Dan tentang Kelahiran Bayi itu… Tak ada yang Salah di sana…

 

Dan tentang Kelahiran Bayi itu… Tak ada yang Salah di sana…

Kususuri langkah menuju ruang Intensif Bayi, ada bayi baru lahir yang dibawa kesana. Kuperhatikan dengan seksama bidan-bidan itu bekerja. Menimbang berat badan bayi dan mengukur panjangnya. Sang bidan berseru kaget sambil tersenyum simpul demi mendapati angka yang tertera di timbangan tersebut, 4,1 Kg dengan panjang 50cm !!! Cukup besar untuk ukuran seorang bayi. Semua yang ada di ruangan itu tertawa bahagia melihat kehadiran manusia baru itu. Menggoda ke-besar-an sang janin baru lahir yang diketahui sebagai anak pertama dari ibunya.

Aku juga tersenyum, ikut senang melihat ekspresi para tenaga kesehatan di sana. Cukup rame perawat yang berkunjung karena ternyata sang ibu bayi adalah perawat ICU di rumah sakit yang sama. Hmm…. berbahagialah keluarga kecil itu.

Tak lama kemudian sang bayi sudah rapi dari lendir dan air ketuban yang menempel di badannya, dibedong dengan kain panjang bermotif kartun yang lucu. Dari pintu yang sama masuklah seorang laki-laki, aih… Bapaknya sudah datang. Para perawat ICU yang berkunjung ke Kebidanan heboh dan membanding bandingkan rupa sang bayi dengan wajah Bapaknya. Kemudian menyuruh sang Bapak untuk berwudhu untuk kemudian mengumandangkan azan di telinga sang bayi laki-laki.

Pria yang baru dinobatkan sebagai ayah seorang anak laki-laki itu kemudian menghadap ke arah kiblat, dengan tangan yang agak gemetaran ia menyambut sang bayi dan mendekatkan mulutnya ke telinga bayi baru lahir nan besar itu. Perlahan azan berkumandang memenuhi ruangan kecil itu. Suaranya menyusup sampai ke lorong panjang area kebidanan. Ah, sungguh mengharukan. Semua yang ada di ruangan terdiam sesaat. Hikmad menyimak seorang ayah baru yang mengumandangkan azan pertama yang didengar sang anak pertama.

Seiring kumandang azan, do’a do’a bergulir untuk sang anak. Semoga kelak engkau menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada orang tua, dan patuh kepada Rabbmu.

Kulangkahkan kaki meninggalkan ruangan bayi tersebut, mencari-cari sesuatu yang bisa kukerjakan sembari mencek pasien post operasi sectio secaria yang manakah yang telah melahirkan bayi dengan berat 4,1 kg itu. Aku tersenyum melihat seorang ummi yang tergolek lemah di atas bed di ruang RR (recovery room). Beliaulah ummi yang baru saja berjihad melahirkan seorang anak manusia yang insyaAllah akan ikut memperjuangkan agama Allah. Ummi itu masih dengan jilbab lebarnya yang menutupi kepala dan aurat bagian atasnya. Subhanallah…

***

Dinas hari kedua di ruang Kebidanan,,,

Kali ini aku mendapatkan giliran jaga di Kamar rawat. Tempat para ibu post melahirkan untuk dipulihkan.

Pagi-pagi sekali kami diminta untuk bedmaking dan membantu serta mengajarkan ibu ibu baru cara memandikan bayi. Hmm… yang mengajarkan juga tak lebih ahli dari yang diajari ^^. Tampak seorang bidan sedang menasehati seorang ibu yang mengeluh dan tidak mau menyusi anaknya. Rasa nyeri di bagian perut pasca operasi sepertinya menghalangi mobilitas sang ibu untuk menggendong dan menyusui bayinya. Kubantu ibu itu untuk memandikan bayinya, sambil sesekali memberikan informasi tentang teknik memandikan bayi yang baik. Aku ingat, ibu ini yang kemaren di RR dan mengeluh meminta bayinya diberi susu bantu saja karena ASI nya tidak keluar. Hmm… semoga setelah dinasehati ibu bidan tadi ia mau bergiat menyusui anaknya.

Kuawasi terus pasien tersebut sampai bayinya meminta untuk disusui. Kemudian mengarahkan pasien itu bagaimana cara menyusui yang baik. Syukurlah, ia tampak mulai berusaha agar anaknya menghisap air susu yang mulai membendung di kedua payudaranya. Ibu itu mulai sibuk dengan anaknya dan berseru senang kepadaku karena ia telah sukses memberikan ASI kepada anaknya. Sementara pasien lain di sebelahnya mulai melaporkan kepadaku bahwa ibu ini tak mau menyusui anaknya sejak semalam, padahal anaknya sudah menangis kehausan. Sang ibu masih berdalih tentang sakitnya luka di perut, dan air susunya yang semalam berwarna kuning pekat sehingga ia takut untu memberikan kepada bayi karena setahunya air susu itu berwarna putih. Hmm… padahal ASI memang berwarna kekuningan (kolostrum). Akhirnya dialog demi dialog antara aku, sang ibu, dan pasien tetangganya terjadi dengan hangat sampai akhirnya sang ibu bercerita tentang curahan hatinya, sang suami yang tidak bertanggungjawab, mentelantarkan dirinya yang sedang hamil. Memikirkan bayinya yang terlihat murung dan sedih yang mungkin disebabkan karena kontak bathin kesedihan ibunya.

