Nah, di sanalah aku merasakan sesuatu yang berbeda darimu. Hmm…setidaknya pancaran antusiasme-mu dalam menikmati buku-buku tersebut sudah memberikan kesan positif terhadapku. Di sinilah keinginanku untuk berteman denganmu muncul. Karena kupikir dirimu adalah anak yang cukup pintar dan sama-sama memiliki hoby membaca denganku. Namun tetap saja aku tak berani untuk menyapamu terlebih dahulu.
Ketika itu, aku hanya mengetahui namamu. Karena sempat mendengar engkau menyebutkan nama itu ketika berkenalan dengan temanku yang satunya lagi.
Dan akhirnya perlombaan dimulai. Ketika itu kelompok kita sama-sama kalah di Lomba cerdas cermat namun kelompokku berhasil mendapatkan juara Harapan untuk lomba Bahasa Inggris (*yah…masih lebih baik daripada kelompokmu yang tak membawa pulang juara apa-apa :D).
Dan setelah itu, informasi-informasi tentangmu seperti nya bergulir begitu saja di sekitarku. Tanpa sempat berkenalan tiba tiba aku merasa seperti mengenal dirimu sangat dekat. Satu hal, aku mengambil pelajaran yang banyak dari informasi yang kudapatkan tentangmu itu. Tentang bagaimana dirimu berprestasi di bidang akademik sekaligus aktif di keorganisasian, namun tetap taat dalam beribadah serta memiliki akhlak yang baik. Sepertinya setiap informasi tentangmy hanya yang bagus bagusnya saja, semakin membuat iri dan menambah kekaguman. Yah… banyak poin plus yang membuatku merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu. Aku belajar… entah kenapa aku ingin sekali belajar dari sosok yang sama sekali tak kukenal dan dia pun tak mengenalku. Dan profilmu menjadi inspirasi bagiku dalam menghadapi tahun tahun pendidikan berikutnya.
Yah begitulah… sedikit kesanku padamu. Aku sempat belajar darimu walau aku tak terlalu mengenalmu dan dirimu pun tak mengenalku. Bahkan kita tidak pernah bersekolah di temoat yang sama. Namun pancaran energi positifmu sepertinya bertebaran di sekitaku. Hmm… dirimu ternyata sosok yang diidolakan.
Dan malam ini aku kembali teringat padamu. Seorang teman yang tak sempat aku berkenalan dengannya dan ia pun sepertinya tak terlalu ingat kepadaku, namun meninggalkan kesan yang sangat mendalam pada diriku karena perilaku dan tingkah lakunya. Aneh memang, namun kesan mendalam ketika melihatmu begitu antusias di bazar buku itu tak bisa kulupakan.
Untuk seorang teman yang aku tak sempat berkenalan dengannya dan ia pun sepertinya tak begitu mengenalku dimanapun engkau berada… Terimakasih telah memberikan waktu untuk mengenalmu walau hanya melalui cerita. Sampai detik ini kekaguman itu masih ada… Semoga keusksean senantiasa menjumpaimu diamanapun berada. Amin…
milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s