Aku menyimak cerita pasienku dengan seksama, sembari menyemangati. Sementara pasien di sebelahnya terus mengoceh tentang informasi lain mengenai si ibu. Ternyata mereka sudah berbincang banyak sejak semalam. Ada yang aneh dari cerita tersebut dan ada yang janggal dengan daya tangkap ingatan ibu tersebut. Sampai akhirnya aku bertanya dengan penuh kehati-hatian, sudah berapa lama menikahnya bu? Dan betapa kagetnya aku ketika mendengar sang ibu dengan mantab menyebut: “kurang lebih baru 2 bulan yang lalu, sebelum menikah sudah ngisi duluan. Menikahnya juga karena terpaksa karena sudah dilaporkan ke kantor polisi. Sekarang laki laki itu sudah pergi, tidak memberikan nafkah kepada kami, tapi saya cukup senang karena sudah ada anak ini di sini”

Astagfirullahaladzim…

Kuat dugaan mereka tidak mengetahui dampak pekerjaan yang mereka lakukan, karena dari cerita yang kutangkap sepertinya si ibu tidak merasa berdosa dan yang laki-laki memang terlalu kecil untuk mengerti arti sebuah tanggung jawab sebagai suami.

Ya, anak itu ibarat obat bagi sang ibu, menghapus kepedihan hati yang ditanggungnya selama hamil. Ah…. tragis memang. Semuanya berawal dari kekhilafan manusia yang terjerumus dalam lembah kenikmatan sesaat tanpa berpikir panjang tentang dampak yang akan terjadi.

Kuelus pipi mungil sang bayi. Berdoa semoga ia menjadi anak yang kuat… Kehidupan keras sedang menantinya di masa depan.

Tumbuhlah menjadi cahaya kebahagiaan untuk ibumu dan orang sekitarmu nak…

Ah, ingin sekali bayi itu kuberi nama, nama yang mendoakan agar ia menjadi anak yang kuat dan tabah…


***

Aku duduk menjajari rekan rekan sejawat melepas kepenatan setelah hampir setengah hari hilir mudik di ruang kebidanan. Tampak seorang Bapak paru baya tergopoh menghampiriku. Kemudian bertanya,”Nak, dimana pendaftaran pasien nak?”. Pasiennya kenapa Pak? Mau melahirkan?” tanyaku balik. “Bukan nak, bayinya meninggal di dalam kandungan ibunya, usia bayi sudah 7 bulan. Tadi Bapak sudah kemari, dan diberi tahu bayinya meninggal, lalu pulang dan sekarang mengantarkan istri kemari”.

Innalilahi wa innailaihi rojiun. Sungguh besar rencana Allah terhadap perguliran nyawa umatnya. Entah bagaimana perasaan kedua orang tua ini. Umur keduanya memangcukup tua untuk memperoleh seorang bayi lagi, dan perkiraan terjadinya abortus juga dikarenakan faktor usia Ibu yang cukup tua. Di atas 40 tahun. Ah… semoga janin yang meninggal bukan anak pertama pasangan itu.

Sore itu juga, sang ibu dikuret untuk mengeluarkan janin yang sudah tak bernyawa lagi itu. Kematian sebelum kelahiran. Tak ada yang bisa menduga, tak ada yang bisa memastikan tentang umur seorang makhluk. Belum sempat ia merasakan hirupan pertama di dunia yang fana ini, namun Allah telah menarik kembali surat izinnya ke dunia. Sehingga hanya jasad tak bernyawa yang keluar dari rahim hangat sang bunda.

****

Kuhirup nafas panjang merenungi tiga kisah dibalik sebuah kejadian yang sama. Kelahiran seorang bayi. Tak ada yang salah dengan kelahiran mereka. Tak ada yang salah denagn tangisan-tangisan kecil itu. Tak ada yang salah dengan rengekan mereka meminta air susu kepada ibunya.

Bayi-bayi mungil yang tak berdosa, walaupun kemunculan mereka diawali oleh kisah tak mengenakkan para pendosa. Berharap semuanya kembali fitrah dengan memulai lembaran baru yang indah.

Padang, 10 Juni 2011
Aini

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Islamic Nurse, Nursing Diary. Bookmark the permalink.

One Response to Dan tentang Kelahiran Bayi itu… Tak ada yang Salah di sana…

  1. Kullu mauludin, yuladu 'alal fitrah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s